Perbankan Tetap Bertumbuh di Tengah Tantangan Perekonomian 2026

Di tengah tantangan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia serta perlambatan ekonomi masyarakat, perbankan tetap merencanakan pertumbuhan bisnis.

Perbankan Tetap Bertumbuh di Tengah Tantangan Perekonomian 2026
Foto : Hendra Jn / Unsplash
Daftar Isi

Di tengah tantangan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia serta perlambatan ekonomi masyarakat, perbankan tetap merencanakan pertumbuhan bisnis. Adapun bisnis perbankan ditopang dari penyaluran kredit ke beberapa sektor yang masih produktif seperti pertanian dan energi.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memastikan tidak merevisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 dan tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit sebesar 8-10% hingga akhir tahun, meski Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin.

‎Optimisme tersebut didukung pertumbuhan kredit pada semester I-2026 yang mencapai Rp1.036 triliun, atau naik 8% secara tahunan (year-on-year/yoy), sekaligus menjadi kali pertama portofolio kredit perseroan menembus level Rp1.000 triliun.

‎Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim mengatakan perseroan belum melihat perlunya melakukan penyesuaian terhadap target bisnis tahun ini. Menurut dia, kinerja kredit pada paruh pertama masih berada dalam jalur yang telah ditetapkan.

‎"Kita tetap mempertahankan target daripada pertumbuhan kredit. Menurut Rencana Bisnis Bank (RBB) kami ada di kisaran 8 sampai 10%," kata Vera dalam paparan publik, Selasa (28/7/2026).

‎Ia menjelaskan, secara year-to-date kredit BCA telah tumbuh 4,3% dibandingkan posisi akhir 2025, sedangkan secara kuartalan pertumbuhannya mencapai 4,2% pada kuartal II-2026 dibanding kuartal sebelumnya.

‎Meski suku bunga acuan telah meningkat 100 basis poin, Vera mengatakan transmisi kenaikan bunga ke kredit BCA masih sangat terbatas. Menurutnya, imbal hasil (yield) kredit secara kuartalan hanya meningkat sekitar 4 basis poin karena perseroan lebih mengutamakan pertumbuhan bisnis dibanding menaikkan harga kredit secara agresif.


‎‎‎Senada, Direktur BCA John Kosasih mengatakan, penyaluran kredit tahun ini masih bisa bertumbuh cukup baik.

‎"Kalau mengenai outlook-nya loan growth sih enggak ada perubahan ya. Kira-kira sekitar 8 sampai dengan 10 persen sampai dengan akhir 2026 ini," katanya.

Ia menjelaskan, pertumbuhan kredit hingga semester pertama terutama ditopang oleh sejumlah sektor ekonomi seperti infrastruktur yang berkaitan dengan teknologi, mineral, pertanian, perikanan, pengolahan minyak nabati (refinery edible oil), hingga pertambangan nonmigas.

‎Menurut John, sektor-sektor tersebut juga diperkirakan masih akan menjadi penopang ekspansi kredit pada semester II-2026. Selain itu, pipeline pembiayaan juga masih berasal dari sektor transportasi, logistik, perkebunan, pertanian, serta jasa keuangan.

‎Di sisi lain, BCA mengakui margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) mengalami tekanan seiring kondisi industri. Vera mengatakan NIM perseroan pada semester I-2026 berada di level 5,3%, turun dari 5,8% pada periode yang sama tahun lalu atau terkoreksi sekitar 50 basis poin secara tahunan.

‎Penurunan tersebut dipengaruhi tren penurunan suku bunga kredit sepanjang 2025 yang masih berlanjut hingga kuartal pertama 2026 serta persaingan dalam mendorong pertumbuhan kredit di industri perbankan.

Presiden Direktur BCA Gregory Hendra Lembong menambahkan penyesuaian bunga kredit dilakukan secara bertahap mengikuti jatuh tempo pinjaman yang sudah berjalan.

‎"Kenaikannya pun akan bertahap. Dan juga kita tidak menaikkan di semua nasabah. Kita hanya menaikkan nasabah yang selektif yang kita lihat dari sisi bisnis masih bisa kita naikkan. Untuk nasabah yang tentu risikonya sudah tinggi, kita tidak naikkan," ujar Hendra.

‎Meski demikian, Hendra menilai model bisnis BCA yang beragam membuat perseroan mampu menjaga keseimbangan kinerja di berbagai kondisi suku bunga.

