Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya dipengaruhi oleh rebalancing indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell. Ini juga merupakan respons pasar terhadap berbagai faktor ekonomi domestik dan global yang sedang berkembang.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan tekanan yang terjadi di pasar saham mencerminkan proses penyesuaian yang dilakukan investor di tengah meningkatnya ketidakpastian.
"OJK memandang koreksi dan tekanan yang tercermin dari penurunan IHSG yang terjadi saat ini tentu mencerminkan respons pasar yang telah memperhitungkan kombinasi dari berbagai faktor baik yang bersumber dari domestik maupun juga dari global," ucap Hasan dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, Jumat (5/6/2026).
Menurut Hasan, salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pasar adalah rebalancing portofolio investor yang berkaitan dengan perubahan komposisi indeks oleh penyedia indeks global. Namun, faktor tersebut bukan satu-satunya penyebab tekanan di pasar saham.
Hasan menjelaskan, penurunan IHSG salah satunya dipicu oleh rebalancing portofolio dari para investor yang terkait dengan proses rebalancing keputusan penghuni indeks dari para penyedia indeks global. Namun terdapat juga perkembangan berbagai indikator dan sentimen ekonomi baik domestik maupun global yang juga turut mempengaruhi dan menjadi bagian yang diperhitungkan oleh para investor.
Untuk diketahui, sepanjang Mei 2026, pasar saham domestik mengalami fase tekanan dan konsolidasi. IHSG ditutup di level 6.127,38 pada akhir Mei 2026 atau terkoreksi 11,92% secara bulanan dan turun 29,14% sejak awal tahun (year-to-date).
Di tengah pelemahan indeks tersebut, investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp4,1 triliun di pasar saham selama Mei 2026.
Meski demikian, Hasan menilai kondisi pasar modal Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang memadai. Salah satu indikatornya adalah likuiditas pasar yang tetap terjaga. di mana rata-rata bid dan ask spread pada Mei 2026 terjaga di tingkat yang rendah pada level 1,5%.
Bid dan ask spread adalah selisih antara harga beli tertinggi (bid) dan harga jual terendah (ask) untuk suatu aset di pasar. Dalam perdagangan saham pembeli membayar harga ask, sedangkan penjual menerima harga bid. Spread berfungsi sebagai biaya transaksi tidak langsung dan ukuran tingkat likuiditas pasar. Jika spread tipis (kecil), aset tersebut sangat likuid (mudah dan cepat diperdagangkan seperti saham besar). Jika spread lebar, aset sulit diperdagangkan dengan cepat.
Selain likuiditas, OJK juga melihat fundamental emiten masih cukup kuat. Berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026, emiten secara agregat masih membukukan pertumbuhan laba yang positif.
"Tentu di tengah dinamika dan tekanan pasar tersebut, kami juga dapat menyampaikan bahwa sebetulnya secara fundamental pasar modal Indonesia dan juga kinerja emiten secara umum tercatat masih menunjukkan kinerja yang baik," jelasnya.
Ia menambahkan, laba emiten secara agregat pada triwulan pertama tahun ini tumbuh lebih dari 21% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, aktivitas pasar modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang juga masih berjalan. Hingga akhir Mei 2026, nilai penghimpunan dana (fund raising) korporasi di pasar modal mencapai Rp68,18 triliun. Selain itu, terdapat 75 rencana penawaran umum yang berada dalam pipeline dengan nilai indikatif Rp64,26 triliun.
Jumlah investor pasar modal pun terus bertambah. Hingga akhir Mei 2026, jumlah investor mencapai 27,75 juta atau tumbuh 36,27% secara tahunan. Dalam satu bulan saja terjadi penambahan sekitar 1,26 juta investor baru.
Untuk menjaga stabilitas pasar dan kepercayaan investor, OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO), yakni Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), terus menjalankan berbagai kebijakan stabilisasi pasar.
Salah satu kebijakan yang masih diberlakukan adalah pemberian fleksibilitas bagi emiten untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback) tanpa melalui persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS). Selain itu, regulator juga melakukan penyesuaian parameter perdagangan seperti trading halt dan batas auto rejection bawah.
"OJK tentu telah menerbitkan sejumlah kebijakan yang responsif terhadap kondisi pasar, antara lain kami sudah memberikan fleksibilitas bagi para emiten untuk dapat misalnya melakukan proses buyback saham tanpa melalui proses persetujuan RUPS," ucapnya.
OJK juga masih menunda implementasi serta melarang praktik short selling dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan perlindungan investor.
