Dua barometer indeks yang lazim digunakan dalam melihat kinerja dan proyeksi ke depan industri manufaktur atau pengolahan Indonesia belakangan ini menyajikan hasil yang kontradiktif. Di satu sisi, laporan PMI-BI untuk triwulan II-2026 menghembuskan angin segar dengan menunjukkan bahwa industri masih berada di zona ekspansi.
Sebaliknya, PMI S&P Global menggambarkan kondisi suram pada industri manufaktur. Hasil indeks melaporkan bahwa sektor manufaktur telah jatuh ke zona kontraksi sejak akhir kuartal pertama dan terus merosot pada pertengahan tahun. Perbedaan dua lembaga ini tentu memunculkan tanda tanya di kalangan pelaku pasar dan pembuat kebijakan mengenai realitas sesungguhnya sektor industri.
Membedah lebih dalam skor indeks pada periode 2025 hingga 2026, PMI-BI mencatatkan tren pemulihan yang konsisten. Setelah sempat terkontraksi di triwulan II-2025 dengan skor indeks 45,15, indeks yang dihasilkan terus merangkak naik hingga menembus zona ekspansi di triwulan IV-2025 yang mencapai skor 51,86. Puncaknya mencapai 52,03 pada triwulan I-2026. Meski sedikit melandai di triwulan II-2026 menjadi 51,43, BI memproyeksikan indeks ini akan kembali menguat ke angka 52,32 pada triwulan III mendatang.
Adapun indeks PMI S&P Global yang diukur secara bulanan menunjukkan fluktuasi yang lebih tajam dan cenderung menurun sejak April 2026. Setelah sempat berlari kencang di awal 2026 dengan skor 53,8 di bulan Februari, laju manufaktur versi S&P melambat di bulan Maret.
Skor indeks manufaktur oleh S&P merosot ke angka 50,1 di bulan Maret dan berlanjut masuk ke zona kontraksi dengan indeks 49,1 di bulan April. Setelah sempat sedikit naik dan stagnan di batas netral 50,0 pada bulan Mei, indeks ini akhirnya turun drastis ke angka 46,9 pada bulan Juni 2026.
Menilik anatomi laporan PMI-BI triwulan II 2026, optimisme ekspansi yang dipertahankan pada skor indeks 51,43 ditopang oleh kinerja tiga komponen utama. Volume produksi masih bertumbuh di level 53,81, diikuti oleh volume persediaan barang jadi 53,00, dan volume total pesanan 52,77. Dilihat dari sub lapangan usaha yang bertahan di zona ekspansi dipimpin oleh Industri Mesin dan Perlengkapan (58,24), serta Industri Makanan dan Minuman (54,05).
Meski demikian, laporan ini tidak sepenuhnya tanpa catatan. Komponen kecepatan penerimaan barang input (47,46) dan jumlah tenaga kerja (48,65) kompak bertahan di zona kontraksi dan menunjukkan penurunan skor. Angka serapan tenaga kerja yang menurun ini secara implisit menunjukkan bahwa produsen masih berhati-hati dalam melakukan rekrutmen baru di tengah dinamika pasar yang masih tak menentu.
Potret kontraksi kinerja industri manufaktur Indonesia yang tergambarkan oleh PMI S&P Global di bulan Juni 2026 menangkap lesunya industri yang masih berlanjut akibat tekanan eksternal dan inflasi. Meski tidak dicantumkan skor penilaian dari setiap komponen, laporan S&P menjelaskan anjloknya indeks ke level 46,9 dipicu oleh kontraksi volume produksi yang paling tajam sejak April 2025. Hal ini sejalan dengan melemahnya daya beli domestik dan merosotnya permintaan ekspor ke titik terendah sejak Agustus 2021.
Beban ganda berupa lonjakan harga bahan baku dan pelemahan nilai tukar menciptakan tekanan biaya input tertinggi sejak April 2011. Untuk bertahan, produsen terpaksa mengerek harga jual dengan laju tercepat dalam 13 tahun terakhir. Kondisi ini pada akhirnya memaksa perusahaan melakukan efisiensi, termasuk memangkas tenaga kerja pada tingkat tercepat sejak September 2021. Walakin, di tengah badai ini, para manajer pembelian masih menyimpan optimisme bahwa tekanan inflasi akan mereda dalam 12 bulan ke depan.
Kontradiksi antara PMI-BI dan S&P Global dalam melihat kinerja industri manufaktur tak lepas dari perbedaan mendasar dalam hal metode pengukuran, komponen, dan karakteristik sampel. PMI S&P Global merilis data bulanan dari 400 manajer pembelian menggunakan rata-rata terukur (weighted average), di mana komponen permintaan baru dan output produksi mendominasi sebanyak 55% bobot penilaian. Pengukuran rutin bulanan ini membuat indeks S&P sangat sensitif terhadap guncangan jangka pendek seperti fluktuasi kurs, gangguan pasokan, dan sentimen inflasi harian.
Sebaliknya, PMI-BI merilis data triwulanan dan mensurvei sampel yang lebih masif yakni 600 responden dari lapangan usaha industri pengolahan. Penghitungan lima indeks komposit PMI-BI juga tidak mencantumkan pembobotan spesifik pada satu indikator. Hasilnya, kontraksi pada aspek tertentu seperti penyerapan tenaga kerja atau kecepatan rantai pasok dapat diredam oleh stabilitas volume persediaan atau produksi, sehingga skor akhir PMI-BI cenderung lebih moderat dan stabil.
Oleh karena itu, dalam memaknai geliat manufaktur dari kacamata kedua indeks ini, para pelaku pasar dan pembuat kebijakan harus melihatnya sebagai instrumen indikator kinerja industri manufaktur yang saling melengkapi.
PMI S&P Global dengan siklus bulanannya berfungsi selayaknya monitor bulanan yang melihat operasional jangka pendek, tekanan inflasi biaya bahan baku, dan sentimen real-time para manajer pembelian. Di sisi lain, PMI-BI memberikan diagnosis struktural yang mengukur daya tahan kapasitas produksi secara lebih luas dan komprehensif melintasi satu kuartal penuh.
Secara umum, industri pengolahan masih memiliki daya tahan yang cukup baik (tercermin dari ekspansi PMI-BI), namun fundamental tersebut sedang dihadang badai pelemahan permintaan dan lonjakan beban biaya (tercermin dari kontraksi indeks PMI S&P Global secara bulanan) yang memerlukan intervensi kebijakan dan respons cepat pengambil kebijakan.