Lonjakan Harga Komoditas Dorong Nilai Tukar Petani
Tren nilai tukar petani (NTP) sejak awal tahun 2026 terus meningkat. Peningkatan yang berlanjut di bulan Agustus ini didorong oleh kenaikan harga komoditas, seperti beras di tengah kemarau panjang.
Tren nilai tukar petani (NTP) sejak awal tahun 2026 terus meningkat. Peningkatan yang berlanjut di bulan Agustus ini didorong oleh kenaikan harga komoditas, seperti beras di tengah kemarau panjang.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis awal Agustus 2026 mencatat tren positif tingkat kesejahteraan dan daya beli petani nasional. Di tengah tantangan cuaca ekstrem berupa kemarau panjang akibat El Nino yang menguat sejak Juni 2026, dinamika sektor pertanian menunjukkan kenaikan nilai tukar petani (NTP) yang terus berlanjut hingga Agustus ini.
Secara kumulatif dari Januari hingga Agustus 2026, NTP gabungan nasional (tanpa subsektor perikanan) tercatat rata-rata di angka 126,98 atau tumbuh sebesar 4,5% jika dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang berada di level 124,35.
Perkembangan bulanan menunjukkan pergerakan yang stabil pada awal tahun sebelum mulai meningkat sejak Mei 2026 di level 128,49 dan mencapai posisi tertingginya pada Agustus 2026 dengan kenaikan bulanan nasional sebesar 1,06% dari bulan sebelumnya.
Kenaikan NTP ini berasal dari harga yang diterima petani tumbuh jauh melampaui beban biaya yang harus mereka bayar. Pada Agustus 2026, Indeks Harga yang Diterima Petani (It) meningkat sebesar 1,14% secara nasional menjadi 165,66.
Sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya meningkat tipis sebesar 0,09% yang mencakup kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 0,06% dan Biaya Produksi serta Penambahan Barang Modal (BPPBM) sebesar 0,16%, sehingga margin keuntungan petani melebar.
Peningkatan positif ini turut tercermin di berbagai subsektor pertanian sepanjang periode Januari hingga Agustus 2026 jika dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan NTP tertinggi dicatatkan oleh subsektor tanaman hortikultura yang melonjak sebesar 6,54%.
Kenaikan turut diikuti oleh subsektor perikanan yang tumbuh 4,25%, di mana perikanan tangkap naik 4,62% dan budidaya naik 3,66%. Sektor tanaman pangan tumbuh 4,23%, sektor peternakan naik 1,86%, serta tanaman perkebunan rakyat yang tumbuh 1,11% meskipun tetap memegang rekor angka absolut NTP tertinggi di level 162,38.
Berdasarkan BPS, peningkatan NTP didorong oleh faktor lonjakan harga komoditas unggulan yang konsisten menunjukkan tren kenaikan sejak awal tahun 2026. Melalui pemantauan harga yang dilakukan BPS, harga beras di penggilingan rata-rata naik sejak awal tahun 2026. Beras jenis premium, misalnya, secara tahunan naik 10,07% dan jenis medium naik 4,03%. Kenaikan harga pada awal tahun turut dipicu berbagai momen seperti tahun baru, perayaan keagamaan, hingga yang terakhir akibat kemarau panjang.
Sementara itu, di sektor tanaman pangan, kenaikan disumbang oleh kelompok padi yang naik 1,77% serta palawija seperti jagung dan ketela pohon. Pada tanaman perkebunan rakyat didorong oleh kelapa sawit dan karet sebesar 1,67%. Sedangkan pada peternakan didorong oleh ayam ras pedaging dan sapi potong.
Untuk meredam lonjakan harga yang terus menerus terjadi, pemerintah menggalakkan berbagai upaya strategis untuk mengamankan pasokan pangan akibat terganggunya produktivitas panen selama kemarau panjang El Nino. Salah satunya dengan menambah alokasi beras medium yang sudah menipis.
Pemerintah berencana menambahkan 1 juta ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) medium untuk menahan kenaikan harga beras di tengah musim kemarau panjang. Dengan penambahan tersebut, diharapkan harga beras yang disubsidi yang dijual di pasar dapat ditekan menjadi Rp 12.000-Rp 12.500 per kilogram.
Selain penambahan stok, upaya yang biasanya dilakukan dalam bentuk program seperti optimalisasi infrastruktur pengairan, penyaluran bantuan pupuk dan bibit tahan kekeringan, serta operasi pasar. Stabilisasi pasokan pangan terus diperkuat agar kesejahteraan petani tetap terjaga secara berkelanjutan tanpa memberatkan daya beli masyarakat.