Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penguatan basis investor domestik, khususnya melalui instrumen reksa dana, menjadi faktor kunci dalam menjaga ketahanan pasar modal Indonesia di tengah ketidakpastian global. Dominasi investor lokal serta pertumbuhan signifikan jumlah investor dinilai mampu meredam tekanan eksternal dan menjaga stabilitas pasar.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai 12.744.221 per Mei 2024. Dari total tersebut, sebanyak 12,02 juta merupakan investor reksa dana, tumbuh 22,43% dibandingkan akhir tahun sebelumnya, dengan komposisi 99,82% merupakan investor domestik.
“Ini merupakan hasil kerja sama, kerja keras dari Pemerintah, SRO, OJK, dan seluruh pelaku pasar di Indonesia,” ujar Friderica dalam peresmian Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (27/4/2026).
Menurutnya, dominasi investor lokal menjadi fondasi utama dalam menjaga daya tahan pasar. Selain itu, struktur investor yang semakin luas, terutama dari kalangan generasi muda, turut memperkuat stabilitas. OJK mencatat sebanyak 54,71% investor pasar modal berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun.
Penguatan basis investor tersebut tidak terlepas dari upaya pendalaman pasar yang dilakukan regulator, termasuk melalui reformasi integritas pasar modal. Reformasi ini mencakup peningkatan likuiditas, transparansi, tata kelola, serta penegakan hukum dan sinergi antar pemangku kepentingan.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, OJK menyebut jika Program PINTAR Reksa Dana mengadopsi mekanisme systematic investment plan (SIP). Program ini dirancang untuk mendorong masyarakat berinvestasi secara rutin dan terencana guna menghadapi dinamika pasar.
“Kita selalu mengajarkan kepada masyarakat jangan menunggu banyak untuk investasi, tapi harus teratur, rutin, dan berkala,” kata perempuan yang akrab disapa Kiki tersebut.
Ia menjelaskan, reksa dana menjadi instrumen yang relevan bagi investor ritel karena menawarkan diversifikasi dan kemudahan akses. Dalam kondisi volatilitas global, pendekatan investasi berkala dinilai dapat membantu meredam risiko fluktuasi pasar.
Selain memperluas jumlah investor, OJK juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas ekosistem investasi. Kiki mengingatkan pelaku industri, khususnya manajer investasi, untuk memahami profil risiko investor serta meningkatkan edukasi dan komunikasi kepada masyarakat.
Di sisi lain, OJK juga menyoroti meningkatnya risiko penipuan seiring bertambahnya minat investasi. Untuk itu, masyarakat didorong menerapkan prinsip “2L”, yakni memastikan investasi yang dilakukan bersifat legal dan logis.
Baca juga:

Dalam mendukung ekosistem pasar, infrastruktur terus diperkuat, salah satunya melalui peluncuran KSEI Cash Management System (K-Cash) yang memungkinkan pengelolaan dana dan transaksi efek secara terintegrasi.
Hingga saat ini, sebanyak 30 manajer investasi dan 26 agen penjual efek reksa dana telah bergabung dalam Program PINTAR. OJK berharap partisipasi tersebut terus meningkat guna memperluas akses investasi masyarakat.
Di tengah ketidakpastian, reksa dana jadi andalan
Di satu sisi, Pemerintah menilai reksa dana menjadi instrumen strategis dalam menjaga stabilitas pasar modal, terutama bagi masyarakat yang tidak memiliki waktu atau keahlian untuk berinvestasi langsung di saham.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan pengelolaan dana oleh profesional menjadi kunci dalam memitigasi risiko di tengah gejolak global.
“Masalahnya kan nggak semua penduduk atau masyarakat kita punya waktu untuk melihat saham dari hari ke hari. Sebagian kerja profesional dan lain-lain itu. Dalam hal itu, gimana caranya mereka bisa menikmati pertumbuhan ekonomi dan pergerakan di pasar saham? Yaitu diserahkan ke ahlinya,” ucap Purbaya.
