Eksklusif, CEO Awanio Irfan Yuta Pratama Beri Solusi Kedaulatan Digital

Suar.id berkesempatan berbincang dengan CEO CEO Awanio Irfan Yuta Pratama bicara layanan layanan platform penyimpanan data dalam negeri, strategi pangkas biaya infrastruktur IT, hingga kedaulatan digital.

Eksklusif, CEO Awanio Irfan Yuta Pratama Beri Solusi Kedaulatan Digital
CEO Awanio Irfan Yuta PratamaCEO Awanio Irfan Yuta Pratama ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Foto: Fandi/Suar.id

Era Digital. Kini kita tengah hidup dalam era serba digital. Dari bangun pagi, bermain, belajar, bekerja, hingga berbelanja juga tidak lepas dari digital. Namun, persoalannya, masih banyak sekali masyarakat, perusahaan, bahkan kementerian/lembaga di Tanah Air yang masih menggunakan platform penyimpanan data yang mengandalkan teknologi dari perusahaan asing mulai dari Amerika Serikat (AS) hingga China.

Bayangkan data kita melayang-layang, melewati batas negara, disimpan dan dikelola oleh pihak asing. Mulai dari data kesehatan, keuangan, hingga data layanan publik. Ini menimbulkan kerentanan karena kita tidak memiliki kontrol penuh atau kedaulatan pengelolaan data digital milik kita sendiri.

Rupanya ketergantungan penggunaan teknologi platform penyimpanan data dari perusahaan asing juga berdampak bagi korporasi Indonesia. Perusahaan asing ini kerap melakukan penyesuaian tarif bisnis dengan harga berkali lipat dari sebelumnya. Kenaikan ongkos operasional infrastruktur Information Technology (IT) di kala ekonomi sedang kurang menggeliat ini jelas bisa membebani perusahaan.

Merespon kebutuhan ini, hadir Awanio, perusahaan Cloud Enabler Platform yang dikembangkan oleh talenta lokal yang memungkinkan institusi atau perusahaan dalam negeri untuk mengelola infrastruktur IT cloud computing secara mandiri di dalam negeri. Berdiri sejak 2018, Awanio telah memiliki lebih dari 5.000 pengguna di Indonesia bahkan hingga Eropa.

Guna mengulik lebih dalam mengenai layanan layanan platform penyimpanan data dalam negeri, strategi pangkas biaya infrastruktur IT, hingga kedaulatan digital, SUAR berkesempatan berbincang dengan CEO Awanio Irfan Yuta Pratama dalam wawancara eksklusif di Jakarta, Kamis (23/4/2026) di Jakarta.

Bisa diceritakan, Awanio itu perusahaan yang memberikan layanan atau solusi apa kepada masyarakat dan dunia usaha?

Awanio didirikan sejak 2018 sebagai perusahaan teknologi yang berfokus pada inovasi dan riset pengembangan teknologi, dengan menawarkan layanan platform cloud enabler. Melalui software yang kami ciptakan, perusahaan dapat memiliki cloud-nya sendiri. Software ini memberikan kontrol penuh kepada pengguna terhadap infrastruktur mereka, seperti server storage di data center masing-masing. Dengan virtualisasi yang kami sediakan, pengguna tidak perlu lagi menggunakan satu server utuh untuk satu aplikasi atau database; sumber daya server dapat dibagi secara efektif untuk memberikan layanan yang optimal.

Sejak berdiri 2018 sampai sekarang, berapa banyak pengguna Awanio? Mereka berasal dari sektor apa saja?

Secara total kami memiliki lebih dari 5.000 pengguna. Adapun pengguna kami beragam mulai dari medium hingga large enterprise. pengguna kami antara lain dari Himpunan Bank Negara (Himbara), perusahaan BUMN, kemudian ekosistem Bursa Efek Indonesia, industri obat-obatan, dan lain-lain. Awalnya kami memang berdiri di Indonesia, tapi kemudian seiring berjalan waktu kami terus berkembang bahkan kami sudah ekspor layanan kami ke negara lain. Selain di Indonesia, kami punya representative office di Belanda. Dari sana kami punya pengguna juga dari Jerman, Swiss, dan lainnya. Kami juga sudah beroperasi di Singapura. Jadi rupanya persoalan platform penyimpanan data ini adalah kebutuhan global, tidak terbatas di Indonesia saja. Banyak perusahaan luar juga sebenarnya membutuhkan solusi seperti ini. Jadi kami beranikan untuk ekspansi.

