Laporan Asian Development Outlook July 2026: A Fragile Outlook as Energy Market Disruptions Persist oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) menyebutkan perang Timur Tengah yang dimulai sejak akhir Februari lalu telah menyebabkan kerugian energi paling besar sepanjang sejarah.
Kerugian disebabkan oleh pembatasan ketat, atau bahkan penghentian, pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz, selat yang merupakan jalur laut vital yang mengangkut sekitar 25% perdagangan minyak global dan sekitar 20% perdagangan gas alam cair global.
Pasokan minyak global turun tak kurang dari 10 juta barel per hari (mb/d) pada bulan Maret. Seiring dengan meningkatnya tensi konflik, pasokan minyak berkurang lebih banyak, bahkan mencapai 13,6 juta barel per hari pada Mei. Laporan ADB menyebut kekurangan tersebut sekitar 13% dari pasokan minyak global tahun 2025.
Berkurangnya pengiriman minyak dalam bentuk minyak mentah dan kondensat dari eksportir Timur Tengah telah mengganggu pasokan energi negara-negara pengimpor utama dunia, termasuk Indonesia. Kerugian yang ditimbulkan bahkan dicatat sebagai yang terbesar sepanjang sejarah krisis minyak yang pernah terjadi.
Sebagai perbandingan, embargo minyak Arab pada tahun 1973 dan Perang Teluk tahun 1990 telah menghilangkan sekitar 4–6 juta barel per hari pada puncaknya. Sementara, setelah invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, gangguan pasokan minyak hanya menghilangkan sekitar 1 juta barel per hari.
Meskipun merupakan gangguan pasokan minyak global terbesar yang pernah terjadi dalam 70 tahun terakhir, Perang Timur Tengah menurut laporan ADB tersebut tidak mendorong kenaikan harga minyak setinggi yang pernah terjadi sebelumnya. Harga spot minyak mentah Brent naik sekitar 104% dari 27 Februari ke puncaknya sekitar 144 dolar AS per barel pada 7 April 2026 (harga disesuaikan dengan inflasi). Selanjutnya harga perlahan turun menjadi sekitar 98 dolar AS per barel pada awal Juni.
Jika melihat harga minyak mentah Brent secara nominal, harga tertinggi akibat Perang Timur Tengah mencapai 114 dolar AS per barel pada 4 Mei 2026. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan kenaikan harga minyak pada saat Rusia menginvasi Ukraina yang dimulai sejak Februari 2022. Harga tertinggi minyak mentah Brent akibat invasi Rusia mencapai 119 dolar AS per barel pada 6 Juni 2022, naik sekitar 28% dibandingkan awal Februari 2022.
Akibat gangguan pengiriman minyak dari Timur Tengah, dunia mengalami persediaan yang luar biasa melimpah karena pertumbuhan pasokan melampaui permintaan. Persediaan minyak mentah dan produk minyak bumi melebihi 8,2 miliar barel dibandingkan awal tahun 2026, tertinggi sejak tahun 2021.
Selain itu, tidak semua ekspor minyak Timur Tengah sepenuhnya hilang. Beberapa produsen menyiasati kondisi Selat Hormuz melalui jalur ekspor alternatif. Arab Saudi, misalnya, meningkatkan pengiriman minyaknya dari terminal Laut Merah dan Uni Emirat Arab melalui Fujairah. Pengalihan rute ini dapat mengurangi guncangan pasokan.
Akhirnya, produksi dan ekspor dari produsen di luar Timur Tengah dapat mengimbangi sebagian kerugian yang dialami pengimpor utama. Ekspor minyak mentah AS meningkat dan mencapai rekor 5,6 juta barel per hari pada bulan Mei. Pencabutan sementara sanksi terhadap pengiriman minyak Rusia juga semakin memperluas akses pasokan alternatif dan membantu menyalurkan minyak mentah ke importir yang terdampak seperti Indonesia.
Perundingan perdamaian antara AS-Iran terus diupayakan untuk memulihkan krisis energi global. Sekitar lima bulan perang berlangsung, kesepakatan damai masih belum dihasilkan. Kedua pihak berebut kendali atas Selat Hormuz yang menjadi nadi distribusi energi global.
Serangan yang berbalas serangan antarkedua pihak terus terjadi menyebabkan harga minyak dunia berfluktuasi, namun masih terkendali di bawah angka 100 dolar AS per barel. Dalam sepekan terakhir, harga minyak mentah di spot Brent di kisaran 83-92 dolar AS per barel.