Lonjakan outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) ini merupakan capaian yang sangat positif jika dibandingkan dengan masa awal penerbitannya pada September 2023 yang berada di angka Rp 71,5 triliun. Di tahun 2026, instrumen ini telah mencatatkan pertumbuhan lebih dari 1.400% sejak diluncurkan.
Jika melihat dalam jangka waktu yang lebih pendek, total outstanding bulan Juni 2026 mengalami peningkatan sebesar 9,46% dari bulan sebelumnya, Mei 2026, yang tercatat sebesar Rp 979,88 triliun. Tren yang terus naik secara konsisten ini menegaskan posisi SRBI yang semakin diminati oleh berbagai kalangan investor di pasar keuangan.
Meroketnya outstanding SRBI ini mengindikasikan tingginya tingkat kepercayaan pasar dan besarnya minat investor terhadap instrumen moneter yang disediakan Bank Indonesia. Daya tarik instrumen ini salah satunya menawarkan imbal hasil sangat kompetitif.
Tidak hanya pasar domestik, daya tarik yang kuat juga tergambar dari lonjakan aliran modal asing (capital inflow) untuk masuk ke pasar keuangan domestik. Aliran modal ini menjadi bekal untuk menambah pasokan valuta asing. Pada akhirnya, instrumen ini secara efektif mampu menjinakkan tekanan global dan memperkuat nilai tukar Rupiah.
Dilihat dari sebaran kepemilikannya, sektor perbankan secara historis memang selalu mendominasi porsi kepemilikan SRBI. Namun, terdapat dinamika pergeseran yang sangat menarik pada Juni 2026.
Nilai kepemilikan oleh bank tercatat sebesar Rp 615,71 triliun, yang justru menunjukkan penurunan atau kontraksi sebesar 9,17% jika dibandingkan dengan kondisi di bulan Mei 2026 sebesar Rp 677,89 triliun. Penurunan kepemilikan oleh perbankan ini bisa jadi sinyal positif mengindikasikan bahwa likuiditas bank mulai banyak disalurkan untuk kredit ke sektor riil. Sekaligus memberikan ruang yang lebih luas bagi investor non bank untuk mengambil porsi lebih besar pada instrumen moneter ini.
Melihat dinamika kepemilikan non bank, lonjakan total outstanding SRBI di bulan Juni 2026 justru berasal dari inflow agresif kelompok investor asing (non bank). Berdasarkan data, nilai kepemilikan asing melonjak dari Rp 216,48 triliun pada Mei 2026 menjadi Rp 293,16 triliun pada Juni 2026.
Lonjakan investor asing di bulan Juni mencapai 35,42% hanya dalam waktu satu bulan. Lompatan besar pada porsi kepemilikan asing inilah yang menjadi pilar penopang utama keberhasilan operasi moneter Bank Indonesia dalam meredam pelemahan rupiah.
Tren penguatan investasi tidak hanya dimonopoli oleh asing, tetapi juga terlihat pada kelompok investor domestik (non bank) dan kategori 'lainnya'. Kepemilikan domestik (non bank) terus merangkak naik menjadi Rp 56,6 triliun pada Juni 2026, mencatatkan peningkatan sekitar 28,78% dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level Rp 43,95 triliun.
Kategori kepemilikan 'lainnya' turut mengalami ledakan pertumbuhan hingga 157,88%, naik dari Rp 41,55 triliun di Mei menjadi Rp 107,15 triliun di bulan Juni. Meratanya peningkatan kepemilikan di sektor non bank ini menjadi afirmasi bahwa SRBI telah bertransformasi menjadi instrumen primadona yang inklusif, sekaligus menjadi benteng pertahanan yang solid bagi stabilitas makroekonomi Indonesia.
Peningkatan outstanding SRBI di bulan Juni tidak lepas dari langkah proaktif dan pre-emptive yang diambil oleh BI. Pemicu utama di balik meroketnya pamor instrumen ini adalah keputusan krusial Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada bulan Juni yang memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan. BI melalui RDG memutuskan meningkatkan suku bunga acuan dua kali dalam kurun waktu satu bulan berhasil mengerek dampak pada kinerja SRBI di bulan yang sama.
Keputusan tersebut secara langsung memberikan dampak tingkat diskonto atau imbal hasil SRBI menjadi jauh lebih atraktif di mata investor global. Langkah strategis ini terbukti efektif dilihat dari derasnya aliran modal masuk. Rekor kepemilikan asing menjadi pendorong dalam menambah suplai valas. Rupiah yang sebelumnya tertekan dan melemah akibat tingginya ketidakpastian global, mulai berdenyut lagi.