Perbedaan Spesifikasi Jadi Tantangan Ekspor Bawang Merah
Jenis bawang merah lokal umumnya jenis shallot, sedangkan bawang yang lebih banyak digunakan di pasar internasional adalah onion atau bawang bombai.
Jenis bawang merah lokal umumnya jenis shallot, sedangkan bawang yang lebih banyak digunakan di pasar internasional adalah onion atau bawang bombai.
Sejumlah faktor menjadi tantangan dalam perluasan pasar ekspor bawang merah nasional, meliputi ketidakcocokan spesifikasi, fluktuasi harga, hingga permintaan yang menurun.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Ikhwan Arif menilai, pasar ekspor bawang merah Indonesia belum berkembang secara ekspansif. Menurutnya, permintaan ekspor cenderung menurun dalam sekitar tiga tahun terakhir.
Ikhwan mengatakan, pasar ekspor bawang merah Indonesia juga relatif terbatas karena komoditas yang diproduksi di dalam negeri merupakan jenis shallot, sedangkan bawang yang lebih banyak digunakan dalam perdagangan internasional adalah onion atau bawang bombai.
“Permintaan ekspor itu tidak akan tinggi karena pasarnya juga tunggal, di ASEAN saja,” kata Ikhwan pada SUAR, Selasa (15/9/2026).
Menurut dia, perbedaan spesifikasi tersebut membuat ruang ekspansi bawang merah Indonesia ke pasar global menjadi terbatas. Bawang merah Indonesia memiliki karakteristik berumbi majemuk atau menghasilkan anakan, sementara onion yang umum digunakan di pasar internasional merupakan jenis bawang berumbi tunggal.
Negeri ini juga belum mampu memproduksi onion dalam jumlah yang memenuhi kebutuhan industri, sehingga kebutuhan bawang bombai masih dipenuhi melalui impor. Kondisi tersebut turut membuat penyerapan oleh industri domestik terhadap bawang merah lokal belum optimal.
"Industri pemakaiannya lebih banyak impor daripada lokal karena spesifikasinya atau harganya," katanya.
Di sisi lain, persoalan pasar tidak hanya terjadi pada ekspor. Petani bawang merah juga menghadapi fluktuasi harga di pasar domestik. Ikhwan mengatakan harga bawang merah saat ini berada di sekitar Rp22.000 per kilogram, sementara harga yang diharapkan petani berada di atas Rp30.000 per kilogram.
Menurut dia, tekanan harga terjadi ketika pasokan meningkat sementara permintaan tidak mengalami pertumbuhan yang sebanding. Kondisi tersebut semakin menjadi persoalan karena bawang merah memiliki tingkat penyusutan yang tinggi apabila disimpan terlalu lama.
"Permintaan stagnan sesuai dengan kebiasaan. Tapi suplainya kan tinggi. Bawang kalau ditahan susutnya tinggi," kata ia.
Kondisi tersebut membuat ekspor belum otomatis menjadi solusi bagi persoalan harga di tingkat petani. Ikhwan bahkan menilai pelepasan ekspor bawang merah ke Thailand belum memberikan prospek pasar yang berarti bagi petani.

Oleh karena itu, ia mempertanyakan dukungan pemerintah yang secara langsung dapat memberikan kepastian pasar maupun harga bagi petani bawang merah. Menurutnya, petani selama ini lebih banyak menghadapi fluktuasi harga secara mandiri, bahkan sebagian telah meninggalkan usaha bawang merah karena ketidakpastian tersebut.
Ikhwan menilai, pemerintah perlu membangun mekanisme stabilisasi harga yang lebih jelas untuk komoditas hortikultura seperti bawang merah dan cabai. Berbeda dengan beras yang memiliki mekanisme penyerapan oleh negara melalui Bulog, menurut dia belum terdapat skema serupa untuk bawang merah.
“Balik ke konsep stabilisasi harga, bisa enggak negara itu. Itu saja,” ujarnya.
Sementara itu, Analis Kebijakan Pangan Syaiful Bahari menilai ekspor bawang merah Indonesia ke sejumlah negara, termasuk Thailand dan India, masih bersifat insidentil dan sangat bergantung pada kondisi harga di dalam negeri serta siklus panen di negara tujuan.
"Meskipun produksi bawang merah di Indonesia melimpah, tetapi pasar di Asia permintaannya kurang karena Thailand dan India juga produksinya banyak. Mereka hanya impor kalau produksi di dalam negerinya kosong," katanya pada SUAR.
baca juga:
Menurutnya, ekspor umumnya terjadi ketika produksi bawang merah dalam negeri melimpah sehingga harga domestik relatif rendah. Sebaliknya, ketika harga bawang merah di dalam negeri meningkat, ruang untuk ekspor akan semakin terbatas karena pasokan lebih menguntungkan diserap pasar domestik.
Syaiful juga mengatakan, bawang merah yang selama ini lebih sering diekspor berasal dari Probolinggo, bukan Brebes. Menurutnya, bawang merah Probolinggo memiliki karakteristik bentuk yang lebih bulat dan warna merah cerah sehingga lebih sesuai dengan permintaan pasar.
Sayangnya, jumlah bawang merah varietas tersebut tidak cukup banyak yang diekspor. Oleh karena itu, ia menilai varietas bawang merahnya harus diperbanyak sehingga tidak hanya mengandalkan bawang Brebes.
"Ada banyak varitas bawang merah di dataran tinggi yang lebih potensial untuk ekspor," katanya.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan sebelumnya melepas ekspor bawang merah asal Brebes ke Thailand dari fasilitas Controlled Atmosphere Storage (CAS), Sabtu (12/9/2026). Ekspor tersebut menjadi penanda perluasan pasar bawang merah Indonesia setelah pemerintah menyatakan kebutuhan dalam negeri telah terpenuhi.
“Kita bersyukur kebutuhan bawang merah dalam negeri sudah terpenuhi. Sekarang kita dorong agar produksi terus meningkat sehingga petani mendapatkan pasar yang lebih luas dan harga yang lebih baik, termasuk pasar ekspor,” ujar Zulkifli Hasan dalam keterangannya, Senin (14/9/2026).
Brebes menjadi salah satu sentra utama bawang merah nasional. Kabupaten tersebut menyumbang sekitar 20% produksi bawang merah nasional dan 60% produksi Jawa Tengah, dengan luas tanam rutin 30.000–35.000 hektare dan produksi sekitar 300.000–350.000 ton per tahun. Dari basis produksi tersebut, bawang merah Brebes telah menembus sejumlah pasar regional, yakni Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Singapura.

Pemerintah, sambung Zulkifli, akan terus menjaga keseimbangan antara ketersediaan dan stabilitas harga di dalam negeri dengan perluasan pasar ekspor. Penguatan produksi juga diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
“Jangan sampai petani sudah produksi banyak, tetapi pasarnya tidak ada. Karena itu pemerintah hadir memastikan ada pasar, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” katanya.
Ke depan, pemerintah akan memperkuat perbenihan dan produktivitas, termasuk mengurangi ketergantungan pada bibit impor untuk menghasilkan bawang merah kualitas ekspor. Melalui penguatan produksi, pasar, dan tata kelola, bawang merah Brebes diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga komoditas pertanian Indonesia yang semakin kuat di pasar global.