Perkotaan Makin Sesak, Saatnya Menata Jalur Logistik

Perkotaan Makin Sesak, Saatnya Menata Jalur Logistik

Jakarta memerlukan pengelolaan logistik yang efektif. Perlu dibedakan antara kebutuhan warga dan fungsinya sebagai simpul perdagangan internasional.

Perkotaan Makin Sesak, Saatnya Menata Jalur Logistik
Dalam Artikel Ini

Wilayah perkotaan, seperti Jakarta menghadapi persoalan yang tidak selalu terlihat di tengah hiruk-pikuk warganya. Di tengah semakin banyak aktivitas ekonomi, semakin besar pula kebutuhan untuk menggerakkan barang.

Namun, ruang untuk untuk menyimpan, mengonsolidasikan, dan mendistribusikan barang, justru semakin terbatas. Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menilai, megapolitan seperti Jakarta membutuhkan sistem logistik perkotaan yang mampu menjamin ketersediaan barang secara cepat, efisien, dan berkelanjutan.

Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (21/8/2026). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Apalagi berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk DKI Jakarta pada pertengahan 2025 mencapai 10,68 juta jiwa. Angka itu diperkirakan lebih besar, karena Jakarta sebagai pusat bisnis dan pemerintahan menampung jutaan pekerja komuter dari kawasan penyangga.

Setijadi menilai besarnya permintaan tersebut membutuhkan hub logistik yang bukan sekadar tempat penyimpanan. "Fasilitas itu harus menjalankan fungsi konsolidasi, pengolahan pesanan, cross-docking, rantai dingin, dan distribusi cepat untuk memenuhi kebutuhan pangan, barang konsumsi, produk industri, farmasi, serta perdagangan elektronik," katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (2/9/2026).

Titik strategis di tengah banyak tantangan

Setijadi menilai, Jakarta Utara merupakan lokasi paling strategis, karena menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok, jaringan distribusi Jabodetabek dan nasional, serta pasar Jakarta. Wilayah ini juga memiliki 1,82 juta penduduk dan basis kegiatan ekonomi yang besar.

Besarnya aktivitas tersebut tercermin dari struktur ekonomi Jakarta Utara. Produk domestik regional bruto (PDRB) Jakarta Utara, atas dasar harga berlaku pada 2025 mencapai Rp713,97 triliun.

Industri pengolahan menjadi kontributor terbesar dengan Rp207,88 triliun atau 29,12%. Kemudian disusul perdagangan sebesar Rp136,78 triliun atau 19,16%, dan transportasi serta pergudangan sebesar Rp41,89 triliun atau 5,87%. Jika tiga sektor tersebut digabungkan, kontribusinya mencapai 54,15 % terhadap perekonomian Jakarta Utara.

 Sistem transportasi yang terintegrasi dan jalan raya yang menghubungkan berbagai titik penting menjadi kunci untuk mobilitas barang yang lancar.

Angka ini menunjukkan, aktivitas produksi, perdagangan, dan pergerakan barang bukan lah aktivitas tambahan bagi wilayah tersebut. Ketiganya justru menjadi bagian besar dari mesin ekonomi Jakarta Utara.

Yang lebih menarik, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,67% secara riil pada 2025, jauh di atas pertumbuhan ekonomi Jakarta Utara yang sebesar 4,92%, "Perkembangan itu memperkuat kebutuhan peningkatan kapasitas dan kualitas sistem logistik perkotaan," katanya.

Kendati demikian, pertumbuhan kebutuhan logistik tersebut berhadapan dengan persoalan klasik kota besar yakni keterbatasan ruang. Jakarta Utara memang memiliki keunggulan, karena berdekatan dengan Pelabuhan Tanjung Priok dan kawasan industri.

Namun, kedekatan dengan pusat aktivitas ekonomi tidak serta-merta berarti tersedianya lahan yang cukup untuk membangun fasilitas logistik dalam skala besar. Harga lahan yang tinggi, kepadatan kawasan, kemacetan, serta risiko banjir dan rob, menjadi tantangan yang harus diperhitungkan.

Pengembangan hub logistik

Rektor Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti Yuliantini mengatakan, kondisi tersebut membuat pengembangan fasilitas logistik di Jakarta Utara perlu diarahkan pada fasilitas dengan produktivitas lahan yang tinggi.

"Prioritasnya mencakup urban consolidation center, cold-chain hub, fasilitas distribusi cepat, dan layanan logistik bernilai tambah yang terintegrasi secara digital," katanya.

Ia menekankan pengembangan hub logistik di Jakarta Utara harus didukung tata ruang, konektivitas multimoda, pengaturan angkutan barang, mitigasi risiko lingkungan, teknologi, dan SDM logistik yang kompeten.

Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan industri diperlukan agar fasilitas tersebut mendukung ketahanan pasokan, mengurangi perjalanan kendaraan barang yang tidak efisien, dan meningkatkan kualitas layanan kepada warga.

Pemerintah, sambungnya, perlu memetakan permintaan siang dan malam, asal-tujuan barang, waktu tempuh, biaya distribusi, kebutuhan pengguna, serta calon investor.

