Ekspor Makanan Olahan RI Baru US$6,25 Miliar, Peluang Pasar Terbuka

Ekspor makanan dan minuman olahan Indonesia baru berkontribusi sekitar 2,2% terhadap total ekspor Indonesia. Potensi pasar besar karena pertumbuhan kelas menengah Asia.

Ekspor Makanan Olahan RI Baru US$6,25 Miliar, Peluang Pasar Terbuka
Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sektor olahan pangan menghias kukis karakter berbahan dasar mentega di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (29/7/2026). Kementerian UMKM bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mempercepat penerbitan Nomor Izin Edar (NIE) melalui program pendampingan terintegrasi SAPA SEMESTA untuk memangkas birokrasi perizinan bagi 4,2 juta UMKM pangan olahan, guna menjamin keamanan produk serta membuka akses pemasaran ke ritel modern dan pasar ekspor. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Daftar Isi

Industri makanan dan minuman (F&B) Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas pasar global. Namun, pertumbuhan ekspor produk makanan dan minuman olahan Indonesia masih belum mampu mengimbangi laju permintaan pasar global.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat permintaan pasar makanan dan minuman dunia dalam lima tahun terakhir tumbuh rata-rata 7,7% per tahun. Sementara ekspor makanan dan minuman olahan Indonesia hanya tumbuh rata-rata 5,44% per tahun pada periode 2021-2025.

"Artinya permintaan pasar dunia lebih besar sebenarnya, 7,7%. Nah, kemampuan kita baru 5,5%. Jadi potensinya kita besar," kata Direktur Jenderal Pembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini dalam acara Indonesia Food and Beverage (F&B) Trade Promotion Forum di Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Direktur Jenderal Pembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Fajarini (tengah) di Indonesia Food and Beverage (F&B) Trade Promotion Forum, Jakarta, Selasa (11/8/2026). Foto: Feby Febrina/Suar.id

Fajarini mengatakan nilai ekspor makanan dan minuman olahan Indonesia pada 2025 mencapai US$6,25 miliar. Nilai tersebut baru berkontribusi sekitar 2,2% terhadap total ekspor Indonesia. Meski demikian, kinerja ekspor sektor tersebut menunjukkan tren positif.

Pada 2026, ekspor makanan dan minuman olahan disebut telah tumbuh sekitar 12%. Menurut Fajarini, kondisi tersebut menunjukkan peluang pasar yang masih besar untuk digarap, terutama karena Indonesia memiliki ketersediaan bahan baku yang kuat.

Mulai tembus pasar dunia

Fajarini mengatakan sejumlah produk makanan dan minuman olahan Indonesia telah memiliki posisi yang cukup baik di pasar global. Empat produk unggulan makanan dan minuman Indonesia adalah produk berbasis kopi, olahan udang, ikan, hingga berbagai produk makanan olahan lainnya.

Untuk produk olahan berbahan dasar kopi (HS 210112), nilai ekspor dunia pada 2025 mencapai US$9,64 miliar, dengan pertumbuhan 12,6% secara tahunan. Indonesia berada di peringkat ke-19 dunia dengan pangsa pasar sebesar 1,2%.

Peluang juga terlihat pada produk olahan udang dan udang-udangan (HS 160521). Nilai ekspor dunia produk tersebut mencapai US$10,28 miliar pada 2025 dan tumbuh 7,3%. Indonesia menempati peringkat keenam dunia dengan pangsa 3,2%.

Sementara itu, produk olahan tuna, cakalang, dan bonito (HS 160414) memiliki nilai ekspor dunia sebesar US$7,61 miliar, tumbuh 4,8%. Indonesia berada di peringkat ketujuh dengan pangsa yang mencapai 5%.

Adapun kategori food preparations, not elsewhere specified (HS 210690) memiliki pasar ekspor dunia terbesar dalam empat produk yang dipetakan, yakni mencapai US$57,84 miliar pada 2025. Pasar tersebut tumbuh 4,3%, sementara Indonesia berada di peringkat ke-16 dengan pangsa 1,4%.

