Indonesia sejatinya tidak kekurangan produksi buah, khususnya buah tropis nan eksotik. Dengan kekayaan hayati, iklim tropis, serta luas lahan yang besar, Indonesia bahkan masuk dalam jajaran produsen buah terbesar di dunia. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kekuatan ekspor yang kompetitif. Tantangan mulai dari logistik, standar kualitas global, hingga pembiayaan masih menjadi hambatan dalam mendorong buah lokal menembus pasar internasional secara konsisten.
Di sisi lain, permintaan global terhadap buah tropis terus meningkat, seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap pola hidup sehat dan produk berbasis alami. Kondisi ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk tidak hanya mencapai swasembada, tetapi juga melangkah lebih jauh sebagai pemain utama dalam perdagangan buah dunia.
Dalam wawancara eksklusifnya dengan Tim SUAR di Jakarta, Jumat (17/4/2026), CEO Java Fresh (PT Nusantara Segar Global), Margareta Astaman, melihat peluang tersebut bukan sekadar wacana. Menurutnya, dengan perbaikan sistem dari hulu ke hilir, mulai dari praktik budidaya, standarisasi kualitas, hingga efisiensi rantai pasok, Indonesia memiliki fondasi kuat untuk mengambil peran lebih besar di pasar global.
Dari sudut pandang Java Fresh, apa kegagalan paling mendasar dalam sistem agrikultur Indonesia sehingga potensi besar tersebut belum dapat dikonversi menjadi kekuatan ekonomi, khususnya di pasar ekspor?
Ketika ditelusuri lebih jauh, terdapat sejumlah permasalahan mendasar dalam sektor hortikultura Indonesia. Dari sisi hulu, kondisi kebun buah di Indonesia didominasi oleh petani skala mikro. Sebagian besar petani memiliki lahan kurang dari satu hektare, bahkan hanya berkisar antara 1.000 hingga 4.000 meter persegi. Dengan skala lahan yang kecil, jumlah pohon yang dimiliki juga terbatas, sehingga nilai produksi yang dihasilkan relatif rendah. Akibatnya, sebagian besar bahkan dapat dikatakan sekitar separuh petani buah tidak dapat sepenuhnya mengandalkan pendapatan dari kebun mereka.
Kondisi tersebut mendorong terjadinya urbanisasi, di mana petani beralih profesi menjadi pekerja di sektor informal seperti ojek, buruh bangunan, dan pekerjaan lainnya, sehingga kebun menjadi tidak terawat. Dampaknya, skala ekonomi (economies of scale) semakin sulit dicapai, kualitas hasil panen menurun, dan produk tidak dapat dipasarkan sebagai buah premium.
Permasalahan kedua berkaitan dengan aspek keandalan (reliability), khususnya dalam pemenuhan standar ekspor. Dalam perdagangan internasional, produk hortikultura umumnya harus memenuhi standar tertentu yang dibuktikan melalui sertifikasi. Di Indonesia, jumlah kebun yang telah tersertifikasi masih sangat terbatas, yang kemungkinan besar disebabkan oleh skala kebun yang kecil sehingga biaya sertifikasi menjadi relatif tinggi.
Sebagai perbandingan, China memiliki ribuan kebun yang telah tersertifikasi Global GAP (Good Agricultural Practices), sementara Thailand memiliki ratusan kebun. Indonesia sendiri diperkirakan masih berada di bawah puluhan kebun yang tersertifikasi. Kondisi ini menyebabkan produk hortikultura Indonesia dinilai belum memenuhi standar ekspor secara optimal.
Tantangan ketiga berasal dari aspek teknologi. Sektor agrikultur, khususnya hortikultura, belum sepenuhnya dipandang sebagai industri strategis, sehingga pengembangan teknologi masih terbatas.
Untuk buah tropis asli Indonesia seperti manggis atau salak, daya tahan produk masih menjadi tantangan, bahkan untuk mencapai satu bulan penyimpanan. Keterbatasan teknologi ini meningkatkan biaya dan risiko distribusi, sehingga pengiriman sering kali harus menggunakan transportasi udara. Konsekuensinya, biaya logistik menjadi tinggi, harga produk meningkat, dan minat pasar menjadi terbatas.
