"Sell in May" dan Bayang-bayang MSCI di Balik Pergerakan IHSG

Sentimen musiman sell in May and go away kembali mengemuka di pasar modal Indonesia pada akhir April 2026, beriringan dengan meningkatnya tekanan global dan fokus investor terhadap evaluasi MSCI.

"Sell in May" dan Bayang-bayang MSCI di Balik Pergerakan IHSG
Ilustrasi perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 4 Maret 2026. Foto: Fandi/Suar.id.
Daftar Isi

Sentimen musiman sell in May and go away kembali mengemuka di pasar modal Indonesia pada akhir April 2026, beriringan dengan meningkatnya tekanan global dan fokus investor terhadap evaluasi MSCI. Kombinasi dua faktor ini membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang tercatat tertinggal dibandingkan mayoritas pasar global.

Untuk diketahui, istilah sell in May and go away ini merujuk pada pola musiman di pasar saham, di mana investor cenderung menjual saham mulai bulan Mei dan kembali masuk pada akhir tahun.

Ungkapan ini berasal dari London dan didasarkan pada kecenderungan historis bahwa kinerja pasar pada periode Mei–Oktober relatif lebih lemah dibandingkan November–April. Pola ini dikaitkan dengan menurunnya aktivitas pasar saat musim liburan di negara Barat, sehingga volume transaksi lebih rendah dan volatilitas meningkat.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, melihat pola musiman tersebut mulai kembali relevan di tengah meningkatnya volatilitas global. Menurut dia, pergeseran preferensi investor ke aset yang lebih aman membuat tekanan terhadap pasar domestik semakin terasa, terutama ketika IHSG tidak mampu mengikuti reli global.

Di tengah kondisi tersebut, bursa saham Amerika Serikat justru mencatatkan kinerja kuat. Indeks S&P 500 naik 0,3% ke level 7.230,17 dan mencetak rekor baru, sementara Nasdaq Composite menguat 0,9% ke 25.114,44. Sepanjang April, S&P 500 melonjak 10,4% dan Nasdaq 15,3%, didorong kinerja keuangan emiten serta meredanya tekanan harga energi.

Kinerja positif juga terlihat di pasar negara berkembang. Indeks MSCI Emerging Markets naik 14% secara year-to-date, melampaui kenaikan S&P 500 sebesar 5,6%. Penguatan ini ditopang sektor teknologi dan semikonduktor, terutama di Korea Selatan dan Taiwan.

“Namun, arah berbeda terlihat di Indonesia. Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor yang menekan pasar domestik. Rupiah sempat menyentuh Rp17.310 per dolar AS, dengan depresiasi bulanan sekitar 1,86%. Tekanan tersebut turut tercermin dari arus dana asing yang mencatatkan net sell sebesar Rp17,02 triliun sepanjang April,” jelas Liza kepada SUAR, Senin (4/5/2026).

Dari sisi global, lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah memperburuk sentimen. Harga minyak Brent sempat menembus USD126 per barel sebelum terkoreksi ke kisaran USD108 per barel, dipicu gangguan pasokan termasuk penutupan jalur strategis di Selat Hormuz.

“Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun naik ke kisaran 4,38%, mencerminkan kebijakan moneter ketat dan menurunnya ekspektasi pemangkasan suku bunga,” kata Liza.

Liza menilai, selain faktor musiman, perhatian investor kini tertuju pada agenda evaluasi MSCI yang berpotensi memengaruhi aliran dana asing ke pasar Indonesia.

"Dalam waktu dekat, pelaku pasar juga mencermati rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat serta laporan keuangan emiten global sebagai penentu arah pasar berikutnya," kata dia.

Baca juga:

IHSG di Tengah Gejolak Konflik Internasional
Jika pada 2022 pemulihan membutuhkan waktu 5-6 bulan dan pada 2025 hanya butuh 1 bulan, maka di tahun 2026 ini, kecepatan pemulihan akan bergantung pada seberapa cepat deeskalasi terjadi di kawasan Teluk untuk menjamin kelancaran arus logistik minyak bumi.

Lebih lanjut, IHSG di awal pekan bulan Mei ini mengawali perdagangan dengan penguatan, namun menutup sesi dengan kenaikan terbatas. Pada perdagangan Senin (4/5/2026), indeks ditutup naik 15,14 poin atau 0,22% ke level 6.971,95.

Secara keseluruhan, volume transaksi mencapai 60,1 miliar lembar saham dengan frekuensi 2,4 juta kali dan nilai Rp21 triliun. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp12.438 triliun. Di sisi lain, saham dengan nilai transaksi terbesar dipimpin oleh GOTO, BBCA, dan BUMI.

Digoyang dinamika eksternal

Pandangan serupa disampaikan Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto. Ia menilai tekanan pasar lebih banyak dipengaruhi dinamika eksternal dibandingkan faktor fundamental domestik.

“Pelemahan rupiah saat ini lebih mencerminkan kombinasi sentimen risk-off global dan meningkatnya risk premium domestik, bukan disebabkan oleh krisis kebijakan yang ekstrem,” ucap Rully.

