IHSG Merosot Tembus 5.000 Ditekan Sentimen Negatif Eksternal Dan Internal

Merosotnya IHSG dipicu sentimen eksternal dari outlook dari S&P dan peringkat kredit Moody's Rating. Sentimen internal dalam negeri juga memicu merosotnya IHSG.

IHSG Merosot Tembus 5.000 Ditekan Sentimen Negatif Eksternal Dan Internal
Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07 setelah seharian berkutat di zona merah pada rentang 5.841-6.213. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/bar
Daftar Isi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan Rabu (3/6/2026), turun 254,36 poin atau 4,11 persen ke level 5.941. Posisi IHSG kali ini merupakan yang terendah sejak 5 tahun terakhir.

Merosotnya IHSG dipicu sentimen eksternal dari kemungkinan adanya revisi outlook dari S&P soal pasar Indonesia dan peringkat kredit Moody's Rating. Selain itu juga ada sentimen internal dalam negeri yakni indikator perekonomian yang tidak meyakinkan seperti surplus neraca perdagangan yang menipis dan nilai tukar rupiah yang terus melemah.

Padahal pada awal perdagangan Rabu, IHSG sempat dibuka di zona hijau. Pada pukul 09.01 WIB, indeks tercatat naik 11,67 poin atau 0,19 persen ke level 6.207, sejalan dengan penguatan sejumlah bursa Asia. Namun tekanan jual yang terus meningkat sepanjang sesi perdagangan membalikkan arah pergerakan indeks hingga ditutup di level terendah hari ini.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi mencapai Rp25,21 triliun dengan volume perdagangan 40,06 miliar saham. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 692 saham ditutup melemah, 69 saham menguat, dan 54 saham stagnan.

Pelemahan terjadi di seluruh sektor. Sektor barang baku menjadi penekan terbesar setelah merosot 9,31 persen, menjadikannya sektor dengan kinerja terburuk pada perdagangan hari ini.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan pergerakan sejumlah bursa regional. Koreksi IHSG terjadi di tengah tekanan jual yang meluas di pasar saham domestik, meski mayoritas bursa utama Asia bergerak menguat. Indeks Shanghai Composite China naik 0,22 persen, Straits Times Singapura menguat 0,73 persen, dan Nikkei 225 Jepang melonjak 2,50 persen. Hanya Hang Seng Hong Kong yang terkoreksi 1,56 persen.

Di Eropa, sentimen pasar cenderung negatif dengan indeks DAX Jerman turun 0,69 persen dan FTSE 100 Inggris melemah 0,20 persen. Sementara itu, pasar saham Amerika Serikat pada perdagangan sebelumnya ditutup menguat. Indeks S&P 500 naik 0,13 persen, NASDAQ Composite bertambah 0,03 persen, dan Dow Jones menguat 0,45 persen.

Sentimen Danantara dan Lembaga Pemeringkat Asing

Salah satu sentimen yang disorot pelaku pasar adalah pemberian peringkat kredit perdana kepada PT Danantara Investment Management (DIM) oleh Moody's Ratings.

Dalam laporannya, Moody's menetapkan peringkat Baa2 dengan outlook negatif bagi DIM. Lembaga pemeringkat internasional tersebut juga memberikan peringkat provisional (P)Baa2 untuk program global medium-term note (MTN) tanpa jaminan yang dibentuk DIM serta peringkat Baa2 untuk obligasi senior unsecured yang akan diterbitkan perusahaan.

Moody's menempatkan kualitas kredit DIM sejajar dengan peringkat utang Indonesia yang saat ini berada pada level Baa2 dengan outlook negatif. Penilaian tersebut didasarkan pada hubungan yang sangat erat antara perusahaan dan pemerintah.

Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07 setelah seharian berkutat di zona merah pada rentang 5.841-6.213. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/bar

Menurut Moody's, DIM dikategorikan sebagai Government Related Issuer (GRI). Penilaian dilakukan menggunakan pendekatan top-down yang menitikberatkan pada hubungan perusahaan dengan negara sebagai faktor utama dalam penentuan peringkat.

Moody's juga tidak menetapkan Baseline Credit Assessment (BCA) bagi DIM karena perusahaan masih berada pada tahap awal pengembangan, memiliki rekam jejak operasional terbatas, dan belum menjalankan aktivitas usaha mandiri dalam skala signifikan.

Tak hanya Moody's, S&P Global Ratings turut memberikan peringkat kredit jangka panjang BBB serta peringkat jangka pendek A-2 kepada DIM. Lembaga pemeringkat internasional tersebut juga menetapkan prospek (outlook) stabil, sejalan dengan prospek peringkat utang pemerintah Indonesia.

S&P menyatakan bahwa posisi peringkat DIM sangat erat kaitannya dengan profil kredit negara. Karena itu, setiap perubahan terhadap peringkat sovereign Indonesia berpotensi memengaruhi penilaian terhadap perusahaan tersebut.

"S&P dapat meninjau kembali dan menurunkan peringkat DIM apabila kami mengambil langkah serupa terhadap peringkat kredit sovereign Indonesia," tulis lembaga pemeringkat itu dalam laporannya.