Selain itu, faktor infrastruktur dan pemasaran juga menjadi kendala. Lokasi kebun yang tersebar dan relatif jauh dari pelabuhan ekspor, ditambah keterbatasan akses infrastruktur seperti jalan tol, menyebabkan biaya transportasi menjadi tinggi.
Dengan berbagai tantangan tersebut, dapat dipahami bahwa meskipun Indonesia memiliki potensi produksi buah yang besar dan melimpah, negara ini belum mampu menempatkan diri sebagai eksportir utama buah di tingkat global.

Kemudian, seiring dengan berdirinya Java Fresh, dapatkah Anda menjelaskan latar belakang awal pendiriannya? Selain itu, inovasi apa saja yang telah dilakukan?
Awal mula Java Fresh sebenarnya berangkat dari obrolan sederhana. Kami mempertanyakan, mengapa Indonesia yang memiliki begitu banyak sumber daya justru masih memiliki import mentality. Mengapa kita selalu berpikir membawa produk dari luar ke dalam negeri, alih-alih mengembangkan apa yang berlimpah di dalam negeri untuk kemudian diekspor.
Dalam proses pencarian itu, kami melihat salah satu contoh nyata, yaitu buah segar. Muncul pertanyaan, mengapa buah lokal sering kali tidak terlihat menarik, tidak seragam bentuk dan warnanya, serta kalah dari sisi kemasan dibandingkan buah impor. Padahal, Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah.
Dari situ, kami mencoba menguji asumsi tersebut dengan turun langsung ke lapangan, masuk ke desa-desa, dan melihat kondisi sebenarnya. Kebetulan, saya memiliki latar belakang jurnalis dan terbiasa melakukan peliputan, begitu juga dengan partner saya. Dari hasil pengamatan, kami menemukan bahwa kebun di Indonesia sebenarnya banyak, tetapi tidak semuanya terawat dengan baik.
Selanjutnya, untuk meningkatkan nilai produk, kami melihat pasar ekspor sebagai peluang utama. Pasar ekspor memiliki standar kualitas yang jelas serta nilai minimum yang dihargai. Oleh karena itu, sejak awal Java Fresh berfokus pada pembukaan pasar ekspor.
Konsekuensinya, sistem produksi juga harus dibenahi. Kami mulai dari tingkat petani dengan memberikan pelatihan mengenai grading dan penyortiran buah. Dengan demikian, petani memahami bahwa kualitas yang lebih baik akan menghasilkan nilai jual yang lebih tinggi, sesuatu yang belum sepenuhnya terbentuk di pasar domestik.
Dalam proses ini, kami juga bekerja sama dengan para pengepul yang sebelumnya dikenal dalam sistem ijon. Kami melihat bahwa persoalannya bukan pada individu, melainkan pada sistem yang terbentuk. Di desa, pengepul memiliki fungsi penting, mulai dari akses pembiayaan hingga pengumpulan hasil panen dari petani kecil. Karena itu, sistemnya yang kami ubah. Mekanisme pembelian di awal diganti menjadi sistem komisi, sehingga pengepul tetap berperan dalam pengumpulan, sementara petani mendapatkan nilai yang lebih optimal berdasarkan kualitas produknya.
Tahap berikutnya adalah pengolahan pascapanen, khususnya packing. Secara umum, lebih mudah membangun fasilitas di kota besar karena infrastruktur lebih lengkap. Namun, kami justru memilih pendekatan sebaliknya, yaitu membangun packing house di desa. Dengan cara ini, kami dapat membuka lapangan kerja di wilayah pedesaan, terutama bagi perempuan yang memiliki keterbatasan untuk bekerja di luar daerah karena tanggung jawab domestik.
Saat ini, sekitar 70% tenaga kerja di packing house kami adalah perempuan. Fasilitas ini tersebar di desa-desa bukan di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya. Seluruh proses, mulai dari pengolahan hingga pengemasan akhir, dilakukan di desa sehingga nilai tambah tetap berada di tingkat lokal, meskipun produk akhirnya dipasarkan hingga ke supermarket di Eropa.