‎"Beruntungnya kita di BCA ini bisnis modelnya cukup beragam. Jadi kalau suku bunga naik, ada beberapa divisi yang kontribusi lebih besar. Kalau suku bunga turun, divisi lain biasanya memberikan kontribusi lebih besar. Jadi kita cukup balanced bisnis model kita," ujar Hendra.

‎Dari sisi likuiditas, manajemen menyatakan kondisi pendanaan masih terjaga dengan baik. Hingga semester I-2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) BCA mencapai Rp1.284 triliun, tumbuh 7,9% (yoy), sementara dana murah (CASA) meningkat 10,2% menjadi Rp1.082 triliun, atau setara 84,3% dari total DPK.

‎Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu penopang bagi perseroan untuk tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit hingga akhir tahun.

Kinerja yang apik membuat bank swasta terbesar di Tanah Air ini mempertahankan pendapatan laba bersih. ‎Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, BCA membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp29,5 triliun pada semester I-2026 atau meningkat 1,8% secara tahunan (year-on-year/yoy).

‎Perseroan juga mencatatkan pendapatan operasional sebesar Rp55,8 triliun, naik 2,2% yoy. Kenaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan nonbunga bersih sebesar 11% yoy menjadi Rp13,2 triliun, meski pendapatan bunga bersih turun 0,6% yoy menjadi Rp42,4 triliun.

‎Stabilitas Industri Perbankan Terjaga

‎Industri perbankan masih menjadi sektor jasa keuangan dengan aktivitas pemeringkatan terbesar pada semester I-2026. Di tengah tantangan likuiditas dan tingginya suku bunga, profil kredit bank-bank yang diperingkat tetap menunjukkan kondisi stabil tanpa perubahan peringkat maupun prospek (outlook).

‎Analis Divisi Pemeringkatan Jasa Keuangan Pefindo Kreshna Dwinanta Armand mengatakan sepanjang Januari-Juni 2026, divisi pemeringkatan jasa keuangan menerbitkan 143 publikasi peringkat yang mencakup 59 entitas.

‎Dari jumlah tersebut, sektor perbankan mendominasi dengan 23 entitas, disusul perusahaan pembiayaan sebanyak 17 entitas serta perusahaan asuransi dan penjaminan sebanyak sembilan entitas.

‎"Apabila kita melihat berdasarkan sektor industrinya, sektor perbankan masih merupakan kelompok terbesar yang diperingkat yaitu sebanyak 23 entitas," kata Kreshna.

‎Selain perbankan, Pefindo juga melakukan pemeringkatan terhadap holding company, government related entities (GRE), perusahaan sekuritas, manajer investasi, hingga penyelenggara infrastruktur pasar keuangan.

‎Menurut dia, mayoritas aktivitas pemeringkatan selama semester pertama lebih banyak berasal dari proses pemantauan berkala (monitoring) dan pemantauan menjelang jatuh tempo instrumen. Sementara itu, jumlah penerbitan peringkat baru relatif terbatas.

‎"Secara keseluruhan distribusi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas divisi pemeringkatan jasa keuangan itu lebih banyak melakukan pemantauan, jadinya tidak banyak yang penerbitan baru," ujarnya.

‎Dari sisi kualitas kredit, mayoritas entitas jasa keuangan yang diperingkat masih berada dalam kategori investment grade. Konsentrasi terbesar berada pada peringkat AAA, kemudian diikuti AA dan A.

‎Kreshna mengatakan seluruh entitas yang diperingkat juga masih memiliki prospek stable hingga akhir semester pertama. Selama periode tersebut, Pefindo tidak mencatat adanya perubahan peringkat maupun perubahan outlook terhadap seluruh entitas jasa keuangan yang dipantau.

‎"Selama semester pertama tahun 2026 seluruh entitas juga memiliki outlook yang berada pada kategori stable," jelas dia.

Baca juga:

Perbankan Respon Gejolak Dunia dengan Strategi Konservatif
Tekanan geopolitik global yang disinyalir memicu volatilitas nilai tukar rupiah dan ketidakpastian suku bunga, mendorong PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) memperkuat manajemen risiko, menjaga likuiditas, serta lebih selektif dalam penyaluran kredit.

‎Ia menambahkan, tidak adanya perubahan peringkat maupun prospek menunjukkan bahwa profil kredit industri jasa keuangan, termasuk sektor perbankan, secara umum masih berada dalam kondisi yang relatif stabil meski menghadapi dinamika perekonomian.