CEO Awanio Irfan Yuta PratamaCEO Awanio Irfan Yuta Pratama ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Foto: Fandi/Suar.id

Kenapa teknologi cloud itu masih didominasi teknologi perusahaan asing? Apa sebetulnya akar persoalannya?

Karena memang perusahaan asing ini muncul lebih dahulu dan menjadi trendsetter. Sehingga mereka para pengguna ini sudah berpuluh-puluh tahun terbiasa menggunakan platfom dari luar negeri. Namun, persoalan muncul ketika perusahaan asing penyedia layanan teknologi ini melakukan penyesuaian tarif secara signifikan. Perubahan harga ini dirasakan sangat signifikan oleh para pengguna. Perubahan atau shifting model bisnis dari perusahaan layanan teknologi juga seringkali punya dampak signifikan bagi pengguna. Di saat yang sama, para pengguna layanan teknologi ini jadi seakan sangat bergantung. Akhirnya pengguna-pengguna ini mencari alternatif untuk menggantikan solusi yang existing. Dan mereka merasa, oh ini adalah sesuatu yang harus kita waspadai karena hanya karena kepentingan bisnis ini bisa sangat berubah

Apa dampaknya kalau teknologi cloud masih didominasi teknologi perusahaan asing?

Jadi makin kesini negara-negara itu mulai sadar kita harus punya sesuatu yang memang bisa kita kontrol gitu. Sesuatu yang memang tidak akan terpengaruh terhadap geopolitik dan lain sebagainya. Kita butuh memiliki apa yang disebut kedaulatan digital.

Apa itu kedaulatan digital? Mengapa keberadaan platform penyimpanan data cloud itu idealnya di dalam negeri?

Kedaulatan data itu sebenarnya hanya satu pilar saja. Jadi kalau misalnya kita mau ambil konsep lebih besarnya itu lebih ke kedaulatan teknologi yang di dalam ada pilar kedaulatan digital, kedaulatan data, kedaulatan operasi, dan kedaulatan teknologi itu sendiri. Nah jadi kalau kita bicara satu aspek aja gitu ya, kedaulatan data sebetulnya adalah konsep dimana kita benar-benar yakin bahwa data itu ada dalam kontrol kita. Ini bukan cuma data itu ditempatkan di Indonesia tapi benar-benar yakin data itu ada di Indonesia Dan tidak dioper dioper di luar negeri gitu ya. Saat ini yang masyarakat tahu sebetulnya kedaulatan data itu ya sudah yang penting platform dari luar negeri itu cukup membuka cabang di Indonesia, lalu organisasi perusahaan itu pakai layanan yang ada di Indonesia. Tapi sebenarnya platform software dan lain sebagainya itu masih punya luar negeri. Tapi kadang-kadang perusahaan itu lupa bahwa kedaulatan data itu tidak berbanding lurus sama data jurisdiction. Kalau kita bicara tentang jurisdiction, data itu akan mengikuti aturan dimana platform itu diciptakan, berdiri atau lokasi headquarter-nya. Kalau misalnya mereka berdiri di AS, mereka harus ikut peraturan-peraturan yang dibuat di sana. Begitupula misalnya kalau mereka dibuat dan berdiri di China. Ini juga mungkin ini bukan lagi rahasia, tapi di AS itu ada undang-undang yang memang sudah disahkan namanya undang-undang Cloud Act. Undang-undang ini jelas-jelas menyatakan, setiap data yang ditaruh di atas platform yang dibuat oleh AS bisa sewaktu-waktu mereka gunakan. Ini juga terkait dengan konflik geopolitik. Saya kasih contoh yang agak ekstrem, contoh konflik Ukraina dengan Rusia beberapa tahun lalu. Jadi Ukraina didukung sama AS, Rusia saat itu masih menggunakan beberapa platform dari AS. Ketika konflik, karena Rusia masih menggunakan platform AS dan Ukraina didukung AS, yang terjadi adalah AS bikin cacat Rusia lewat teknologi dari AS. Jadi dengan mudahnya barang-barang yang dipakai Rusia yang berasal dari AS itu di-stop. Mereka tidak akan bisa akses lagi datanya mereka. Sekarang mungkin kalau di Indonesia sudah sering mendengar kata-kata ketahanan pangan, ketahanan energi. Mungkin saya mau nambahin lagi satu yaitu ketahanan digital. Ini sesuatu yang sangat penting, karena perekonomian kita kini dan nanti akan banyak ditopang digital.

