Kredit Korporasi Perbankan Masih Menggiurkan dan Terus Bertumbuh

Kredit Korporasi Perbankan Masih Menggiurkan dan Terus Bertumbuh

Kredit korporasi masih menjadi kontributor kredit bank jumbo tanah air.

Kredit Korporasi Perbankan Masih Menggiurkan dan Terus Bertumbuh
Dalam Artikel Ini

Penyaluran kredit korporasi masih menjadi kontributor utama portofolio kredit bank jumbo di tengah masih derasnya laju pertumbuhan kredit secara keseluruhan.

Mengutip materi paparan publik PT Bank Central Asia Tbk (BCA), kredit korporasi menjadi segmen dengan kontributor terbesar dengan 49,6% dari total penyaluran kredit BCA pada triwulan II-2026. Adapun besaran kredit korporasi mencapai Rp1.035,6 triliun.

Porsi kredit korporasi BCA terus alami tren kenaikan. Pada Juni 2025 porsinya sebesar 47,1%. Sempat turun pada September 2025 dengan porsi 46,3%, kredit korporasi terus alami tren kenaikan hingga Juni 2026 sebesar 49,6%.

Dari sisi segmen, kredit korporasi menjadi motor utama pertumbuhan BCA dengan kenaikan 13,6% secara tahunan. Perseroan memperkirakan kredit komersial dan usaha kecil dan menengah (UKM) akan mulai mengejar pertumbuhan pada semester II.

Pada sektor produktif, kredit manufaktur tumbuh mendekati 12% secara tahunan. Sektor perdagangan atau trading juga menjadi kontributor besar. Secara keseluruhan, kedua sektor tersebut menyumbang hampir 40% dari total kredit produktif BCA.

Persebaran kredit per sektor produktif BCA triwulan II-2026. Sumber: Public expose BCA

Sementara itu, segmen konsumer menghadapi tekanan, terutama pada Kredit Kendaraan Bermotor (KKB). Penyaluran KKB BCA turun sekitar 21% secara tahunan hingga Juni 2026.

Manajemen BCA menjelaskan, penurunan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan penurunan jumlah unit kendaraan yang dibiayai, tetapi juga dipengaruhi perubahan jenis kendaraan yang dibeli konsumen.

Permintaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) semakin meningkat, sementara harga kendaraan listrik yang relatif lebih rendah membuat nilai pembiayaan dalam rupiah menjadi lebih kecil meskipun jumlah unit yang dibiayai relatif sama.

Untuk mendorong kredit konsumer, BCA akan kembali menggelar expo KPR dan KKB pada semester II. Perseroan juga melihat peluang pemulihan kredit pemilikan rumah (KPR) setelah pertumbuhannya sempat tertahan pada kuartal II 2026.

Managing Director dan CFO BCA Vera Eve Lim Lim mengatakan pola pertumbuhan kredit perseroan biasanya lebih kuat pada semester kedua.

Year on year kita tumbuh 8%. Yang paling menarik adalah Q on Q tumbuhnya sekitar 4%. Nah guidance kita tahun ini pertumbuhan kita perkirakan akan mendekati ke 10%,” kata Vera.

Di tengah ekspansi kredit, kualitas aset BCA juga tetap terjaga. Loan at risk berada di level 4,9% dari total kredit dan menunjukkan tren menurun dibandingkan Juni 2025. BCA memperkirakan rasio tersebut turun ke kisaran 4,7%-4,8% pada akhir 2026.

Sementara itu, NPL BCA berada di sekitar 1,8%, dengan rasio pencadangan terhadap loan at risk sebesar 68%.

Dari sisi pendanaan, giro BCA tumbuh 15,3% hingga Juni 2026, sedangkan tabungan meningkat 6,9%. Pertumbuhan tersebut membuat CASA naik 10,2%. Jika dihitung berdasarkan rata-rata harian, pertumbuhan CASA tercatat 12,1%.

Kredit investasi melesat

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) juga mencatat pertumbuhan kredit pada semester I 2026. BNI mencatat pertumbuhan kredit 24% secara year on year, dengan kredit investasi tumbuh lebih tinggi sebesar 25%.

Pada BNI, pertumbuhan kredit investasi terutama ditopang permintaan korporasi papan atas serta sektor sumber daya alam, hilirisasi, dan data center. Head of Investor Relations BNI, Yohan Setio, mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan masih kuatnya minat dunia usaha untuk melakukan ekspansi.

