Danantara Bidik Investasi Infrastruktur AI
Merespons kebutuhan pusat data yang meningkat, Danantara mengkaji peluang untuk memasukkan investasi infrastruktur AI sebagai bagian dari proyek strategis.
Merespons kebutuhan pusat data yang meningkat, Danantara mengkaji peluang untuk memasukkan investasi infrastruktur AI sebagai bagian dari proyek strategis.
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia tengah mengkaji peluang investasi terhadap infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) seiring dengan melonjaknya permintaan terhadap kapasitas komputasi dan juga infrastruktur data center di Indonesia.
Sebagaimana diketahui, PT Danantara Investment Management (DIM) sebagai sebuah lembaga pengelola dana investasi di bawah BPI Danantara, telah melakukan investasi privat di tiga proyek strategis yaitu pengelolaan sampah menjadi energi listrik (PSEL), pengembangan ekosistem protein regional dengan JBS-Australia, serta pengembangan ekosistem haji dan umrah.

Chief Investment Officer BPI Danantara Pandu Sjahrir mengatakan, pihaknya tengah mengkaji ulang untuk memasukkan pengembangan infrastruktur AI sebagai bagian dari proyek strategis yang saat ini sedang menjadi fokus tersebut.
“Indonesia ini kita lagi beruntung, dua bulan terakhir ini karena memang trennya baru mulai dua bulan terakhir, di sini kita Danantara sedang mengevaluasi investasi yang menyangkut infrastruktur AI,” kata Pandu dalam acara NXGN The Fate of Danantara: Go Big or Go Home di Universitas Indonesia, Kota Depok, Selasa (15/09/2026).
Selama ini, Danantara memprioritaskan sejumlah sektor yang memiliki potensi di mana Indonesia bisa menjadi pemain terbaik di tingkat global, baik itu mineral, energi, energi baru terbarukan, infrastruktur digital, hingga pangan dan pertanian.
Sejak beberapa bulan terakhir, Danantara melihat sebuah momentum bagus yang harus segera dimanfaatkan oleh Indonesia untuk menarik investasi, khususnya mengenai pengembangan infrastruktur AI.
Negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia saat ini disebut tengah menghadapi keterbatasan dalam pengembangannya, baik dari sisi keterbatasan lahan maupun energi. Kondisi tersebut pun membuat Indonesia harus memanfaatkan potensi yang dimilikinya untuk menjadi negara tujuan investasi dari negara lain.
“Ini mungkin karena di Singapura sudah tidak ada lahan, di Malaysia sudah tidak ada energi, Thailand juga sudah mengalami krisis energi, semua berlomba-lomba datang ke Indonesia. Kita bukan hanya tanah yang masih banyak, energi juga, air juga masih banyak,” jelasnya.
Danantara sejauh ini belum menanamkan investasi secara langsung pada perusahaan teknologi AI, mengingat karakteristiknya yang sulit dilakukan dalam skala besar. Maka dari itu, pembangunan infrastruktur AI dalam negeri ini merupakan sebuah peluang yang lebih potensial.
“Dan memang investasi ini bisa besar, untuk satu gigawatt yang diperlukan mungkin lebih dari USD 8 sampai 10 miliar. Kalau melihat demand dalam waktu 2 atau 3 bulan terakhir, mungkin lebih dari 2 gigawatt yang pengen masuk dan sedang dibangun di Indonesia,” ungkap Pandu.
Selain pembangunan infrastruktur, Pandu juga menekankan pentingnya terjadi transfer pengetahuan dan talenta dalam pengembangan ekosistem AI di Indonesia. Untuk menjamin adanya transfer pengetahuan, dia menilai tenaga asing yang direkrut harus didampingi oleh setidaknya dua tenaga kerja Indonesia yang dapat menyerap keahlian.
“Kami mau mencari orang yang mengerti untuk AI applicability across the company, saya minta top 5 talenta di Indonesia hampir gak ada, mereka ke Singapura, maka saya sekarang cari dari asing,” ujarnya.
Saat ini, pengembangan infrastruktur mengenai AI sudah dilakukan oleh Danantara. Pihaknya pun berencana untuk memperkuat investasi pengembangan infrastruktur AI ini.
“Energi yang dibutuhkan data center itu sangat besar, itu sedang kita kerjakan di Batam, baik juga di Jakarta. Ini sedang kita lakukan dan pasti akan banyak hiring besar-besaran yang sedang terjadi di daerah energi baik yang pembuatan power plant, solar, data center-nya, itu semua sudah dimulai dan 2027 akan semakin digenjot,” tegasnya.
Terpisah, ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai Indonesia sendiri saat ini sedang menghadapi keterbatasan kapasitas data center karena pertumbuhan permintaan dan layanan digital lebih cepat dibandingkan pasokannya. Pembangunan data center sendiri dapat mendorong aktivitas konstruksi, kebutuhan listrik, jaringan, sistem pendingin, hingga tenaga kerja teknis.
Namun, Yusuf menegaskan bahwa Indonesia perlu memastikan bahwa pengembangan sektor teknologi ini tidak berhenti pada penyediaan infrastruktur saja, tetapi mampu menciptakan nilai tambah lebih lanjut sehingga Indonesia tidak hanya sebagai lokasi operasional semata.
“Pusat data membutuhkan modal besar dan koordinasi antara listrik, lahan, jaringan, perizinan, serta keamanan siber. Danantara bisa menyatukan kepentingan BUMN seperti Telkom dan PLN dengan investor swasta sehingga hambatan tersebut bisa dikurangi,” kata Yusuf.
Peran Danantara yang bukan sebagai pemain tunggal ini sangat penting mengingat pembangunan data center membutuhkan investasi yang besar serta dukungan berbagai infrastruktur pendukungnya secara bersamaan.
“Harapannya Danantara bisa mendorong pembiayaan investasi untuk ekosistem data center karena perannya strategis. Danantara juga bisa sebagai kolaborator,” ucap Yusuf.

Head of Economics, Portfolio Alignment and Sustainability Danantara Investment Management Masyita Crystallin menjelaskan, Danantara melalui DIM juga melakukan pemilihan proyek investasi ini berdasarkan diversifikasi portofolio dan juga sekaligus mempersiapkan investasi jangka panjang bagi Indonesia.
“Jadi, ada aset yang memiliki return tinggi namun risiko tinggi, ada juga aset yang defensif. Lalu juga ada secara geografis juga kami diversifikasi, berdasarkan kematangan investasi juga diversifikasi. Dan kami mendiversifikasi sektor apa saja yang ada dampak di Indonesia saat ini ataupun juga di masa yang akan datang,” tambah Masyita.
Dalam kesempatan yang sama, Public Policy Professional Dara Nasution menanggapi, Danantara sebenarnya memiliki potensi untuk berkembang lebih besar lagi, meskipun memang masih menghadapi sejumlah tantangan. Danantara sebagai lembaga yang belum berusia lama juga memiliki keuntungan lantaran dapat mempelajari dan mengadopsi praktik terbaik dari lembaga pengelola investasi negara yang lebih dulu berdiri.
“Publik itu masih menunggu sebenarnya keberhasilan dari Danantara, apalagi ini bukan untuk hari ini tapi generasi ke depannya, sementara masyarakat punya bias orientasi yang lebih ke jangka pendek,” kata Dara.