Peluang Kredit Kendaraan Listrik Jadi Penyokong Industri Pembiayaan

Otoritas Jasa Keuangan mencatat adanya akselerasi pembiayaan hijau pada sektor kendaraan listrik (EV) per Maret 2026. Kondisi ini melanjutkan tren lonjakan yang terjadi di tahun sebelumnya.

Peluang Kredit Kendaraan Listrik Jadi Penyokong Industri Pembiayaan

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tercatat total penyaluran kredit untuk mobil listrik menembus angka Rp 18,77 triliun atau meningkat hingga 31,63% secara tahunan. Namun, kontras dengan segmen kendaraan ramah lingkungan, industri pembiayaan konvensional justru dihadapkan pada tantangan berat.

Penyaluran kredit untuk kendaraan roda empat baru secara umum mengalami kontraksi sebesar 3,17% menjadi Rp 146,56 triliun, sementara segmen kendaraan bekas merosot lebih dalam dengan koreksi hingga 7,67% menjadi Rp 86,73 triliun.

Pertumbuhan turut terlihat melalui tren data sepanjang tahun 2025 berdasarkan klasifikasi jenis kendaraannya. Kategori mobil nonlistrik (konvensional) masih mendominasi secara nominal, namun terus mengalami tren penurunan yang konsisten sepanjang kuartal. Mobil nonlistrik baru menyusut dari Rp 414,89 triliun pada Q1-25 menjadi Rp 377,87 triliun pada Q4-2025, sementara nonlistrik bekas melandai dari Rp 275,28 triliun ke Rp 262,22 triliun. 

Sebaliknya, segmen mobil listrik (pure EV) menunjukkan penyaluran pembiayaan yang meningkat. Kredit mobil listrik baru melonjak dari Rp 12,30 triliun pada kuartal pertama hingga menyentuh Rp 20,19 triliun di pengujung tahun 2025. Di sisi lain, kategori hybrid juga memperlihatkan pertumbuhan yang solid dan stabil, di mana varian barunya merangkak naik dari Rp 25,92 triliun pada Q1-2025 menuju Rp 30,69 triliun pada Q4-2025.

Melihat dinamika pertumbuhan triwulanan (quarter-to-quarter/q-to-q), pergeseran preferensi konsumen ke arah kendaraan ramah lingkungan terasa semakin kuat. Sepanjang tahun 2025, kredit mobil listrik baru mencatatkan lompatan pertumbuhan tertinggi pada Q2-2025 dengan kenaikan sebesar 28,88% q-to-q, disusul pertumbuhan konsisten sebesar 11,10% pada Q3-2025 dan kembali menguat 14,60% pada Q4-2025. 

Sebaliknya, segmen mobil nonlistrik baru justru terjebak di zona negatif dengan kontraksi beruntun, yakni -3,48% pada Q2-2025, menjadi -1,69% pada Q3-2025, dan kian memburuk menjadi -4,02% pada Q4-2025. Sementara itu, segmen kendaraan hybrid baru menjadi penyeimbang dengan kestabilan pertumbuhan di kisaran 5-6% pada setiap kuartalnya.

Apabila dianalisis melalui performa bulanan sepanjang tahun 2025, grafik total kredit kendaraan roda empat menampakkan kurva yang cenderung menurun. Berdasarkan data agregat, total pembiayaan roda empat pada awal tahun (Januari 2025) berada di angka Rp 244,30 triliun. Sempat mengalami kenaikan tipis pada Maret 2025 menjadi Rp 245,27 triliun, namun setelah itu terus menurun hingga menyentuh titik terendahnya pada Desember 2025 di level Rp 228,41 triliun. 

Penurunan penyaluran pembiayaan pada sektor otomotif mengindikasikan adanya tekanan daya beli masyarakat terhadap aset bernilai tinggi atau adanya sikap wait and see dari konsumen di tengah ketidakpastian ekonomi.

Meski segmen roda empat konvensional mengalami perlambatan, porsi pembiayaan otomotif (gabungan kendaraan roda dua dan roda empat) terbukti tetap menjadi tulang punggung utama dari total kinerja penyaluran kredit industri multifinance. Berdasarkan data OJK, kontribusi sektor otomotif terhadap keseluruhan portofolio pembiayaan perusahaan multifinance sangat dominan dengan porsi rata-rata bulanan mencapai 65,51%. 

Pada kuartal pertama tahun 2025, porsi kontribusi ini bertengger kuat di level 66,82% (Januari) dan 66,43% (Februari). Meskipun angka total pembiayaan industri bergerak fluktuatif di kisaran Rp 528 triliun hingga Rp 539 triliun, sektor otomotif secara konsisten menyerap lebih dari separuh kue pembiayaan nasional, menegaskan posisinya sebagai motor penggerak industri.

Namun demikian, pergeseran struktural yang terjadi di akhir tahun perlu menjadi perhatian para pelaku industri multifinance. Seiring merosotnya angka penyaluran kredit roda empat ke level Rp 228,41 triliun dan roda dua yang tertahan di Rp 109,49 triliun pada Desember 2025, porsi kontribusi otomotif pun ikut melonggar ke angka 63,21% (titik terendah sepanjang tahun). 

Dengan fenomena tersebut, terbuka peluang baru bagi korporasi pembiayaan untuk mendiversifikasi portofolio mereka. Mengingat ceruk pasar EV baru dan hybrid menunjukkan tren peningkatan di tengah pelemahan ekonomi, akselerasi kemitraan strategis dengan produsen kendaraan listrik serta penyediaan skema kredit hijau yang lebih kompetitif dapat menjadi solusi untuk mengompensasi penurunan pada segmen kendaraan konvensional, sekaligus menjaga tren profitabilitas industri di masa mendatang.

Baca selengkapnya

Ω