Reksa dana dinilai tetap relevan di tengah perubahan lanskap investor pasar modal Indonesia yang ditandai dengan lonjakan jumlah investor, dominasi generasi muda, serta masih lebarnya kesenjangan antara literasi dan inklusi.
Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Bursa Efek Indonesia (BEI), Kristian S. Manullang, menekankan bahwa relevansi reksa dana tidak terlepas dari perannya sebagai jembatan antara pemahaman dan realisasi investasi. Di tengah pertumbuhan investor yang telah mencapai lebih dari 25,3 juta per April 2024, ia melihat masih adanya kesenjangan signifikan antara literasi dan inklusi.
“Jumlah investor pasar modal per 15 April 2024 telah mencapai lebih dari 25,3 juta investor. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, terdapat tantangan yang perlu kita jawab bersama. Tingkat literasi pasar modal telah mencapai 17,78%, sementara tingkat inklusi masih berada di level 1,34%. Artinya, semakin banyak masyarakat yang tahu, tetapi belum cukup banyak yang memulai,” ujar Kristian di Gedung BEI, Jakarta, Senin (20/4/2026).
Dalam konteks tersebut, reksa dana dipandang relevan karena menawarkan akses yang sederhana dan terjangkau bagi masyarakat yang baru memulai investasi. Dengan nilai dana kelolaan mencapai Rp699,65 triliun per Maret 2024, instrumen ini menjadi salah satu pintu masuk utama ke pasar modal.
“Reksa dana menawarkan diversifikasi portofolio dan pengelolaan profesional dengan akses yang relatif terjangkau,” kata dia.
Sementara itu, Kepala Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional Otoritas Jasa Keuangan (OJK) M. Maulana menilai relevansi reksa dana juga tercermin dari perannya dalam strategi diversifikasi dan pengelolaan risiko di tengah kompleksitas instrumen pasar modal. Ia menyebut bahwa meskipun aset kelolaan telah mencapai Rp1.084 triliun, kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih sekitar 4%, sehingga ruang pertumbuhan masih terbuka luas.
Jika dibandingkan negara tetangga, kontribusi reksa dana terhadap PDB masih kecil. Misalkan Thailand telah berkontribusi hingga 30% dari PDB, Malaysia hingga 36% dari PDB.
"Artinya ini kan masih banyak ketimpangan ya, masih banyak yang sebenarnya bisa dikejar,” ucap Maulana.
Ia juga menyoroti dominasi investor muda yang mencapai 54% dari total investor reksa dana, sebagai indikasi bahwa instrumen ini sesuai dengan kebutuhan generasi baru yang membutuhkan kemudahan dan efisiensi.
Strategi genjot reksa dana
Ketua Presidium Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Lolita Liliana menegaskan, strategi perluasan inklusi reksa dana dilakukan melalui penyederhanaan akses dan penurunan batas minimum investasi.
Dalam rangkaian kegiatan edukasi dan Pekan Reksa Dana 2024, APRDI mendorong masyarakat, khususnya investor pemula, untuk mulai berinvestasi secara bertahap melalui instrumen yang terjangkau.
“Kalau kita mau inklusi lebih luas ya memang harus bisa terjangkau. Jadi kita melihatnya adalah mudah terjangkau dan kami menyebutnya setenang itu,” ujar Lolita dalam pemaparannya.
Ia menjelaskan, saat ini reksa dana dapat diakses dengan nominal awal yang semakin rendah, bahkan mulai dari Rp10.000, jauh lebih kecil dibandingkan periode sebelumnya yang berada di kisaran Rp100.000 hingga Rp250.000. Penyesuaian ini dilakukan untuk menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat, termasuk di luar kota besar.
Menurut Lolita, strategi tersebut dilatarbelakangi oleh masih rendahnya tingkat inklusi pasar modal. Dari total populasi Indonesia, partisipasi masyarakat di pasar modal masih berkisar 7% hingga 8%, dengan dominasi investor pada instrumen reksa dana. Namun, potensi pertumbuhan dinilai masih besar, terutama dari kelompok usia produktif.
“Dari 20 juta di akhir Desember 19 jutanya itu reksa dana. Sebagai perbandingan ya 20 juta ini kan total nih termasuk yang punya saham, punya obligasi, punya ORI SUKRI (Sukuk Ritel) gitu ya. Nah 19 jutanya itu di reksa dana. Kenapa? Karena tadi reksa dana itu mudah dan terjangkau 10.000 aja bisa,” kata dia.
APRDI, lanjutnya, juga menggelar Pekan Reksa Dana 2024 di sejumlah kota sebagai bagian dari upaya edukasi nasional yang terintegrasi. Kegiatan ini mencakup sosialisasi di Surabaya, Semarang, Medan, Makassar, Bandung, Jakarta, hingga Palembang, serta melibatkan kampus dan komunitas untuk memperluas jangkauan literasi.
Selain itu, APRDI bersama OJK dan Self-Regulatory Organization (SRO) meluncurkan program PINTAR (Program Investasi Terencana dan Berkala Reksa Dana). Program ini dirancang untuk mendorong kebiasaan investasi rutin dengan nominal kecil.
Ia menambahkan, pendekatan investasi berkala dinilai dapat membantu investor mengurangi risiko fluktuasi pasar melalui metode averaging tanpa harus menentukan waktu terbaik masuk pasar.
Dari sisi industri, Lolita mengakui bahwa kinerja reksa dana dalam lima tahun terakhir cenderung berfluktuasi akibat berbagai faktor, termasuk pandemi COVID-19, perubahan regulasi, hingga kenaikan suku bunga. Kondisi tersebut sempat memicu penurunan dana kelolaan sebelum kembali meningkat pada 2023.
