Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan berat pada perdagangan Senin (8/6/2026), seiring meningkatnya sentimen negatif di pasar domestik dan global. Harga saham yang telah banyak terdiskon tak mampu menarik investor masuk dan membeli saham, malah lebih banyak dana asing yang keluar.
Pelemahan tidak hanya terjadi di Indonesia. Bursa saham Asia juga bergerak di zona merah. KOSPI Korea Selatan ditutup turun 8,29% ke level 7.484, TAIEX Taiwan melemah 3,48% ke 43.502, NIKKEI 225 Jepang turun 3,85% ke 64.024, Shenzhen Composite terkoreksi 3,22% ke 14.821, Shanghai Composite melemah 1,70% ke 3.959, sementara indeks Vietnam (VNI) turun 2,46% ke 1.793.
Pada penutupan perdagangan, IHSG berakhir di level 5.342,14 melemah 4,52% atau turun 252,63 poin dari posisi sebelumnya 5.594,77. Sebanyak 701 saham melemah, 78 saham menguat, dan 180 saham stagnan.
Di dalam negeri, tekanan jual langsung mendominasi sejak pembukaan. Tak lama setelah perdagangan dimulai, volume transaksi mencapai 8,27 miliar saham dengan nilai Rp5,27 triliun dan frekuensi 514.706 kali. IHSG bahkan sempat menyentuh level terendah intraday di 5.346.
Aktivitas perdagangan terpantau tinggi dengan volume mencapai 29,57 miliar saham, nilai transaksi Rp21,12 triliun, dan frekuensi perdagangan 2,173 juta kali. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat Rp9.418 triliun.
Melemahnya IHSG hari ini sejalan dengan pelaku pasar yang mencermati berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan indeks tersebut.
Dari sisi domestik, pelemahan rupiah masih menjadi perhatian utama. Selain itu, juga beredar isu pergantian Menteri Keuangan maupun Gubernur Bank Indonesia, hingga kekhawatiran terhadap prospek peringkat kredit Indonesia.
Pasar juga masih dibayangi oleh potensi penurunan status Indonesia dalam indeks global MSCI dari kategori emerging market menjadi frontier market. Tak hanya itu, sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai kurang ramah pasar turut memperburuk sentimen investasi.
Dari sisi eksternal, CGS International Sekuritas Indonesia menilai koreksi bursa saham Amerika Serikat dan pelemahan harga mayoritas komoditas menjadi faktor yang membebani pasar regional.
"Tekanan terhadap IHSG berpotensi bertambah seiring berlanjutnya aksi jual investor asing dalam jumlah besar. Arus keluar dana asing yang masih berlangsung menjadi salah satu indikator yang terus dipantau pelaku pasar karena dapat memengaruhi likuiditas dan arah pergerakan indeks dalam jangka pendek," tulis CGS Sekuritas dalam risetnya pagi ini.
Dana asing keluar Rp72,22 Triliun
Tekanan terhadap IHSG tidak terlepas dari derasnya arus keluar dana asing sepanjang tahun ini. Berdasarkan data perdagangan BEI, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) Rp72,22 triliun di pasar reguler. Dalam empat hari perdagangan berturut-turut hingga 5 Juni 2026 saja, arus net sell asing mencapai Rp7,38 triliun.
Tercatat aksi jual paling besar terjadi pada saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham dengan net sell terbesar mencapai Rp32,44 triliun. Sepanjang tahun ini harga saham BBCA telah turun 38,58% menjadi Rp4.960 per saham.
Investor asing juga mencatatkan net sell pada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp10,89 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp9,68 triliun, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp2,74 triliun.
Di luar sektor perbankan, net sell terbesar terjadi pada PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar Rp8,42 triliun, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp4,88 triliun, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp3,7 triliun, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp3,64 triliun, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp1,58 triliun, dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) Rp1,53 triliun.
Baca juga:

Derasnya aksi jual asing dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari luar negeri, konflik Timur Tengah yang memanas mendorong kenaikan harga minyak akibat terganggunya jalur perdagangan energi melalui Selat Hormuz.
Sementara dari dalam negeri, pasar mencermati revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (PPSK) yang memunculkan persepsi terkait independensi regulator keuangan. Sentimen tersebut diperburuk oleh melemahnya indikator makroekonomi.
Cadangan devisa Indonesia pada Mei 2026 menyentuh level terendah dalam hampir dua tahun yakni USD144,9 miliar. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah di pasar melemah hingga Rp18.168 per dolar AS pada 8 Juni 2026.
Meski mayoritas dana asing keluar dari pasar saham, sejumlah emiten masih mencatatkan pembelian bersih. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) menjadi saham dengan net buy terbesar sebesar Rp2,31 triliun.
Posisi berikutnya ditempati PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp2,15 triliun, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Rp2,11 triliun, PT United Tractors Tbk (UNTR) Rp1,9 triliun, PT Astra International Tbk (ASII) Rp1,88 triliun, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Rp1,88 triliun, dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) Rp1,55 triliun.
Investor asing juga mencatatkan net buy pada PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Rp989,7 miliar, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) Rp971,84 miliar, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp967,97 miliar.
Tertahan ketidakpastian
Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan menilai pasar saham Indonesia masih kompetitif dibandingkan India maupun Vietnam. Namun, valuasi murah belum cukup untuk mengimbangi risiko yang dipersepsikan investor.
"Kalau kita lihat hari ini di IHSG itu sebenarnya sangat-sangat menarik kalau dari sisi valuasi," kata Deni kepada SUAR, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, banyak saham berfundamental kuat, termasuk sektor perbankan dan konsumer, telah mengalami koreksi harga cukup dalam sehingga terlihat menarik secara valuasi.
