Akselerasi Kemitraan Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia

Langkah strategis Indonesia memperkuat kemitraan ekonomi global memasuki babak baru. Melalui pertemuan tingkat tinggi antara Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto dengan pimpinan negara-negara anggota Uni Ekonomi Eurasia (EAEU), Indonesia menegaskan komitmen untuk mendiversifikasi mitra ekonomi. 

Akselerasi Kemitraan Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia

Perjanjian Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia–EAEU FTA) yang ditanda-tangani pada 11 Mei 2026 merupakan sebuah instrumen geopolitik dan geoekonomi untuk memperluas akses pasar produk unggulan nasional ke negara seperti Kazakhstan, Rusia, dan Belarus, di tengah dinamika ekonomi global yang tidak menentu. Berdasarkan data tren nilai ekspor yang dihimpun sejak 2022, Rusia menjadi mitra dagang dominan bagi Indonesia di kawasan Eurasia. 

Puncak nilai ekspor ke Rusia tercatat pada tahun 2025 dengan angka mencapai 1,87 miliar dolar AS. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sementara itu, Kazakhstan menyusul sebagai pasar terbesar kedua dengan nilai yang stabil di kisaran 100 juta dolar AS hingga 114 juta dolar AS per tahun. 

Menariknya, negara-negara seperti Belarusia dan Armenia menunjukkan tren pertumbuhan yang eksponensial. Ekspor ke Belarus melonjak dari hanya 692 ribu dolar AS pada 2022 menjadi lebih dari 79 juta dolar AS pada 2025, menandakan terbukanya potensi pasar baru yang sebelumnya belum tergarap maksimal.

Perjanjian Indonesia-EAEU FTA mencakup platform kerjasama yang komprehensif. Terdapat empat pilar utama yang menjadi motor penggerak, yakni perluasan akses pasar, peningkatan volume perdagangan bilateral, penguatan konektivitas logistik, dan pembukaan peluang investasi. 

Dengan statusnya saat ini yang telah mencapai tahap tindak lanjut konkret melalui Sidang Komisi Bersama (SKB), pemerintah Indonesia optimistis bahwa hambatan tarif dan non-tarif dapat direduksi secara signifikan. Hal ini diharapkan mampu mengamankan rantai pasok nasional, terutama pada komoditas-komoditas strategis yang menjadi keunggulan masing-masing negara anggota EAEU.

Sektor-sektor prioritas yang disasar dalam perjanjian ini mencerminkan kebutuhan masa depan kedua belah pihak. Selain perdagangan konvensional, fokus dialihkan pada sektor energi, ketahanan pangan, transformasi digital, mineral kritis, dan pariwisata. 

Integrasi ekonomi ini memungkinkan Indonesia untuk mendapatkan pasokan energi dan bahan pangan yang lebih stabil, sekaligus menawarkan teknologi digital serta destinasi wisata unggulan kepada pasar Eurasia yang memiliki daya beli kompetitif. Kerjasama di bidang mineral kritis juga menjadi kunci strategis bagi Indonesia dalam memperkuat posisinya di rantai pasok global baterai kendaraan listrik.

Meskipun data ekspor awal tahun 2026 masih menunjukkan angka parsial, fondasi yang dibangun melalui FTA ini diproyeksikan akan membawa lonjakan nilai perdagangan yang lebih masif di tahun-tahun mendatang. Dengan resminya kerjasama ini, Indonesia kini memiliki pijakan kuat di jantung Eurasia, yang menghubungkan Asia Tenggara dengan kawasan yang kaya akan sumber daya alam dan potensi industri.

Baca selengkapnya

Ω