Di tengah gempuran produk wewangian global, industri parfum domestik justru menunjukkan taji dengan berkembang sangat pesat. Potensi pasar yang kian besar di dalam negeri tidak hanya menciptakan ekosistem bisnis yang dinamis di pasar lokal, melainkan juga membuka peluang emas untuk memperluas penetrasi di pasar global.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan volume ekspor parfum Indonesia berfluktuasi. Pada tahun 2022, Indonesia mencatatkan volume ekspor parfum sebesar 8,35 juta kilogram, yang kemudian meningkat sebesar 12,9% menjadi 9,43 juta kilogram pada tahun 2023.
Namun, volume ekspor menurun sebesar 14,7% pada tahun 2024 menjadi 8,04 juta kilogram dan turun lagi sebesar 12,3% menjadi 7,05 juta kilogram pada tahun 2025. Memasuki pertengahan tahun 2026 (periode Januari-Mei), volume ekspor yang telah mencapai 3,41 juta kilogram menunjukkan aktivitas pengiriman wewangian ke luar negeri masih terus berjalan secara berkelanjutan.
Dari sisi nilai transaksi, performa ekspor parfum Indonesia juga mencerminkan dinamika pasar yang kompetitif. Pada tahun 2022, nilai ekspor mencapai angka tertinggi sebesar 136,73 juta dolar AS, sebelum sedikit terkoreksi sebesar 0,62% menjadi 135,89 juta dolar AS pada tahun 2023. Penurunan yang cukup signifikan terjadi pada tahun 2024 sebesar 23,8% menjadi 103,46 juta dolar AS.
Meski demikian, nilai ekspor pada tahun 2025 mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,49% hingga menyentuh angka 111,21 juta dolar AS. Untuk periode berjalan hingga Juli 2026, nilai transaksi yang berhasil dibukukan telah mencapai 59,50 juta dolar AS.
Singapura menjadi negara tujuan ekspor utama bagi produk parfum Indonesia. Berdasarkan data tahun 2025, nilai ekspor ke Singapura mendominasi dengan angka fantastis mencapai 82,49 juta dolar AS. Posisi berikutnya ditempati oleh negara-negara tetangga dan global, seperti Malaysia sebesar 9,75 juta dolar AS dan Amerika Serikat sebesar 4,8 juta dolar AS,
Ekspor ke Uni Emirat Arab senilai 3,37 juta dolar AS, serta ke Timor Leste sebesar 2,25 juta dolar AS. Sementara ke negara-negara lainnya menyumbang sebesar 8,55 juta dolar AS. Distribusi geografis ini membuktikan bahwa kualitas racikan wewangian asal Indonesia telah diakui dan mampu memenuhi standar pasar internasional, baik di tingkat regional Asia Tenggara maupun global.
Prospek industri ini ke depan dinilai sangat menjanjikan dengan proyeksi pertumbuhan yang solid. Di tingkat global, nilai pasar industri parfum yang mencapai 51,08 miliar dolar AS pada tahun 2024 diprediksi melonjak hingga 87,25 miliar dolar AS pada tahun 2034 dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) sebesar 5,50%.
Sejalan dengan tren dunia, pasar parfum Indonesia yang bernilai 450 juta dolar AS pada tahun 2025 diproyeksikan meningkat hingga sekitar 500 juta dolar AS pada tahun 2029. Tidak hanya pertumbuhan pasar secara global yang turut mengiurkan, perkembangan pasar domestik juga kian menjanjikan.
Di pasar domestik sendiri, menurut hasil olah data dan publikasi yang dilakukan oleh Compas.co.id produk parfum yang paling laku didominasi oleh merek-merek lokal yang sukses merajai marketplace. Berdasarkan data penjualan terbaru hingga April 2026, lima merek parfum lokal yang paling diminati oleh konsumen adalah Scarlett (memimpin dengan market share 6,6%), disusul oleh Mykonos (5,4%), Octarine (3,4%), HMNS (2,7%), dan Saff & Co. (2,1%).