Ia juga menyoroti dampak faktor eksternal seperti eskalasi geopolitik dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap kinerja beberapa jenis reksa dana, terutama yang berbasis saham dan obligasi. Namun, kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan masih berasal dari reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang.
Dalam menjawab kekhawatiran terkait keamanan investasi, Lolita menegaskan bahwa struktur industri reksa dana dirancang dengan pemisahan fungsi antara manajer investasi dan bank kustodian.
Edukasi jadi kunci perluasan reksa dana
Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listyanto menilai reksa dana memiliki peluang besar untuk berkembang di Indonesia, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Instrumen ini dinilai relevan karena menawarkan diversifikasi risiko yang mampu menjaga nilai aset tetap produktif.
“Ke depan peluang meningkatkan inklusi reksa dana masih terbuka, terlebih saat situasi ketidakpastian tinggi, justru model investasi reksa dana ini lebih menarik karena membagi-bagi risiko agar nilai aset tetap meningkat dan produktif,” ujar Eko kepada SUAR.
Meski demikian, ia menilai tingkat pendalaman keuangan (financial deepening) di Indonesia masih rendah. Reksa dana, menurutnya, belum sepopuler saham, foreign exchange (forex), maupun tabungan, sehingga membutuhkan dorongan edukasi yang lebih luas dan terarah.

“Secara umum financial deepening Indonesia masih rendah, produk reksa dana ini relatif kurang dikenal dibanding saham atau forex (jual beli mata uang), maupun tabungan. Oleh karena itu, perlu disosialisasikan lebih masif di kalangan anak muda dan ditunjukkan keunggulan-keunggulan investasi ini dibanding jenis yang lain,” ucap Eko.
Sejalan dengan itu, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai reksa dana belum menjadi pilihan utama investor muda. Ia melihat tren investasi saat ini didominasi saham dan kripto, yang menawarkan potensi keuntungan jangka pendek dan kendali penuh bagi investor.
“Saya masih melihat anak muda ini lebih memilih untuk bisa bermain saham sendiri ketimbang menyerahkan investasinya ke Manajer Investasi melalui reksa dana. Dengan otorisasi investasi yang dipegang sendiri, investor bisa memilih instrumen apa yang menguntungkan bagi mereka pada saat itu,” ungkap Nailul.
Menurut dia, perbedaan karakter menjadi faktor utama. Investor muda cenderung aktif melakukan trading jangka pendek, sementara reksa dana menawarkan imbal hasil yang lebih stabil dalam jangka panjang.
“Mereka ini biasanya bermain dalam jangka pendek di mana beli kemudian jual untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga. Sedangkan, reksa dana menawarkan keamanan mendapatkan untung namun dalam jangka waktu yang lebih lama dan selisih yang sedikit,” jelasnya.
Baca juga:

Ia juga menyoroti pengaruh media sosial dan maraknya influencer investasi yang mendorong kemandirian investor muda. Akses informasi yang luas membuat mereka lebih percaya diri mengambil keputusan sendiri, sekaligus menggeser minat dari produk yang dikelola secara kolektif seperti reksa dana.
“Mungkin bagi sebagian orang yang memiliki karakteristik risk avoidance, reksa dana lebih menguntungkan, tapi bagi risk lover (terutama anak muda) nampaknya akan jadi nilai minus,” kata dia.
Dalam konteks tersebut, pengamat pasar modal Reydi Octa menilai tantangan utama reksa dana bukan lagi pada literasi, melainkan pada perilaku investasi. Ia menyebut reksa dana belum dipandang sebagai kebutuhan, melainkan sekadar opsi tambahan dalam portofolio.
“Masalah utamanya bukan di literasi, tapi di perilaku dalam berinvestasi. Generasi muda cenderung mencari return cepat, sementara reksa dana lebih ke konsistensi. Investasi reksa dana belum dianggap kebutuhan, masih sekadar pilihan,” kata Reydi.
Ia menekankan perlunya perubahan pendekatan dari edukasi berbasis teori menjadi pembentukan kebiasaan. Menurutnya, investasi harus diintegrasikan dalam rutinitas sehari-hari agar lebih mudah diadopsi.
“Edukasi harus bergeser dari teori ke perilaku yang dibiasakan. Bukan lagi menjelaskan mengenai apa itu reksa dana, tapi bagaimana menjadikannya bagian dari rutinitas,” ujarnya.
Sebagai solusi, Reydi menyoroti pentingnya pengembangan fitur investasi otomatis seperti micro investing dan auto debit. Pendekatan ini dinilai dapat mengubah investasi dari aktivitas yang memerlukan keputusan aktif menjadi kebiasaan pasif yang konsisten.
“Micro investing dan auto debit membuat investasi menjadi lebih mudah, bukan keputusan yang harus dipikirkan setiap saat. Integrasi dengan aplikasi keuangan juga penting agar investasi terasa seamless,” katanya.
Selain itu, ia menilai industri perlu berfokus pada penyederhanaan produk dan peningkatan pengalaman pengguna. Transparansi, kemudahan akses, serta relevansi dengan tujuan finansial dinilai menjadi faktor penting dalam menarik investor baru.
“Yang dibutuhkan sekarang bukan awareness lagi, tapi akses dan kemudahan eksekusi,” tegasnya.
Reydi menambahkan, strategi paling realistis adalah mengintegrasikan reksa dana dalam sistem keuangan, seperti mekanisme investasi otomatis dari gaji. “Ketika investasi terjadi secara otomatis, tanpa perlu keputusan berulang, di situlah reksa dana bisa menjadi default,” pungkasnya.