Industri Makanan dan Minuman Butuh Investasi Bahan Baku

Industri Makanan dan Minuman Butuh Investasi Bahan Baku

Penguatan suplai dan kualitas bahan baku, baik dari investasi asing maupun penyedia lokal dibutuhkan guna memperkuat industri makanan dan minuman nasional.

Industri Makanan dan Minuman Butuh Investasi Bahan Baku
Dalam Artikel Ini

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) mendorong masuknya investasi baru pada sektor bahan baku pangan di dalam negeri. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkokoh rantai pasok sekaligus meningkatkan daya saing industri mamin Indonesia.

Ketua Umum GAPMMI Adhi S Lukman menuturkan, bahan baku dengan kualitas yang konsisten merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan produksi industri mamin. Menurutnya, industri tidak hanya membutuhkan bahan baku dalam jumlah yang mencukupi, tetapi juga harus memiliki akses terhadap kualitas dan sistem penyediaan yang dapat diandalkan. 

“Dengan dukungan rantai pasok yang lebih kokoh, pelaku industri akan memiliki kemampuan lebih baik dalam merespons perubahan permintaan konsumen,” ujar Adhi dalam kegiatan Food Ingredients Asia (Fi Asia) Indonesia 2026 di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Selain memperkuat pasokan, pengembangan industri mamin juga perlu diarahkan pada penciptaan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Pelaku usaha dituntut menghadirkan produk yang tidak sekadar memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga mengikuti tren kesehatan dan keberlanjutan. Pengembangan pangan yang lebih sehat, memiliki fungsi tertentu, menerapkan konsep clean label, serta memperhatikan aspek lingkungan menjadi sejumlah peluang yang dapat dikembangkan industri.

Ia mengatakan, penguatan inovasi tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Dunia usaha, lembaga penelitian, asosiasi profesi, hingga pemerintah perlu membangun kerja sama yang lebih erat agar hasil riset dan perkembangan teknologi dapat diterapkan secara nyata dalam kegiatan industri. Kolaborasi tersebut juga dapat mempercepat proses pengembangan produk sekaligus menciptakan solusi yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Adhi turut mengundang perusahaan bahan pangan berskala global untuk melihat Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi. Menurutnya, jumlah penduduk dan besarnya kebutuhan konsumsi domestik memberikan prospek bagi perusahaan global untuk membangun fasilitas produksi bahan baku maupun produk antara di Indonesia. Kehadiran investasi tersebut juga berpotensi memperluas keterhubungan antara perusahaan internasional dengan pelaku industri nasional.

Perkuat Kapasitas Produksi Dalam Negeri

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mendorong peningkatan standar produk pangan sebagai bagian dari strategi memperkuat daya saing industri

Sejalan dengan itu, pemerintah telah memperkuat penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib pada sejumlah produk pangan untuk memastikan aspek kesehatan, keselamatan, keamanan, serta kelestarian lingkungan.

“Produk yang telah memiliki regulasi SNI wajib antara lain tepung terigu, air minum dalam kemasan (AMDK), minyak goreng sawit, kopi instan, karton kemasan primer, bubuk kakao, pati jagung, krimer nabati bubuk, dan gula kristal rafinasi,” ujar dia dalam acara Fi Asia Indonesia 2026 (16/9).

Baca juga:

Industri Makanan dan Minuman Optimistis Tumbuh 7% di 2026
Optimisme tersebut didorong oleh mulai membaiknya sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai mampu mengurangi tekanan biaya produksi sehingga memberikan ruang bagi pelaku industri untuk meningkatkan daya saing dan menjaga ekspansi usaha.

Dihubungi terpisah, Pengamat Ekonomi Indef Eko Listiyanto mengatakan untuk menekan ketergantungan terhadap impor bahan baku pangan, industri makanan dan minuman (mamin) perlu memperkuat kapasitas produksi bahan baku di dalam negeri. Langkah tersebut dapat dilakukan dengan mendorong investasi pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, serta industri pengolahan bahan baku pangan. 

“Pemerintah juga dapat memperkuat kemitraan antara industri mamin dengan petani dan pelaku usaha lokal agar kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi secara lebih konsisten dari sumber domestik,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (17/9/2026).

Selain meningkatkan produksi, kualitas dan kontinuitas pasokan menjadi faktor yang tidak kalah penting. Industri mamin membutuhkan bahan baku dengan standar mutu, volume, dan harga yang sesuai dengan kebutuhan produksi. Karena itu, penguatan teknologi pertanian dan pengolahan, fasilitas penyimpanan, sistem distribusi, serta riset untuk menghasilkan bahan baku alternatif perlu dilakukan secara terpadu. Dengan demikian, bahan baku lokal tidak hanya tersedia dalam jumlah besar, tetapi juga mampu memenuhi standar yang dibutuhkan industri.

Direktur South East Asia Food and Agriculture Science & Technology (SEAFAST) Center LRI-FGKH IPB Puspo Edi Giriwono mengatakan, industri makanan dan minuman (mamin) nasional masih menghadapi tantangan dalam memastikan ketersediaan bahan baku yang cukup, berkualitas, dan kompetitif. Kebutuhan bahan baku terus meningkat seiring dengan pertumbuhan produksi dan konsumsi, sementara kemampuan pasokan dalam negeri belum selalu mampu memenuhi kebutuhan industri. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha harus mengelola rantai pasok secara lebih cermat agar proses produksi tetap berjalan stabil.

Salah satu tantangan yang dihadapi adalah ketergantungan terhadap bahan baku tertentu yang masih harus didatangkan dari luar negeri. Ketika terjadi perubahan harga komoditas global, gangguan distribusi, maupun perubahan nilai tukar, biaya produksi industri mamin dapat ikut terdampak. Oleh karena itu, pengembangan sumber bahan baku di dalam negeri menjadi penting untuk menciptakan pasokan yang lebih stabil sekaligus mengurangi risiko terhadap gejolak eksternal.

Tantangan lainnya berkaitan dengan kualitas dan kontinuitas pasokan. Industri mamin membutuhkan bahan baku dengan standar mutu yang konsisten serta tersedia sepanjang tahun. Namun, sejumlah komoditas pangan masih menghadapi persoalan produktivitas, perubahan musim, keterbatasan teknologi, hingga distribusi dari sentra produksi menuju kawasan industri. Penguatan sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan industri pengolahan bahan baku menjadi bagian penting untuk menjawab persoalan tersebut.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Makanan Minuman

Rekomendasi SUAR