Catatan: infografis ini ditambahkan oleh tim redaksi Suar.id untuk menambah informasi. Materi tidak terkait atau tidak berasal dari narasumber.

Oke pak itu tadi dampak makronya ya. Bagaimana dampaknya ke skala perusahaan di Tanah Air bila terus menggantungkan diri dengan platform teknologi asing? Tadi sudah sempat disebutkan ada kenaikan biaya yang meningkatkan beban operasional ya pak. Boleh dielaborasikan lebih lanjut lagi dampaknya?

Iya perubahan tarif dari perusahaan platform asing ke lokal itu signifikan sekali ya, bisa paling tidak 3 kali lipat bahkan 10 kali lipat. Akhirnya biaya operasional untuk pengelola infrastruktur IT jadi mahal. Nah Awanio itu coba menjadi solusi alternatif bagi perusahaan yang mau pindah dari platform asing itu. Mereka cari alternatif dengan functionality yang sama dengan support yang lebih baik. Tim support kami menggunakan Bahasa Indonesia jadi lebih mudah komunikasinya dengan tim IT perusahaan pengguna yang juga dari Indonesia. Sebab, kalau dengan perusahaan asing, tim support-nya berbahasa asing. Selain itu juga soal zona waktu operasional. Jam kerja tim support perusahaan AS misalnya tentu beda dengan jam kerja Indonesia. Jadi kalau pakai Awanio tidak perlu menunggu zona waktu waktu. Selain itu, kalau kami dibandingkan dengan platform luar, di atas kertas kami bisa tawarkan lebih efisien sampai dengan 50% secara biaya, karena nilai efisiensi bervariasi tergantung use case. Kami bisa membantu perusahaan untuk lebih efisien dan dibantu layanan tim support yang siap membantu. Bahkan kalau dilihat dari kacamata ekonomi makro, uang yang berputar juga seluruhnya di Indonesia. Semua uang pengguna perusahaan dan institusi ini berputar di Indonesia dan untuk kepentingan Indonesia. Tidak seperti saat pengguna menggunakan layanan platform asing. Kami punya visi, We have to build something for the nation, sesuatu yang bisa jadi tulang punggung negara dalam perusahaan infrastruktur digital. Indonesia harus punya tech giants yang memang bisa diandalkan sama pemerintah untuk mendukung roda ekonomian. Kita bisa belajar dari China. Beberapa platform atau perusahaan teknologi di China itu cepat melesatnya karena memang didukung sama pemerintah. Jadi bukan hanya mereka disokong dalam artian dibukain jalan, hubungan antara pemerintah dan pengusaha itu bagus banget. Pengusaha diberi pekerjaan dari pemerintah. Itu mendukung platform lokal. Awalnya tidak sempurna tapi pasti terus improvement. Sampai sekarang pun raksasa China juga masih terus lakukan penyempurnaan. Tapi itu terjadi karena sudah ada wadahnya dari pemerintahnya.

Di tengah masih tingginya dominasi platform asing, apa saja tantangan yang dihadapi Awanio untuk meyakinkan perusahaan/institusi di Indonesia untuk berpindah jadi pengguna?

