Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan Senin (18/5/2026) setelah pasar dibayangi sentimen negatif dari dua penyedia indeks global, MSCI dan FTSE Russell.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG langsung turun 94,34 poin atau 1,40% ke level 6.628,97. Tekanan jual terus berlanjut sepanjang sesi hingga indeks sempat melemah 2,59% dan menyentuh level terendah 6.398,78. IHSG pun ditutup merosot 124,07 poin atau 1,85% ke posisi 6.599,24.
Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 616 saham melemah, 125 saham menguat, dan 79 saham stagnan. Dalam sepekan terakhir, IHSG tercatat turun 8,02%. Pelemahan indeks juga mencapai 13,44% dalam satu bulan terakhir dan terkoreksi 23,68% secara year to date.
Tekanan pasar kali ini berawal dari keputusan MSCI yang menghapus sejumlah saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index. Saham-saham yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu kembali menjadi perhatian utama pelaku pasar bersama sejumlah emiten lain yang dinilai memiliki struktur kepemilikan terkonsentrasi.
MSCI resmi mencoret enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Selain itu, terdapat 13 saham lain yang dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Index, salah satunya PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI).
Menurut Vice President of Corporate Communications AALI, Mochamad Husni, kocok ulang komposisi indeks merupakan bagian dari dinamika pasar modal yang wajar terjadi.
“Astra Agro menghormati keputusan MSCI mengenai perubahan komposisi indeks yang merupakan bagian dari dinamika pasar modal,” kata Husni kepada SUAR.
Menurut dia, perseroan terus melakukan evaluasi praktik operasional terbaik dengan menerapkan disiplin biaya secara ketat guna menjaga pertumbuhan kinerja perusahaan. Langkah tersebut, lanjutnya, tercermin dari peningkatan profitabilitas perseroan dalam beberapa periode terakhir.
“Astra Agro selalu melakukan evaluasi praktik operasional terbaik dengan disiplin cost yang tinggi sehingga perseroan berprogres dengan peningkatan profit yang signifikan seperti yang terjadi pada akhir tahun 2025 sebesar 28,2% dan kuartal I 2026 sebesar 34,8%,” ujar Husni.
Dihantam FTSE Russell
Belum reda sentimen dari MSCI, pasar kembali menghadapi tekanan baru setelah FTSE Russell merilis dokumen Index Treatment for the June 2026 Index Review pada 13 Mei 2026.
Dalam dokumen tersebut, FTSE menyoroti saham-saham yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi atau HSC. FTSE menyatakan saham perusahaan yang mendapat peringatan terkait konsentrasi kepemilikan dari otoritas pasar modal dapat dikeluarkan dari indeks pada peninjauan berikutnya.
“Untuk memastikan integritas dan replikabilitas indeks, FTSE Russell akan menghapus sekuritas yang terdampak pada harga nol pada tinjauan Juni 2026, efektif mulai pembukaan pasar pada Senin, 22 Juni 2026,” tulis FTSE dalam pengumuman resminya.
Dalam praktik indeks global, skema “harga nol” umumnya diterapkan terhadap saham yang dianggap mengalami gangguan likuiditas serius, termasuk saham yang terkena suspensi panjang, mengalami hambatan perdagangan, atau dinilai sulit direplikasi oleh investor institusi.
FTSE menilai saham dengan konsentrasi kepemilikan terlalu tinggi berpotensi menciptakan persoalan likuiditas di pasar. Dalam kondisi tertentu, investor institusi global dapat mengalami kesulitan mencari lawan transaksi ketika harus melepas saham dalam jumlah besar secara cepat.
Meski FTSE belum mengumumkan daftar final saham terdampak, perhatian pasar langsung tertuju pada sejumlah emiten yang masuk daftar HSC BEI. BREN dan DSSA menjadi dua saham yang paling banyak disorot karena selama ini dikaitkan dengan isu terbatasnya saham beredar di publik atau free float.
Tekanan terhadap pasar domestik juga terjadi seiring pelemahan bursa regional Asia. Pada perdagangan yang sama, Hang Seng Index turun 1,11%, Nikkei melemah 0,97%, sementara Shanghai Composite Index terkoreksi 0,09%.

Koreksi IHSG masih sejalan pasar Asia
Pejabat sementara (Pjs) Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menilai tekanan yang terjadi di pasar saham domestik masih sejalan dengan pelemahan bursa regional Asia. Menurut dia, kondisi tersebut telah diantisipasi sejak jauh hari, termasuk terkait keluarnya sejumlah saham berkategori high shareholding concentration (HSC) dari indeks global.
Jeffrey mengatakan penghapusan saham-saham HSC oleh penyedia indeks global merupakan konsekuensi yang memang sudah diperkirakan pasar. Kebijakan serupa, kata dia, juga diterapkan di negara lain seperti Hong Kong.
