Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (30/4/2026) akhirnya ditutup anjlok 144,42 poin atau 2,03% ke level 6.956,8. Pasar modal tak hanya kembali menyentuh level psikologis di bawah 7.000 yang terakhir 7 April lalu, tetapi ini juga merupakan titik terendah sepanjang 2026. Anjloknya pasar modal tak lain karena tekanan dua arah, baik global maupun lokal.
Perdagangan saham pada Kamis bergerak fluktuatif di rentang 6.876 hingga 7.109. Dari sisi likuiditas, nilai transaksi mencapai Rp21,82 triliun dengan volume perdagangan 48,18 miliar saham dan frekuensi 2,66 juta kali.
Mayoritas saham berada di zona merah, dengan 576 saham melemah, 133 saham menguat, dan 105 saham stagnan. Pelemahan terjadi secara merata di seluruh sektor. Sektor perindustrian memimpin penurunan sebesar 2,95%, diikuti sektor infrastruktur 2,93%, sektor barang baku 2,9%, serta sektor barang konsumsi primer dan properti masing-masing turun 2,19%.
Sementara itu perdagangan saham bursa saham Asia cenderung bervariasi. Indeks Shanghai menguat 0,11% dan Straits Times naik 0,93%. Sebaliknya, Hang Seng terkoreksi 1,28% dan Nikkei melemah 1,06%, mencerminkan sentimen global yang direspon beragam di tiap negara.
Ketidakpastian global
Direktur Pengembangan Big Data Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai koreksi IHSG tidak terlepas dari ketidakpastian global yang masih tinggi. Dinamika geopolitik yang belum stabil serta perubahan peta energi dunia menjadi faktor utama pembentuk sentimen negatif di pasar keuangan.
“Situasi global belum menemukan titik dingin. Gencatan senjata tidak diikuti kepastian, ditambah dinamika baru seperti langkah Uni Emirat Arab keluar dari OPEC yang berpotensi mengubah peta energi global,” ungkap Eko dalam diskusi publik yang digelar Indef, Kamis (30/4/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut memicu risk-off sentiment di kalangan investor global. Dalam situasi ini, investor cenderung menarik dana dari aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang seperti Indonesia.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai stabilitas pasar keuangan di tengah gejolak global tidak cukup dijaga melalui intervensi jangka pendek.
Kunci utama pemulihan kepercayaan investor justru terletak pada kepastian arah kebijakan serta sinergi antara fiskal, moneter, dan energi. Rully mengatakan, pergerakan IHSG sepanjang 2025 hingga awal 2026 yang sempat menyentuh level tertinggi tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi yang kuat.
"Kenaikan tersebut lebih banyak dipengaruhi faktor teknikal, terutama terkait MSCI, sehingga menciptakan jarak antara pasar saham dan kondisi ekonomi riil," kata Rully kepada SUAR.id.
Baca juga:

Memasuki 2026, tekanan eksternal meningkat seiring lonjakan harga minyak mentah Brent yang mencapai USD115 per barel serta pelemahan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp17.200 per dolar AS.
Kondisi ini turut mendorong arus keluar modal asing yang tercatat mencapai Rp32,9 triliun secara year-to-date. Pihaknya menilai perkembangan tersebut berpotensi membuat sejumlah asumsi makro pemerintah meleset, khususnya terkait nilai tukar dan harga energi.
Di sisi sektoral, industri manufaktur terutama yang bergantung pada bahan baku impor seperti plastik, diperkirakan paling terdampak, sementara sektor komoditas dan telekomunikasi dinilai relatif lebih tahan.
Di tengah tekanan tersebut, langkah otoritas pasar dalam meningkatkan transparansi kepemilikan saham dinilai positif untuk menjaga kepercayaan investor global. Namun, stabilitas jangka panjang tetap akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan yang terintegrasi.
“Pasar membutuhkan arah kebijakan yang jelas dan dapat diprediksi. Tanpa itu, volatilitas akan sulit diredam,” ujar Rully.
Tekanan dalam negeri
Tak hanya faktor eksternal, anjloknya IHSG juga tak lepas dari dalam negeri. Peneliti Center of Macroeconomics and Finance (MacFin) Indef Abdul Manap Pulungan melihat anjloknya IHSG sebagai sinyal menurunnya kepercayaan investor global terhadap Indonesia.
Hal tersebut tercermin dari meningkatnya aliran modal keluar (capital outflow). Hingga Maret 2026, kepemilikan asing tercatat sekitar Rp1,43 triliun, turun signifikan dari Rp2,43 triliun pada periode sebelumnya atau merosot sekitar 38%.