Tantangannya adalah brand awareness. Karena kompetitor itu sudah puluhan tahun di Indonesia. Banyak yang meragukan khususnya di tahun-tahun pertama berdiri, bagaimana ini produk lokal mau menyaingi brand asing. Jadi untuk bisa compete dengan brand itu, kami harus punya produk yang bisa bersaing. Yang kami lakukan adalah menawarkan keunikan dan keunggulan dari segi price, layanan support berbahasa Indonesia, dan jam waktu sama dengan Indonesia. Seperti yang tadi saya sampaikan, kami menawarkan efisiensi biaya sampai dengan 50%, bergantung masing-masing use case. Satu hal yang saya tanamkan kepada tim, product will talk itself. Kalau produk bagus, orang akan mencari. Tantangan kedua adalah bagaimana terus menciptakan inovasi produk agar bisa tetap unggul. Karena kompetitor biaya risetnya pasti besar karena sudah berdiri puluhan tahun.

Kalau melihat industri cloud computing sendiri, peluang dan tantangannya itu sekarang seperti apa? Apakah masih akan didominasi teknologi asing atau malah perusahaan lokal ini mulai bertumbuh? Seperti apa peluangnya?

Di luar negeri, di Eropa sudah dimulai. Afrika juga sudah mulai. Mereka ingin tak lagi adopsi tapi membuat teknologinya sendiri. Untuk negara-negara yang non-block itu potensi dan peluangnya lebih besar. Seperti Indonesia. Karena kita tidak terikat satu kubu manapun. Kebijakan undang-undang kita melindungi data. Ini membuat layanan cloud kita menarik. Ketegangan geopolitik itu sebenarnya juga jadi peluang. Jadi misal ada perusahaan pakai hardware dari AS tidak akan compatible dengan produk China, begitu juga sebaliknya. Nah kalau Indonesia bisa diterima di mana saja. Rupanya persoalan ini jadi kendala global, jadi peluangnya besar.

Bagaimana rencana bisnis Awanio ke depan? Apakah akan ada inovasi yang dikerjakan?

Sebagai perusahaan teknologi kami tidak boleh berhenti berinovasi. Sekarang kami tengah mengembangkan teknologi AI. Saat ini AI makin lekat dengan kehidupan sehari-hari, orang curhat saja ke AI. Nah kami ingin membuat fitur AI sebagai companion dalam platform Awanio, sehingga memudahkan pengguna dalam Awanio. pengguna juga bisa minta dibuatkan programnya oleh gen AI.

Selain AI apa lagi rencana bisnis ke depan?

Kami juga ingin ekspansi menambah negara operasional. Hanya saja di tengah ketidakpastian geopolitik masih kami pertimbangkan. Mungkin dalam waktu dekat kita mau expand ke Jepang. Kita mau expand ke sana karena kebutuhan mereka sama di Indonesia. Dan kita bisa bantu mereka. Rencananya kami ingin buka kantor reseprentatif di sana sehingga bisa mencari pengguna di sana. Di sana ternyata perusahaan juga ingin mencari alternatif teknologi yang lebih efisien. Jadi rupanya ini persoalan global jadi peluangnya masih sangat besar.

Baca juga seri wawancara eksklusif Suar.id lainnya

CEO Samudera Indonesia Bani Mulia Bicara Masa Depan Industri Pelayaran
Suar.id berkesempatan berbincang dengan CEO PT Samudera Indonesia Tbk Bani Mulia bicara panjang lebar soal tantangan dan peluang industri logistik.
CEO Freeport Indonesia Tony Wenas: Perlu Nilai Tambah Lanjutan Hilirisasi Tembaga
Tim SUAR.id berkesempatan untuk berbincang dengan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas di Kantor PTFI, Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Kepala BPS: Data Perekonomian Nasional Menunjukkan Optimisme dan Peluang ke Depan
Wawancara eksklusif Suar.id dengan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di BPS Lounge, Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (10/11/2025) untuk makna data perekonomian serta bagaimana data itu bisa membantu membaca arah ke depan.

Baca selengkapnya

Ω