Sedangkan produkk makanan lainnya (HS 210690) memiliki pasar ekspor dunia terbesar dalam empat produk yang dipetakan, yakni mencapai US$57,84 miliar pada 2025. Pasar tersebut tumbuh 4,3%, sementara Indonesia berada di peringkat ke-16 dengan pangsa 1,4%.

Pekerja menjemur kopi di instalasi rumah kaca Kopi Java Indonesia, Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (7/8/2026). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

Menurut Fajarini, besarnya pasar global dan ketersediaan bahan baku di dalam negeri menjadi modal bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor produk olahan. “Pasarnya besar, bahannya ada. Nah sekarang tinggal bagaimana saya bisa menjualnya,” katanya.

Tantangan mendongkrak pangsa pasar ekspor

Meski memiliki pasar domestik yang besar dan bahan baku yang melimpah, posisi Indonesia dalam ekspor makanan olahan di kawasan ASEAN masih belum menjadi yang teratas.

Wakil Menteri Perdagangan Roro Dyah mengatakan nilai ekspor makanan olahan Indonesia pada 2025 mencapai US$6,25 miliar. Nilai tersebut menempatkan Indonesia di peringkat keempat ASEAN, masih berada di bawah Thailand, Vietnam, dan Singapura.

Thailand menjadi negara dengan nilai ekspor makanan olahan terbesar di ASEAN dengan nilai mencapai US$17,69 miliar. Posisi berikutnya ditempati Vietnam dengan US$8,89 miliar, kemudian Singapura sebesar US$6,5 miliar.

Wakil Menteri Perdagangan Roro Dyah di Indonesia Food and Beverage (F&B) Trade Promotion Forum, Jakarta, Selasa (11/8/2026). Foto: Feby Febrina/Suar.id

Menurutnya, salah satu tantangan ekspor produk F&B Indonesia adalah perbedaan standar yang diterapkan oleh masing-masing negara tujuan. Karena itu, pelaku usaha perlu memperkuat kualitas produknya agar mampu memenuhi persyaratan pasar internasional.

"Kalau kita berbicara mengenai ekspor, yaitu adalah bagaimana kita bisa memperkuat kualitas dari produk F&B yang dapat kita tawarkan untuk bisa penetrasi ke pasar internasional," katanya.

Karena itu dari sisi akses pasar, Kemendag mendorong pelaku usaha memanfaatkan jaringan Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) yang tersebar di 33 negara. Roro mengatakan pemerintah berupaya menjadi jembatan antara pelaku usaha dan calon buyer di pasar internasional.

Pekerja menjemur ikan jenis Talang di rumah ikan olahan kawasan pesisir Desa Pusong, Lhokseumawe, Aceh, Sabtu (8/8/2026). ANTARA FOTO/Rahmad

Menurut Roro, para perwakilan perdagangan tersebut tidak hanya bertugas memberikan informasi, tetapi juga membantu mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon buyer melalui kegiatan business pitching. Namun, proses yang dilakukan pemerintah tidak berhenti pada business pitching, tetapi perlu diteruskan menjadi business matching hingga menghasilkan kesepakatan dan transaksi.

"Kita bridging the gap, untuk kemudian nanti menghasilkan sebuah MOU ataupun perjanjian yang harapannya juga bisa menghasilkan transaksi," ujar Roro.

Pameran perdagangan sebagai ajang promosi efektif

Selain membuka akses melalui jaringan perwakilan perdagangan, Roro mendorong pelaku usaha memanfaatkan berbagai forum dan pameran perdagangan internasional. Salah satunya adalah Trade Expo Indonesia (TEI) yang akan kembali digelar pada 14-18 Oktober 2026 di ICE BSD.

Menurut Roro, penyelenggaraan TEI menjadi salah satu wadah bagi pelaku usaha Indonesia untuk bertemu langsung dengan calon pembeli dari berbagai negara. Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, TEI menghadirkan 8.045 buyer dari seluruh dunia.

