Pertemuan antara dua kepala negara Indonesia dan Singapura di Instana Merdeka membuahkan hasil yang progresif melalui 26 capaian konkret yang terdiri dari 18 kesepakatan antarpemerintah (government-to-government/G2G).
Selan itu, ada juga 8 kesepakatan antarbisnis (business-to-business/B2B). Rangkaian kesepakatan tersebut memiliki fokus utama mengarah pada transformasi ekonomi modern, ketahanan kawasan, serta komitmen bersama untuk memperluas akses pasar yang saling menguntungkan.
Di antara puluhan capaian tersebut, terdapat beberapa kesepakatan strategis yang secara langsung berpotensi mendongkrak kinerja perdagangan luar negeri kedua negara. Kesepakatan mengenai Ketahanan Rantai Pasok (Supply Chain Resilience) turut menjadi bagian guna memastikan kelancaran arus barang modal dan bahan baku di tengah ketidakpastian global.
Kerja sama yang menunjang efisiensi perdagangan tersebut diperkuat pula oleh implementasi teknologi masa depan melalui nota kesepahaman (MoU) mengenai Trade AI Advisor antara Kadin Indonesia dan Singapore Business Federation. Kolaborasi kecerdasan buatan dalam sektor dagang ini, didukung dengan laporan dari enam kelompok kerja (Six Working Groups) ekonomi bilateral, diproyeksikan akan memangkas hambatan birokrasi dan logistik sehingga arus ekspor-impor menjadi lebih efisien.
Langkah penguatan lewat perjanjian ini sangat relevan jika menilik dinamika kinerja perdagangan luar negeri Indonesia-Singapura beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja ekspor Indonesia ke Singapura pada tahun 2025 mencatatkan pertumbuhan sebesar 12,24% (yoy), meningkat dari 12.205,1 juta dolar AS pada tahun 2024 menjadi 13.699,1 juta dolar AS.
Di sisi lain, nilai impor dari Singapura ke Indonesia mengalami penurunan sebesar 10,99% (yoy), menyusut dari 21.533,9 juta dolar AS pada tahun 2024 menjadi 19.167,7 juta dolar AS pada tahun 2025. Perpaduan kenaikan ekspor dan penurunan impor ini berhasil menekan defisit neraca perdagangan Indonesia secara signifikan sebesar 41,38%, yakni dari defisit sebesar 9.328,8 juta dolar AS di tahun 2024 menjadi 5.468,7 juta dolar AS pada tahun 2025.
Tren penurunan defisit ini terus berlanjut hingga periode Januari-Mei 2026. Nilai ekspor tercatat sebesar 5.072,2 juta dolar AS dan impor sebesar 8.899,8 juta dolar AS, menghasilkan defisit sementara sebesar 3.827,6 juta dolar AS.
Keberhasilan Indonesia dalam menjaga performa ekspor sepanjang tahun 2025 ditopang oleh sejumlah komoditas unggulan yang diminati pasar Singapura. Sektor bahan bakar mineral menjadi primadona terbesar dengan nilai kontribusi mencapai 4.021,44 juta dolar AS.
Posisi kedua ditempati oleh mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya yang menyumbang nilai 2.222,08 juta dolar AS, disusul kelompok komoditas oleh logam mulia dan perhiasan/permata senilai 2.045,83 juta dolar AS. Komoditas manufaktur berat seperti mesin dan peralatan mekanis juga mencatatkan angka yang signifikan sebesar 1.210,15 juta dolar AS.
Selain itu, lini ekspor Indonesia diperkaya oleh timah senilai 420,68 juta dolar AS, produk kimia 386,76 juta dolar AS, besi dan baja 355,12 juta dolar AS, nikel 346,58 juta dolar AS, makanan olahan 228,42 juta dolar AS, serta industri perkapalan dan struktur terapung 219,86 juta dolar AS.
Melalui momentum kesepakatan Leaders' Retreat 2026, komoditas-komoditas unggulan tersebut memiliki peluang besar untuk melompat ke level performa yang lebih tinggi. Integrasi infrastruktur digital antara Telkom dan Economic Development Board of Singapore, serta proyek energi baru terbarukan (EBT) bersama Danantara dan Sembcorp, akan memberikan nilai tambah hijau (green premium) pada produk manufaktur ekspor Indonesia.
Dengan rantai pasok yang lebih resilien dan adopsi Trade AI Advisor, proses logistik komoditas industri seperti perlengkapan elektrik dan mekanis dapat berjalan lebih cepat dengan biaya yang lebih efisien. Sinergi dalam strategi perkuat rantai pasok tersebut tidak hanya akan memperluas volume ekspor komoditas tradisional, melainkan juga mempercepat diversifikasi produk bernilai tambah tinggi demi mewujudkan kerjasama Indonesia-Singapura yang semakin kuat.