Dari sisi pengawasan, regulator memperkuat market surveillance dan penegakan ketentuan guna menjaga integritas pasar, meningkatkan perlindungan investor, serta memastikan perdagangan berlangsung secara transparan, teratur, wajar, dan efisien.
Sejalan dengan upaya menjaga kepercayaan investor, OJK dan SRO terus memantau dampak rebalancing MSCI maupun FTSE Russell yang diumumkan pada Mei 2026. Koordinasi dilakukan untuk memastikan perdagangan, manajemen risiko, dan penyelesaian transaksi berjalan lancar selama periode rebalancing.
Terkait aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO), Hasan mengatakan OJK terus mendorong perusahaan memanfaatkan pasar modal sebagai alternatif pendanaan jangka panjang melalui berbagai program sosialisasi, edukasi, dan coaching clinic.
"OJK secara rutin terus menyelenggarakan program sosialisasi dan edukasi kepada perusahaan-perusahaan calon-calon emiten tentu dari berbagai daerah, dari berbagai sektor dan juga skala usaha," cetusnya.
Baca juga:

Menurut Hasan, saat ini terdapat 14 perusahaan yang berada dalam pipeline pengajuan pernyataan pendaftaran untuk melakukan IPO. OJK juga tengah mengkaji revisi aturan penawaran umum, termasuk penyederhanaan dokumen, guna mempercepat proses IPO tanpa mengurangi kualitas perusahaan tercatat.
Selain itu, pihaknya akan melanjutkan agenda reformasi pasar modal yang mencakup peningkatan kualitas emiten, penguatan tata kelola, transparansi informasi, pengembangan produk dan layanan investasi, serta peningkatan akses pasar agar selaras dengan praktik regional dan global.
Keyakinan fundamental ekonomi masih kuat
Ditengah guncangan ekonomi, OJK menilai fundamental perekonomian Indonesia masih kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Ketahanan sektor jasa keuangan dan permodalan perbankan yang solid dinilai menjadi penopang utama stabilitas sistem keuangan nasional.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga saat ini belum memberikan dampak signifikan terhadap sektor jasa keuangan.
"Sedangkan terkait dengan pergerakan nilai tukar rupiah, OJK melihat bahwa dampak langsung terhadap sektor jasa keuangan ini masih relatif terkendali. Dari mana lihatnya? Hal ini kalau rekan-rekan media bisa lihat dari rasio kecukupan modal perbankan yang masih sangat solid dengan Capital Adequacy Ratio per April tahun ini masih sebesar 23,97% sehingga ini masih memberikan room yang cukup, ruang penyangga yang cukup dalam menyerap berbagai potensi risiko," ucap Kiki, sapaannya.
Selain ditopang modal yang kuat, eksposur perbankan terhadap valuta asing juga dinilai masih terjaga. Menurut Kiki, posisi devisa neto perbankan secara konsisten berada jauh di bawah batas maksimum 20% dari modal bank yang ditetapkan regulator.
"Selain itu, kalau kita lihat eksposur langsung perbankan Indonesia terhadap valas ini juga masih terjaga sebagaimana tercermin dari posisi devisa neto yang secara konsisten ini masih jauh di bawah ambang batas maksimal 20% dari modal bank," katanya.
Kiki menambahkan, afirmasi peringkat dan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat global menunjukkan respons yang terukur terhadap kondisi global yang penuh tantangan. Di tengah tekanan arus modal dan volatilitas pasar keuangan, OJK menilai fundamental ekonomi domestik masih berada dalam kondisi yang baik.
"Namun demikian, OJK menilai bahwa fundamental perekonomian Indonesia saat ini tetap terjaga dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat, juga didukung dengan ketahanan dari sektor jasa keuangan yang secara umum masih solid sebagaimana tadi disampaikan dalam paparan kami, serta di mana fungsi intermediasi yang tetap berjalan baik," tuturnya.
Meski demikian, OJK tetap mewaspadai berbagai risiko yang dapat muncul akibat pelemahan rupiah, mulai dari meningkatnya kewajiban valuta asing korporasi, tekanan terhadap sektor usaha yang bergantung pada impor, hingga kenaikan biaya bahan baku dan operasional.
"Namun demikian, tentunya OJK terus mewaspadai berbagai kanal transmisi risiko dari pergerakan nilai tukar rupiah terhadap lembaga jasa keuangan di Indonesia," kata Kiki.
