Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat kembali mencatatkan level all time low historis, melewati ambang batas Rp18.000 per US$. Meski institusi makroekonomi lebih kuat, komitmen pembenahan kebijakan ekonomi secara fundamental menjadi satu-satunya jalan keluar memulihkan kepercayaan pasar dan meringankan beban stabilisasi oleh bank sentral.

Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp18.049 per Dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (4/6/2026), selisih tipis dengan penutupan nilai tukar rupiah dalam catatan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) di level Rp18.039. Penutupan ini mencatatkan pelemahan 7,91% year-to-date atau 0,87% dibandingkan penutupan perdagangan Mei 2026.
Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, pelemahan kurs saat ini masih dipengaruhi tensi geopolitik Timur Tengah yang tereskalasi dan menghambat prospek damai. Akibatnya, harga minyak yang tetap tinggi meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging.
Selain itu, kebutuhan domestik akibat musim repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri menambah kebutuhan valuta asing di dalam negeri. Meski demikian, secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dengan situasi regional. Cadangan devisa RI sebesar US$ 146,2 miliar pada akhir April 2026 pun, masih lebih dari cukup untuk mendorong intervensi di pasar keuangan.
"Bank Indonesia akan terus meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya. BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik," jelas Destry dalam keterangan tertulis kepada SUAR, Kamis (4/6/2026).
Intervensi bank sentral terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar mancengara, transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian SBN di pasar sekunder. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif.

Tak hanya itu, Destry menegaskan BI terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.
"Kerja sama tersebut telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan di bulan April mencapai sekitar 22,7 miliar, dibandingkan dengan transaksi LCT sepanjang 2025 yang mencapai 25,7 miliar," imbuhnya.
Misi penyelamatan lapis ganda
Dihubungi secara terpisah, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai pelemahan nilai tukar rupiah dalam 2 bulan terakhir disebabkan kombinasi faktor fundamental ekonomi Indonesia, ketidakpastian kebijakan ekonomi di dalam negeri, faktor musiman, dan dampak rambatan geopolitik global.
"Namun, dari keempat faktor tersebut, fundamental ekonomi dari ketidakpastian kebijakan dalam negeri cenderung lebih kuat dibandingkan faktor geopolitik dan musiman," jelasnya.

Pada titik ini, nilai tukar rupiah diperkirakan sulit kembali ke level psikologis Rp16.000-an jika mencermati perkembangan terbaru ketidakpastian kebijakan ekonomi Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Ia mengakui institusi makroekonomi Indonesia saat ini memang sudah jauh lebih kuat, meski rupiah telah melampaui level terendah sejak krisis moneter 1997/1998.
"Kendati demikian, serangkaian ketidakpastian akibat perubahan kebijakan ekonomi domestik dalam beberapa pekan terakhir perlu diwaspadai karena mencerminkan buruknya tata kelola kebijakan ekonomi," tegasnya.
Demi memulihkan kurs Garuda, Faisal menyarankan misi penyelamatan lapis ganda. dalam jangka pendek, beban stabilisasi perlu dibagi dengan memperkuat pasokan valas di dalam negeri, terutama dengan memastikan ruang konversi dalam aturan devisa hasil ekspor (DHE) terbaru melalui insentif yang memadai, sembari memulihkan kredibilitas fiskal sebagai akar menentukan.
Sementara itu, dalam jangka panjang, kerentanan rupiah hanya dapat diatasi dengan memperbaiki struktur neraca pembayaran, mulai dari masalah ketergantungan pada ekspor komoditas, defisit pendapatan primer yang persisten, hingga problem dangkalnya pasar keuangan lintas mata uang.
Meski demikian, Faisal mengingatkan, perlu kehati-hatian terhadap harapan berlebih pada agenda dedolarisasi. Ketika rupiah melemah, pengalihan ke Yuan tidak meredakan tekanan dan bahkan dapat menaikkan biaya impor dalam rupiah. "Dedolarisasi layak diposisikan sebagai upaya mengurangi paparan terhadap volatilitas dolar, bukan jalan pintas memperkuat nilai tukar," tegasnya.
Agenda penyehatan rupiah dalam jangka panjang memang tidak menampakkan hasil dalam semalam, tetapi tanpa perbaikan struktur neraca pembayaran, beban stabilisasi akan terus jatuh pada suku bunga dan intervensi yang menggerus cadangan devisa.
"Bank Indonesia memikul stabilisasi jangka pendek, pemerintah memegang kunci pengelolaan devisa dan kredibilitas fiskal, sementara perbaikan struktur neraca pembayaran adalah pekerjaan bersama yang menentukan ketahanan rupiah dalam jangka panjang," ungkapnya.
Pengusaha perlu kalkulasi matang
Sebelumnya, Ketua Bidang Hubungan Antarlembaga Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sarman Simanjorang menekankan pentingnya pelaku usaha mengambil strategi dan kebijakan penuh kehati-hatian dan pertimbangan yang matang ketika tekanan terhadap rupiah belum kunjung mereda.
"Jika pelemahan nilai tukar rupiah bersifat sementara, tentu pelaku usaha akan mampu mengatasi dengan inovasi dan penghematan. Namun, jika menyangkut bahan baku impor, ini sesuatu yang tidak bisa dielakkan, pengusaha perlu mencoba mencari alternatif dengan tidak mengurangi kualitas," kata Sarman saat dihubungi, Rabu (8/4/2026).
Dalam kondisi seperti ini, Sarman menilai bahan baku impor menjadi tantangan. Di samping harga-harga bahan baku yang naik akibat pelemahan nilai kurs rupiah, gangguan jalur logistik belum sepenuhnya mereda, meskipun gencatan senjata AS dan Iran mulai diberlakukan. Tak dapat dipungkiri ada sektor yang mengandalkan potensi lokal, tetapi ada sektor lain yang 100% tergantung bahan baku impor.
"Pelaku usaha tentu akan mencoba lebih selektif, tetapi tetap pada batas-batas tertentu. Dalam situasi seperti ini, dampak ekonomi dari perubahan geopolitik terasa semakin luas, sehingga agak sulit memastikan tekanan usaha berjalan seperti biasa di tengah gejolak yang semakin menekan perekonomian," ujarnya.