Dari Ultrajaya Siap Akuisisi Frisian Flag Hingga Djarum Ambil Alih SariWangi

Dari Ultrajaya Siap Akuisisi Frisian Flag Hingga Djarum Ambil Alih SariWangi

Besarnya pasar barang konsumen Indonesia masih menggiurkan dan potensial.

Dari Ultrajaya Siap Akuisisi Frisian Flag Hingga Djarum Ambil Alih SariWangi
Dalam Artikel Ini

PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) menyiapkan aksi korporasi senilai Rp14,57 triliun untuk mengambil alih 100% saham PT Frisian Flag Indonesia (FFI). Transaksi melalui Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) IV alias right issues tersebut akan memperbesar skala bisnis ULTJ sekaligus mengubah struktur kepemilikan perseroan.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dikutip Rabu, (23/9/2026) ULTJ akan menerbitkan maksimal 7,88 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp2.150 per saham. Sebanyak 6,78 miliar saham baru akan diterbitkan kepada pemegang saham FFI sebagai bagian dari penyetoran modal dalam bentuk selain uang atau inbreng.

Dalam transaksi tersebut, FrieslandCampina International Holding B.V. (FCIH), Blue Waves Group Ventures Pte. Ltd. (BWG), dan PT Bahtera Wiraniaga Internusa (BWI) akan menyetorkan seluruh saham FFI yang mereka miliki kepada ULTJ. Ketiganya saat ini menguasai masing-masing 78,09%, 16,91%, dan 5% saham FFI.

Nilai inbreng FFI mencapai Rp14,57 triliun atau setara 178,24% dari ekuitas ULTJ berdasarkan laporan keuangan per 31 Juli 2026. Karena nilainya memenuhi kriteria transaksi material, aksi tersebut membutuhkan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

ULTJ menjadwalkan RUPSLB pada 27 Oktober 2026 untuk meminta persetujuan atas PMHMETD IV dan pengambilalihan 100% saham FFI.

Frisian Flag tambah skala bisnis Ultrajaya

Akuisisi FFI akan membawa tambahan skala usaha yang signifikan bagi ULTJ. Per 31 Juli 2026, FFI membukukan penjualan Rp7,79 triliun dan laba bersih Rp439,53 miliar. Pada periode yang sama, ULTJ mencatat penjualan sekitar Rp6,42 triliun dengan laba bersih sekitar Rp1,22 triliun.

Manajemen memproyeksikan konsolidasi FFI meningkatkan pendapatan ULTJ rata-rata 137% per tahun. Laba operasi diperkirakan tumbuh rata-rata 105,9% per tahun, sedangkan laba tahun berjalan diproyeksikan meningkat rata-rata 115,4% per tahun.

Arus kas bersih juga diproyeksikan meningkat sekitar 30,12% hingga 82,66% dibandingkan skenario tanpa transaksi.

Dari sisi rasio profitabilitas, konsolidasi FFI akan meningkatkan aset dan ekuitas ULTJ. Kondisi tersebut membuat tingkat pengembalian atas aset dan ekuitas berada pada level lebih rendah pada periode awal sebelum diproyeksikan meningkat sepanjang periode proyeksi.

ROE setelah transaksi diproyeksikan naik dari 7,22% pada 2026 menjadi 12,64% pada 2031. Sementara ROA diproyeksikan meningkat dari 5,67% menjadi 10,24%.

EBIT margin juga diproyeksikan meningkat dari 10,93% pada 2026 menjadi 17,99% pada 2031. Adapun net profit margin diproyeksikan naik dari 8,89% menjadi 15,65%.

Akuisisi ULTJ dinilai mengubah skala bisnis

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, Fath Aliansyah Budiman menilai transaksi dengan FFI akan memperbesar skala bisnis dan pangsa pasar ULTJ.

"ULTJ bakal lebih besar dengan adanya corporate action ini," kata Fath kepada SUAR, Rabu (23/9/2026).

Menurut Fath, pendapatan FFI yang lebih besar daripada ULTJ membuat konsolidasi kedua perusahaan berpotensi meningkatkan pendapatan ULTJ secara signifikan.

"Kalau dilihat pendapatannya Frisian Flag Indonesia itu lebih besar daripada ULTJ. Jadi ini naik dua kali lipat lebih nih sebenarnya," ujarnya.

Namun, pertumbuhan pendapatan tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan laba dalam besaran yang sama. Fath mencatat laba FFI lebih kecil dibandingkan laba ULTJ sehingga konsolidasi dapat memberikan tekanan terhadap margin laba bersih.

"Margin laba bersihnya itu ada potensi mengalami penurunan," kata Fath.

Menurutnya, perubahan margin tersebut juga dapat berdampak terhadap laba per saham atau earnings per share (EPS) ULTJ dalam jangka panjang. Selain margin, kemampuan ULTJ mengembangkan produk juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan setelah transaksi. Fath mencontohkan inovasi produk yang dilakukan kompetitor di industri F&B.

