Setelah sempat tertekan hingga menyentuh level terlemahnya tahun ini, nilai tukar rupiah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Dalam lima hari perdagangan terakhir, mata uang Garuda menguat sekitar 1,2% terhadap dolar Amerika Serikat (AS), menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik kedua di Asia setelah peso Filipina.
Penguatan tersebut menjadi angin segar bagi pasar keuangan domestik yang dalam beberapa bulan terakhir dibayangi tingginya suku bunga AS, penguatan dolar, dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Menariknya, apresiasi rupiah kali ini berlangsung beriringan dengan rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), mencerminkan mulai pulihnya kepercayaan investor terhadap aset-aset Indonesia.
Bagi pelaku pasar, pergerakan searah antara rupiah dan IHSG bukan sekadar kebetulan. Ketika keduanya menguat secara bersamaan, pasar umumnya membaca adanya perbaikan sentimen sekaligus kembalinya aliran dana ke instrumen keuangan domestik.
Dari sisi global, tekanan terhadap pasar mulai mereda setelah muncul perkembangan positif dalam hubungan Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan sementara yang membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dunia.
Meredanya ketegangan geopolitik tersebut tercermin pada turunnya harga minyak dunia setelah sebelumnya melonjak akibat konflik di Timur Tengah.
Ekonom Universitas Hasanuddin Muhammad Syarkawi Rauf menilai penurunan harga energi menjadi salah satu faktor utama yang mengurangi tekanan terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Saya kira penguatan rupiah terhadap dolar salah satunya karena tekanan eksternal mulai sedikit berkurang,” ujarnya kepada SUAR, Rabu (17/6/2026).
Menurut Syarkawi, harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) yang sempat menyentuh kisaran US$111 per barel kini telah turun ke bawah US$90 per barel. Penurunan tersebut membantu meredakan tekanan inflasi, mengurangi kebutuhan devisa untuk impor minyak, sekaligus memperbaiki persepsi investor terhadap negara-negara pengimpor energi.
Namun, pemulihan rupiah tidak hanya ditopang faktor eksternal. Dari dalam negeri, Bank Indonesia memainkan peran sentral melalui kombinasi kebijakan moneter yang lebih agresif.
Dalam sekitar satu bulan terakhir, BI menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 75 basis poin hingga mencapai 5,50%. Kenaikan tersebut memperbesar daya tarik aset keuangan domestik sehingga membantu menahan arus keluar modal dan mendorong investor kembali menempatkan dana di pasar Indonesia.
“Bank sentral kita sangat aktif mendorong penguatan rupiah melalui kenaikan BI Rate yang naik sekitar 75 basis poin dari 4,75% menjadi 5,5%,” kata Syarkawi.
Selain melalui suku bunga, BI juga aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing, pasar obligasi, serta instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Daya tarik aset berbasis rupiah semakin kuat melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Pada lelang 12 Juni 2026, imbal hasil SRBI mencapai 7,64%, menawarkan tingkat pengembalian yang menarik di tengah ketidakpastian pasar global.
Data Bank Indonesia menunjukkan outstanding SRBI mencapai Rp979,88 triliun pada Mei 2026, meningkat 17,1% dibandingkan posisi akhir Februari sebesar Rp837,22 triliun. Pada periode yang sama, kepemilikan investor nonresiden meningkat dari Rp150,79 triliun menjadi Rp216,48 triliun atau bertambah lebih dari Rp65 triliun.
Masuknya dana asing ke SRBI menjadi indikator bahwa investor global mulai kembali melirik aset berbasis rupiah setelah sebelumnya mengambil posisi defensif. Arus dana tersebut turut memperkuat stabilitas pasar keuangan domestik.
Optimisme Menular ke Pasar Saham
Pemulihan yang terjadi di pasar valuta asing juga tercermin di pasar modal. Penguatan rupiah dalam beberapa hari terakhir berjalan beriringan dengan rebound IHSG.
Dalam periode 9 Juni hingga 17 Juni 2026, IHSG mencatat salah satu pemulihan tercepat dalam beberapa tahun terakhir. Dari posisi terendah di level 5.300, indeks berhasil menguat sekitar 19% secara point-to-point dan kembali menembus level psikologis 6.200.
Sebelumnya, IHSG sempat terpuruk ke posisi terendah dalam lima tahun akibat kombinasi tekanan eksternal dan domestik yang memicu aksi jual di berbagai sektor.
Head of Center Macroeconomics and Finance INDEF Rizal Taufikurahman menilai penguatan yang terjadi secara bersamaan pada rupiah dan IHSG mencerminkan membaiknya persepsi risiko terhadap Indonesia.
