Setelah sempat tertekan hingga menyentuh level terlemahnya tahun ini, nilai tukar rupiah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Apresiasi rupiah kali ini berlangsung beriringan dengan rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Penguatan nilai tukar rupiah beberapa hari ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap bauran kebijakan moneter yang ditempuh otoritas, termasuk kenaikan suku bunga acuan dan penguatan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Pemerintah mencobai mengurai masalah dampak pelemahan rupiah ke perajin tahu dan tempe. harga kebutuhan pokok, sebisanyatidak mengalami kenaikan
Dalam waktu relatif singkat, investor asing beramai-ramai melepas aset baik yang berupa kepemilikan saham maupun surat berharga. Di bursa saham, asing mencatat net sell Rp 61,3 triliun sejak awal tahun. Sementara di pasar obligasi, kepemilikan SBN oleh asing berkurang Rp 15,5 triliun dalam 5 bulan.
Tak hanya menempuh upaya konvensional, sinergi memulihkan kepercayaan pasar perlu dirumuskan dalam kebijakan konkret dan terukur guna mencegah depresiasi memicu efek berkepanjangan terhadap perekonomian Tanah Air.
Rupiah kembali mencatatkan level all time low historis, melewati ambang batas Rp18.000 per US$. Perlu segera diselamatkan.
Pelemahan nilai tukar rupiah yang berkelanjutan hingga ke level Rp 17.700 per dolar AS berdampak langsung pada struktur perdagangan internasional Indonesia, terutama pada sektor impor. Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pasokan luar negeri mengancam neraca perdagangan.
Tekanan terhadap rupiah terus berlanjut hingga berada di titik terlemahnya sepanjang sejarah. Per 19 Mei 2026, nilai tukar rupiah tercatat di level Rp 17.719 per dolar AS. Tak hanya Indonesia, sejumlah mata uang negara lain, seperti Jepang dan India, juga ikut terpuruk.
Dengan pelemahan nilai rupiah yang terus terjadi, Pemerintah perlu memperhitungkan berbagai skenario risiko global dalam penyusunan asumsi makro ekonomi dan APBN ke depan.
Depresiasi rupiah bukan kali ini saja terjadi. Dalam satu dekade terakhir, rupiah telah beberapa kali terdepresiasi dengan pelemahan yang cukup dalam, bahkan mencapai 20%.
Nilai tukar sejumlah mata uang negara di Asia turut terdampak eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah. Pergerakan kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat, misalnya, terus melemah sepanjang Maret 2026. Pelemahan nilai tukar dapat memicu inflasi dan dampak ikutan lainnya.
Harga minyak mentah yang telah tembus USD100 per barel memicu depresiasi rupiah dan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (9/3/2026). Bagaimana ke depannya?
Menampilkan 12 dari 13 total postingan
Tetap terupdate dengan koleksi cerita terbaik kami.