Lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) akhirnya mengeluarkan keterangan resmi terkait berbagai upaya pembenahan tata kelola yang dilakukan regulator pasar modal. MSCI tengah menelaah lebih lanjut berbagai inisiatif transformasi yang tengah berjalan. Hal ini disambut positif oleh para regulator pasar modal Tanah Air dan sesuai ekspektasi pasar lokal. Putusan dan pernyataan berikutnya terdapat pada Market Accessibility Review MSCI yang rencananya akan dirilis pada Juni 2026.
Dalam keterangan resmi yang dirilis pada 20 April 2026, MSCI menyatakan tengah menelaah lebih lanjut berbagai inisiatif yang diambil oleh regulator pasar modal Indonesia, termasuk pengungkapan kepemilikan saham di atas 1% dan ketentuan minimum free float sebesar 15%. Evaluasi tersebut mencakup aspek cakupan data, konsistensi, hingga efektivitas dalam menentukan kelayakan investasi.
“MSCI sedang mengevaluasi cakupan, konsistensi, dan efektivitas sumber data dan langkah-langkah baru tersebut dalam konteks penentuan free float dan penilaian kelayakan investasi secara lebih luas,” tulis MSCI dalam pernyataan resminya.
Selama proses peninjauan berlangsung, MSCI memastikan tidak akan melakukan perubahan pada sejumlah komponen utama indeks. Pembekuan terhadap peningkatan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham beredar (Number of Shares/NOS) tetap diberlakukan. Selain itu, tidak akan ada penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Index (IMI), maupun perpindahan antarsegmen indeks, seperti dari kategori small cap ke standard.
Langkah tersebut diambil untuk menghindari potensi pergeseran komposisi indeks yang signifikan di tengah ketidakpastian data dan struktur pasar. MSCI juga menyatakan akan menghapus saham-saham yang masuk dalam kategori kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC), sesuai dengan kerangka baru yang diidentifikasi otoritas Indonesia.
Di sisi lain, MSCI membuka kemungkinan penggunaan data kepemilikan saham di atas 1% untuk menyesuaikan estimasi free float, apabila dinilai relevan. Namun, data tersebut belum akan dimasukkan dalam perhitungan indeks hingga proses evaluasi selesai.
“MSCI tidak akan memasukkan data dari sumber dan pengungkapan baru tersebut ke dalam penilaian free float atau perhitungan indeksnya sampai tinjauan selesai dan masukan dari pelaku pasar telah diterima serta dievaluasi,” lanjut MSCI.
MSCI menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan membatasi risiko rotasi indeks dan menjaga aspek investabilitas, sembari memberikan waktu bagi otoritas Indonesia yakni Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk menyempurnakan inisiatif yang telah diluncurkan.
Pembaruan lebih lanjut mengenai hasil evaluasi tersebut dijadwalkan akan disampaikan dalam Market Accessibility Review pada Juni 2026.
Respon positif
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut baik pengumuman mengenai Update on Free Float Assessment of Indonesian Securities yang dirilis oleh MSCI Inc. pada tanggal 20 April 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyampaikan bahwa pengumuman tersebut menegaskan bahwa MSCI telah mencatat dan mengakui berbagai langkah strategis yang telah dilakukan oleh OJK bersama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dalam rangka memperkuat transparansi dan integritas pasar modal Indonesia.
“Berbagai inisiatif strategis di atas merupakan bagian dari upaya berkesinambungan untuk meningkatkan kualitas tata kelola pasar, memperkuat pelindungan investor, serta mendorong pasar modal Indonesia menjadi lebih kredibel, transparan, dan berdaya saing global,” kata Hasan.
Inisiatif-inisiatif reformasi pasar modal yang mendapat perhatian MSCI antara lain adalah peningkatan transparansi kepemilikan saham di atas 1 persen, penguatan granularitas klasifikasi investor, implementasi kerangka kerja High Shareholding Concentration (HSC), dan peningkatan batas minimum free float.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan bahwa pengakuan awal dari MSCI terhadap capaian reformasi transparansi pasar modal nasional merupakan sinyal positif atas arah kebijakan yang ditempuh Indonesia.
“Ke depan, implementasi langkah-langkah reformasi akan terus dijaga agar berjalan secara konsisten, terukur, dan berkelanjutan, serta diperkuat melalui koordinasi aktif dengan berbagai pihak, termasuk pelaku pasar global,” kata Friderica.
