Perkuat Sektor Riil Agar Cadangan Devisa Tak Terus Tergerus

cara paling baik untuk menghentikan penggerusan dan meningkatkan cadangan devisa adalah memperbaiki daya saing di sektor riil maupun sektor keuangan

Perkuat Sektor Riil Agar Cadangan Devisa Tak Terus Tergerus
Foto oleh Mufid Majnun / Unsplash
Daftar Isi

Bank Indonesia (BI) mengumumkan cadangan devisa Indonesia pada April 2026 kembali tergerus ke level USD146,2 miliar. Angka ini menurun sekitar USD2 miliar dibandingkan dengan posisi akhir Maret 2026 sebesar USD148,2 miliar.

Penggerusan ini melanjutkan tren sejak awal tahun akibat meningkatnya kebutuhan impor maupun stabilisasi nilai tukar di pasar keuangan. Pihak BI menyatakan, perkembangan cadangan devisa atau cadev ini dipengaruhi oleh kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Direktur Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyatakan, perkembangan cadangan devisa RI sangat dipengaruhi penerimaan pajak dan jasa, serta penerbitan global bond pemerintah di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah.

Ia juga menyatakan, kebijakan stabilisasi perlu dilakukan untuk menahan pelemahan nilai tukar rupiah, yang ditutup dalam perdagangan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Jumat (8/5/2026) pada level Rp17.375.

"Kebijakan stabilisasi tersebut sebagai respons Bank Indonesia terhadap ketidakpastian pasar keuangan global. Posisi cadangan devisa pada akhir April 2026 setara pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta di atas standar kecukupan internasional," jelasnya melalui pernyataan tertulis.

Denny menyatakan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik, didukung posisi cadangan yang memadai dan aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang menarik.

"BI terus meningkatkan sinergi memperkuat ketahanan eksternal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," ungkapnya.

Strategi saat panen dan paceklik

Meski terus mengalami penggerusan, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan cadangan devisa digunakan sebagaimana mestinya. "Cadangan itu kita kumpulkan saat panen inflow besar untuk kita gunakan pada saat paceklik. Intervensinya around the world, around the clock di Hong Kong, Singapura, London, New York," ujarnya dalam jumpa pers KSSK di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Selain mengoptimalkan cadangan devisa, Perry menegaskan langkah-langkah menarik inflow demi mendongkrak kurs Garuda juga tidak berhenti dilakukan. Instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) salah satunya, kini sudah diplot sebagai instrumen khusus untuk menarik inflow, terutama di saat pasar modal dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih menunjukkan outflow.

"Investor asing tempo hari outflow dari saham. SBN awal-awal juga outflow, meski sekarang sudah inflow. Ketika saham dan SBN outflow, maka SRBI harus mengompensasi dengan total inflow yang lebih besar daripada net outflow SBN secara year to date. Ini adalah juga bagian dari strategi all-out selain intervensi moneter," ungkapnya.

Tanggul penahan sementara

Ekonom Senior Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta Agustinus Prasetyantoko menilai, intensifikasi SRBI sebagai instrumen penarik aliran modal saat ini. tidak akan mengimbangi penggerusan cadangan devisa mengingat sifatnya sementara, dengan tenor paling lama hanya 12 bulan.

"Instrumen SRBI itu sementara, hanya stabilitasi saja agar tidak terlalu banyak modal asing keluar. Selain itu, efek samping lainnya dengan suku bunga tinggi, akan timbul crowding out di pasar keuangan. Jika suku bunga SRBI sekarang 5.76%, yield SBN tidak bisa lebih rendah dari itu, juga suku bunga kredit tidak bisa diturunkan karena dana di bank akan bersaing dengan instrumen BI," ujarnya kepada SUAR, Jumat (8/5/2026).

Rektor Universitas Atma Jaya Jakarta 2015-2020 itu menekankan bahwa cara paling baik untuk menghentikan penggerusan dan meningkatkan cadangan devisa adalah memperbaiki daya saing di sektor riil maupun sektor keuangan dan investasi langsung.