“Investor melihat ini bukan waktu yang tepat untuk mengoleksi portofolio di Indonesia. Terlihat dari capital outflow yang menekan rupiah,” ucapnya.
Ia menambahkan, aliran dana asing yang sebelumnya menopang pasar, baik melalui saham maupun instrumen moneter, kini mulai menyusut. Bahkan, hanya instrumen Surat Berharga Negara (SBN) yang relatif masih bertahan.
“Sekarang yang masih bertahan relatif hanya SBN. Sementara saham dan SRBI itu seperti ‘menguap’, tidak jelas arahnya,” kata Manap.
Dalam kondisi tersebut, peran investor domestik dinilai belum cukup kuat untuk menahan tekanan. Tingginya aktivitas jual-beli oleh investor lokal justru berpotensi meningkatkan volatilitas ketika sentimen negatif mendominasi.
Lebih jauh, Eko menyoroti adanya krisis kepercayaan terhadap arah kebijakan pemerintah. Menurutnya, tekanan pasar tidak hanya dipengaruhi oleh fundamental ekonomi, tetapi juga ekspektasi terhadap kebijakan yang belum sepenuhnya kredibel.
“Kita menghadapi kondisi di mana rupiah undervalued, artinya sentimen lebih dominan daripada fundamental. Tapi sentimen tidak bisa dilawan dengan narasi, harus dengan fakta,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam pelaksanaan program prioritas nasional. Program yang tidak tepat sasaran atau menimbulkan kontroversi berpotensi menjadi beban tambahan bagi pasar. “Kalau program tidak dijalankan dengan baik, itu akan menjadi burden dan menambah sentimen negatif yang akhirnya menghantam rupiah dan IHSG,” jelas dia.
Tekanan capital outflow juga diperparah oleh faktor lain seperti depresiasi rupiah, kenaikan inflasi, indeks pemeringkat asing seperti MSCI dan FTSE, serta potensi penurunan cadangan devisa. Kombinasi ini menciptakan lingkaran tekanan yang saling memperkuat.
Ia mengatakan bahwa penanganan capital outflow tidak cukup hanya melalui kebijakan moneter. Diperlukan sinergi antara kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil, serta upaya memperbaiki persepsi investor dan memperkuat fundamental ekonomi. Selain itu, pendalaman pasar keuangan domestik menjadi langkah mendesak untuk mengurangi ketergantungan terhadap dana asing.
“Masalahnya bukan hanya di moneter, tapi juga di fiskal dan sektor riil. Selama persepsi terhadap ekonomi kita belum membaik, tekanan capital outflow akan terus berulang,” ujar Manap.
Di tengah ketidakpastian global, imbuhnya, menjaga kepercayaan investor menjadi fondasi utama stabilitas pasar keuangan. “Tanpa kepercayaan tersebut, volatilitas arus modal akan tetap tinggi dan berpotensi mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka pendek,” pungkasnya.
Perumpaan cangkul yang salah
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti upaya pendalaman pasar modal Indonesia yang dinilai belum menunjukkan hasil signifikan, meski telah digagas sejak lama.
Purbaya menegaskan pemerintah tetap optimistis terhadap arah pembangunan ekosistem keuangan nasional yang lebih kuat, berintegritas, dan adaptif.
“Saya sudah dengar istilah pendalaman pasar modal sejak tahun 2000, sampai sekarang belum dalam-dalam amat. Mungkin memang cangkulnya salah, gali enggak dalam-dalam,” ujar Purbaya, Senin (27/4/2026) lalu.
Ia menjelaskan, dinamika pasar saham pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh kondisi fundamental ekonomi. Oleh karena itu, pemerintah saat ini menitikberatkan pada reformasi struktural sebagai fondasi utama penguatan pasar keuangan.
Reformasi tersebut mencakup pembenahan sektor kepabeanan dan cukai, optimalisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP), serta percepatan program hilirisasi industri. Menurut Purbaya, langkah tersebut telah mulai menunjukkan arah yang jelas. Ia menyebut, dalam tiga bulan pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, penerimaan PNBP ditargetkan tumbuh hingga 20%.
Transformasi struktur ekonomi ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8% dalam beberapa tahun ke depan.
“Nanti dua tahun, tiga tahun lagi Anda baru sadar angka 8% itu ada di depan mata. Artinya, prospek pasar saham kita juga akan naik dengan signifikan. Masalahnya kan enggak semua penduduk atau masyarakat kita punya waktu untuk melihat saham dari hari ke hari. Sebagian kerja profesional dan lain-lain,” kata dia.