Booming Komoditas Baru Kecerdasan Buatan, Peluang Bisnis Pusat Data di Indonesia

Didorong pemanfaatan kecerdasan buatan, bisnis pusat data di Indonesia masih punya peluang besar untuk digarap.

Booming Komoditas Baru Kecerdasan Buatan, Peluang Bisnis Pusat Data di Indonesia
Foto udara pembangunan pusat data (data center) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (16/6/2026). Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat total nilai investasi industri pusat data di wilayah tersebut telah menembus angka lebih dari Rp120 triliun hingga pertengahan tahun 2026 yang bersumber dari sembilan proyek pusat data sebagai hub teknologi global baru dan pusat konektivitas data utama di Asia Tenggara. ANTARA FOTO/Teguh Prihatna
Daftar Isi

Gelombang investasi global di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terus berlanjut di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Kekhawatiran terhadap arah suku bunga global, konflik geopolitik, hingga volatilitas pasar keuangan belum mampu mengurangi antusiasme investor terhadap teknologi yang diyakini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi berikutnya.

Di balik euforia AI tersebut, industri pusat data (data center) muncul sebagai salah satu sektor yang berpotensi memperoleh manfaat terbesar. Semakin masif adopsi AI di berbagai sektor, semakin besar pula kebutuhan akan daya komputasi, penyimpanan data, jaringan, dan infrastruktur digital yang menopangnya.

Perkembangan itu terlihat dari meningkatnya permintaan terhadap semikonduktor, server AI, hingga komponen pusat data di berbagai negara. Data perdagangan Cina menunjukkan, impor negeri Panda itu tumbuh lebih baik dari perkiraan, karena didorong oleh meningkatnya kebutuhan semikonduktor dan komponen pusat data untuk mendukung pengembangan AI.

Di Amerika Serikat, tema AI masih menjadi salah satu motor utama pasar saham. Produsen server AI, Super Micro Computer, misalnya, berhasil menghimpun pendanaan hingga US$7 miliar untuk memenuhi lonjakan permintaan pasar. Pada saat yang sama, investor global juga menantikan potensi penawaran saham perdana sejumlah perusahaan AI generasi baru, yang diperkirakan memiliki valuasi raksasa.

Komoditas baru industri kecerdasan buatan

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata mengatakan, investor saat ini masih memberikan valuasi premium kepada perusahaan-perusahaan yang berada dalam rantai pasok AI, mulai dari produsen chip, hingga penyedia infrastruktur digital.

"Fenomena tersebut menjelaskan mengapa saham semikonduktor, data center, cloud computing hingga penyedia infrastruktur digital tetap menjadi fokus investor global. AI membutuhkan daya komputasi yang besar, yang pada akhirnya meningkatkan kebutuhan terhadap chip, server, jaringan, dan pusat data," ujar Liza kepada SUAR, Jumat (19/6/2026).

AI masih dipandang sebagai tema pertumbuhan jangka panjang yang belum kehilangan daya tarik.

Menurut dia, meskipun sebagian pelaku pasar mulai mempertanyakan tingginya valuasi sektor teknologi, AI masih dipandang sebagai tema pertumbuhan jangka panjang yang belum kehilangan daya tarik. Investor bahkan menantikan potensi IPO perusahaan-perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic yang diperkirakan dapat mencatatkan valuasi mendekati US$1 triliun.

Tren tersebut membuka peluang baru bagi Indonesia. Pasalnya, menurut Liza, selama ini pasar modal domestik lebih banyak ditopang sektor perbankan, komoditas, konsumsi, dan hilirisasi. Namun, berkembangnya ekonomi digital dan meningkatnya kebutuhan layanan komputasi awan (cloud computing) menciptakan ruang pertumbuhan bagi industri pusat data nasional.