Penetapan peringkat tersebut didasarkan pada pandangan S&P bahwa pemerintah Indonesia memiliki komitmen kuat untuk memberikan dukungan yang memadai dan tepat waktu kepada DIM apabila diperlukan. Asumsi mengenai besarnya dukungan negara tersebut menjadi faktor utama dalam penilaian kredit perusahaan.

Dengan mempertimbangkan hubungan yang kuat antara DIM dan pemerintah, S&P memutuskan untuk menyamakan peringkat kredit perusahaan dengan peringkat sovereign Indonesia.

Oleh sebab itu, DIM memperoleh peringkat BBB untuk kewajiban jangka panjang dan A-2 untuk kewajiban jangka pendek, dengan prospek stabil yang mencerminkan outlook kredit Indonesia saat ini.

Menurut S&P, penilaian tersebut mencerminkan ekspektasi bahwa peran strategis DIM dalam ekosistem investasi nasional akan membuat perusahaan tetap mendapatkan dukungan pemerintah apabila menghadapi tekanan keuangan di masa mendatang.

Rupiah, minyak, dan suku bunga tinggi

Pengamat Pasar Modal, Hans Kwee, menilai pelemahan IHSG dipicu kombinasi faktor global dan domestik yang meningkatkan kehati-hatian investor.

Dari sisi global, ketidakpastian masih bersumber dari konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel. Menurut Hans, pasar sebelumnya berharap konflik segera mereda, namun hingga kini belum terlihat kejelasan penyelesaian.

“Jadi di global itu faktornya adalah konflik di Timur Tengah antara AS - Iran itu enggak berujung. Jadi pasar expect gede sekali konflik akan berakhir, tapi enggak jelas (kapan berakhir),” ujar Hans ketika dihubungi, Rabu (3/6/2026).

Konflik tersebut dinilai mengganggu pasokan energi global dan menjaga harga minyak tetap tinggi. Kondisi ini kurang menguntungkan bagi Indonesia yang masih berstatus sebagai net importir minyak.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik turut mendorong penguatan dolar AS yang kemudian menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Hans juga melihat munculnya potensi kenaikan inflasi global akibat dampak perang terhadap aktivitas ekonomi.

Situasi tersebut memunculkan ekspektasi bahwa bank-bank sentral utama dunia akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

“European Central Bank (ECB) kemungkinan naikin bunga di Juni, kemudian bisa naikin lagi bunga dua kali. Ada The Fed akan naikin (suku) bunga mungkin Desember atau tahun depan. Nah ini higher for longer,” kata dia.

Menurut Hans, suku bunga tinggi membuat arus modal global cenderung kembali ke negara maju karena menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih menarik. Dampaknya, negara berkembang menghadapi risiko arus keluar modal dan pelemahan mata uang.

Surplus perdagangan menyusut

Dari dalam negeri, Hans menyoroti surplus neraca perdagangan Indonesia yang turun jauh di bawah ekspektasi pasar. Surplus yang hanya sekitar US$90 juta dinilai menjadi sinyal berkurangnya kontribusi sektor eksternal terhadap perekonomian nasional.

“Ini (karena) faktor oleh impor BBM kita yang tinggi, migas kita tinggi impornya. Jadi ya ini tentu nggak bagus bagi kita,” ujarnya.

Selain itu, investor juga mencermati proses peninjauan peringkat kredit Indonesia oleh sejumlah lembaga pemeringkat internasional. Meskipun belum ada perubahan peringkat, pasar cenderung berhati-hati karena sejumlah lembaga sebelumnya menyoroti risiko terhadap prospek fiskal Indonesia.

"Kemudian hari ini ada tinjauan peringkat dari S&P ya. Ini orang cenderung hati-hati, biarpun katanya peringkatnya tetap. Tapi berdasar pada pernyataan Moody's dan Fitch, orang tentu bertanya-tanya gitu ya, bahwa apakah peringkat Indonesia ini mampu bertahan dengan kondisi yang ada saat ini? Ya karena defisit APBN akan melebar," jelas Hans.

Hans menyebut ada tiga isu utama yang menjadi perhatian investor, yakni prediktabilitas kebijakan pemerintah, tata kelola sejumlah program strategis termasuk Danantara, serta potensi pelebaran defisit anggaran dan beban pembayaran utang pemerintah.

Kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) juga masih menjadi perhatian pasar karena pelaku usaha menunggu kejelasan implementasinya.

Baca juga:

IHSG Tersungkur Usai MSCI dan FTSE Soroti Saham HSC
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan Senin (18/5/2026) setelah pasar dibayangi sentimen negatif dari dua penyedia indeks global, MSCI dan FTSE Russell.

Meski demikian, Hans menilai peluang Indonesia turun dari kategori emerging market menjadi frontier market dalam peninjauan MSCI relatif kecil. Reformasi pasar modal yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) dinilai telah membantu mengurangi risiko tersebut.

