Indonesia Berpeluang Jadi Basis Bisnis Kanada di ASEAN

Indonesia Berpeluang Jadi Basis Bisnis Kanada di ASEAN

Indonesia dan Kanada menjajaki peluang investasi potas atau kalium karbonat untuk mendukung kebutuhan bahan baku pupuk nasional, dan mineral kritis untuk membangun rantai pasok yang aman dan berkelanjutan.

Indonesia Berpeluang Jadi Basis Bisnis Kanada di ASEAN
Dalam Artikel Ini

Indonesia berpeluang memperkuat posisi sebagai basis ekspansi perusahaan Kanada ke kawasan ASEAN seiring strategi Kanada mendiversifikasi hubungan dagang ke berbagai kawasan.

Peluang tersebut mengemuka dalam pertemuan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Perdana Menteri Kanada Mark Carney di sela Canada Investment Summit di Toronto, Kanada, Kamis (17/9/2026). 

Pertemuan ini sekaligus menjadi momentum untuk mendorong implementasi Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) yang telah disepakati kedua negara setelah melalui proses negosiasi yang cukup panjang. Perjanjian tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan pelaku usaha kedua negara, khususnya untuk memperkuat kerja sama di sektor ketahanan pangan, energi, dan mineral kritis.

"Indonesia siap menjadi mitra strategis Kanada dan terbuka untuk memperluas kerja sama di berbagai sektor unggulan kedua negara," ujar Airlangga. 

Investasi Bahan Baku Pupuk dan Migas

Indonesia dan Kanada menjajaki peluang investasi potas atau kalium karbonat untuk mendukung kebutuhan bahan baku pupuk nasional. Selain itu, Kedua negara juga membahas tindak lanjut kerja sama mineral kritis untuk membangun rantai pasok yang aman dan berkelanjutan.

Indonesia juga menyampaikan harapan agar kolaborasi di bidang energi nuklir, termasuk ekosistem Small Modular Reactor (SMR), dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari strategi ketahanan energi jangka panjang nasional.

Baca juga:

Dampak ICA-CEPA, Kanada Perluas Kerjasama Agrifood dengan Indonesia
Indonesia-Kanada membuka peluang perluasan kerja sama di bidang Agri Food seperti teknologi pertanian, inovasi dan praktik berkelanjutan

Sementara itu, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menegaskan bahwa Kanada tengah memasuki periode investasi terbesar dalam satu abad terakhir, dengan target mengkatalisasi investasi senilai USD1 triliun (sekitar Rp17,8 kuadriliun) dalam lima tahun ke depan di berbagai sektor strategis, termasuk energi, transportasi, teknologi, dan pertahanan.

Untuk mendukung target tersebut, Pemerintah Kanada mengumumkan sejumlah kebijakan baru yang mencakup insentif pajak bagi investasi modal, percepatan proses perizinan, penguatan infrastruktur energi, diversifikasi pasar dagang melalui berbagai perjanjian kerja sama internasional, serta penerapan disiplin fiskal yang lebih ketat.

Ia turut memaparkan strategi diversifikasi dagang Kanada yang berfokus memperdalam hubungan dengan Asia, India, ASEAN, negara-negara Teluk, dan Eropa, tanpa meninggalkan hubungan dagang dengan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa Kanada berupaya menyeimbangkan penguatan kedaulatan nasional dengan tetap menjaga keterbukaan ekonomi, sekaligus memperbaiki reputasi Kanada dalam mempercepat penyelesaian proyek-proyek investasi berskala besar.

Wakil Ketua Bidang Hubungan Internasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Didit Ratam menilai posisi Indonesia sebagai perekonomian terbesar ASEAN dengan jumlah penduduk lebih dari 42% dari total populasi ASEAN menjadi modal untuk menarik perusahaan Kanada menjadikan Indonesia sebagai basis ekspansi di kawasan.

Menurutnya, Indonesia memiliki dua instrumen perdagangan yang dapat mendukung peran tersebut, yakni ICA-CEPA dan ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA). ICA-CEPA dinilai dapat memperluas akses perdagangan antara Indonesia dan Kanada melalui penurunan tarif sejumlah produk, sementara ATIGA memberikan kerangka perdagangan barang di kawasan ASEAN.

Dengan kombinasi tersebut, perusahaan Kanada dinilai dapat menjadikan Indonesia sebagai pasar utama di kawasan sebelum memperluas bisnis ke negara ASEAN lainnya. 

"Dengan demikian perusahaan Kanada dapat menggunakan pasar Indonesia menjadi pasar utamanya di kawasan ASEAN sebagai awalnya untuk kemudian melakukan ekspansi ke negara ASEAN," katanya pada SUAR, Jumat (18/9/2026). 

Didit menilai, peluang kerja sama bisnis tidak terbatas pada sektor pangan, energi, dan mineral kritis yang dibahas pemerintah. Sejumlah produk lain yang berpotensi dikembangkan mencakup produk makanan, pakan ternak atau animal feed, peralatan pertambangan, peralatan energi terbarukan, serta peralatan pertanian.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tren investasi Kanada di Indonesia meningkat sejak 2021 hingga 2025. Adapun hingga kuartal I/2026, nilai investasi Kanada tercatat sebesar US$176,9, atau 28.9% total investasi pada 2025.

