Adopsi AI di UMKM Masih Rendah, Pemerintah Perlu Perbanyak Pelatihan

Pemanfaatan AI berpotensi membantu meningkatkan efisiensi pelaku UMKM, terutama dalam menekan biaya pembuatan materi promosi seperti logo, foto produk, hingga deskripsi produk. Namun, pelaku usaha jangan terlampau mengandalkan AI juga sehingga produk UMKM kehilangan karakter dan menjadi seragam.

Adopsi AI di UMKM Masih Rendah, Pemerintah Perlu Perbanyak Pelatihan
Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) memasarkan produk boneka bordir melalui fitur siaran langsung pada platform lokapasar di rumah produksi Lika Souvenir di Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu (27/6/2026). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/hma
Daftar Isi

Penggunaan bantuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) belum marak digunakan oleh Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM). Padahal itu bisa meningkatkan efisiensi produksi yang berujung pada peningkatan skala usaha. Kementerian UMKM mendorong lebih luasnya penggunaan AI pada UMKM.

Kementerian UMKM menegaskan komitmennya memperluas pemanfaatan teknologi AI secara inklusif sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas dan daya saing UMKM. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari percepatan transformasi digital nasional.

Menteri UMKM Maman Abdurrahman yakin produktivitas UMKM di Tanah Air akan meningkat ketika memanfaatkan AI dalam berbagai aktivitas usahanya. 

"AI tidak lagi menjadi teknologi masa depan, tetapi telah menjadi kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing,” ujarnya, dikutip dari keterangan resmi," Jumat (10/7/2026). 

Meski demikian, Maman mengakui adopsi AI di kalangan UMKM masih menghadapi tantangan. Meskipun tingkat adopsi AI di Indonesia secara umum telah mencapai 92%, masih terdapat tantangan besar karena lebih dari 90% pengusaha UMKM belum memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal dalam proses bisnis mereka.

Menurut Menteri Maman, kesenjangan tersebut perlu dijawab melalui intervensi pemerintah dan kolaborasi intensif bersama komunitas digital. Pemanfaatan teknologi dinilai menjadi solusi untuk meningkatkan efektivitas pembinaan terhadap puluhan juta pelaku UMKM yang selama ini sulit dijangkau melalui pendekatan konvensional.

"Hampir tidak mungkin kita mengurusi puluhan juta usaha mikro, kecil, dan menengah di Tanah Air dengan pola dan metode konvensional. Kita harus hadir untuk mengoptimalkan pemanfaatan teknologi," ujar Maman.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kementerian UMKM memperkenalkan platform SAPA UMKM, yang akan berfungsi sebagai basis data tunggal sekaligus superapp layanan publik bagi pelaku UMKM.

Melalui platform tersebut, berbagai program pemerintah akan diintegrasikan dalam satu ekosistem, mulai dari Program Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (PRO-KESRA), Holding UMKM, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kredit Usaha Rakyat (KUR), kemitraan usaha, hilirisasi, formalisasi usaha, hingga layanan pembiayaan, pelatihan, pendidikan, dan pemasaran.

Integrasi tersebut diharapkan dapat membuat pelayanan kepada pengusaha UMKM semakin tepat sasaran, mudah diakses, dan mampu menjangkau pelaku usaha di berbagai wilayah Indonesia.

Kementerian UMKM juga telah mengumumkan kebijakan baru berupa diskon biaya sebesar 50% di marketplace bagi pengusaha mikro dan kecil. Kebijakan tersebut telah memperoleh persetujuan secara regulasi dengan persyaratan utama pengusaha UMKM melakukan onboarding ke dalam sistem SAPA UMKM sehingga pelindungan dan pembinaan dapat dilaksanakan secara lebih terstruktur dan tersistem.

Kolaborasi antara pemerintah, komunitas digital, dunia usaha, dan perguruan tinggi diharapkan dapat memperluas akses teknologi sekaligus melahirkan lebih banyak pengusaha UMKM yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing.

Dengan pemanfaatan AI yang semakin inklusif dan ekosistem digital yang terintegrasi, Kementerian UMKM berupaya memastikan transformasi teknologi tidak hanya dinikmati pengusaha besar, tetapi juga menjadi instrumen bagi pengusaha UMKM di seluruh Indonesia untuk meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, dan tumbuh menjadi kekuatan ekonomi nasional.

Meningkatkan efisiensi

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Industri UMKM Indonesia (AKUMANDIRI) Hermawati Setyorinny menilai pemanfaatan AI berpotensi membantu meningkatkan efisiensi pelaku UMKM, terutama dalam menekan biaya pembuatan materi promosi seperti logo, foto produk, hingga deskripsi produk. Namun, ia mengingatkan agar penggunaan AI tidak membuat produk UMKM kehilangan karakter dan menjadi seragam.