‎"Semester pertama profil kredit entitas-entitas yang kami pantau secara umum masih berada dalam kondisi yang relatif stabil. Tentunya proses monitoring tetap kami lakukan secara berkelanjutan sehingga jika ada perubahan yang material dan relevan terhadap profil kredit, maka evaluasi akan dilakukan sesuai dengan metodologi sesuai dengan industrinya masing-masing," ucapnya.

‎Meski demikian, Pefindo menegaskan pemantauan terhadap industri jasa keuangan akan terus dilakukan secara berkelanjutan. Evaluasi terhadap peringkat maupun prospek akan dilakukan apabila terdapat perubahan fundamental yang dinilai berdampak material terhadap profil kredit masing-masing entitas.

‎Lebih lanjut, Kreshna menyebut terdapat tiga poin utama dari aktivitas pemeringkatan jasa keuangan selama semester I-2026, yakni penerbitan 143 publikasi peringkat untuk 59 entitas, aktivitas yang masih didominasi proses
‎monitoring, serta tidak adanya perubahan peringkat maupun outlook selama enam bulan pertama tahun ini.

‎Bank Perlu Jaga Kualitas Kredit

‎Di tengah ketidakpastian ekonomi yang masih membayangi, industri perbankan dinilai perlu mengubah fokus dari sekadar mengejar pertumbuhan kredit menjadi menjaga kualitas pertumbuhan yang berkelanjutan.

Pengajar Perbanas Institute, Arianto Muditomo menilai strategi tersebut menjadi kunci agar kondisi perbankan tetap sehat di tengah dinamika ekonomi dan perubahan perilaku nasabah.

‎Menurut Arianto, bank perlu memperkuat manajemen risiko dan menerapkan selektivitas dalam penyaluran kredit agar ekspansi bisnis tidak mengorbankan kualitas aset. Di saat yang sama, efisiensi operasional juga harus terus ditingkatkan melalui pemanfaatan teknologi dan digitalisasi sehingga industri mampu menjaga profitabilitas tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.

‎"Di tengah ketidakpastian ekonomi, perbankan perlu fokus pada kualitas pertumbuhan, bukan sekadar mengejar ekspansi kredit. Penguatan manajemen risiko, selektivitas penyaluran kredit, serta efisiensi operasional melalui digitalisasi menjadi kunci agar kinerja tetap sehat dan berkelanjutan," ungkap Arianto.

‎Ia menjelaskan bahwa tantangan industri perbankan tidak lagi hanya berasal dari fungsi intermediasi atau penyaluran kredit. Perubahan pola transaksi masyarakat, khususnya generasi muda, juga menjadi faktor yang harus direspons oleh perbankan agar tetap kompetitif.

‎Arianto menilai bank perlu memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan sistem pembayaran digital yang semakin menjadi pilihan utama nasabah. Kehadiran berbagai metode pembayaran yang cepat, praktis, dan terintegrasi membuat ekspektasi masyarakat terhadap layanan perbankan ikut berubah.

‎"Di luar kredit, bank juga perlu serius mengakomodasi perubahan preferensi pembayaran nasabah muda yang semakin digital, cepat, dan seamless, seperti QR dan ekosistem pembayaran terintegrasi," katanya.

‎Menurut dia, generasi muda tidak lagi hanya mempertimbangkan produk simpanan atau pinjaman dalam memilih bank. Pengalaman menggunakan layanan digital kini menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi keputusan mereka untuk tetap menjadi nasabah.

‎"Generasi ini menilai bank dari pengalaman dan kemudahan layanan, sehingga kemampuan beradaptasi terhadap pola pembayaran mereka akan menentukan daya saing dan loyalitas nasabah jangka panjang," ujar Arianto.

‎Ia menilai kombinasi antara pengelolaan risiko yang disiplin, efisiensi melalui digitalisasi, serta kemampuan menghadirkan layanan pembayaran yang sesuai dengan kebutuhan nasabah akan menjadi faktor penting bagi perbankan dalam menjaga kinerja di tengah tantangan ekonomi.

‎Selain memperkuat fungsi intermediasi, bank juga dituntut terus berinovasi agar mampu mengikuti perubahan perilaku transaksi masyarakat yang semakin mengandalkan ekosistem pembayaran digital.

Penulis

Baca selengkapnya