Dapatkah Anda menjelaskan secara singkat terkait kegiatan riset dan pengembangan (R&D) yang dilakukan?
Di Java Fresh, R&D kami dibagi menjadi dua bagian, yaitu pre-harvest dan post-harvest.
Untuk pre-harvest, fokusnya ada di kebun. Bagaimana memastikan kebun dalam kondisi baik, bebas dari hama, tetapi tetap menggunakan cara-cara yang natural.
Sementara itu, post-harvest berkaitan dengan shelf-life atau masa simpan produk. Di tahap ini, kami mengembangkan berbagai metode, mulai dari cara penyimpanan hingga teknik pengepakan, untuk memastikan buah memiliki umur simpan yang lebih panjang.

Dari situ, kami mengembangkan teknologi yang merupakan kombinasi dari beberapa aspek. Pertama, dari sisi packaging, kami membuat organic coating sendiri. Kemudian, kami juga mengatur metode penyimpanan serta komposisi gas dalam ruang penyimpanan. Jadi, ini adalah kombinasi dari berbagai pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan daya tahan produk secara keseluruhan.
Berapa lama daya tahan buah tersebut, khususnya untuk kebutuhan ekspor?
Saat ini, untuk komoditas seperti manggis, daya tahannya umumnya berkisar antara 7 hingga 14 hari. Namun, berdasarkan hasil riset yang telah dilakukan, masa simpan tersebut berhasil diperpanjang hingga sekitar 35 hari. Bahkan, pada tahap uji laboratorium (lab scale), target daya tahan hingga 45 hari sebenarnya telah tercapai, meskipun untuk penerapan pada skala industri (industrial scale) masih dalam tahap pengujian lebih lanjut.
Terkait dengan paten, saat ini kami sedang dalam proses pengajuan paten, baik di Indonesia maupun di tingkat internasional, termasuk di Eropa. Langkah ini juga dilakukan untuk memastikan bahwa teknologi yang dikembangkan dapat memenuhi standar yang berlaku di pasar Eropa.
Kami memandang proses paten ini sebagai peluang untuk meningkatkan kredibilitas produk Indonesia. Paten, terutama pada tingkat global, menunjukkan bahwa teknologi tersebut merupakan inovasi yang belum pernah dikembangkan sebelumnya di negara lain.
Untuk kawasan Eropa dan Asia, sebenarnya pasar ekspor utama Java Fresh saat ini paling banyak berada di wilayah mana?
Untuk pasar Eropa, sebagian besar ekspor kami masih terfokus di kawasan Eropa Barat. Produk kami dipasarkan melalui berbagai kanal, mulai dari jaringan supermarket hingga distributor dan wholesaler. Dengan demikian, Eropa Barat saat ini menjadi fokus utama dalam pengembangan pasar ekspor.
Sementara itu, untuk kawasan Asia, kontribusinya masih relatif terbatas. Namun, jika dilihat dari potensi secara keseluruhan, China merupakan pasar yang sangat besar, baik dari sisi jumlah penduduk maupun kekuatan ekonominya. Selain itu, faktor kedekatan geografis dengan Indonesia juga menjadi keunggulan tersendiri.
Kami juga telah melakukan ekspor ke beberapa negara di kawasan Asia, seperti Thailand dan Singapura, meskipun volumenya masih belum sebesar pasar di Eropa Barat.
Bagaimana Java Fresh menjembatani kesenjangan antara kondisi petani di lapangan dengan tuntutan global?
Yang pertama dan paling utama adalah kemauan dari petaninya. Itu kunci awal, karena sistem kami berbasis kemitraan. Kami tidak memiliki kebun sendiri dalam skala besar, sehingga seluruh proses bergantung pada petani.
Kami juga menunjukkan kepada petani seperti apa kondisi produk di pasar tujuan. Di sana, buah Indonesia tidak hanya bersaing dengan sesama buah lokal, tetapi juga dengan buah lain seperti apel, ceri, atau pir yang tampil dengan kualitas visual sangat baik. Dari situ, petani bisa memahami standar yang dituntut, lalu bersama-sama kami menyusun langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mencapainya.