MSCI saat ini tengah melakukan asesmen lanjutan berdasarkan sumber-sumber data baru yang dihasilkan dari inisiatif reformasi pasar modal Indonesia, termasuk menghimpun masukan dari pelaku pasar global.
Hal ini merupakan bagian dari proses penyempurnaan asesmen untuk Index Review MSCI pada Mei 2026 maupun Market Accessibility Review MSCI pada Juni 2026.

Sementara itu, Pejabat Sementara Direktur Utama (Pjs Dirut) BEI Jeffrey Hendrik menyatakan, pihaknya telah melakukan komunikasi langsung dengan MSCI pada 16 April 2026. Ia menegaskan bahwa interaksi tersebut bersifat tertutup, namun sejumlah usulan yang diajukan telah mendapatkan pengakuan.
“Kami mengapresiasi empat proposal yang telah kami deliver di-acknowledge oleh MSCI dan kami akan terus berkomuniksai dengan index provider,” kata Jeffrey.
BEI bersama regulator lainnya menyatakan akan melanjutkan dialog dengan MSCI serta pelaku pasar global untuk memperkuat struktur dan daya tarik pasar modal domestik.
Momentum perbaikan pasar saham
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai hasil pembaruan MSCI masih sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar. Risiko terburuk berupa penurunan status ke frontier market tidak terjadi, seiring dengan sejumlah langkah kebijakan yang telah ditempuh regulator domestik.
“Kalau saya sendiri sebenarnya memang yang untuk MSCI saat ini sudah sesuai dengan ekspektasi ya. Dan worst case-nya, kita didowngrade ke frontier itu tidak terjadi,” ujar Rully.
Ia menjelaskan bahwa regulator telah mengambil sejumlah langkah strategis untuk meningkatkan transparansi dan kualitas pasar. Beberapa di antaranya meliputi pengungkapan kepemilikan saham di atas 1%, publikasi daftar konsentrasi pemegang saham, peningkatan granularitas data klasifikasi investor oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), serta penyesuaian batas minimum free float menjadi 15%.
“Empat pokok kebijakan yaitu disclosure dari kepemilikan di atas 1%, kemudian juga merilis data shareholder concentration list, kemudian juga meningkatkan secara detail granularity dari klasifikasi KSEI, dan juga menaikkan free float jadi 15%. Saya rasa ini seharusnya MSCI sudah menerima dengan baik,” kata Rully.
Meski demikian, ia menekankan bahwa keputusan akhir MSCI masih akan bergantung pada proses evaluasi berikutnya, termasuk rebalancing indeks. Dalam periode ini, pelaku pasar, terutama investor institusi asing, diperkirakan masih akan bersikap hati-hati.
“Kalau dari sisi investor yang pasif, pasif foreign-nya itu ada kemungkinan juga masih bisa keluar. Dan dalam beberapa waktu terakhir juga sebenarnya masih banyak didominasi oleh investor ritel,” ungkapnya.
Tekanan juga terlihat pada saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC), seperti BREN dan DSSA, yang telah diantisipasi sebelumnya akan terdampak oleh kebijakan MSCI. Kedua saham tersebut tercatat mengalami pelemahan signifikan dan turut menekan pergerakan IHSG.
Baca juga:

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama menyebut, pelemahan tersebut berkaitan langsung dengan dinamika pengumuman MSCI dan respons pasar terhadap potensi perubahan bobot indeks.
“Nah ini kalau misalkan jika kita melihat dari kedua saham tersebut kan memiliki bobot yang berpengaruh terhadap IHSG. Kita lihat misalnya DSSA saja ini juga termasuk yang salah satu menjadi pemimpin dalam pelemahan IHSG,” ujar Nafan.
Ia menyarankan pelaku pasar untuk bersikap wait and see terhadap saham-saham tersebut, mengingat indikator teknikal masih menunjukkan tekanan.
“Kita harus menunggu konfirmasi dari pembentukan candlestick selanjutnya karena memang untuk DSSA maupun juga BREN ini masih menunjukkan bearish candlestick yang begitu kuat,” katanya.
Co-Founder PasarDana sekaligus Praktisi Pasar Modal Hans Kwee menilai langkah MSCI mencerminkan apresiasi terhadap reformasi yang dilakukan otoritas, sekaligus menunjukkan bahwa investor global masih mencermati konsistensi data pasar domestik.