Dalam konteks MSCI, keputusan untuk menunda rebalancing indeks dilakukan sembari meninjau konsistensi implementasi kebijakan baru di pasar modal Indonesia. Evaluasi tersebut mencakup transparansi struktur kepemilikan saham, rencana peningkatan batas minimum free float menjadi 15%, serta penyesuaian Foreign Inclusion Factors (FIF).

Di dalam negeri sendiri, imbuhnya, otoritas pasar modal mulai merespons melalui serangkaian reformasi. Empat dari delapan agenda yang diumumkan pada awal April 2026 telah direalisasikan, antara lain publikasi saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, pengungkapan kepemilikan di atas 1% secara bulanan, serta perluasan klasifikasi investor oleh KSEI. Rully pun menilai langkah tersebut menjadi sinyal positif bagi pasar.

Ia menambahkan, langkah reformasi yang telah dijalankan merupakan sinyal positif bagi pasar. Penguatan IHSG sejak awal April menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap komitmen reformasi otoritas masih cukup terjaga.

Meski demikian, ia mengingatkan, penguatan IHSG sebelumnya tidak sepenuhnya ditopang fundamental, melainkan juga faktor teknikal terkait MSCI. Dengan adanya tekanan global, penyesuaian pasar dinilai tidak terhindarkan.

“Dalam situasi volatilitas tinggi, investor cenderung mengalihkan portofolio ke sektor defensif seperti komoditas dan telekomunikasi, sementara sektor manufaktur dinilai lebih rentan terhadap kenaikan biaya produksi,” tutur Rully.

Pengunjung melintasi papan informasi perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (4/3/2026). Foto: Fandi/Suar.id.

Dari sisi arus dana, Chief Investment Officer PT BRI Manajemen Investasi, Herman Cahyadi, mencatat bahwa sinyal MSCI telah berdampak langsung terhadap pergerakan investor global.

“Januari itu memang ada net foreign outflow sekitar Rp10 triliun karena warning dari MSCI,” cetusnya.

Namun, imbuhnya, pada Februari mulai terjadi bottom fishing dengan net inflow sekitar Rp364 miliar.

Evaluasi MSCI pada Mei, saham mana bertahan di indeks?

Di tengah tekanan tersebut, pasar juga menantikan evaluasi indeks oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Mei 2026. Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyebut pengetatan kriteria konstituen, termasuk larangan saham dengan status High Shareholding Concentration (HSC) dan batas minimum free float 15%, berpotensi mengubah komposisi indeks utama seperti IDX30, LQ45, dan IDX80.

“Dengan kriteria baru yang lebih ketat, saham seperti SCMA, BREN, DSSA, dan PGEO yang memiliki free float rendah bisa berisiko keluar dari indeks-indeks utama, karena persyaratan minimum free float yang kini menjadi 15%. Saham-saham dengan free float yang lebih memadai, seperti TINS atau TAPG, mungkin akan menjadi pengganti,” ujar Harry.

Ia menambahkan, perubahan ini dapat meningkatkan kualitas indeks sekaligus memengaruhi bobot saham dan pergerakan IHSG. Emiten yang memenuhi kriteria berpotensi mendapat sentimen positif, sementara yang tidak memenuhi syarat berisiko mengalami tekanan likuiditas.

Lebih lanjut, Harry menilai perubahan ini juga berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG, meski dampaknya bergantung pada respons pasar.

“Pengaruhnya terhadap bobot LQ45 dan indeks lainnya kemungkinan akan signifikan, karena saham dengan kriteria lebih ketat akan mendominasi lebih banyak bobot. Ini juga bisa berdampak pada IHSG, karena pergerakan saham-saham yang lebih likuid dapat lebih mempengaruhi pergerakan indeks secara keseluruhan. Namun, dampaknya terhadap IHSG akan tergantung pada reaksi pasar terhadap perubahan konstituen dan bobot saham dalam indeks,” kata dia.

Dari sisi emiten, kebijakan ini diperkirakan akan menciptakan perbedaan sentimen. Emiten yang memenuhi kriteria baru berpotensi mendapatkan sentimen positif, didorong oleh ekspektasi peningkatan likuiditas dan minat investor. Sebaliknya, emiten yang tidak memenuhi syarat berisiko mengalami penurunan likuiditas dan tekanan terhadap harga saham.

“Dampak kebijakan ini terhadap kinerja emiten bisa beragam, tergantung pada apakah mereka berhasil memenuhi kriteria baru atau tidak. Emiten yang memenuhi syarat kemungkinan akan mendapat sentimen positif, dengan ekspektasi likuiditas yang lebih tinggi, sementara yang tidak memenuhi syarat dapat mengalami penurunan likuiditas dan pengaruh negatif,” ujarnya.

Dalam kondisi tersebut, ia merekomendasikan sejumlah saham berkapitalisasi besar yang dinilai tetap prospektif di tengah perubahan komposisi indeks.

Rekomendasi tersebut mencakup BBCA dengan peringkat buy dan target harga Rp8.600, BMRI buy dengan target Rp5.700, serta ICBP buy dengan target Rp11.000.

“Saham-saham tersebut memiliki fundamental kuat dan likuiditas tinggi yang sesuai dengan arah kebijakan baru BEI,” pungkasnya.

Author

Uswatun Hasanah
Uswatun Hasanah

Wartawan Pasar Modal

Baca selengkapnya

Ω