Mengkalkulasi Pengembangan Industri Data Center dan Ketahanan Energi
Pesatnya digitalisasi global mendorong ekspansi masif industri data center di kawasan Asia. Indonesia kini menjadi wilayah potensial pusat data center di ASEAN.
Pesatnya digitalisasi global mendorong ekspansi masif industri data center di kawasan Asia. Indonesia kini menjadi wilayah potensial pusat data center di ASEAN.
Potensi besar Indonesia dalam membangun ekosistem industri data center didukung oleh ketersediaan lahan yang luas dan sumber daya energi yang besar. Dalam perkembangannya, kini Indonesia telah mengoperasikan sekitar 200 data center yang merupakan jumlah terbanyak di kawasan ASEAN dengan pusat pertumbuhan utama terkonsentrasi di Jabodetabek dan Batam.
Di balik prospek ekonomi digital yang menjanjikan, lonjakan kebutuhan daya untuk industri ini akan menentukan keberlanjutan industri ini. Belajar dari dinamika di Amerika Serikat (AS), ekspansi data center berskala raksasa memicu kontra sosial akibat tekanan atas pasokan energi publik.
Pertumbuhan data center dunia kini dipimpin oleh AS dengan skala industri yang besar. Kebutuhan energi turut bertumbuh seiring dengan pertumbuhan skala data center di AS yang kian besar. Tekanan industri data center terhadap infrastruktur energi terlihat jelas jika membandingkan tren proporsi penggunaan listrik terhadap total permintaan di berbagai kawasan.
Berdasarkan data laporan International Energy Agency (IEA) 2026, AS mencatatkan lonjakan proporsi listrik data center yang sangat pesat, yaitu dari 3,6% pada 2023, naik menjadi 4,2% pada 2024, dan menyentuh 4,9% pada 2025. Angka ini jauh melampaui rata-rata proporsi global yang diperkirakan berada di level 1,5% pada 2025, kawasan Eropa sebesar 1,9%, maupun Asia Pasifik di angka 1,1%.
Lonjakan energi yang signifikan di AS tersebut menjadi gambaran bagaimana komputasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan beban kerja GPU berkapasitas tinggi mampu mengubah profil kebutuhan energi nasional secara drastis dalam waktu singkat.
Jika melihat lanskap nasional, pasar data center Indonesia saat ini masih didominasi oleh model colocation sebesar 71%. Namun, segmen hyperscale mencatatkan pertumbuhan tercepat hingga 20,9% per tahun seiring masuknya raksasa penyedia cloud global yang bekerja sama dengan perusahaan domestik.
Secara geografis, wilayah Jabodetabek memegang kendali atas 56% pangsa pasar, dengan area perkotaan difokuskan untuk edge data center berkepadatan tinggi. Sementara koridor Cikarang, Cibitung, dan Karawang menjadi basis kampus hyperscale yang membutuhkan lahan dan energi raksasa.
Di saat yang sama, Kota Batam ikut berembang dengan pertumbuhan 21,7% per tahun sebagai pusat overflow hub strategis bagi Singapura yang menawarkan insentif Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) serta konektivitas kabel bawah laut. Penataan geografis dan peningkatan dominasi hyperscale ini menandakan lonjakan konsumsi listrik dan air infrastruktur digital Indonesia akan bertambah secara masif dalam waktu mendatang.
Konsumsi energi berbeda-beda berdasarkan tipe data center dan karakteristik operasional data center yang beroperasi nonstop dengan kapasitas besar. Data center skala menengah (10.000–50.000 kaki persegi) rata-rata mengonsumsi 500 kW hingga 2 MW atau setara 720 ribu hingga 8,76 juta kWh per tahun. Sedangkan kategori Large dan Hyperscale (>50.000 kaki persegi) menyedot daya di atas 10 MW atau setara 87,6 juta kWh per tahun.
Dalam laporan penggunaan energi di AS, total konsumsi listrik data center secara akumulatif yang tercatat sebesar 176 Terawatt-jam (TWh) pada tahun 2023 diperkirakan akan melambung tinggi hingga 1.050 TWh per tahun pada 2030. Angka konsumsi yang besar ini memberi gambaran fasilitas hyperscale tidak dapat diperlakukan seperti konsumen listrik biasa, melainkan entitas industri yang terus berkembang dengan kebutuhan energi yang terus meningkat dan besar.
Selain kebutuhan listrik, konsumsi air bersih yang masif untuk sistem pendingin (cooling system) juga menjadi tantangan ekologis yang kerap terabaikan. Sebuah data center skala menengah memerlukan hingga 110 juta galon air per tahun atau setara dengan penggunaan tahunan 1.000 rumah tangga. Fasilitas berskala lebih besar dapat menghabiskan hingga 5 juta galon air per hari atau 1,8 miliar galon per tahun, setara konsumsi kota berpenduduk 10.000 hingga 50.000 jiwa.
Laporan Environmental and Energy Study Institute (EESI) mencatat total konsumsi air oleh 5.426 data center di Amerika Serikat melonjak tajam dari 163,7 miliar galon per tahun (449 juta galon/hari) pada 2021 menjadi 211 miliar galon pada 2023. Penggunaan air yang masif tersebut berpotensi memicu persaingan pemanfaatan air bersih dengan masyarakat lokal.
Jika difokuskan lagi pada penerapan teknologi pemrosesan AI, kebutuhan energi yang digunakan akan lebih besar dari tipe data center lainnya. Sebagai gambaran, penelitian EESI juga menyebutkan setiap 100 kata prompt AI yang diproses server diperkirakan menguras sekitar 1 botol air mineral ukuran 519 mililiter untuk keperluan pendinginan.
Jika pertumbuhan pesat data center di Indonesia tidak memiliki konsep yang terintegrasi serta didukung regulasi dan pengawasan yang baik, terutama pengelolaan sharing sumber daya dari jaringan listrik dan cadangan air publik yang sama, berpotensi menekan jatah konsumsi masyarakat, memicu kenaikan tarif, hingga mengganggu operasional sektor industri manufaktur lainnya.
Guna mengantisipasi dampak risiko industri, pemerintah bersama pelaku industri perlu menetapkan regulasi ketat, seperti kewajiban batas efisiensi energi (Power Usage Effectiveness/PUE rendah), penerapan teknologi pendinginan hemat air (seperti liquid cooling atau direct-to-chip cooling), serta mandatori penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) bagi fasilitas hyperscale.
Dengan langkah mitigasi sejak dini, Indonesia dapat membangun ekosistem digital yang lebih baik dan berdaya saing di Asia tanpa mengorbankan ketahanan energi serta air bagi sektor lainnya.