Menurut Hermawati, AI sebaiknya dimanfaatkan sebagai sumber referensi, bukan dijadikan sebagai template yang langsung digunakan tanpa penyesuaian.

"Jangan sampai nanti terperangkap dengan posisi AI yang sepertinya general. Karena setiap produk itu punya latar belakang dari budaya, dari sejarahnya dia membuat produk itu. Nah itu sebenarnya ada nilai negatifnya juga menggunakan AI," katanya pada SUAR, Jumat (10/7/2026).

Pekerja Depot Sayur Sejahtera berkostum Punk, Hafid (kiri) bertransaksi sayuran pesanan pengguna jasa belanja daring saat belanja di Pasar Legi, Solo, Jawa Tengah, Selasa (7/7/2026). Penyedia layanan jasa belanja secara daring tersebut mengaku usahanya banyak diminati masyarakat dan pelaku usaha restoran karena memberikan kemudahan dan kepraktisan untuk memperoleh bahan makanan. ANTARAFOTO/Maulana Surya/YU

Ia menjelaskan, saat ini pemanfaatan AI di kalangan pelaku UMKM masih lebih banyak digunakan untuk mencari ide atau referensi, serupa dengan penggunaan mesin pencari di internet. Kehadiran fitur AI di berbagai aplikasi, seperti WhatsApp, juga membuat pelaku usaha mulai mencoba teknologi tersebut.  Namun, ia menilai tingkat pemanfaatan AI di kalangan pelaku usaha mikro masih terbatas.

Karena itu, ia mendorong  pemerintah tidak cukup hanya mendorong adopsi AI, tetapi juga perlu memberikan edukasi dan pelatihan mengenai cara memanfaatkan teknologi tersebut secara tepat. Edukasi tersebut menjadi penting karena sebagian besar pelaku usaha mikro masih berfokus pada upaya mempertahankan usaha dan belum memiliki kemampuan digital yang memadai.

"Jadi seharusnya Kementerian tidak hanya mendorong, tapi harus membantu mengedukasi, menambahkan ilmu kepada mereka.  Jangan sampai nanti seluruh produk Indonesia misalnya makanan, nanti sama semua. Harus ada inovasi dari pelaku UMKM," sambungnya.

Baca juga:

UMKM Butuh Naik Mutu Tak Hanya Naik Kelas
Artikel ini merupakan opini Guru Besar Departemen Manajemen FEB UGM sekaligus Direktur Magister Manajemen FEB UGM Kampus Jakarta, Gugup Kismono

Pengamat Bisnis dari DK Consulting, Djoko Kurniawan, menilai pemanfaatan AI memiliki peran penting dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi pelaku UMKM. Menurutnya, teknologi tersebut mampu membantu pelaku usaha menyelesaikan berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu, biaya, maupun keahlian khusus.

Djoko mengatakan AI mempermudah pelaku UMKM dalam mengerjakan tugas-tugas administratif maupun pemasaran. Salah satunya adalah menghitung harga pokok produksi (HPP), yang selama ini kerap menjadi kendala bagi pelaku usaha karena dianggap rumit. AI juga banyak dipakai UMKM untuk membuat brosur, banner, katalog produk, dan lain-lain.

"Contoh lain, dulu membuat feed dan story di instagram perlu orang desain dengan harga yang lumayan mahal, sekarang bisa pakai AI dengan waktu yang singkat. Pembuatan video promosi yang dulu terasa mahal sekarang dengan mudah bisa pakai AI," katanya. 

Tak hanya mendukung pemasaran, AI juga dapat dimanfaatkan sebagai alat analisis bisnis, seperti analisa target market, analisa lokasi, dan analisa lainnya. 

"Jadi AI telah membuat UMKM lebih mudah mengerjakan tugas yang dulu sulit menjadi mudah. Hampir semua pekerjaan pelaku UMKM bisa memanfaatkan AI, termasuk menjawab pertanyaan customer di sosmed," katanya. 

Meski demikian, Djoko menilai tingkat adopsi AI di kalangan UMKM masih relatif rendah. Menurutnya, kondisi tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh keterbatasan teknologi, melainkan karena minimnya program pelatihan yang bersifat praktis bagi pelaku usaha.

Ia mengatakan selama ini pelatihan terkait AI masih belum banyak menyentuh aspek implementasi secara langsung. Ia menilai seharusnya ada pelatihan yang langsung praktek agar UMKM benar-benar tahu dan paham tentang AI.

"Jadi UMKM Indonesia masih sangat rendah literasi digitalnya. Ini membuat persepsi yang salah karena AI dianggap sulit dan kompleks. Kebanyakan mereka juga sudah sangat nyaman menjalankan bisnis dengan cara konvensional dan belum terlalu percaya pada teknologi," katanya.

Penulis

Feby Febrina Nadeak
Feby Febrina Nadeak

Wartawan Energi, Internasional, dan Perdagangan

Baca selengkapnya