Memperkuat cadangan beras pemerintah, menjadi langkah strategis dalam menghadapi potensi fenomena El Nino yang diperkirakan dapat memengaruhi produksi pangan nasional. El Nino umumnya menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia sehingga meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya luas tanam, hingga menurunnya produktivitas padi.
Di kondisi tersebut, ketersediaan cadangan beras yang memadai, menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan mengantisipasi gejolak harga di pasar. Pengamat Pertanian Khudori mengatakan cadangan beras yang kuat memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan intervensi pasar apabila terjadi gangguan pasokan akibat penurunan produksi.

Melalui penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP), pemerintah dapat menjaga ketersediaan beras di berbagai daerah, terutama wilayah yang terdampak kekeringan atau mengalami lonjakan harga. “Langkah ini juga membantu menjaga daya beli masyarakat sekaligus memberikan kepastian pasokan bagi pelaku usaha di sektor pangan,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (27/7/2026).
Selain memperkuat stok, pemerintah perlu terus mendorong percepatan penyerapan gabah dan beras dari petani selama musim panen masih berlangsung. Strategi ini tidak hanya meningkatkan cadangan nasional, tetapi juga memberikan kepastian pasar bagi petani sehingga harga di tingkat produsen tetap terjaga. Cadangan yang dibangun pada saat produksi melimpah akan menjadi bantalan penting ketika dampak El Nino mulai dirasakan dan produksi mengalami perlambatan.
Penguatan cadangan beras juga harus diiringi dengan upaya meningkatkan produktivitas pertanian melalui pemanfaatan teknologi, pengelolaan irigasi yang lebih efisien, penggunaan varietas padi yang tahan kekeringan, serta percepatan rehabilitasi infrastruktur pertanian. Dengan demikian, ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada besarnya stok, tetapi juga pada kemampuan sektor pertanian untuk tetap berproduksi di tengah tantangan perubahan iklim.
Perum Bulog serap 3,5 juta ton beras petani
Sementara itu, hingga pertengahan tahun ini, Perum BULOG mencatat capaian pengadaan setara beras hasil panen dalam negeri telah menembus 3,5 juta ton per 24 Juli 2026. Angka ini setara dengan 87 persen dari target nasional sebesar 4 juta ton. Capaian tersebut menjadi tonggak penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung terwujudnya swasembada pangan berkelanjutan.
Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan pengadaan tidak lepas dari sinergi dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan yang bekerja secara terpadu sejak masa panen hingga penyerapan gabah dan beras di berbagai daerah.
“Alhamdulillah, capaian ini merupakan hasil kerja keras dan sinergi seluruh pihak, mulai dari petani, penyuluh pertanian lapangan (PPL), Babinsa, Bhabinkamtibmas, mitra kerja BULOG, pemerintah daerah, hingga pemerintah pusat. Kolaborasi yang terjalin secara optimal menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan,” ujar dia dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (27/7/2026).

Ia menambahkan, dengan tren pengadaan yang terus meningkat, BULOG optimistis target pengadaan 4 juta ton setara beras akan tercapai dalam waktu dekat. Pencapaian tersebut diyakini akan semakin memperkuat stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sekaligus menjadi bukti nyata bahwa Indonesia berada pada jalur yang tepat dalam mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan pada tahun 2026.
“BULOG optimistis target 4 juta ton akan segera tercapai. Ini bukan sekadar pencapaian angka, tetapi menjadi wujud nyata keberhasilan bersama dalam memperkuat kemandirian pangan nasional. Kami meyakini, dengan dukungan seluruh pihak, cita-cita swasembada pangan berkelanjutan akan semakin kokoh dan dapat diwujudkan secara optimal hingga akhir September 2026,” ujar dia.
Ia juga menegaskan bahwa setelah target pengadaan 4 juta ton tercapai, BULOG tidak akan menghentikan penyerapan gabah dan beras hasil panen petani dalam negeri. Sebaliknya, BULOG akan terus mengoptimalkan penyerapan sesuai ketersediaan produksi nasional sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas harga gabah di tingkat petani, meningkatkan kesejahteraan petani, serta memperkuat cadangan pangan nasional.
Produksi beras premium 2 juta ton
Sedangkan Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pedagang Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso menuturkan, saat ini sudah ada kerja sama antara Perum Bulog dan Persatuan Penggilingan Padi dan Pedagang Beras Indonesia (Perpadi) dalam memproduksi beras premium. Ini dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
Melalui sinergi tersebut, beras yang tersimpan sebagai cadangan nasional dapat diolah menjadi produk berkualitas tinggi yang mampu memenuhi kebutuhan pasar sekaligus memperkuat stabilitas pasokan beras premium di dalam negeri.

Pada tahun ini, Bulog menargetkan produksi sebanyak 2 juta ton beras premium yang diolah dari CBP. Target tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan stok beras pemerintah sekaligus menjaga kualitas cadangan yang dimiliki. Selain itu, langkah ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat peran Bulog tidak hanya sebagai pengelola stok pangan nasional, tetapi juga sebagai pelaku yang mampu menghadirkan produk beras berkualitas bagi masyarakat.
Menurutnya, kerja sama antara Bulog dan Perpadi bukanlah hal baru, karena selama ini kedua pihak telah menjalin kemitraan dalam pengadaan gabah maupun beras untuk kebutuhan Bulog.
“Pengalaman panjang tersebut menjadi modal penting untuk memastikan proses pengolahan CBP menjadi beras premium dapat berjalan secara efektif, efisien, dan sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (19/7/2026).

Sutarto menegaskan, dunia usaha dan pemerintah memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun ketahanan pangan nasional. Ia mengakui bahwa pelaku usaha perberasan tidak dapat berkembang tanpa dukungan kebijakan pemerintah, sementara pemerintah juga membutuhkan keterlibatan pengusaha dalam menjaga kelancaran rantai pasok, meningkatkan kualitas produksi, serta memperkuat distribusi beras kepada masyarakat.
Perpadi pun menyatakan komitmen penuh untuk mendukung berbagai kebijakan pemerintah dalam mewujudkan kemandirian dan kedaulatan pangan. Melalui sinergi yang semakin erat antara pemerintah, Bulog, dan pelaku usaha penggilingan padi, diharapkan ekosistem perberasan nasional menjadi lebih kuat, mampu meningkatkan kesejahteraan petani, menjaga stabilitas harga, serta memastikan ketersediaan beras berkualitas bagi masyarakat secara berkelanjutan," ujarnya.