Pemerintah bersama para pemangku kebijakan perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap pelemahan nilai tukar rupiah yang kini telah menyentuh level Rp17.503 per dolar Amerika Serikat.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga dipicu oleh ketidakpastian global, mulai dari konflik geopolitik, tingginya suku bunga global, hingga pergerakan arus modal internasional yang sangat dinamis. Kondisi tersebut perlu diantisipasi secara serius agar tidak berdampak lebih luas terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Hal ini disampaikan Ketua DPR RI Puan Maharani di sela Rapat Paripuran DPR, Selasa, 12/05/2026. Ia menuturkan pelemahan nilai tukar rupiah memiliki dampak langsung terhadap berbagai sektor ekonomi, terutama yang berkaitan dengan impor bahan baku, energi, dan pembayaran utang luar negeri.
Jika tekanan terhadap rupiah berlangsung dalam waktu lama, maka risiko kenaikan inflasi dan beban biaya produksi akan semakin besar. Ia menyebut, koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan berbagai lembaga terkait menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan domestik.
"Kebijakan fiskal dan moneter perlu disinergikan agar mampu meredam gejolak eksternal sekaligus menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Langkah stabilisasi pasar valuta asing, penguatan cadangan devisa, serta pengendalian inflasi perlu terus diperkuat secara konsisten,” kata Puan.
Antisipasi terhadap pelemahan rupiah juga harus dipersiapkan dalam jangka menengah hingga tahun 2027. Pemerintah perlu memperhitungkan berbagai skenario risiko global dalam penyusunan asumsi makro ekonomi dan APBN ke depan.
Ketahanan sektor riil, penguatan ekspor, hilirisasi industri, serta peningkatan investasi domestik menjadi faktor penting untuk memperkuat fundamental ekonomi nasional agar lebih tahan terhadap tekanan eksternal.

Dewan Perwakilan Rakyat juga menegaskan akan terus memasang mata untuk mengawasi perkembangan nilai tukar rupiah dan kondisi ekonomi nasional. Pengawasan tersebut penting untuk memastikan pemerintah mengambil langkah cepat dan tepat dalam menghadapi tekanan global yang terus berkembang.
Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, otoritas moneter, pelaku usaha, dan parlemen, stabilitas ekonomi nasional diharapkan tetap terjaga meskipun tantangan global masih tinggi.
Jaga stabilitas rupiah dengan fundamental ekonomi
Pengamat Ekonomi Indef Eko Listiyanto mengatakan, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah menjadi salah satu langkah penting dalam mempertahankan ketahanan ekonomi nasional, di tengah gejolak global yang masih berlangsung.
Nilai tukar yang stabil akan memberikan kepastian bagi dunia usaha, menjaga kepercayaan investor, serta membantu mengendalikan inflasi domestik. Karena itu, pemerintah bersama Bank Indonesia perlu terus memperkuat koordinasi kebijakan agar tekanan terhadap rupiah dapat diredam secara optimal.
“Upaya menjaga rupiah tidak hanya dilakukan melalui intervensi di pasar keuangan, tetapi juga dengan memperkuat fundamental ekonomi nasional,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (12/5/2026).
Peningkatan ekspor, penguatan cadangan devisa, pengendalian impor, serta menjaga defisit fiskal tetap terkendali menjadi faktor penting dalam mendukung stabilitas mata uang nasional. Selain itu, iklim investasi yang kondusif juga perlu dijaga agar aliran modal asing tetap masuk dan menopang kestabilan pasar keuangan domestik.
Di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan tekanan ekonomi dunia, kewaspadaan terhadap pergerakan rupiah harus terus ditingkatkan.
Pemerintah dan otoritas terkait perlu memastikan setiap kebijakan ekonomi yang diambil mampu menjaga kepercayaan pasar dan memberikan rasa aman bagi pelaku usaha maupun masyarakat.
Dengan sinergi kebijakan yang kuat dan konsisten, stabilitas nilai tukar rupiah diharapkan tetap terjaga sehingga perekonomian nasional dapat terus tumbuh secara berkelanjutan.
Pelemahan rupiah, berdampak ke pertumbuhan
Dewan Pakar Apindo Danang Girindrawardana menuturkan pelemahan nilai tukar rupiah harus dihadapi secara serius karena memiliki dampak luas terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya mempengaruhi sektor keuangan, tetapi juga berdampak langsung terhadap biaya impor, harga energi, inflasi, hingga daya beli masyarakat.
“Jika tidak diantisipasi dengan baik, pelemahan mata uang dapat memperbesar tekanan terhadap dunia usaha dan memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (12/5/2026)
Pemerintah bersama Bank Indonesia dan otoritas terkait perlu memperkuat koordinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan meningkatkan kepercayaan investor. "Langkah penguatan cadangan devisa, pengendalian inflasi, menjaga kredibilitas fiskal, serta memastikan arus investasi tetap masuk menjadi bagian penting dalam menghadapi tekanan terhadap rupiah," tegasnya.
Selain itu, komunikasi kebijakan yang konsisten juga diperlukan agar pasar memiliki keyakinan terhadap arah pengelolaan ekonomi nasional.