Pertemuan bilateral antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi di Istana Merdeka pada 7 Juli 2026 menjadi momentum untukpenguatan hubungan ekonomi kedua negara. Beberapa poin kesepakatan secara konkret dirancang untuk memangkas hambatan birokrasi dan membuka jalur suplai baru.
Upaya tersebut antara lain tercermin dalam bentuk kerja sama regulasi produk medis guna mempermudah akses farmasi, penguatan teknologi komunikasi, dan keuangan terintegrasi seperti sistem Unified Payments Interface (UPI) untuk efisiensi transaksi lintas batas. Selain itu, kolaborasi sektor pertanian untuk memperkokoh ketahanan pangan dan kelancaran arus komoditas utama kedua negara yang merupakan produsen pangan terbesar di Asia.
Di balik kesepakatan baru tersebut, kinerja perdagangan luar negeri antara Indonesia dan India dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan fondasi yang sangat solid dengan catatan surplus yang konsisten bagi Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, neraca perdagangan Indonesia selalu membukukan angka positif.
Pada tahun 2024, ekspor Indonesia ke India mencapai 20.380,9 juta dolar AS dengan nilai impor sebesar 5.685,5 juta dolar AS, sehingga surplus neraca dagang yang sangat tinggi sebesar 14.695,4 juta dolar AS. Memasuki tahun 2025, dinamika perdagangan global membawa penyesuaian nilai transaksi secara tahunan (year on year atau y-o-y).
Di tahun 2025 tercatat nilai ekspor terkoreksi sebesar 10,09% menjadi 18.324,7 juta dolar AS dan nilai impor juga mengalami penurunan sebesar 14,94% ke angka 4.836 juta dolar AS. Meski terjadi penyusutan, Indonesia tetap mencatatkan surplus perdagangan yang cukup besar senilai 13.488,7 juta dolar AS pada akhir tahun 2025, membuktikan posisi tawar Indonesia yang kuat di pasar India.
Melihat lebih dalam pada struktur transaksi sepanjang tahun 2025, komoditas unggulan ekspor Indonesia ke India didominasi oleh sektor energi dan perkebunan. Bahan bakar mineral menjadi andalan utama dengan nilai kontribusi mencapai 5.361,07 juta dolar AS. Tidak kalah, kelompok komoditas lemak dan minyak hewani/nabati (termasuk CPO) mencatatkan nilai transaksi ekspor sebesar 3.564,68 juta dolar AS.
Komoditas berikutnya adalah besi dan baja yang menyumbang sebesar 1.631,85 juta dolar AS, serta bahan kimia anorganik senilai 834,51 juta dolar AS dan berbagai produk kimia lainnya sebesar 747,99 juta dolar AS. Kekuatan struktur ekspor ini mencerminkan ketergantungan industri domestik India terhadap pasokan bahan baku kritikal dan sumber energi untuk menggerakkan roda manufaktur mereka.
Di sisi lain, potret impor Indonesia dari India pada tahun 2025 didominasi oleh produk-produk bernilai tambah tinggi dan hasil industri manufaktur sekunder. Mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya menjadi komoditas impor terbesar dengan nilai mencapai 659,68 juta dolar AS, diikuti oleh kendaraan dan bagiannya sebesar 540,85 juta dolar AS.
Selain itu, Indonesia juga banyak mendatangkan bahan kimia organik senilai 414,80 juta dolar AS, daging hewan sebesar 352,34 juta dolar AS, serta perkakas dan peralatan dari logam tidak mulia senilai 248,66 juta dolar AS. Melihat jenis komoditas unggulan dalam transaksi impor Indonesia dari India ini menggambarkan negara tersebut sebagai mitra strategis pemenuhan kebutuhan industrialisasi serta ketahanan pangan hewani bagi Indonesia.
Dengan melihat secara historis jenis komoditas unggulan dalam perdagangan Indonesia dan India terdapat kesinambungan dengan poin-poin kesepakatan yang baru saja ditandatangani di Istana Merdeka. Hal tersebut semakin menguatkan tali kerja sama yang telah dibentuk antarkedua negara.
Melalui dokumen Minerals and Technologies for the Steel Supply Chain serta kesepakatan Strategic Joint Venture antara Steel Authority of India (SAIL) dan PT Krakatau Steel, kedua negara secara langsung memperkuat dan mengamankan hilirisasi komoditas besi dan baja yang nilai ekspornya mencapai miliaran dolar. Selain itu, kerja sama material non-besi antara NFTDC, Midwest Ltds., dan PT PERMINAS dipastikan akan memperluas diversifikasi ekspor bahan bakar mineral dan tambang maju di masa depan.
Integrasi yang selaras berdasarkan rekam jejak perdagangan yang kuat dan payung hukum kesepakatan baru tersebut membangun arah yang baik bagi kedua negara. Ke depannya kemitraan komersial Indonesia dan India tidak hanya akan meningkatkan volume transaksi bilateral, tetapi juga menciptakan ekosistem investasi industri yang lebih resilien, aman, dan berkelanjutan.