Untuk memitigasi risiko tersebut, OJK memperkuat pengawasan aktivitas valuta asing perbankan melalui pemantauan harian posisi devisa neto, kecukupan likuiditas valas, serta peningkatan dialog pengawasan dengan bank yang memiliki eksposur tertentu.
"Jadi untuk memitigasi risiko-risiko tersebut, kami akan memperkuat pemantauan aktivitas valas di perbankan melalui pemantauan posisi devisa neto harian, kemudian kecukupan likuiditas valas tentunya tanpa mengganggu stabilitas sektor jasa keuangan dan kepatuhan terhadap ketentuan valas terkait secara lebih intensif," ujarnya.
OJK juga terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia guna memastikan likuiditas valuta asing di sistem keuangan tetap memadai. Di saat yang sama, regulator menilai sektor jasa keuangan nasional masih resilien meskipun menghadapi tekanan inflasi global dan volatilitas pasar keuangan internasional yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer).
Prospek Pasar Keuangan
Menanggapi merahnya pasar modal belakangan ini, Direktur Reliance Sekuritas Reza Priyambada mengatakan sentimen negatif di pasar menguat setelah muncul pemberitaan mengenai pemberian peringkat Baa2 dengan outlook negatif kepada Danantara Investment Management oleh Moody’s. Kondisi tersebut, menurut dia, memicu aksi jual di pasar saham.
"Tampaknya market berubah menjadi merah membara setelah adanya pemberitaan berikut. Pelaku pasar langsung merespons negatif dengan melakukan aksi jual secara masif. Selain itu, juga merespons negatif kembali melemahnya nilai tukar rupiah," terang Reza kepada SUAR, Jumat (5/6/2026).
Ia menilai pelaku pasar sebenarnya tidak terlalu terkejut dengan hasil rebalancing FTSE Russell karena sentimennya serupa dengan evaluasi sebelumnya dari MSCI. Namun, perubahan komposisi indeks tetap berpotensi memicu arus keluar dana asing dan meningkatkan volatilitas pasar.
"Sepanjang belum adanya sentimen positif yang cukup kuat mengangkat IHSG maka laju IHSG pun masih akan berfluktuatif. Kalaupun ada berita emiten yang positif maka hanya akan dimanfaatkan untuk trading jangka pendek," katanya.
Baca juga:

Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Syafruddin Karimi. Menurut dia, pelemahan rupiah dan menyusutnya surplus neraca perdagangan menunjukkan ketahanan eksternal Indonesia mulai menghadapi tekanan yang lebih nyata.
"Ketahanan eksternal yang sehat harus bertumpu pada ekspor bernilai tambah, cadangan devisa kuat, arus modal stabil, dan kepercayaan investor terhadap rupiah," jelasnya.
Syafruddin menilai tekanan global turut memperbesar sensitivitas pasar terhadap kondisi domestik. Ketidakpastian arah suku bunga The Fed, tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, kenaikan harga minyak, serta ketegangan geopolitik membuat investor global lebih selektif dalam menempatkan dana di negara berkembang.
"Indonesia terkena tekanan ganda, rupiah melemah karena dolar tetap kuat, sedangkan IHSG melemah karena investor mengurangi risiko portofolio," ucap dia.
Menurut dia, koreksi IHSG yang terjadi saat ini tidak semata-mata mencerminkan sentimen jangka pendek. Penurunan indeks hingga kisaran 5.000, disertai pelemahan pada berbagai indeks utama dan sektor finansial, menunjukkan pasar sedang mengevaluasi ulang risiko domestik.
"Pasar tidak menolak Indonesia sebagai tujuan investasi, tetapi pasar meminta harga lebih murah dan premi risiko lebih tinggi sebelum kembali masuk secara agresif," ujarnya.
Hingga akhir 2026, Syafruddin memperkirakan pasar keuangan Indonesia masih bergerak hati-hati. Stabilitas rupiah, perbaikan arus modal, penurunan premi risiko, serta kepastian kebijakan akan menjadi faktor penting dalam memulihkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.
Sebagai informasi, IHSG ditutup loyo di level 5.594 pada perdagangan Jumat sore ini. IHSG melemah 4,20% atau melemah 245,01 poin dari perdagangan sebelumnya. Berdasarkan data perdagangan, terpantau investor melakukan transaksi Rp31,73 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 38,04 miliar saham.
Sejumlah 108 saham menguat, 626 saham terpuruk, dan 81 stagnan. Seluruh sektor indeks pun melemah dengan sektor transportasi yang terpuruk cukup dalam yakni minus 5,75 persen.