“Ketika pasar saham menguat dan rupiah ikut menguat, itu menunjukkan kepercayaan terhadap prospek ekonomi domestik mulai kembali. Investor tidak hanya membeli saham, tetapi juga kembali menempatkan dananya pada aset-aset Indonesia,” jelas Rizal.
Menurut Rizal, investor akan kembali meningkatkan eksposur terhadap instrumen keuangan domestik ketika risiko dianggap lebih terkendali dan arah kebijakan dinilai semakin jelas.
Sentimen positif juga diperkuat oleh aksi buyback saham yang dilakukan sejumlah bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dengan dukungan Danantara dan investor institusi domestik, termasuk BPJS Ketenagakerjaan.
Selain itu, regulator memberikan fleksibilitas bagi emiten untuk melakukan buyback tanpa persetujuan rapat umum pemegang saham dalam kondisi pasar bergejolak. Kebijakan tersebut membantu menjaga kepercayaan investor sekaligus meredam volatilitas pasar.
Di sisi fiskal, pasar juga mencermati langkah pemerintah mengevaluasi sejumlah program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Penataan ulang program tersebut dipandang sebagai upaya menjaga efektivitas belanja negara dan disiplin fiskal.
Arus Modal Asing Jadi Penentu
Meski sentimen pasar membaik, sejumlah risiko masih membayangi. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan perhatian investor saat ini tertuju pada arah kebijakan moneter AS. Pasar memang memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya, namun investor masih menunggu proyeksi ekonomi dan sinyal kebijakan yang akan disampaikan bank sentral tersebut.
Jika inflasi AS kembali meningkat, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama masih terbuka. Kondisi itu berpotensi menguatkan dolar AS dan memicu arus keluar modal dari negara berkembang.
“Kalau bank sentral Amerika menaikkan suku bunga, ini akan kembali menekan rupiah,” kata Syarkawi.
Meski demikian, ia menilai posisi Indonesia kini relatif lebih kuat dibandingkan beberapa bulan lalu. Kenaikan BI Rate, masuknya dana asing ke SRBI, intervensi aktif Bank Indonesia, dan meredanya tekanan geopolitik telah memberikan fondasi yang lebih kokoh bagi stabilitas pasar keuangan.
Sementara itu, untuk perdagangan Kamis (18/6/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun masih berpotensi ditutup melemah pada kisaran Rp17.760 hingga Rp17.800 per dolar AS seiring pelaku pasar menunggu hasil keputusan Federal Reserve dan Bank Indonesia.
Senada, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengungkapkan bahwa penguatan rupiah dan IHSG saat ini perlu dibaca sebagai pemulihan awal, bukan tanda bahwa seluruh risiko telah berakhir.
“Penguatan rupiah dan kenaikan IHSG belakangan ini perlu dibaca sebagai pemulihan awal setelah tekanan besar, bukan sebagai tanda bahwa semua risiko sudah selesai,” ungkap Josua.
Josua menilai keberlanjutan reli pasar akan sangat bergantung pada kualitas arus modal yang masuk. Pasar perlu melihat apakah dana asing mulai mengalir lebih merata ke Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham, bukan hanya terkonsentrasi pada instrumen jangka pendek seperti SRBI.
Selain itu, indikator seperti cadangan devisa, inflasi, surplus neraca dagang, imbal hasil SBN, serta ekspektasi pelaku usaha juga perlu diperhatikan untuk mengukur kekuatan pemulihan.
“Jika penguatan hanya ditopang oleh satu atau dua hari aliran dana asing jangka pendek, maka itu lebih mencerminkan suasana pasar yang membaik sementara, bukan pemulihan fundamental,” kata dia.
Baca juga:

Menurut Josua, Indonesia masih memiliki sejumlah keunggulan dibanding negara berkembang lain, mulai dari imbal hasil aset rupiah yang tinggi, inflasi yang terkendali, sikap BI yang tegas, hingga pertumbuhan ekonomi yang tetap berada di kisaran 5%.
Meski demikian, Indonesia tetap harus bersaing dengan negara-negara Asia lain seperti India, Korea Selatan, Taiwan, dan Vietnam yang dinilai memiliki narasi pertumbuhan dan aliran modal yang kuat.
Karena itu, keberlanjutan penguatan rupiah dan IHSG akan sangat bergantung pada konsistensi arus modal asing, tren pelemahan dolar AS, stabilitas harga minyak, serta kredibilitas kebijakan domestik.
“Momentum penguatan dapat dimanfaatkan, namun pelaku pasar tetap perlu mencermati pergerakan dana asing, arah dolar AS, imbal hasil obligasi AS, harga minyak, cadangan devisa, serta perkembangan konsumsi dan manufaktur untuk mengukur kekuatan pemulihan yang sedang berlangsung,” pungkas Josua.