Ketua Umum APINDO Shinta Kamdani menambahkan, ICA-CEPA tidak hanya membuka peluang ekspor bagi pelaku usaha Indonesia ke Kanada, tetapi juga memberikan akses pasar dan fasilitasi investasi yang lebih besar bagi perusahaan Kanada di Indonesia.  Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menarik perusahaan Kanada masuk dan berinvestasi di Indonesia, sebelum mengembangkan aktivitas produksinya ke pasar regional.

Perlu Iklim Usaha Kompetitif

Namun, Shinta menilai keberadaan ICA-CEPA saja tidak cukup untuk memastikan Indonesia menjadi basis investasi Kanada di ASEAN. Indonesia tetap perlu menciptakan iklim usaha dan investasi yang kompetitif dibandingkan negara-negara lain di kawasan, mencakup ease doing business dan efisiensi cost of doing business Indonesia secara intrinsik, di luar konteks akses pasar & fasilitasi yg dibentuk oleh ICA-CEPA.

"Jadi, yang harus diperhatikan oleh Indonesia adalah memastikan tidak ada bottleneck regulasi untuk realisasi investasi di lapangan dan memastikan komponen-komponen beban usaha menjadi lebih efisien dibandingkan beban serupa di negara-negara kompetitor Indonesia di kawasan," katanya pada SUAR, Jumat (18/9/2026). 

Shinta menilai hal tersebut menjadi tantangan karena hingga saat ini dalam berbagai paramaeter penilaian kemudahan berusaha dan efisiensi beban usaha khususnya beban energi, logistik, ketenagakerjaan, kemudahan memperoleh bahan baku, masih tergolong paling mahal. Sedangkan kemudahan berusaha paling rendah dibandingkan negara-negara ASEAN-5 dalam  banyak parameter. 

Oleh karena itu, APINDO menilai pembenahan efisiensi biaya usaha dan kemudahan berusaha menjadi hal mendesak apabila Indonesia ingin memaksimalkan peluang investasi Kanada. Sebab, perusahaan Kanada tetap dapat memilih negara ASEAN lain apabila biaya dan kemudahan menjalankan bisnis di Indonesia kurang kompetitif, meskipun Indonesia memiliki keunggulan berupa CEPA dengan Kanada.

"Bila kita berlambat-lambat, potensi ini akan dimanfaatkan oleh negara kompetitor di ASEAN, apalagi saat ini Kanada sedang berupaya menciptakan FTA dengan ASEAN," katanya. 

Petakan Sektor Prioritas

Sementara itu, Dosen Hubungan Internasional Probo Darono Yakti menilai , peluang Indonesia untuk menjadi basis ekspansi bisnis Kanada ke ASEAN cukup terbuka, tetapi tidak otomatis terwujud hanya karena adanya ICA-CEPA. Menurutnya, Indonesia memiliki modal berupa skala pasar domestik, ketersediaan sumber daya alam, kapasitas manufaktur, dan keterhubungan dengan jaringan perdagangan ASEAN.

"Artinya, perusahaan Kanada tidak sekadar menjual produk ke konsumen Indonesia, tetapi juga dapat membangun fasilitas produksi, pengolahan, distribusi, serta kemitraan dengan industri lokal untuk melayani pasar Asia Tenggara," katanya pada SUAR. 

Ia menilai, ada beberapa sektor  yang memiliki peluang konkret. Pertama, mineral kritis dan industri baterai. Kanada memiliki teknologi, keahlian pertambangan, dan kapasitas pembiayaan, sedangkan Indonesia memiliki sumber daya nikel serta basis industri hilirisasi. Kolaborasi dapat diarahkan pada pengembangan rantai pasok baterai, teknologi pengolahan mineral, dan industri komponen, bukan sekadar perdagangan bahan mentah.

Baca juga:

Mengoptimalkan Potensi Perdagangan Indonesia-Kanada Lewat ICA-CEPA
Relasi dagang antara Indonesia dan Kanada tengah berada di persimpangan jalan. Meski total nilai perdagangan tahunan menunjukkan peningkatan, namun dinilai masih belum optimal.

Kedua, sektor agripangan. Probo menilai komoditas Kanada seperti gandum, kedelai, dan potash dapat mendukung industri pengolahan pangan serta kebutuhan pupuk Indonesia. Peluangnya terletak pada pengembangan industri pengolahan dan jaringan distribusi regional, sehingga Indonesia tidak berhenti sebagai pasar impor.

Ketiga, energi bersih, infrastruktur, dan ekonomi digital. Kerja sama dapat dikembangkan melalui investasi teknologi, pembiayaan proyek, pusat data, maupun pengembangan kapasitas industri nasional.

Namu, Probo menggarisbawahi bahwa  ICA-CEPA merupakan perjanjian bilateral. Preferensi tarif antara Indonesia dan Kanada tidak serta-merta memberikan akses bebas tarif bagi produk Kanada ke seluruh ASEAN. Perusahaan tetap harus memenuhi ketentuan asal barang dalam perjanjian perdagangan ASEAN yang relevan.

"Karena itu, kunci keberhasilannya bukan semata-mata penurunan tarif, melainkan kemampuan Indonesia membangun ekosistem industri yang kompetitif, menyediakan kepastian regulasi, memperbaiki efisiensi logistik, dan meningkatkan kapasitas tenaga kerja," katanya.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Perdagangan

Rekomendasi SUAR