“Kalau kita lihat dari sisi kredit investasi memang pertumbuhannya sangat sehat ya di BNI sendiri per Juni tahun ini tumbuh di kisaran 25% dibandingkan tahun lalu,” kata Yohan dalam Public Expose Live 2026, Rabu (9/9/2026).

Menurut Yohan, pertumbuhan kredit investasi BNI banyak berasal dari sektor sumber daya alam beserta bisnis turunannya. Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan pembiayaan meningkat seiring aktivitas hilirisasi di sektor pertambangan dan pertanian. Selain itu, data center mulai menjadi salah satu sumber pertumbuhan bisnis perseroan.

Pertumbuhan kredit investasi tersebut sejalan dengan ekspansi kredit BNI secara keseluruhan. Direktur Finance dan Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan total kredit perseroan mencapai Rp969 triliun per Juni 2026, tumbuh 24% secara tahunan. Pada periode yang sama, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 22%.

Ekspansi kredit tersebut turut menopang kinerja laba. BNI membukukan laba bersih Rp10,8 triliun pada semester I 2026, naik 7% secara tahunan. Laba inti atau pre-provisioning operating profit (PPOP) juga mencatat posisi tertinggi dalam lima tahun terakhir dengan pertumbuhan 14,5% secara year on year.

Sumber: Laporan Keuangan BNI

Namun, pertumbuhan kredit berlangsung di tengah tekanan terhadap margin bunga bersih atau net interest margin (NIM). Paolo mengatakan NIM BNI pada Juni 2026 berada di level 4%, dipengaruhi persaingan suku bunga kredit di industri dan meningkatnya biaya dana.

“Pelemahan NIM tersebut diimbangi oleh pertumbuhan kredit yang kuat sehingga laba inti atau PPOP akan tumbuh atau sudah tumbuh 14,5% secara year on year di semester 1,” ujar Paolo.

Untuk keseluruhan 2026, BNI memproyeksikan NIM berada di kisaran 3,3%-3,5%, sementara pertumbuhan kredit diperkirakan sekitar 8%-10%. Memasuki semester II, perseroan akan menjaga pertumbuhan dana murah atau current account saving account (CASA), selektif menyalurkan kredit, serta menjaga disiplin penetapan harga kredit untuk mempertahankan margin.

Suku bunga global dan rupiah membayangi

Pertumbuhan kredit perbankan nasional masih menunjukkan momentum positif memasuki paruh kedua 2026. Namun, ekspansi pembiayaan tersebut dibayangi risiko dari gejolak suku bunga global dan tekanan nilai tukar rupiah yang berpotensi memengaruhi biaya dana, likuiditas, hingga kualitas penyaluran kredit perbankan.

Di tengah pertumbuhan tersebut, Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengingatkan bahwa kondisi pasar global masih menjadi sumber risiko bagi perekonomian dan pasar finansial Indonesia. Salah satu perhatian utama adalah perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Menurut Asmo, ekspektasi pasar terhadap kenaikan Fed Funds Rate pada September 2026 sempat turun menjadi sekitar 24%. Namun, ekspektasi tersebut kemudian meningkat menjadi 62,3% setelah pernyataan Gubernur The Fed Kevin Warsh yang menekankan perlunya membawa inflasi AS kembali menuju target 2%.

Perubahan ekspektasi tersebut membuat arah suku bunga global kembali menjadi perhatian. Terlebih, kenaikan harga minyak dan inflasi AS berpotensi membuat bank sentral AS mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

“Situasinya akan sangat data-driven sampai akhir tahun. Perubahan probabilitas kenaikan Fed Funds Rate akan sangat tergantung bagaimana angka inflasi yang keluar setiap bulan,” kata Asmo.

Tekanan juga datang dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah negara maju. Asmo menilai kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap pasar finansial negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui perubahan arah arus modal.

Jika yield US Treasury meningkat, selisih imbal hasil antara obligasi pemerintah AS dan Indonesia dapat semakin menyempit. Kondisi itu berpotensi memengaruhi keputusan investor global untuk menempatkan dana di Indonesia.

“Ketika yield meningkat, spread antara 10-year US Treasury dan 10-year Indo Government Bond akan semakin menipis. Ini tentu akan berdampak kepada arah capital flows ke Indonesia atau bahkan sebaliknya,” ujarnya.

Bagi industri perbankan, kondisi tersebut menjadi tantangan karena volatilitas pasar global dapat memengaruhi likuiditas dan biaya pendanaan. Bank juga perlu menjaga keseimbangan antara agresivitas penyaluran kredit dan kemampuan menghimpun dana dengan biaya yang tetap efisien.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Perbankan

Rekomendasi SUAR