Bagaimana pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke depan? Apakah bakal kembali jeblok? Atau apakah justru akan bangkit dan melesat? Rasanya ini adalah “Million-dollar question” yang terpatri di benak banyak orang, mulai dari investor sampai semua pemangku kepentingan di ekosistem pasar modal.
Ada beragam cara yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan itu. Salah satunya adalah dengan berkaca pada kejadian masa lalu untuk memprediksi masa mendatang. Sebab, seperti sebuah ungkapan bijak, sejarah selalu berulang.
Di jagat pasar modal, jebloknya nilai saham bukan sesuatu yang jarang terjadi, ini bahkan kerap berulang. Fenomena ini tak hanya pernah dialami pasar modal Indonesia, namun juga negara lain.
Mengutip Investopedia, salah satu rekor penurunan terbesar di semesta pasar modal dunia dikenal dengan peristiwa “Black Monday” yang terjadi pada 19 Oktober 1987. Saat itu, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) longsor 22,61% hanya dalam satu hari. Diperkirakan USD500 miliar lenyap dari lantai bursa hanya dalam hitungan jam.
Peristiwa “Black Monday” ini juga ikut menyeret turun indeks Nikkei sebesar 14,9% dan indeks Financial Times Stock Exchange (FTSE) yang turun 12%.

Sekitar satu dekade berselang pasar modal dunia juga alami periode marathon jeblok yang panjang akibat krisis finansial Asia. Mengutip riset Dana Moneter Internasional (IMF), pada pertengahan 1997 atau periode sebelum krisis pecah, indeks Nikkei berada di level sekitar 20.000, namun Oktober 1998, Nikkei jatuh ke level terendah di sekitar 12.879. Begitu pula indeks Stock Exchange Thailand (SET) yang merosot total 75% sepanjang pada tahun itu.
Sepuluh tahun berselang pasar modal dunia kembali berguncang. Pada 2008, krisis keuangan global terjadi. Indeks pasar modal dunia pun kembali merosot tajam.
Pada 29 September 2008, indeks Dow Jones longsor 6,98%. Ini belum berakhir. Pada 15 Oktober Dow Jones kembali merosot 7,87% dan 1 Desember 2008 juga longsor 7,70%.
Peristiwa guncangan pasar modal global terkini dalam ingatan tak lain pada 2020 saat terjadi pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia.
Hampir semua pasar modal dunia kompak merah membara. Dow Jones tercatat turun 12,9% pada 16 Maret 2020. FTSE turun 10,8% pada 12 Maret 2020. Indeks Shanghai Composite Index (SSE) juga jeblok hampir 8%.
Bagaimana dengan Indonesia?
Sejak beroperasi 1982, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga kerap mencatat naik dan turun yang signifikan.
Pada 1998 bisa dibilang jadi salah satu periode tersuram dalam catatan perjalanan ekonomi Indonesia. Krisis ekonomi dan multidimensi yang turut memaksa Presiden Soeharto turun saat itu pun merembet ke lantai bursa.
Saat awal tahun 1998, IHSG berada di level sekitar 1.000. Lantas pasar modal longsor hingga tersisa seperempatnya saja saat berada di titik terendah tahun itu pada September pada level 256.
Kemudian, saat krisis berikutnya datang pada 2008, IHSG pun juga ikut terpukul. Pada perdagangan 8 Oktober 2008, IHSG ditutup melemah 10,33% pada level 1.301.
Setelah itu, seperti halnya guncangan yang terjadi pada pasar modal dunia, kala pandemi Covid-19 tahun 2020, IHSG pun ikut merosot tajam. Pada perdagangan 9 Maret 2020, IHSG ditutup merah 6,58% pada level 5.137.
Yang teranyar, tentu saja masih hangat dalam benak kita, pada perdagangan 28 Januari 2026 lalu dimana IHSG longsor 704 poin atau 7,83% pada level 8.276. Padahal sebelumnya, pada 20 Januari 2026 IHSG baru saja mencatat rekor tertinggi sepanjang masa (All time high/ATH) pada level 9.134.
‘’Longsornya” lantai bursa ini dipicu laporan penilaian kinerja pasar modal yang dirilis Morgan Stanley Capital International (MSCI).
MSCI memutuskan membekukan seluruh peningkatan foreign inclusion factor (FIF) dan number of shares (NOS) saham Indonesia. Selain itu mereka tidak menambahkan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Index (IMI), serta tidak melakukan kenaikan klasifikasi saham dari segmen kapitalisasi kecil ke standar. Kebijakan ini juga berlaku untuk hasil tinjauan indeks, termasuk review Februari 2026.
