Pada April 2026, PT Krakatau Osaka Steel (KOS) resmi menghentikan operasional produksinya akibat kerugian finansial yang terus membengkak. Penutupan pabrik patungan antara BUMN Krakatau Steel dan Osaka Steel tersebut berdampak langsung pada PHK terhadap hampir 200 pekerja.
Penutupan pabrik baja ini menjadi ironi di tengah tren meningkatnya konsumsi dan produksi baja nasional. Berdasarkan data The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), konsumsi baja nasional diproyeksikan terus meningkat dari 11,4 juta ton pada 2015 hingga mencapai 18,3 juta ton pada 2024, atau tumbuh sekitar 60,5% dalam satu dekade. Output produksi domestik juga naik dari 6,2 juta ton (2015) menjadi sekitar 15,9 juta ton (2024) atau tumbuh pesat mencapai 156%.
Terdapat celah sebesar 2,4 juta ton antara kebutuhan pasar domestik dengan suplai lokal pada tahun 2024. Menutup celah konsumsi tersebut dengan melakukan impor menunjukkan ketergantungan yang masih cukup tinggi terhadap produk luar.
Perdagangan luar negeri terkait sektor baja ini mencatatkan performa yang penuh tantangan. Dari sisi ekspor, pada tahun 2024, volume ekspor besi dan baja Indonesia tercatat mencapai 20,92 juta ton dengan nilai mencapai 25,8 miliar dolar AS. Angka ini diproyeksikan terus melonjak pada tahun 2025 menjadi 23,26 juta ton (naik 11,18% secara volume) dengan nilai 27,97 miliar dolar AS. Momentum terus meningkatkan ekspor tersebut perlu terus dijaga, namun, memenuhi kebutuhan dalam negeri perlu diprioritaskan.
Dari sisi impor, meski angkanya tidak setinggi ekspor, tren pertambahannya bisa menjadi ancaman bagi pemain lokal seperti KOS. Volume impor baja meningkat selama periode 2023-2025, namun nilainya cenderung menurun dari 13,93 miliar dolar AS pada 2022 menjadi sekitar 9,53 miliar dolar AS pada 2025.
Penurunan nilai impor di tengah volume yang tetap tinggi mengindikasikan masuknya produk baja impor dengan harga yang semakin murah (diduga akibat dumping atau kelebihan pasokan global), yang secara langsung memukul margin keuntungan produsen baja dalam negeri yang memiliki struktur biaya lebih tinggi.
Pertumbuhan angka-angka makro tersebut tidak selalu menjamin keberlanjutan pemain dalam industri. Meskipun konsumsi dan ekspor baja nasional menunjukkan tren positif, kenaikan volume impor dengan harga yang murah menciptakan kompetisi yang kian berat.
Ke depannya, perlindungan terhadap industri baja nasional melalui kebijakan tarif dan penguatan rantai pasok lokal menjadi harga mati agar pertumbuhan produksi dan konsumsi tidak menjadi sekadar catatan di atas kertas sementara pabrik-pabrik lokal terancam tumbang.