Ia bahkan menilai koreksi IHSG saat ini cenderung berlebihan jika dibandingkan dengan fundamental ekonomi nasional yang masih cukup kuat.

Hans menyoroti pertumbuhan ekonomi yang masih berada di level 5,11 persen, inflasi yang terkendali sesuai target Bank Indonesia, serta posisi neraca primer pemerintah yang kembali mencatat surplus pada April lalu.

“Jadi harusnya ini panik sesaat dan nanti akan rebound lagi,” tegasnya.

Menurut dia, pelemahan rupiah dan tingginya harga komoditas juga berpotensi memberikan keuntungan bagi Indonesia sebagai eksportir berbagai komoditas utama. Di sisi lain, valuasi saham Indonesia pada level saat ini dinilai semakin menarik bagi investor.

Volatilitas Jelang FTSE Russell

Pandangan senada disampaikan Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta. Ia menilai kombinasi sentimen domestik dan global membuat investor memilih mengurangi risiko.

Menurut Nafan, salah satu faktor utama yang menekan pasar adalah pelemahan rupiah yang mencapai Rp17.922 per dolar AS.

“Selain pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS yang menyentuh level 17.922 saat ini, adapun penyusutan surplus neraca perdagangan per April 2026 pada USD89,1 juta sebagai level terendah dalam enam tahun terakhir, menunjukkan adanya perlambatan dari kontribusi sektor eksternal dan menjadi penahan laju penguatan IHSG,” kata Nafan kepada SUAR.

Ia menambahkan, pasar juga mulai mengantisipasi volatilitas menjelang pelaksanaan rebalancing indeks FTSE Russell yang akan efektif pada 22 Juni mendatang.

Dari sisi global, Nafan menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hubungan yang memanas antara Washington dan Teheran serta operasi militer Israel di Lebanon dinilai menambah ketidakpastian di pasar keuangan global.

Investor juga menunggu rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat atau Nonfarm Payrolls periode Mei yang akan menjadi salah satu indikator penting dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed.

Meski surplus perdagangan Indonesia menyusut tajam, Nafan menilai kondisi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan pelemahan ekonomi nasional.

“Penurunan surplus ini bukan karena ekonomi Indonesia yang melemah, melainkan karena mesin industri domestik sedang berekspansi sehingga membutuhkan banyak impor bahan baku,” katanya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa asesmen negatif dari lembaga pemeringkat global berpotensi memperbesar tekanan di pasar modal.

“Ketika lembaga pemeringkat global sekelas S&P mengeluarkan asesmen negatif, baik berupa penurunan proyeksi profitabilitas sektor korporasi maupun peringatan terkait tekanan fiskal makro, maka hal ini menjadi sentimen negatif yang kuat di pasar modal,” ujar Nafan.

Di tengah volatilitas yang tinggi, ia menyarankan investor untuk berfokus pada saham dengan fundamental kuat, valuasi menarik, serta menerapkan manajemen risiko secara disiplin.

Alarm bagi ketahanan eksternal

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai pelemahan rupiah dan koreksi IHSG mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap ketahanan eksternal Indonesia.

Menurutnya, pergerakan rupiah yang mendekati Rp17.940 per dolar AS bersamaan dengan menyusutnya surplus perdagangan menunjukkan kualitas ketahanan eksternal mulai melemah.

"Surplus neraca perdagangan yang menyempit perlu dibaca sebagai alarm karena cadangan penyangga eksternal menjadi kurang tebal ketika impor energi, bahan baku, dan pembayaran valas tetap besar," ujar Syafruddin.

Ia menjelaskan bahwa ketidakpastian arah suku bunga Federal Reserve, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS, kenaikan harga minyak, dan ketegangan geopolitik membuat investor global semakin berhati-hati menempatkan dana di negara berkembang.

Dalam situasi tersebut, investor asing menuntut premi risiko yang lebih tinggi untuk memegang aset rupiah. Akibatnya, rupiah tertekan dan pasar saham melemah karena investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Syafruddin menilai koreksi IHSG bukan semata dipicu sentimen jangka pendek. Pelemahan yang terjadi di berbagai indeks, termasuk LQ45, KOMPAS100, indeks syariah, dan sektor finansial, menunjukkan pasar sedang menyesuaikan ekspektasi terhadap risiko domestik.

Menurut dia, investor mulai mempertanyakan prospek laba emiten, biaya modal, stabilitas nilai tukar, hingga kredibilitas kebijakan ekonomi.

"Pasar tidak menolak Indonesia sebagai tujuan investasi, tetapi pasar meminta harga lebih murah dan premi risiko lebih tinggi sebelum kembali masuk secara agresif," katanya.

Hingga akhir 2026, Syafruddin memperkirakan pasar keuangan Indonesia masih akan bergerak hati-hati. Stabilitas rupiah, perbaikan arus modal, penurunan premi risiko, serta kepastian arah kebijakan pemerintah akan menjadi faktor penting dalam memulihkan kepercayaan investor dan menopang pemulihan pasar saham domestik.

Baca selengkapnya