Ia menjelaskan, reksa dana menyediakan berbagai pilihan sesuai profil risiko investor, mulai dari pasar uang, obligasi, hingga saham.
“Kalau takut, ya reksa dana pasar uang ya, jangka pendek. Agak berani dikit, reksa dana obligasi. Berani lagi dikit, reksa dana saham,” kata dia.
Menurut Purbaya, ketahanan pasar modal Indonesia juga ditopang oleh fundamental ekonomi yang relatif kuat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap positif di tengah tekanan global.
“Di tengah gejolak ekonomi global yang nggak jelas itu, kita bisa mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik,” cetusnya.
Untuk memperluas partisipasi investor, Dia menyebut jika Program PINTAR mengusung mekanisme rupiah cost averaging. Pendekatan ini memungkinkan investor berinvestasi secara rutin dengan nominal tetap, sehingga mengurangi risiko kesalahan waktu masuk pasar.
“Dengan prinsip compounding, PINTAR memitigasi risiko market timing. Anda tidak perlu lagi pusing kapan waktu terbaik untuk masuk ke pasar,” kata Purbaya.

Ia juga menekankan pentingnya integritas dalam industri pasar modal untuk menjaga kepercayaan investor.
“Teknologi tanpa integritas adalah resep menuju bencana. Kepercayaan adalah mata uang tertinggi di pasar keuangan,” ujarnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menambahkan penguatan investor domestik menjadi faktor penting dalam menjaga resiliensi pasar modal. Ia menilai aliran dana yang stabil dari investasi berkala mampu meredam volatilitas.
“Program ini hadir sejalan dengan praktik global yang dikenal sebagai Systemic Investment Plan (SIP) dan dengan aliran dana yang stabil diharapkan pasar modal lebih resilien terhadap tekanan volatilitas dan bisa diredam,” ujarnya.
Menurut Airlangga, investor domestik berperan sebagai penyangga ketika terjadi arus keluar dana asing.
“Saat ini basis investor domestik apresiasi karena kalau investor non-domestik biasanya dengan gonjang-ganjing dia mengalir duluan ke luar. Jadi resiliensi perlu kita jaga,” katanya.
Ia juga mengaitkan ketahanan pasar modal dengan kebutuhan pembiayaan nasional yang diperkirakan meningkat dari Rp7.400 triliun pada 2026 menjadi Rp9.200 triliun pada 2029. Dalam konteks tersebut, pasar modal dinilai memiliki peran strategis sebagai sumber pendanaan, termasuk melalui IPO.
Direktur Utama Kiwoom Sekuritas Indonesia, Chang-kun Shin, menilai reksa dana menjadi alternatif investasi yang relevan di tengah meningkatnya risiko pasar, baik dari faktor domestik maupun global. Dalam kondisi pasar saham yang tertekan akibat arus keluar dana investor asing, instrumen reksa dana dinilai mampu memberikan pilihan investasi yang lebih defensif bagi investor melalui diversifikasi risiko.
“Dalam kondisi saat ini, meningkatnya risiko baik dari faktor domestik maupun global merupakan fenomena yang terjadi secara umum di berbagai pasar saham dunia. Indonesia juga tidak terkecuali. Dalam beberapa waktu terakhir, arus keluar dana investor asing semakin meningkat, yang berdampak pada penurunan indeks saham secara signifikan,” ujar Shin kepada SUAR.
Baca juga:

Menurutnya, karakteristik pasar saham yang sensitif terhadap perubahan sentimen menjadikan investor perlu mempertimbangkan strategi diversifikasi untuk mengelola risiko. Dalam konteks tersebut, reksa dana menjadi salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk menyeimbangkan portofolio investasi.
“Dalam situasi seperti ini, reksa dana dapat menjadi salah satu alternatif investasi yang relevan. Saham pada dasarnya sangat sensitif terhadap volatilitas pasar, sehingga diperlukan diversifikasi risiko melalui instrumen investasi lainnya,” kata Shin.
