Pasar emas global di awal tahun 2026 mencatatkan tren penurunan permintaan secara total dibandingkan kuartal sebelumnya di saat harga cenderung meningkat.
Berdasarkan laporan Global Gold Council, harga emas global (LBMA Gold Price) meningkat hingga menyentuh angka 4.872,9 dolar AS per ons pada kuartal pertama tahun ini (Q1-2026). Kenaikan harga tersebut tumbuh signifikan 17,8% dibandingkan Q4-2025 (quarter-to-quarter/q-t-q) yang berada di level 4.135,2 dolar AS per ons.
Jika dilihat secara tahunan (year-on-year/y-o-y), harga logam mulia bahkan telah meroket sebesar 70,4% dari posisi Q1-2025 yang kala itu hanya berada di kisaran 2.859,6 dolar AS per ons. Namun, lonjakan harga ternyata membawa dampak koreksi yang signifikan pada volume permintaan di beberapa sektor utama.
Tingginya harga emas yang terus mencetak rekor baru tampaknya mulai mengerem daya beli di sektor riil, khususnya pada sektor emas perhiasan. Data tren kuartalan menunjukkan permintaan emas perhiasan pada Q1-2026 menyusut ke angka 335 ton. Penurunan ini memberi koreksi sebesar -23,5% secara q-t-q dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 438 ton.
Pola yang sama juga terlihat pada analisis tahunan, di mana permintaan emas perhiasan merosot -22,9% dibandingkan perolehan kuartal pertama tahun lalu sebesar 434,6 ton. Sektor teknologi global pun terpantau bergerak stagnan cenderung melemah tipis, dengan volume permintaan sebesar 81,6 ton pada Q1-2026, atau terkoreksi -0,6% secara q-t-q, meski masih mencatatkan pertumbuhan positif yang sangat tipis sebesar 1,5% secara y-o-y.
Tidak hanya perhiasan, sektor investasi global yang biasanya menjadi motor penggerak utama pasar emas saat ketidakpastian ekonomi terjadi, kini juga ikut tertahan akibat harga yang terlalu tinggi. Volume investasi emas global pada Q1-2026 tercatat sebesar 535,6 ton. Angka ini turun 11,2% secara q-t-q jika disandingkan dengan kuartal akhir tahun lalu di posisi 602,9 ton.
Begitu pula secara tahunan, minat investor global untuk mengoleksi emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) mengalami penyusutan sebesar -5,0% (y-o-y) dari volume kebutuhan emas untuk investasi Q1-2025 yang sempat menyentuh level 563,6 ton.
Koreksi di kedua sektor utama ini mengonfirmasi bahwa harga yang terlalu tinggi mulai memicu aksi wait and see di kalangan pelaku pasar retail maupun institusi investasi.
Di balik melandainya minat investasi retail dan perhiasan, sebuah arah baru dalam peta permintaan emas global mulai terbentuk melalui pergeseran dominasi ke sektor institusional. Bank sentral di berbagai penjuru dunia tampil menopang pasar emas pada Q1-2026 dengan membukukan volume pembelian bersih mencapai 243,7 ton.
Akumulasi oleh bank-bank sentral ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 17,4% secara q-t-q dibanding kuartal sebelumnya yang sebesar 207,6 ton. Secara tahunan, permintaan dari sektor ini juga sukses terjaga di zona hijau dengan kenaikan sebesar 2,8% y-o-y dari pencapaian Q1-2025 yang sebesar 237 ton. Data ini menjadi bukti bahwa kebutuhan bank sentral dalam memperkuat cadangan devisa negara kini menjadi motor penggerak utama yang menjaga stabilitas pasar emas dunia.
Dinamika pergeseran ini juga tercermin dari aktivitas spesifik sejumlah negara yang secara agresif mengubah komposisi kepemilikan cadangan emas mereka di awal tahun 2026 ini. Bulgaria memimpin peta peningkatan terbesar di dunia dengan mencatatkan pertumbuhan kepemilikan tertinggi sebesar 0,54%.
Langkah ekspansif ini kemudian diikuti oleh Turki yang membukukan kenaikan cadangan emas sebesar 0,07%, serta Kirgistan yang meningkat sebesar 0,06%. Dua negara di kawasan Asia Tengah dan Eropa Tenggara, yaitu Serbia dan Uzbekistan, juga memperkuat posisi cadangan emas mereka masing-masing dengan pertumbuhan sebesar 0,05% pada kuartal pertama tahun ini. Akumulasi strategis oleh negara-negara tersebut menegaskan komitmen kuat dari otoritas moneter global untuk mengamankan aset berharga di tengah volatilitas makroekonomi.
Sebaliknya, beberapa negara justru memanfaatkan momentum meroketnya harga emas ini untuk melakukan aksi ambil keuntungan ataupun melakukan penyesuaian struktural pada cadangan devisanya sehingga mencatatkan penurunan kepemilikan terbesar. Hongaria, misalnya, mengalami penurunan cadangan emas dengan koreksi sebesar -0,02%. Selanjutnya, Suriname mencatatkan penurunan sebesar -0,01%.
Sementara itu, tiga negara lainnya, yakni Makedonia Utara, Singapura, dan Meksiko, kepemilikan cadangan emas juga tercatat menurun meski tetap signifikan secara volume.
Dinamika Q1-2026 ini menggarisbawahi realitas di pasar komoditas bahwa harga yang tinggi juga memicu penurunan permintaan di tingkat konsumen dan investor individu.