“Saham-saham yang masuk dalam high shareholding concentration memang sudah kita antisipasi akan dikeluarkan oleh global index provider. Itu juga sudah disampaikan jauh-jauh hari, warning-nya,” ucap Jeffrey, Senin (18/5/2026).
Menurut dia, keputusan MSCI maupun FTSE Russell mengeluarkan saham HSC dari indeks justru mengurangi salah satu sumber ketidakpastian yang selama beberapa pekan terakhir membayangi pasar modal Indonesia.
Ia menjelaskan koreksi IHSG yang terjadi saat ini masih sejalan dengan pergerakan pasar global, terutama di kawasan Asia. Selama libur perdagangan Kamis dan Jumat lalu, bursa Asia mengalami pelemahan yang dampaknya baru tercermin di pasar domestik pada awal pekan ini.
“Kalau kita akumulasikan koreksi dua hari di pasar global Asia ditambah sedikit koreksi tambahan hari ini di pasar global, itu sama dengan koreksi yang kita alami hari ini,” katanya.
Meski demikian, Jeffrey mengakui tingkat ketidakpastian pasar masih cukup tinggi. Tekanan tersebut dipengaruhi berbagai faktor global, mulai dari fluktuasi harga komoditas dan nilai tukar hingga tensi geopolitik di Timur Tengah dan Rusia.
Di tengah kondisi tersebut, BEI mengingatkan investor ritel agar tidak mengambil keputusan secara emosional. Investor diminta tetap fokus pada fundamental perusahaan dan menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko masing-masing.
“Investor harus tetap memperhatikan fundamental, melakukan analisis secara cermat, memperhatikan kondisi pasar, dan menyesuaikan strategi investasi sesuai profil risiko,” ujar Jeffrey.
BEI juga memastikan terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan memantau aktivitas investor asing, terutama menjelang rebalancing indeks global.
Menurut Jeffrey, reformasi pasar modal yang saat ini dijalankan bersama regulator dan self-regulatory organization (SRO) bertujuan memperkuat transparansi serta tata kelola pasar dalam jangka panjang.
Ia berharap langkah tersebut dapat meningkatkan kembali partisipasi investor asing setelah melihat pasar modal Indonesia menjadi lebih transparan dan memiliki tata kelola yang lebih baik.
“Konsekuensi jangka pendek memang harus diterima. Tetapi untuk jangka menengah dan panjang kita harapkan inflow investor asing akan jauh lebih besar,” katanya.
Di sisi domestik, jumlah investor pasar modal Indonesia terus meningkat. Hingga Rabu pekan lalu, jumlah investor tercatat telah menembus 27 juta investor. Dari jumlah tersebut, sekitar 9,7 juta merupakan investor saham, sedangkan sisanya investor reksa dana.
Jeffrey menyebut kenaikan jumlah investor juga diikuti peningkatan aktivitas transaksi harian, mingguan, hingga bulanan. Saat ini, jumlah investor aktif bulanan telah mencapai lebih dari 1 juta investor.
Selain melanjutkan reformasi pasar, BEI juga menyiapkan sejumlah produk baru. Jeffrey mengatakan ETF emas diharapkan segera terbit, disusul pengembangan produk derivatif dengan tambahan underlying asset.
Sementara itu, evaluasi terhadap papan pemantauan khusus atau Full Call Auction (FCA) masih berlangsung. Jeffrey menyebut kajian statistik internal dan focus group discussion bersama pelaku pasar telah selesai dilakukan.
Menurut dia, sejumlah kriteria FCA berpotensi disesuaikan karena dinilai sudah tidak lagi relevan seiring meningkatnya transparansi dan pengawasan pasar.
“Mungkin beberapa kriteria yang selama ini dirasa sudah tidak relevan karena transparansi yang lebih baik dan pengawasan yang lebih baik, itu sudah tidak perlu masuk ke dalam papan pemantauan khusus,” tuturnya.
Lebih lanjut, komunikasi antara BEI dengan MSCI dan FTSE disebut terus berjalan rutin. Pertemuan teknis terakhir dengan MSCI dilakukan pada 29 April lalu setelah sebelumnya digelar high level meeting di New York.
Jeffrey mengatakan MSCI juga meminta tambahan data historis yang saat ini tengah dipersiapkan oleh BEI. Meski demikian, ia menegaskan BEI tetap menghormati independensi penyedia indeks global dalam menentukan konstituen indeks.
“Kami menghormati independensi para penyedia indeks global. Kami tidak akan masuk ke penentuan konstituen,” jelasnya.
Tekanan FTSE sudah terbaca
Di tengah tekanan pasar, keputusan FTSE Russell mengeluarkan saham-saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari indeks global dinilai berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap pasar modal Indonesia, khususnya menjelang rebalancing indeks pada Juni 2026.