Sebagai pasar digital terbesar di Asia Tenggara, dengan jumlah pengguna internet dan konsumsi data yang terus meningkat, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi salah satu pusat pengembangan infrastruktur digital di kawasan. Kehadiran berbagai proyek hyperscale data center dalam beberapa tahun terakhir, menjadi indikasi bahwa kebutuhan kapasitas penyimpanan dan pengolahan data masih akan terus bertumbuh.

Waktunya emiten data center bikin ekspansi

Preferensi pasar tersebut turut dimanfaatkan PT DCI Indonesia Tbk (DCII), salah satu operator pusat data terbesar di Indonesia. Perseroan memastikan akan melanjutkan ekspansi kapasitas pusat data sepanjang 2026, untuk mengakomodasi pertumbuhan permintaan yang terus meningkat.

IPO PT CDI Indonesia

Corporate Secretary DCII, Indri Koesindrijastoeti mengatakan, strategi ekspansi tetap menjadi fokus utama perusahaan, namun dilakukan secara disiplin dan disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.

"Perseroan akan melanjutkan strategi ekspansi secara disiplin. Pengembangan kapasitas pusat data akan dilakukan sesuai permintaan pelanggan dan kebutuhan pasar," ujar Indri, dalam keterangan tertulis, Jumat (19/6/2026).

Menurut dia, pendekatan tersebut diperlukan untuk menjaga efisiensi investasi sekaligus memastikan pertumbuhan bisnis berlangsung secara berkelanjutan. Di tengah tingginya kebutuhan infrastruktur digital, perusahaan memilih memperluas kapasitas secara bertahap sesuai perkembangan pasar.

Reliabilitas dan kecepatan layanan pasar

Di sisi lain, pertumbuhan industri pusat data dalam beberapa tahun terakhir, tidak hanya didorong oleh percepatan transformasi digital perusahaan, tetapi juga oleh meningkatnya penggunaan layanan komputasi awan dan berkembangnya aplikasi berbasis AI yang membutuhkan kapasitas komputasi besar.

Karena itu, selain menambah kapasitas, DCI juga berupaya memperkuat daya saing melalui kualitas layanan dan keandalan operasional. Strategi tersebut dinilai semakin penting seiring masuknya pemain baru dan meningkatnya investasi pada industri pusat data nasional.

Salah satu keunggulan yang terus dikedepankan perseroan adalah kemampuan menjaga tingkat power uptime 100% sejak 2013. Rekam jejak tersebut menjadi fondasi operasional perusahaan dalam melayani lebih dari 270 pelanggan dari berbagai sektor. "DCII telah mempertahankan tingkat 100% power uptime sejak 2013," kata Indri.

Kemampuan speed-to-market menjadi faktor penting di tengah persaingan yang semakin ketat

Selain reliabilitas, perseroan juga mengandalkan kemampuan speed-to-market untuk menghadirkan kapasitas baru dalam waktu yang lebih cepat sesuai kebutuhan pelanggan. Kemampuan tersebut dinilai menjadi faktor penting di tengah persaingan yang semakin ketat, ketika perusahaan membutuhkan infrastruktur digital yang siap digunakan dalam waktu singkat.

Untuk diketahui, emiten milik konglomerat Toto Sugiri tersebut membukukan pertumbuhan pendapatan pada kuartal pertama 2026, namun peningkatan biaya operasional membuat laba perusahaan mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, emiten pusat data tersebut mencatat pendapatan sebesar Rp858,10 miliar, meningkat 10,92% secara tahunan dari Rp773,55 miliar pada kuartal I-2025.

Kontributor utama pendapatan masih berasal dari layanan colocation yang menyumbang Rp808,40 miliar, atau naik 10,26% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan lain-lain tercatat sebesar Rp49,69 miliar.

Ilustrasi colocation server

Di tengah pertumbuhan pendapatan, perseroan menghadapi kenaikan signifikan pada beban pokok pendapatan yang melonjak 46,75% menjadi Rp372,57 miliar dari Rp253,86 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan biaya tersebut berdampak pada profitabilitas perusahaan. Laba usaha DCII tercatat sebesar Rp449,01 miliar, turun 9,61% dibandingkan Rp496,80 miliar pada kuartal I-2025.

