Mengoptimalkan Potensi Perdagangan Indonesia-Kanada Lewat ICA-CEPA

Relasi dagang antara Indonesia dan Kanada tengah berada di persimpangan jalan. Meski total nilai perdagangan tahunan menunjukkan peningkatan, namun dinilai masih belum optimal. 

Mengoptimalkan Potensi Perdagangan Indonesia-Kanada Lewat ICA-CEPA

Duta Besar Kanada untuk Indonesia mengungkapkan bahwa realisasi nilai perdagangan RI-Kanada masih dikategorikan di bawah potensi maksimalnya atau underperforming dibandingkan kapasitas riil kedua negara. Guna menjembatani kesenjangan ini, optimisme peningkatan kini digantungkan pada perjanjian Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA). 

Kanada sendiri telah menyelesaikan proses ratifikasi kemitraan ini pada Mei 2026, sementara Indonesia ditargetkan segera menyusul dalam beberapa bulan ke depan melalui Keputusan Presiden (Keppres). Sehingga, kemitraan strategis kedua negara dapat berlaku efektif pada akhir tahun 2026.

Melihat data kinerja perdagangan luar negeri kedua negara, defisit neraca dagang yang dialami Indonesia berangsur-angsur menunjukkan tren perbaikan ke arah yang lebih seimbang. Pada tahun 2024, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar 1.442,8 juta dolar AS dengan impor mencapai 2.136 juta dolar AS, menghasilkan defisit neraca sebesar 693,2 juta dolar AS. 

Memasuki tahun 2025, terjadi lonjakan kinerja yang cukup signifikan di mana ekspor Indonesia tumbuh sekitar 17,68% menjadi 1.697,9 juta dolar AS, sementara impor dari Kanada juga naik menjadi 2.668 juta dolar AS, yang menyisakan defisit sebesar 970,2 juta dolar AS. Sementara itu, data berjalan hingga pertengahan tahun 2026 mencatatkan nilai ekspor sebesar 665,9 juta dolar AS dan impor senilai 1.202,9 juta dolar AS, dengan angka defisit 537 juta dolar AS.

Berdasarkan data komoditas unggulan selama tiga tahun terakhir, yaitu 2024–2026 periode Januari-Mei, performa ekspor non-migas Indonesia ke Kanada memperlihatkan ketahanan yang cukup baik, khususnya pada sektor manufaktur bernilai tambah tinggi. Komoditas mesin/peralatan listrik menjadi primadona dengan pertumbuhan yang sangat impresif, melesat tajam dari 191,5 juta dolar AS (2024) menjadi 335,4 juta dolar AS (2025) atau tumbuh sekitar 75,1%. 

Sektor alas kaki juga menunjukkan performa gemilang dengan kenaikan dari 121,2 juta dolar AS (2024) ke 160,8 juta dolar AS (2025). Pertumbuhan positif pada sektor manufaktur, karet, pakaian jadi, dan rajutan ini membuktikan bahwa produk hilirisasi Indonesia memiliki daya saing tinggi dan ruang penetrasi yang sangat luas untuk diterima di pasar kawasan Amerika Utara.

Di sisi lain, produk impor Indonesia dari Kanada masih didominasi oleh bahan baku industri strategis dan komoditas pangan yang fluktuatif, namun esensial. Kanada merupakan salah satu pemasok utama biji gandum bagi Indonesia dengan nilai mencapai 888,6 juta dolar AS pada 2024 dan 732,1 juta dolar AS pada 2025. Yang juga menarik adalah lonjakan drastis pada impor bahan bakar mineral dari hanya senilai 9,6 juta dolar AS pada tahun 2024 menjadi 214,3 juta dolar AS pada tahun 2025. Jumlah ini terus menunjukkan tren menguat di tahun 2026 dengan angka 261,2 juta dolar AS. 

Kenaikan tajam pada komoditas bahan bakar minyak, bersama dengan impor pupuk 592,8 juta dolar AS pada 2025 dan bubur kayu/pulp, merefleksikan tingginya ketergantungan industri domestik Indonesia terhadap pasokan energi dan bahan baku mentah berkualitas dari Kanada.

Implementasi ICA-CEPA di akhir tahun 2026 diproyeksikan akan menjadi katalis utama untuk integrasi ekonomi yang lebih baik. Melalui komitmen pemotongan tarif, di mana Indonesia menghapus atau mengurangi 85,9% pos tarif dan Kanada menghapus bea masuk pada 90,5% pos tarif, hambatan perdagangan bagi UMKM, produk tekstil, furnitur, dan kehutanan berkelanjutan asal Indonesia akan terpangkas signifikan. 

Lebih dari sekadar bertukar komoditas gandum atau karet, payung hukum baru ini dipastikan membuka keran investasi dan kolaborasi di sektor masa depan yang padat teknologi, seperti teknologi bersih (clean technology), industri dirgantara (aerospace), pasokan energi berkelanjutan, hingga pengembangan kecerdasan buatan (AI) demi membawa hubungan kedua negara ke potensi maksimalnya.

Author

Baca selengkapnya