Atasi Kelangkaan, Bulog Salurkan 75.000 Ton Beras Premium ke Ritel
Perum Bulog menyalurkan 75.000 ton beras premium melalui jaringan ritel modern. Langkah tersebut dilakukan untuk merespons kelangkaan stok beras premium di ritel modern dalam beberapa bulan terakhir.
•
3 Menit Baca
Oleh:
Tautan telah disalin! Tempelkan ke stiker tautan di Bio atau Story Anda.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani Saat Berkunjung ke Salah Satu Ritel Modern di Jakarta (9/9) (Humas Perum Bulog)
Dalam Artikel Ini
Perum Bulog menyalurkan 75.000 ton beras premium melalui jaringan ritel modern. Langkah tersebut dilakukan untuk merespons kelangkaan stok beras premium di ritel modern dalam beberapa bulan terakhir.
Dengan memperkuat pasokan ke pasar ritel, Bulog berharap ketersediaan beras premium dapat kembali terjaga dan masyarakat tidak kesulitan mendapatkan produk sesuai kebutuhan. Langkah tersebut juga diharapkan membantu menjaga stabilitas harga beras premium di tingkat konsumen.
Distribusi beras premium Bulog diklaim sudah menjangkau kota-kota besar seperti Jakarta, Makassar, Surabaya, Sidoarjo, Bojonegoro, Semarang, Klaten, Solo, Salatiga, Bandung, Karawang, Subang, dan Kupang.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, berdasarkan data alokasi penyaluran, Bulog menyiapkan pasokan Beras Premium hingga 75 ribu ton per bulan untuk sejumlah jaringan ritel modern.
Alokasi tersebut antara lain melalui PT Indomarco Prismatama, PT Megah Daya, PT Inti Cakrawala Citra, PT Sumber Aleria Trijaya, PT Lion Super Indo, PT Swalayan Sukses Abadi, PT Matahari Putra Prima, PT Tip Top Supermarket, PT Midi Utama Indonesia, dan PT Hero Retail Nusantara
“Kami ingin memastikan masyarakat, khususnya di wilayah perkotaan, memiliki akses yang mudah terhadap beras premium. Karena itu, Bulog terus memperkuat distribusi melalui jaringan ritel modern yang tersebar di berbagai kota,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (9/9/2026).
Kelangkaan Stok Akibat Harga Pemasok Mahal
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin mengatakan stok beras premium di sejumlah gerai ritel modern, seperti Alfamart dan Indomaret, mengalami kelangkaan dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di wilayah Depok, Jawa Barat, dan DKI Jakarta, tetapi juga ditemukan di sejumlah daerah lainnya secara nasional.
Menurut Solihin, beras premium sebenarnya masih tersedia di pasar tradisional. Namun, pasokan beras premium yang masuk ke jaringan ritel modern sangat terbatas. Kondisi ini membuat konsumen di sejumlah wilayah perkotaan mengalami kesulitan ketika ingin mendapatkan beras premium melalui gerai ritel modern.
Ia menjelaskan, salah satu faktor yang menyebabkan terbatasnya pasokan tersebut adalah harga beras premium dari pemasok yang berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Saat ini, HET beras premium ditetapkan sebesar Rp14.900 per kilogram atau Rp74.500 untuk kemasan 5 kilogram.
Di sisi lain, peritel modern tetap harus mengikuti ketentuan HET yang telah ditetapkan pemerintah. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha ritel berada dalam posisi yang sulit karena terdapat perbedaan antara harga yang ditawarkan pemasok dengan harga jual maksimal yang dapat diterapkan kepada konsumen.
“Apabila peritel membeli beras premium dari pemasok dengan harga di atas HET, kemudian menjualnya kepada konsumen sesuai dengan ketentuan pemerintah, maka peritel berpotensi mengalami kerugian. Selisih antara harga pembelian dan harga jual tersebut pada akhirnya harus ditanggung oleh pelaku usaha ritel,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (9/9/2026)
Oleh karena itu, ritel modern pada akhirnya memilih untuk tidak menjual beras premium apabila harga pasokan yang diterima dari pemasok membuat mereka harus terus menanggung kerugian. Solihin berharap persoalan disparitas harga tersebut dapat segera mendapatkan solusi sehingga pasokan beras premium ke jaringan ritel modern kembali normal dan masyarakat dapat memperoleh beras sesuai kebutuhan dengan harga yang tetap terjangkau.
Pengawasan Peredaran Pangan Perlu Diperkuat
Dihubungi terpisah, Pengamat Pertanian Khudori mengatakan pengawasan terhadap peredaran pangan perlu diperkuat melalui sinergi lintas lembaga, terutama antara Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Satgas Pangan Polri. Kolaborasi tersebut penting untuk memastikan ketersediaan dan stabilitas harga pangan tetap terjaga, sekaligus mencegah terjadinya praktik yang dapat merugikan masyarakat.
Sinergi antara Bapanas dan Satgas Pangan Polri juga diperlukan untuk memperkuat pengawasan di sepanjang rantai pasok, mulai dari produsen, distributor, hingga pedagang dan peritel.
“Pemantauan secara menyeluruh dapat membantu mendeteksi lebih dini potensi penahanan pasokan, permainan harga, maupun distribusi pangan yang tidak sesuai dengan ketentuan pemerintah,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (9/9)
Selain pengawasan rutin, kedua pihak perlu meningkatkan pertukaran informasi dan melakukan pemeriksaan secara bersama di wilayah yang mengalami gangguan pasokan atau kenaikan harga pangan. Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan apabila ditemukan indikasi pelanggaran, sehingga tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar di tingkat konsumen.
Dukung Jurnalisme Solusi.Terangi Lebih Banyak Langkah Bersama SUAR
Di tengah banyaknya informasi, jurnalisme yang memberi arah hanya dapat terus hadir berkat dukungan pembaca. Bersama Anda, kami akan terus menghadirkan informasi yang terkurasi, mendalam, dan berorientasi pada solusi bagi penggerak dunia usaha.
Daftar untuk buletin SUAR Inspirasi Penggerak Dunia Usaha.
Tetap terupdate dengan koleksi cerita terbaik kami.