"Di sektor riil akan diperoleh dari net ekspor, dari sektor keuangan profil risiko yang rendah dan masuknya investasi langsung ditentukan prospek dan kepastian dunia usaha. Tanpa ketiganya, cadangan devisa akan terus menyusut," tegas Prasetyantoko.

Tekanan belum akan mereda

Senada, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan menilai cadangan devisa mendapat tekanan serius dengan progres nilai rupiah terhadap dolar, sehingga jika penggerusan mencapai level USD146,2 miliar sejatinya tidak mengejutkan.

"Tekanan terhadap cadangan devisa bahkan belum akan mereda pada bulan Mei 2026 ini. Kalau pemerintah tidak mendapat utang luar negeri yang cukup signifikan untuk menutupi capital outflow, rupiah akan semakin tertekan, Rp18.000 per dolar AS bisa terwujud dalam bulan ini," jelas Anthony

Rektor Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie 2011-2015 itu menilai penerbitan surat utang SRBI, SVBI, SUVBI sejatinya menjadi sinyal SBN sudah mulai ditinggalkan investor.

"Tapi ini juga menjadi permasalahan sendiri, bunga surat utang BI lebih tinggi dari SBN. Masalah lebih besar kalau investor menjual SBN dan SRBI, SVBI, SUVBI sekaligus, rupiah bisa jatuh cukup tajam," ujarnya.

Anthony mengingatkan, sekalipun bertujuan mempertahankan kurs, langkah menjadikan BI sebagai mesin cetak utang luar negeri sangat berbahaya bagi sistem moneter Indonesia. Ia mengingatkan, kebijakan moneter bank sentral umumnya dilakukan melalui kebijakan suku bunga dan likuiditas uang beredar, bukan menarik utang luar negeri.

"Pertanyaannya, jika kurs rupiah hanya bisa menguat jika pemerintah dan BI menggelembungkan ULN terus-menerus, berapa lama kita harus menghitung mundur sampai saatnya nanti gelembung ini pecah?"

Meski mengkhawatirkan, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menyebut, terdapat tiga faktor utama yang dapat mendorong ekonomi Indonesia ke depan, meski berada di tengah ketidakpastian, pelemahan nilai tukar, dan kecenderungan dunia usaha menahan tekanan.

Pertama, perubahan arah perdagangan global yang membuat banyak perusahaan kini tidak hanya mencari efisiensi, tetapi juga kepastian. Indonesia, katanya, memiliki kombinasi yang jarang dimiliki negara lain, yakni skala ekonomi besar, stabilitas, sumber daya alam, serta kebijakan luar negeri yang terbuka.

Kedua, meningkatkan kembali peran komoditas strategis dunia seperti nikel, kelapa sawit, dan mineral kritis yang menempatkan Indonesia di posisi penting dalam rantai industri global berikutnya. “Indonesia berada tepat di tengah babak baru industri dunia,” kata Anindya.

Ketiga, hilirisasi industri sebagai langkah penting meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional. “Dari mengekspor apa yang kita ambil dari bumi menjadi mengekspor apa yang kita ciptakan. Di sinilah nilai tambah dibangun, ketahanan dibangun, dan masa depan dibangun,” cetusnya.

Hilirisasi jadi kunci

Senada, Wakil Ketua Umum Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia James T. Riady menilai posisi Indonesia semakin strategis karena dunia mulai kembali memperebutkan akses terhadap komoditas penting seperti nikel, minyak sawit, dan mineral kritis. Menurutnya, momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk mempercepat hilirisasi industri nasional.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia penting atau tidak. Pertanyaannya adalah seberapa cepat Indonesia bergerak naik di rantai nilai. Hilirisasi menjadi kunci transformasi ekonomi nasional karena mampu menggeser pola ekspor bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi," tuturnya.

James mengingatkan langkah hilirisasi akan benar jika memiliki orientasi menciptakan ketahanan ekonomi jangka panjang. “Hilirisasi adalah pergeseran yang mengubah cerita, dari mengekspor apa yang kita ekstraksi menjadi mengekspor apa yang kita ciptakan. Di sinilah nilai dibangun, ketahanan dibangun, dan masa depan dibangun," ujar James.

Author

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ekspor-Impor, Ketenagakerjaan, dan Teknologi

Baca selengkapnya

Ω