Pasar emas saat ini tengah memasuki periode koreksi setelah mencatatkan lonjakan historis pada awal tahun 2026. Memasuki bulan Juni, instrumen safe haven ini justru menunjukkan tren menurun dibandingkan performa lonjakan di bulan Februari dan Maret.
Emas kini didorong menjadi instrumen penggerak ekonomi yang beredar aktif dalam sistem keuangan.
Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan peluncuran produk Exchange Traded Fund (ETF) emas dalam satu hingga dua bulan ke depan.
Harga emas yang meningkat di pasar global, baik secara kuartalan maupun tahunan, memicu perubahan permintaan. Bank-bank sentral dunia memperbanyak kepemilikan cadangan devisa mereka. Sementara permintaan berupa emas perhiasan dan sektor investasi mengalami penurunan.
Permintaan emas diperkirakan akan tetap tinggi di masa depan. Menandai berlanjutnya kepercayaan publik pada emas sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian
Di awal setelah pecah perang antara Amerika Serikat - Israel dengan Iran akhir Februari 2026, harga emas sempat meningkat di atas Rp 3.100.000 per gram. Namun, perlahan harga turun terkoreksi hingga 9% dibandingkan harga tertinggi dalam kurun tiga minggu.
Harga emas batangan terus mencatat tren merangkak naik sepanjang tahun ini. Apalagi di tengah ketidakpastian global, harganya berpotensi terus terkerek naik. Ini mengindikasikan investor makin konservatif melihat ketidakpastian ke depan.
Pergerakan harga dan permintaan emas periode 2020-2025 mencerminkan peran penting logam mulia ini sebagai pelindung nilai utama. Memasuki kuartal ke-IV 2025, terjadi lonjakan permintaan dan harga emas.
Indonesia merupakan bagian kekuatan utama dalam peta industri emas global. Sebagai pemilik cadangan emas top 5 dunia, Indonesia menyumbang sekitar 4% dari produksi dunia. Namun, kebutuhan domestik masih bergantung pada impor.
Menampilkan 12 dari 9 total postingan
Tetap terupdate dengan koleksi cerita terbaik kami.