"Pengembangan harus dilakukan bertahap dengan komitmen pengguna utama serta target utilisasi dan efisiensi terukur agar layak secara komersial dan memberikan manfaat nyata bagi Jakarta," katanya.

Aktivitas di Jakarta International Container Terminal (JICT) Pelabuhan Tanjung Priok

Sementara Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) melihat, persoalan logistik Jakarta perlu dibedakan antara kebutuhan distribusi barang bagi warga dengan fungsi Jakarta sebagai simpul perdagangan internasional, melalui Pelabuhan Tanjung Priok.

Untuk kebutuhan sehari-hari warga Jakarta, ALI justru menilai persoalan pertama yang perlu diselesaikan adalah pola pergerakan barang. Dengan jumlah penduduk dan aktivitas yang tinggi pada pukul 07.00 hinga 09.00 dan pukul 16.00 hingga 20.00, kendaraan logistik yang beroperasi bersamaan dengan pekerja dan masyarakat berpotensi memperparah kemacetan.

Memecah jalur logistik

Karena itu, salah satu solusi jangka pendek yang ditawarkan adalah pengaturan jam operasional kendaraan logistik. Ketua Umum ALI, Mahendra Rianto mengatakan, distribusi ke sentra kebutuhan pokok, pusat perbelanjaan, maupun gudang transit dapat dilakukan pada malam hingga dini hari, misalnya pukul 22.00 hingga 05.00.

"Coba aktivitas itu dipecah. Jalur logistik itu dibuatnya setelah kegiatan perkantoran, sekolah, dan lain-lain aktivitas warga di malam hari. Itu saya lihat di kota-kota besar lainnya di beberapa negara. Jadi jalur logistik itu boleh truk yang besar-besar masuk ke dalam kota boleh, tapi mulainya jam 22.00 hanya sampai jam 05.00," katanya pada SUAR.

Menurut dia, pengaturan tersebut memungkinkan kendaraan logistik memanfaatkan kapasitas jalan pada saat aktivitas masyarakat lebih rendah.

Setelah persoalan waktu diatur, kebutuhan berikutnya adalah menata lokasi hub. Mahendra melihat Jakarta memiliki sedikitnya tiga arah utama masuknya barang kebutuhan, yakni dari timur melalui koridor Bekasi dan Cikampek, dari barat melalui Tangerang, serta dari selatan melalui Bogor dan Jagorawi.

Karena itu, ia menilai hub atau distribution center tidak cukup hanya
mengandalkan satu titik di Jakarta Utara. Hub justru perlu ditempatkan di sekitar berbagai pintu masuk tersebut agar kendaraan besar tidak perlu masuk terlalu jauh ke dalam kota.

Skema tersebut, menurut Mahendra, juga dapat memperpendek perjalanan kendaraan besar. Barang dari luar Jakarta dapat dihentikan terlebih dahulu di hub di sekitar pintu masuk kota, kemudian diteruskan menggunakan kendaraan yang lebih kecil menuju titik-titik konsumsi.

Pola ini bukan sepenuhnya konsep baru. Dalam praktiknya, model serupa sudah dijalankan pelaku usaha makanan, minuman, dan susu melalui distribution center di sejumlah lokasi sekitar Jakarta. Ia mencontohkan pengalaman perusahaan logistik yang mengoperasikan pusat distribusi di kawasan Bekasi untuk melayani pengiriman ke berbagai wilayah Jakarta pada dini hari.

Menurut dia, pengiriman yang dilakukan sekitar pukul 04.00 hingga 06.00 memungkinkan perjalanan dari distribution center menuju sejumlah titik di Jakarta berlangsung jauh lebih cepat karena belum berhadapan dengan kepadatan aktivitas masyarakat.

Jamin pasokan warga kota

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa persoalan logistik perkotaan bukan semata-mata soal menambah kapasitas gudang. Yang lebih penting adalah bagaimana lokasi fasilitas, waktu operasional, ukuran kendaraan, dan pola distribusi dirancang, sebagai satu sistem.

Dengan demikian, wacana pembangunan hub logistik di Jakarta Utara perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Kedekatan dengan Tanjung Priok memang penting untuk arus barang melalui pelabuhan. Namun, untuk menjamin pasokan kebutuhan harian warga Jakarta, jaringan distribution center di berbagai pintu masuk kota, bisa jadi memiliki fungsi yang tidak kalah penting.

Menata Logistik Bersama Setijadi
Ia bercita-cita menciptakan sistem logistik nasional yang efisien.

Sehingga ada dua poin utama yang harus dilakukan. Pertama mengatur jam operasional, dan membuat hub-hub di sekitarnya. Tujuannya untuk mengurangi traffic. "Kalau tadi problem utama yang mau diselesaikan oleh Jakarta seperti itu," jelas Mahendra.

Yang kedua, dengan mengurangi jumlah traffic-nya apalagi penyumbangnya adalah sektor logistik kan truk-truk. "Kemudian dengan adanya hub-hub di sekitar wilayah tiga tadi itu maka kepastian suplai barang-barang itu bisa cepat teratasi, enggak perlu terganggu oleh macet," katanya.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Logistik

Rekomendasi SUAR