Hans mengatakan MSCI mengapresiasi langkah reformasi pasar modal yang dilakukan oleh OJK dan SRO.
“MSCI mengapresiasi langkah reformasi pasar modal kita oleh OJK dan SRO. Jadi ini hal yang positif,” ucap Hans kepada SUAR.
Ia menekankan bahwa peran investor asing, khususnya passive fund, tetap krusial dalam menjaga likuiditas pasar. Menurutnya, ini terlihat cukup penting, karena fund asing khususnya passive fund penting likuiditas.
Dapatkan IHSG bangkit?
Lebih lanjut, Hans menyebut penghapusan saham dengan kapitalisasi besar oleh MSCI berpotensi memberikan tekanan jangka pendek terhadap harga saham terkait, sekaligus berdampak pada pergerakan IHSG.
“Penghapusan saham HSC oleh MSCI berpotensi mendorong tekanan terbatas pada harga kedua saham. Karena market cap keduanya besar maka ada pengaruh ke IHSG,” terangnya.
Menurut dia, keputusan MSCI juga mencerminkan bahwa lembaga tersebut masih mempelajari konsistensi dan transparansi data pasar Indonesia.
Ia menambahkan bahwa keberlanjutan reformasi menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kepercayaan investor global terhadap pasar modal Indonesia. Reformasi yang konsisten, lanjutnya, membuat kepercayaan investor asing ke Indonesia meningkat.

Sementara itu, Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menyatakan bahwa dampak kebijakan tersebut tidak memicu guncangan besar dalam jangka pendek, melainkan lebih pada tertahannya potensi inflow ke pasar, termasuk terhadap IHSG.
“Keputusan MSCI ini memang berdampak negatif secara struktural, tapi bukan shock besar dalam jangka pendek,” ujar Liza.
Ia menjelaskan, pembekuan kenaikan bobot, tidak adanya penambahan saham, serta penundaan migrasi indeks membuat kapasitas Indonesia dalam menyerap dana global menjadi semakin terbatas.
Lebih lanjut, keputusan MSCI dinilai menambah lapisan ketidakpastian di tengah tekanan global seperti dinamika geopolitik, fluktuasi nilai tukar, serta gejolak harga energi.
Namun demikian, Liza menilai kondisi ini lebih merupakan risiko penilaian ulang (re-rating risk) terhadap struktur pasar, bukan perubahan fundamental ekonomi domestik. Ia juga menyebut langkah MSCI sebagai hal yang wajar, seiring kebutuhan lembaga tersebut untuk memastikan implementasi kebijakan berjalan konsisten.
Di tengah situasi tersebut, pergerakan IHSG dinilai masih relatif stabil. Liza mencatat bahwa indeks mampu bertahan di area teknikal penting, yakni moving average 50 hari di kisaran 7.520, dengan penurunan terbatas.
“IHSG bisa cukup rasional hari ini, tidak serta merta semua pelaku pasar sell-off besar-besaran,” ungkapnya.
Pada perdagangan Selasa IHSG ditutup 34,73 poin atau turun 0,46% ke level 7.559,38. Hingga akhir sesi, IHSG mencatatkan volume perdagangan 43,1 miliar lembar saham dengan frekuensi 2,7 juta kali. Nilai transaksi yang dibukukan Rp17,8 triliun dengan kapitalisasi pasar Rp13.468 triliun.
Dari sisi prospek, Liza menilai IHSG masih memiliki peluang untuk mengalami penguatan secara teknikal. Ia menyebut bahwa jika kondisi pasar membaik, indeks berpotensi kembali menembus level 7.690 hingga menuju target 7.773 atau bahkan 8.000. Meski demikian, pemulihan yang lebih solid tetap membutuhkan kejelasan dari hasil evaluasi MSCI berikutnya serta bukti implementasi reformasi di tingkat pasar.
Dalam hal strategi, investor disarankan untuk tidak melakukan aksi jual panik, namun tetap meningkatkan selektivitas.
Liza merekomendasikan pengurangan eksposur pada saham dengan risiko HSC atau free float rendah, dan mengalihkan fokus ke saham dengan likuiditas tinggi serta fundamental yang kuat.
Ia juga menilai momentum masuk ke saham berbasis MSCI akan lebih optimal setelah tekanan pasokan mereda dan terdapat kepastian lanjutan dari MSCI.