Pengamat Pasar Modal Reydi Octa mengatakan keputusan FTSE dapat memicu tekanan jual jangka pendek, terutama pada saham dengan free float kecil dan saham yang masuk kategori HSC. Menurut dia, investor institusi global umumnya akan melakukan penyesuaian portofolio sebelum rebalancing resmi berlaku.
“Keputusan FTSE ini berpotensi memicu tekanan jual jangka pendek, terutama pada saham dengan free float kecil dan saham yang terkategori HSC. Investor institusi global biasanya akan melakukan penyesuaian portofolio sebelum tanggal rebalancing resmi berlaku,” ungkap Reydi.
Ia menilai FTSE masih ingin melihat konsistensi implementasi reformasi pasar modal Indonesia yang saat ini dijalankan regulator. Menurut dia, perhatian FTSE tidak hanya tertuju pada penerbitan regulasi, tetapi juga efektivitas penerapannya di lapangan.
“FTSE tampaknya masih ingin melihat konsistensi implementasi reformasi pasar modal Indonesia. Jadi bukan hanya soal regulasi diumumkan, tetapi bagaimana efektivitas penerapan free float, transparansi, dan likuiditas di lapangan,” katanya.
Reydi menjelaskan posisi indeks FTSE sangat penting bagi pasar modal Indonesia karena menjadi acuan berbagai passive funds dan investor institusi global dalam mengalokasikan dana ke pasar negara berkembang.
“Jika bobot atau jumlah saham Indonesia berkurang, potensi aliran dana asing masuk juga ikut menurun dan ini bisa mempengaruhi likuiditas pasar domestik,” ujarnya.
Meski demikian, Reydi menilai kebijakan FTSE dapat menjadi tekanan positif bagi emiten domestik untuk memperbaiki struktur kepemilikan saham dan meningkatkan porsi kepemilikan publik.
“Saya melihat kebijakan ini justru menjadi tekanan positif bagi emiten untuk meningkatkan free float dan memperbaiki struktur kepemilikan agar lebih investable di mata investor global,” katanya.
Ia menambahkan emiten dengan likuiditas baik dan free float besar akan lebih diunggulkan ke depan. Sebaliknya, jika persoalan free float dan konsentrasi kepemilikan saham tidak segera dibenahi, pasar modal Indonesia berisiko tertinggal dibandingkan negara lain di kawasan.
“Investor asing akan melihat pasar kita kurang likuid, lebih volatil, dan lebih sulit diakses untuk investasi skala besar,” ujar Reydi.
Sementara itu, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai tekanan jual menjelang rebalancing FTSE Russell sebenarnya sudah tercermin dalam pergerakan IHSG belakangan ini.
“Tekanan jual menjelang rebalancing Juni 2026 sebenarnya sudah ter-priced in oleh bearish trend yang dialami IHSG hingga saat ini,” kata Nafan.
Menurut dia, investor institusi global saat ini masih cenderung bersikap hati-hati atau wait and see terhadap pasar modal Indonesia. Kondisi tersebut terjadi meskipun OJK, BEI, dan self-regulatory organization (SRO) telah menjalankan sejumlah reformasi pasar.
Nafan mengatakan FTSE masih memperpanjang masa observasi karena ingin memastikan reformasi regulator benar-benar berjalan konsisten dan mampu menciptakan likuiditas pasar yang lebih sehat.
“Mereka ingin memastikan reformasi dari regulator benar-benar mampu menciptakan likuiditas yang organik, meningkatkan perlindungan investor, serta mengurangi risiko manipulasi harga saham akibat volatilitas ekstrem pada saham-saham HSC,” ujarnya.
Ia menilai posisi Indonesia di indeks FTSE Russell sangat krusial karena menjadi tolok ukur penting bagi global fund managers dan investor institusi global dalam menempatkan dana di pasar negara berkembang.
“Kalau posisi Indonesia kuat atau mengalami peningkatan bobot, tentunya dana asing akan masuk. Jangan sampai kredibilitas turun, itu bahaya,” kata Nafan.
Nafan juga menilai emiten perlu melakukan aksi korporasi untuk meningkatkan free float secara riil agar tetap menarik bagi investor global dan menjaga stabilitas valuasi saham.
Menurut dia, kegagalan membenahi persoalan free float dan konsentrasi kepemilikan saham dapat menimbulkan risiko jangka panjang bagi pasar modal Indonesia.
“Kalau isu free float tidak dibenahi, ada risiko jangka panjang. Pasar modal kita bisa mengalami penurunan likuiditas, IHSG mengalami distorsi tinggi, bahkan terjadi kehilangan kepercayaan investor asing,” pungkasnya.