Terkait tantangan reksa dana, Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management, Genta Wira Anjalu, menyebut jika tantangan utama saat ini bukan lagi memperkenalkan produk investasi, melainkan mendorong masyarakat untuk menjadikan reksa dana sebagai kebiasaan finansial. Ia menilai inisiatif seperti program nasional investasi berkala menunjukkan pergeseran strategi dari edukasi menuju pembentukan perilaku investasi yang disiplin.
Ia menjelaskan, hambatan terbesar yang dihadapi industri saat ini berkaitan dengan perilaku investor. Meski literasi keuangan meningkat, terdapat kesenjangan antara pemahaman dan tindakan nyata dalam berinvestasi.
“Hambatan utamanya bukan lagi di literasi keuangan, namun lebih ke perilaku-perilaku secara umum terkait investasi itu sendiri,” kata Genta.
Ia merinci sejumlah faktor yang memengaruhi kondisi tersebut, antara lain persepsi bahwa investasi rumit dan berisiko, anggapan membutuhkan modal besar, serta pola konsumsi yang masih dominan. Selain itu, belum adanya dorongan internal untuk mulai berinvestasi juga menjadi kendala.
“Jadi isu utamanya adalah belum menjadi kebiasaan, bukan sekadar belum paham,” ucapnya.
Dalam upaya mengatasi tantangan tersebut, Genta menilai model edukasi perlu disesuaikan dengan karakter generasi muda yang dekat dengan teknologi digital. Pendekatan yang berbasis pengalaman langsung dan relevan dengan kehidupan sehari-hari dinilai lebih efektif dibandingkan metode konvensional.
“Edukasi perlu bergeser dari teori ke praktik, terutama dari segi praktik anak muda sekarang yang hidupnya berdekatan dengan platform atau aplikasi digital,” ungkap Genta.
Industri reksa dana terus tumbuh
OJK mencatat jumlah investor pasar modal telah mencapai 26,12 juta per April 2026, dengan 24,86 juta di antaranya berada di industri pengelolaan investasi. Sebagian besar merupakan investor reksa dana.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, menyebut reksa dana menjadi pintu utama bagi investor pemula.
“Dengan investor di industri pengelolaan investasi sebesar 24,86 juta. Jadi luar biasa mayoritas investor kita bahkan tentu menjadi jalur yang tepat sebagai investor pemula,” kata Hasan.
Sebanyak 54,71% investor berada di bawah usia 30 tahun, menunjukkan dominasi generasi muda dalam pasar modal.
Dari sisi kinerja, nilai aset bersih (NAB) reksa dana telah melampaui Rp710,29 triliun, tumbuh 5,18% secara year to date. “Industri pengelolaan investasi juga terus mencatatkan kinerja yang positif dengan nilai NAB yang sudah melampaui angka 700 triliun rupiah,” ucap Hasan.
Sementara itu, Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) mencatat jumlah investor reksa dana mencapai 26,1 juta per Maret 2026, dengan total dana kelolaan lebih dari Rp700 triliun. Jika digabungkan dengan kontrak pengelolaan dana (KPD), nilainya melampaui Rp1.000 triliun.
Ketua Presidium APRDI, Lolita Liliana, menyatakan industri reksa dana telah berkembang pesat sejak diluncurkan pada 1996 dengan jumlah produk kini melebihi 2.000.
Meski demikian, kontribusi industri terhadap PDB masih sekitar 4%, sementara jumlah investor baru sekitar 8% dari total populasi.
“Dari seluruh pencapaian tersebut tentu saja masih terdapat potensi yang sangat besar,” jelasnya.
APRDI menilai pengembangan industri membutuhkan inovasi produk serta dukungan kebijakan untuk meningkatkan minat masyarakat. Upaya edukasi juga terus dilakukan melalui berbagai program sosialisasi di berbagai daerah.