Meski demikian, persoalan utama bukan pada kualitas emiten, melainkan persepsi risiko terhadap Indonesia. Risiko depresiasi rupiah menjadi perhatian utama karena dapat mengurangi keuntungan investor asing saat hasil investasinya dikonversi kembali ke dolar AS.
Selain itu, investor juga mencermati kondisi fiskal dan konsistensi kebijakan pemerintah.
"Resiko depresiasi rupiah, resiko fiskalnya, resiko kebijakan pemerintah yang berubah-ubah bahkan cenderung tidak ramah terhadap pasar dan bisnis. Itu menurut saya hari ini yang jadi pertimbangan sangat besar dari investor," ujarnya.

Deni menilai arus keluar dana asing tidak hanya dipicu faktor jangka pendek, tetapi juga persoalan struktural. Dari eksternal, investor menghadapi ketidakpastian akibat konflik Timur Tengah, hubungan Amerika Serikat-China, dan tingginya suku bunga AS yang mendorong aliran modal ke aset yang lebih aman.
Dari dalam negeri, pasar mencermati kondisi fiskal, rendahnya rasio pajak, serta tantangan neraca pembayaran. Meski neraca perdagangan masih surplus, nilainya terus mengecil. Di sisi lain, defisit jasa dan arus keluar dividen ke investor asing meningkat.
Ia juga menyoroti struktur ekspor Indonesia yang masih bergantung pada komoditas sehingga rentan terhadap fluktuasi harga global.
Menurut Deni, kombinasi faktor tersebut membuat investor asing masih berhati-hati terhadap Indonesia meskipun valuasi saham relatif lebih murah dibanding negara pesaing.
"Indonesia kalau cuma dari sisi valuasi bahwa harganya udah murah ya itu Indonesia sangat menarik, cuma permasalahannya itu tadi, karena risk-nya juga besar ya jadi orang masih wait and see atau cenderung menghindar dulu terhadap pasar saham Indonesia," jelas dia.
Deni menilai kembalinya minat investor asing akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah memperbaiki persepsi pasar terhadap arah kebijakan ekonomi dan fiskal.
"Investor membutuhkan sinyal yang jelas bahwa pemerintah mendukung iklim usaha, menjaga stabilitas fiskal, dan mempertahankan kredibilitas lembaga ekonomi," ucap Deni.
Menurutnya, investor institusi global lebih mengutamakan kepastian dan kemampuan mengukur risiko dibanding sekadar peluang keuntungan jangka pendek.
Kunci kembalinya dana asing
Senada, Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai pasar saham Indonesia masih memiliki fundamental yang kompetitif, tetapi daya tarik relatifnya di mata investor asing sedang menurun.
Menurut dia, Indonesia tetap ditopang pasar domestik yang besar, basis konsumsi yang luas, sektor keuangan yang kuat, serta emiten perbankan dan komoditas berkapitalisasi besar. Namun, dibandingkan India dan Vietnam, Indonesia dinilai kalah dalam narasi pertumbuhan yang lebih mudah diterjemahkan pasar.
"IHSG pada awal Juni 2026 turun 12,1% secara bulanan dan 37,7% sejak awal tahun, sementara investor asing masih mencatat jual bersih saham USD410 juta," tutur Josua.
Josua mengatakan investor kini lebih fokus pada kualitas dan kepastian kebijakan dibanding sekadar pertumbuhan ekonomi. Mereka mencermati disiplin fiskal, stabilitas rupiah, kredibilitas Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi, serta kepastian arah kebijakan di sektor strategis.
Selain itu, pasar juga memperhatikan reformasi pasar modal setelah MSCI memperpanjang peninjauan reformasi pasar saham Indonesia hingga Juni 2026 terkait transparansi pasar dan potensi perubahan status pasar.
Menurut Josua, aksi jual asing merupakan kombinasi sentimen jangka pendek dan penilaian ulang terhadap prospek Indonesia dalam jangka menengah. Faktor eksternal seperti penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil global, konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak, dan penyesuaian portofolio pasca-perubahan indeks MSCI turut membebani pasar.
Di sisi lain, investor mulai meminta premi risiko yang lebih tinggi akibat kekhawatiran terhadap kepastian kebijakan, kualitas komunikasi pemerintah, tata kelola fiskal, dan arah intervensi negara dalam perekonomian.
Meski demikian, Josua menegaskan investor asing belum sepenuhnya meninggalkan Indonesia. Arus keluar dari pasar saham mencapai sekitar USD3,56 miliar sejak awal tahun hingga Juni 2026, tetapi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masih mencatat arus masuk sekitar USD5,51 miliar.
Dari sisi valuasi, pasar saham Indonesia juga tergolong lebih murah dibandingkan negara pesaing. Rasio price to earnings ratio (PER) MSCI Indonesia per 29 Mei 2026 berada di level 11,37 kali, jauh di bawah MSCI India sebesar 24,29 kali dan MSCI Vietnam 19,66 kali.
Namun, menurut Josua, valuasi murah saja tidak cukup untuk menarik kembali investor. Pemulihan kepercayaan menjadi faktor utama.
"Pemerintah dan otoritas pasar dinilai perlu menunjukkan langkah konkret melalui penguatan disiplin fiskal, kejelasan tata kelola Danantara, percepatan reformasi pasar modal, stabilisasi rupiah, serta menjaga koordinasi fiskal dan moneter tanpa mengganggu independensi Bank Indonesia," pungkasnya.