Menilik pergerakan harian sepanjang tahun 2026, rupiah membuka awal tahun dengan relatif tenang di level Rp 16.725 per dolar AS pada 2 Januari 2026. Kondisi itu terus berlanjut hingga 28 Januari 2026 yang tercatat di level Rp 16.723. Namun, setelah itu rupiah terus merosot menembus level psikologis baru di angka Rp 17.015 pada 2 April 2026.
Tren pelemahan ini terus menggelinding bak bola salju hingga puncaknya pada 19 Mei 2026, di mana mata uang garuda ambruk ke rekor terendah baru sepanjang masa, yaitu Rp 17.719 per dolar AS. Jika dihitung sejak titik penguatan tertinggi terakhirnya di akhir Januari (Rp 16.723), rupiah telah terdepresiasi cukup dalam, yakni melemah sekitar 5,96% hanya dalam kurun waktu kurang dari empat bulan.
Pelemahan nilai tukar terhadap dollar AS ini nyatanya tidak dialami oleh Indonesia sendirian, melainkan merupakan bagian dari rantai guncangan moneter global yang turut memukul negara-negara "raksasa" Asia lainnya, seperti Jepang dan India.
Di negeri sakura, mata uang yen (JPY) mengalami depresiasi yang cukup dalam hingga menyentuh angka 159,12 yen per dolar AS per 19 Mei 2026. Yen terkoreksi 4,45% dibandingkan posisi terkuatnya pada 27 Januari 2026 di level 152,22 per dolar AS.
Kurs yen per 19 Mei 2026 masih lebih kuat dibandingkan level 160,38 yen per dolar AS yang terjadi pada 29 April 2026. Meski demikian, posisi tersebut tetap menempatkan ekonomi Jepang dalam status siaga satu.
Sementara itu, India juga mencatatkan rapor merah di mana rupee (INR) terperosok ke rekor terburuk dalam sejarahnya di level 96,3 rupee per dolar AS pada tanggal yang sama (19/5) atau terdepresiasi 6,6% dibandingkan kondisi awal tahun. Pelemahan terjadi akibat pembengkakan defisit transaksi berjalan.
Dilansir dari laporan JapanToday (15/5/2026), menyikapi situasi pelamahan yang terjadi, Pemerintah Jepang berpotensi melanjutkan intervensi pasar valuta asing untuk menahan kejatuhan nilai tukar yen yang telah menembus di level 160 yen per dolar AS. Langkah ini kini mendapatkan dukungan penuh dan koordinasi dengan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, guna mencegah volatilitas berlebihan di pasar keuangan global. Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, mengonfirmasi bahwa AS sepenuhnya mendukung tindakan Jepang setelah melakukan pertemuan dengan Bessent di Tokyo.
Dukungan AS ini didorong oleh kekhawatiran bahwa jika yen terus jatuh, Jepang terpaksa melakukan intervensi dengan menjual kepemilikan obligasi pemerintah AS demi mendapatkan dolar. Hal ini berisiko mendorong suku bunga di AS naik lebih tinggi.
Otoritas Jepang sendiri sebelumnya telah menghabiskan dana hampir 10 triliun yen (sekitar 63 miliar dolar AS) sejak akhir April hingga awal Mei 2026 untuk mengulur waktu bagi Bank Sentral Jepang (BoJ) sampai mereka siap menaikkan suku bunga acuan demi melindungi daya beli domestik dari lonjakan biaya impor di tengah ketidakpastian inflasi akibat konflik Timur Tengah.
Tidak kalah agresif dengan Jepang, Pemerintah India salah satunya memberlakukan pembatasan ketat terhadap impor perak dalam hampir semua bentuk yang efektif berjalan mulai pertengahan Mei 2026. Langkah darurat ini diambil oleh salah satu konsumen perak terbesar di dunia tersebut dengan tujuan utama menekan defisit perdagangan, mengamankan cadangan devisa, serta mengurangi tekanan depresiasi pada mata uang rupee yang sedang terpuruk akibat dampak ketegangan geopolitik global.
Dalam detail pengetatan tersebut, pemerintah memasukkan batangan perak dengan tingkat kemurnian 99,9% serta seluruh produk perak setengah jadi (semi-manufactured) yang mencakup lebih dari 90% total impor perak ke dalam kategori terbatas, sekaligus menaikkan tarif bea masuk impor perak dan emas menjadi 15% dari yang sebelumnya hanya 6%. Kebijakan ekstrem ini dipicu oleh lonjakan impor masif pada tahun fiskal 2025/2026 yang mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah mencapai 12 miliar dolar AS, sehingga menguras cadangan devisa karena India harus mengimpor lebih dari 80% kebutuhan perak domestiknya menggunakan dolar AS.
Tren pelemahan sejumlah mata uang yang terjadi sepanjang tahun 2026 ini membuktikan bahwa penguatan dolar AS merata terjadi di seluruh episentrum ekonomi Asia. Baik Indonesia dengan rekor Rp 17.719 per Dolar AS, Jepang dengan pertahanan di batas 160 yen, maupun India yang harus mengorbankan pasar impor peraknya, memperlihatkan bahwa strategi mempertahankan stabilitas moneter saat ini merupakan tantangan besar.