Menteri Perdagangan Budi Santoso berbicara dalam peluncuran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Kantor Kementerian Perdagangan di Jakarta, Kamis (26/2/2026). ANTARA/Shofi Ayudiana.

Sementara itu, Guru Besar Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Andalas (Unand) Syafruddin Karim berpendapat, nilai ekspor tersebut belum mencerminkan besarnya sumber daya, pasar domestik, dan kapasitas industri makanan dan minuman Indonesia.

Menurutnya, salah satu persoalan utama adalah masih banyak pelaku usaha Indonesia yang menjual bahan baku atau produk antara. Sementara itu, negara pesaing lebih kuat dalam menghasilkan produk akhir yang memiliki nilai tambah melalui merek, desain kemasan, standardisasi, hingga jaringan distribusi global.

Belum lagi, produsen Indonesia juga menghadapi biaya logistik tinggi, pasokan bahan baku yang tidak konsisten, teknologi produksi terbatas, serta proses sertifikasi dan registrasi yang mahal. Kondisi menjadi tantangan terutama bagi UMKM. Akibatnya, banyak pelaku usaha mampu memenuhi pesanan dalam skala awal, tetapi kesulitan ketika pembeli meningkatkan volume kontrak.

 nggota Kelompok Tani Wanita (KWT) menata produk olahan dari hasil pertanian dalam rangkaian Hari Krida Pertanian (HKP) yang ke-54 di Pawidean, Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat, Selasa (14/7/2026). ANTARA FOTO/Dedi Suwidiantoro

Pembenahan eksosistem perdagangan yang tepat

Kondisi tersebut membuat produsen kesulitan menjaga volume produksi, konsistensi mutu, hingga ketepatan jadwal pengiriman. Selain itu, Pemerintah Indonesia masih terlalu menekankan pameran dan pertemuan bisnis, sementara eksportir membutuhkan laboratorium, fasilitas produksi bersama, pembiayaan berbasis pesanan, intelijen pasar, dan pendampingan regulasi.

"Tanpa pembenahan ekosistem tersebut, kekayaan bahan pangan hanya memperkuat ekspor komoditas, bukan daya tawar produk bermerek," kata Syafruddin kepada SUAR.

Ke depan, ia menilai ekspor makanan dan minuman Indonesia tetap kuat karena pertumbuhan kelas menengah Asia, permintaan makanan halal, perubahan pola konsumsi, dan perluasan perdagangan digital membuka pasar baru. Ia menilai Indonesia perlu memprioritaskan produk yang menggabungkan bahan baku lokal, pengolahan lanjutan, identitas kuliner, dan permintaan global.

Menteri Perdagangan Budi Santoso (kedua kanan) berbincang dengan pelaku usaha cokelat saat pembukaan Indonesia International Cocoa Conference di Hotel Tentrem, Sleman, D.I Yogyakarta, Kamis (23/7/2026). ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

Sejumlah produk yang dinilai berpotensi menjadi motor pertumbuhan ekspor baru antara lain, kakao dan cokelat bermerek, kopi siap minum, kopi spesialti, produk kelapa, rempah fungsional, ekstrak bahan alam, buah tropis olahan, makanan laut siap saji, serta camilan sehat. Peluang juga terbuka untuk produk halal siap makan, terutama di kawasan Timur Tengah dan pasar diaspora.

Untuk mendukung peluang itu, pemerintah perlu mengarahkan dukungan pada keamanan pangan, ketertelusuran, sertifikasi halal internasional, rantai dingin, adaptasi rasa, dan pembangunan merek.

"Target kebijakan harus mengukur pengiriman berulang, nilai ekspor per kilogram, kandungan domestik, serta jumlah merek Indonesia di jaringan ritel global, bukan hanya nilai kontrak pameran," katanya.

Penulis

Feby Febrina Nadeak
Feby Febrina Nadeak

Wartawan Energi, Internasional, dan Perdagangan

Baca selengkapnya