Artinya, secara sederhana MSCI seperti memberikan lampu merah bagi investor soal pasar modal Indonesia. Penyebabnya adalah karena MSCI menilai transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia masih belum memadai.
Gonjang-ganjing pasar modal ini bahkan turut mendorong pengunduran diri Iman Rachman dari posisi Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI). Guncangan ini juga memicu pengunduran diri jajaran pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada posisi Ketua Dewan Komisioner OJK; Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK; Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK; dan Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon.
Sampai hari ini, badai seolah belum berhenti menerpa lantai bursa. IHSG kini lebih sering bertengger di kisaran 7.000, turun jauh dibandingkan posisi awal tahun pada level 8.748.
Belajar dari sejarah soal reformasi
Merespon gonjang-ganjing di pasar modal, para regulator mulai dari BEI hingga OJK bersama pemerintah terus berbenah. Jajaran pimpinan OJK yang baru pun sudah terpilih.
Para regulator ini langsung merespon dengan 8 strategis reformasi tata kelola. Delapan kebijakan itu dibagi menjadi 4 klaster yakni likuiditas, tata kelola & enforcement, transparansi, sinergitas.
Sejak digulirkan awal Februari lalu, berbagai agenda reformasi ini pun sudah dilaksanakan. Kebijakan batas minimum free float (saham yang beredar dan bisa diperjualbelikan publik) ditingkatkan menjadi 15% setelah sebelumnya hanya 7,5% mulai Maret.
Selain itu soal transparansi kepemilikan saham di atas 1% pada emiten kini juga sudah mulai dipublikasikan sejak Maret. Sebelumnya data itu baru untuk kepemilikan saham di atas 5%.
Regulator bersama aparat penegak hukum juga menindak para oknum pelaku pasar modal yang melakukan kecurangan dan tindak pidana. Ini bagian dari penegakan hukum, aturan, dan pemberian sanksi.
Pada 20 April lalu, MSCI juga merilis pernyataan bahwa mereka mengamati dan menilai itikad baik beragam reformasi yang tengah terjadi di pasar modal Tanah Air. Inisiatif-inisiatif reformasi pasar modal yang mendapat perhatian MSCI antara lain adalah peningkatan transparansi kepemilikan saham di atas 1 persen, penguatan granularitas klasifikasi investor, implementasi kerangka kerja High Shareholding Concentration (HSC), dan peningkatan batas minimum free float.
Apakah reformasi yang sudah dan masih terus berjalan ini bakal berhasil meyakinkan MSCI dan investor global agar kembali masuk ke pasar modal Indonesia? Saat ini belum tersedia jawaban pastinya.
Namun, satu jawaban yang cukup pasti, sejarah menunjukkan setiap terjadi jebloknya pasar modal yang diikuti upaya reformasi biasanya akan menghasilkan lonjakan kinerja pasar modal di masa mendatang.
Baca juga:

Dari peristiwa “Black Monday” tahun 1987 misalnya. Setelah kejadian memilukan di pasar modal hari itu, otoritas bursa di seluruh dunia menciptakan circuit breaker atau trading halt (penghentian perdagangan sementara). Jadi saat bursa meluncur terlalu tajam melebih batas persentase tertentu, maka perdagangan harus berhenti. Ini untuk kejatuhan lebih dalam.
Perdagangan saham itu, selain dipenuhi perhitungan, namun sejatinya lebih banyak diliputi dorongan emosional para investor di baliknya. Ketika bursa jatuh, suasana batin pasar modal cenderung diliputi kepanikan masal yang justru malah indeks makin meluncur turun. Untuk itulah sistem circuit breaker ini diberlakukan untuk memberi kesempatan investor tenang dan berpikir logis.
Reformasi sistem itu membuahkan hasil. Kini bursa efek di dunia sudah tumbuh berkali lipat dibandingkan tahun 1987.
Krisis ekonomi Asia tahun 1997-1998 yang meluluhlantakan pasar modal juga membawa reformasi yang berbuah manis. Pasca krisis tersebut, negara-negara Asia mulai mewajibkan transparansi laporan keuangan yang lebih ketat agar investor tahu kondisi asli perusahaan.
Begitu pun di Indonesia, pengawasan dan pengelolaan perbankan pun terus dibenahi. Padahal pada saat itu, sektor perbankan jadi salah satu krisis ekonomi saat itu. Namun kini, emiten perbankan jadi salah satu pendorong pertumbuhan IHSG.
Lantas bagaimana dengan reformasi yang tengah berjalan di Indonesia saat ini? Berkaca dari sejarah, pasar modal dunia bisa bangkit karena belajar dari kesalahannya dan mau berbenah menciptakan ekosistem tata kelola yang lebih baik. Bisakah ini terjadi di pasar modal Tanah Air saat ini?