"Ini yang sebenarnya akan menjadi kata kunci untuk bisa memastikan apakah growth-nya itu bisa agresif atau tidak ke depannya," ujarnya.

Investor juga masih menantikan kebijakan dividen setelah aksi korporasi setelah adanya aksi korporasi ini. Terkait hal itu, Fath mengatakan keputusan tersebut akan diketahui lebih lanjut melalui RUPS.

Dari sisi pergerakan saham, ULTJ mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir. Fath mencatat harga saham perseroan berada di kisaran Rp1.500 pada 11 September 2026 sebelum bergerak ke sekitar Rp2.000.

"ULTJ dari 11 September itu harganya masih 1.500-an, sekarang udah di 2.000-an," kata dia.

Ia melihat area Rp1.800–Rp2.000 sebagai salah satu level yang dapat diperhatikan. Pada grafik mingguan sejak awal 2025, Fath juga melihat pola double bottom setelah saham menembus level Rp1.730.

"Jadi mungkin jangka pendek ada potensi untuk koreksi dulu, tapi sama bertahan di 1.700-an," ujarnya.

Dalam analisis tersebut, pola double bottom ULTJ memiliki target di sekitar Rp2.400.

Terpisah, Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai transaksi FFI dapat mengubah investment story ULTJ. Menurutnya, ULTJ berpotensi tidak lagi hanya dipandang sebagai emiten susu, tetapi menjadi bagian dari konsolidasi industri dairy.

"ULTJ pasca-transaksi ini bukan lagi sekadar cerita emiten susu defensif," kata Elandry.

Menurut Elandry, kombinasi bisnis ULTJ dan FFI dapat memperbesar skala distribusi, portofolio produk, serta efisiensi rantai pasok. Namun, pasar tetap akan menunggu bukti pertumbuhan laba dari sinergi tersebut.

"Pada akhirnya pasar tetap akan menagih pertumbuhan laba dari sinergi tersebut," ujarnya.

Elandry juga menilai harga pelaksanaan HMETD sebesar Rp2.150 dapat menjadi salah satu level psikologis bagi saham ULTJ. Namun, keberlanjutan harga di atas level tersebut tetap bergantung pada realisasi kinerja setelah integrasi.

"Rp2.150 berpotensi menjadi magnet sekaligus level psikologis baru bagi saham ULTJ," kata Elandry.

Ia menambahkan bahwa aksi korporasi dapat mendorong ekspektasi pasar, tetapi pertumbuhan laba menjadi faktor yang akan menentukan perkembangan fundamental perseroan setelah transaksi.

Konsolidasi F&B Juga Terjadi di Bisnis Teh

Aksi korporasi ULTJ berlangsung di tengah konsolidasi industri makanan dan minuman (F&B) di Indonesia. Sebelumnya, Savoria Group mengambil alih bisnis teh SariWangi dari PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).

Unilever Indonesia menandatangani Business Transfer Agreement (BTA) dengan PT Savoria Kreasi Rasa pada 6 Januari 2026. Nilai divestasi bisnis teh SariWangi mencapai Rp1,5 triliun di luar pajak.

Savoria Kreasi Rasa merupakan perusahaan FMCG lokal yang terafiliasi dengan Grup Djarum. Unilever Indonesia menyatakan Savoria Kreasi Rasa tidak memiliki hubungan afiliasi langsung dengan Unilever Indonesia.

Presiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap mengatakan divestasi tersebut ditujukan untuk mendukung pengembangan bisnis SariWangi sekaligus mempertajam fokus Unilever Indonesia pada segmen utama perseroan.

Sementara itu, CEO Savoria Group Ihsan Mulia Putri menyebut akuisisi SariWangi sebagai bagian dari pengembangan portofolio bisnis perusahaan di industri FMCG.

Setelah transaksi, SariWangi bergabung dengan sejumlah merek dalam portofolio Savoria, antara lain Kopi Tubruk Gadjah, Caffino, MilkLife, HydroPlus, FOX’S, dan 5Days.

Savoria menyatakan akan mengembangkan bisnis SariWangi melalui pengembangan produk, pemahaman terhadap konsumen domestik, jaringan distribusi, penguatan proses produksi, dan pengendalian kualitas. Unilever menargetkan penyelesaian transaksi divestasi bisnis teh SariWangi pada semester pertama 2026 setelah seluruh persyaratan penutupan terpenuhi.

Baca juga:

Alasan Djarum Grup Akuisisi Sariwangi
Akuisisi ini diharapkan menjadi langkah strategis yang menegaskan komitmen jangka panjang perusahaan dalam memperkuat industri teh nasional sekaligus mendorong pertumbuhan merek legendaris asli Indonesia tersebut.
ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Makanan Minuman

Rekomendasi SUAR