Sepanjang pekan lalu yang memiliki empat hari perdagangan, indeks harga saham gabungan (IHSG) merosot sebanyak 600 poin atau 9,7%. Pada hari Jumat, 5 Juni 2026, perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup di posisi 5.594,765 setelah sempat melemah di posisi 5.594,111. Dibandingkan posisi awal tahun (year to date/ytd), IHSG telah melemah sebanyak 35,3%. Penurunan ini menjadi yang terburuk di antara lebih dari 90 indeks global yang dipantau Bloomberg sepanjang 2026.
Per 5 Juni 2026 tersebut, nilai kapitalisasi pasar seluruh saham-saham yang diperdagangkan di BEI turut anjlok ke angka Rp 9.807 triliun. Nilai tersebut turun sekitar 21% jika dibandingkan dengan kapitalisasi pasar pada triwulan pertama 2026. Penurunan menjadi jauh lebih besar jika dibandingkan dengan kondisi triwulan terakhir 2025 (38%).
Volume saham yang ditransaksikan pada Jumat lalu juga merosot tajam, yakni menjadi 35,3 miliar saham. Bandingkan dengan volume rata-rata transaksi harian pada triwulan 1-2026 yang mencapai 48 miliar saham.
Nilai penjualan saham oleh asing pada Jumat itu secara kumulatif sejak awal tahun tercatat telah mencapai Rp 61,361 triliun (net sell) atau meningkat 86,7% dalam dua bulan jika dibandingkan kondisi triwulan 1-2026. Angka net sell oleh asing tersebut merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir, padahal tahun 2026 belum genap 6 bulan berjalan.
Pelepasan aset oleh asing ini membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar. Di Jumat itu pula, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mengalami pelemahan yang dalam dengan tembus Rp 18.039 per dollar AS. Rupiah telah terdepresiasi sekitar 17% sejak Presiden Prabowo Subianto dilantik.
Tekanan terhadap rupiah ini tidak hanya datang dari pasar saham. Investor asing juga beramai-ramai melepas kepemilikannya terhadap Surat Berharga Negara (SBN). Data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa dalam lima bulan pertama 2026 (Januari-Mei), kepemilikan investor asing terhadap SBN telah berkurang sebanyak Rp 15,53 triliun atau turun 1,8%. Berkurangnya kepemilikan asing terhadap SBN ini mengukuhkan tren pertumbuhan porsi asing yang terus menurun sejak 2024.
Melemahnya rupiah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pelemahan terjadi bukan hanya karena faktor eksternal global, tetapi juga dari internal dalam negari. Pelaku pasar mengisyaratkan kemungkinan penurunan yang terus berlanjut karena kekhawatiran atau adanya krisis kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah khususnya fiskal negara.
Investor atau pelaku pasar menilai pemerintah mengambil peran sangat dominan dalam ekonomi, seperti mengendalikan ekspor komoditas lewat PT Danantara Sumberdaya Indonesia dan program populis yang berbiaya sangat besar, yakni makan bergizi gratis.
Faktor lainnya yang masih memberi tekanan ke pasar saham adalah soal kepemilikan saham terkonsentrasi oleh korporasi dan masalah transparansi yang dianggap oleh lembaga pemeringkat MSCI masih rendah. MSCI telah mengeluarkan 18 saham Indonesia dari daftarnya.
Selain itu, penurunan outlook kredit atau surat utang Indonesia menjadi negatif oleh Moody’s dan Fitch telah menambah kekhawatiran risiko di kalangan investor asing. Pasar masih menunggu keputusan lembaga pemeringkat lainnya, yakni S&P Global Ratings apakah masih akan mempertahankan outlook stabil (BBB) atau menurunkannya. Status peringkat investasi (investment grade) Indonesia kini tengah diuji, apakah Indonesia masih memiliki fondasi kepercayaan investor global yang masih kuat.
Potensi Indonesia mengalami penurunan status (downgrade) dari Emerging Market ke Frontier Market oleh MSCI juga masih menghantui pasar saham kita. IHSG diprediksi belum mencapai titik terendah (bottom). Investor asing berada dalam sikap tidak ingin menjadi yang terakhir keluar dari kejatuhan IHSG.
Keputusan S&P akan menjadi penentu sentimen pasar dan arus modal dalam beberapa waktu ke depan.