Tekanan serupa juga terlihat pada laba bersih. Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp377,75 miliar, turun 9,81% secara tahunan dari Rp418,84 miliar.

Jakarta Terus Berkembang Jadi Pasar Strategis Pusat Data Global
Dalam laporan Data Centre Construction Cost Index 2025, Jakarta memiliki keunggulan kompetitif di Asia Tenggara, dengan biaya konstruksi data center-nya sebesar Rp187.207 per watt, yang mana lebih rendah dibandingkan dengan negara seperti Singapura dan Tokyo (Jepang).

Efisiensi energi memicu ekonomi sirkular

Namun, pertumbuhan industri pusat data akibat ledakan AI tidak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga tantangan baru. Salah satunya adalah kebutuhan energi yang semakin besar.

CEO Siemens Indonesia Surya Fitri menilai transformasi digital dan keberlanjutan kini menjadi dua aspek yang tidak dapat dipisahkan. Menurut dia, semakin luas penggunaan AI akan meningkatkan kebutuhan terhadap pusat data, tetapi pertumbuhan tersebut harus dibarengi dengan efisiensi energi dan pengelolaan sumber daya yang lebih baik.

"Kalau kita bicara tentang customer, lebih banyak yang menuntut solusi yang berkelanjutan. Dari sisi capital juga mengalir ke sustainability. Sumber daya menjadi semakin terbatas, sehingga ekonomi sirkular menjadi penting," ujar Surya dalam keterangan resminya, Jumat (19/6/2026).

AI penghubung dunia fisik dan digital

Ia menjelaskan, AI kini tidak lagi sekadar teknologi pendukung, melainkan telah menjadi penghubung antara dunia fisik dan digital. Dalam sektor industri, AI mampu menganalisis ribuan sinyal sensor secara simultan, memprediksi gangguan rantai pasok, mengoptimalkan inventori, hingga mengelola konsumsi energi secara real time.

Perkembangan tersebut secara langsung meningkatkan kebutuhan terhadap kapasitas penyimpanan data dan daya komputasi yang lebih besar. Semakin banyak perusahaan mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnisnya, semakin tinggi pula kebutuhan terhadap infrastruktur digital yang andal.

Menurut Surya, kondisi tersebut menjadikan pusat data sebagai salah satu sektor yang mengalami percepatan transformasi paling signifikan. Namun, karena pusat data merupakan infrastruktur dengan konsumsi energi tinggi, efisiensi operasional menjadi faktor yang semakin menentukan.

Jadi solusi bagi dirinya sendiri

Dalam konteks itu, AI justru dapat menjadi bagian dari solusi. Teknologi tersebut memungkinkan operator pusat data mengoptimalkan sistem pendingin, distribusi daya, hingga penggunaan energi secara keseluruhan, sehingga operasional menjadi lebih efisien.

"AI tidak hanya bereaksi. AI belajar, berkembang, dan melakukan perbaikan dalam skala besar. AI mengubah data menjadi tindakan, dan tindakan menjadi sustainability," ujarnya.

Surya menambahkan, keberlanjutan kini telah menjadi faktor kompetitif baru di industri teknologi. Jika sebelumnya isu lingkungan lebih banyak dipandang sebagai kewajiban kepatuhan, saat ini aspek tersebut mulai memengaruhi keputusan pelanggan, investor, hingga penyedia pembiayaan.

Di tengah ledakan investasi AI global, imbuhnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa peluang pertumbuhan industri pusat data Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menambah kapasitas, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan infrastruktur yang andal, efisien, dan berkelanjutan.

“Dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi digital, meningkatnya kebutuhan AI, serta arus investasi ke sektor teknologi, industri pusat data nasional berada pada posisi yang berpotensi menikmati dampak positif terbesar dari transformasi digital global yang sedang berlangsung,” ujarnya.

Penulis

Baca selengkapnya