Bagaimana Java Fresh membangun model bisnis yang tetap tangguh di tengah berbagai ketidakpastian?
Dampak perubahan iklim itu sangat besar dan sangat terasa di lapangan. Salah satu contohnya, selama ini kami hampir tidak pernah menghentikan ekspor buah. Sepanjang tahun selalu ada panen, misalnya manggis. Kalau tidak dari Sumatra, bisa dari Jawa atau Bali.
Namun, tahun lalu situasinya berbeda. Kami mengalami yang disebut wet summer, di mana hujan turun hampir sepanjang tahun. Akibatnya, di beberapa daerah bunga manggis tidak muncul, sehingga musim panennya terputus. Dampaknya, ada sekitar satu hingga dua bulan di mana kami sama sekali tidak memiliki pasokan manggis. Ini menjadi sinyal yang sangat nyata terkait dampak perubahan iklim.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, kami berupaya membangun sistem yang lebih berkelanjutan. Salah satu pendekatan utama adalah mendorong praktik pertanian polikultur, bukan monokultur. Secara efisiensi, monokultur memang lebih mudah karena hanya mengelola satu jenis tanaman. Namun, dari sisi ketahanan, polikultur jauh lebih kuat.
Dengan polikultur, jika satu jenis tanaman terdampak hama atau kondisi tertentu, tanaman lain masih dapat bertahan atau bahkan membantu menyeimbangkan ekosistem. Ada kemungkinan tanaman lain lebih dulu terdampak atau justru memiliki kemampuan alami untuk menahan hama. Pola seperti ini yang kami nilai penting untuk dipertahankan.
Selain itu, kami juga mendorong penggunaan metode organik dalam pengelolaan tanah. Memang, penggunaan bahan kimia memberikan hasil yang lebih cepat terlihat. Namun, pendekatan organik membuat tanah menjadi lebih sehat dalam jangka panjang. Tanah yang sehat mampu menjaga nutrisi dengan lebih baik, sehingga kebutuhan pupuk bisa berkurang dan daya tahan tanaman meningkat.
Dengan kondisi tanah yang baik, “imunitas” tanaman juga menjadi lebih kuat. Lingkungan di sekitar tanaman ikut berperan dalam menjaga keseimbangan tersebut. Kami juga memperkenalkan berbagai praktik lain, seperti perbaikan struktur tanah untuk mengurangi risiko longsor dan meningkatkan daya serap air.
Dalam praktik di lapangan, sejauh mana petani bersedia mengadopsi sistem polikultur daripada monokultur?
Ya, dinamika seperti itu juga ada. Ada kasus di mana pohon ditebang, lalu lahannya dialihkan untuk tanaman lain. Karena itu, bagi kami kuncinya adalah bagaimana pohon yang jumlahnya terbatas tetap bisa menghasilkan economic of scale, sehingga lebih menguntungkan jika dipertahankan dibandingkan dijual sebagai kayu.
Artinya, nilai dari pohon tersebut harus benar-benar terlihat. Ketika petani melihat bahwa menjaga pohon memberikan manfaat ekonomi yang jelas, mereka akan terdorong untuk mempertahankannya. Selain itu, keberadaan pohon tersebut juga ikut menjaga ekosistem kebun secara keseluruhan.
Baca juga:

Sebagian besar kebun di Indonesia sebenarnya merupakan kebun berbasis hutan, yang secara alami sudah menerapkan sistem polikultur. Tantangannya adalah bagaimana memastikan petani mau terus menjaga kebun tersebut. Pada akhirnya, jika hutan atau kebun tidak memberikan nilai ekonomi, sulit bagi petani untuk mempertahankannya. Karena itu, kami berupaya memastikan bahwa setiap pohon memiliki nilai yang jelas bagi petani.
Selain manggis, kami juga mulai menyerap berbagai jenis buah lain dari petani, meskipun volumenya belum sebesar manggis. Tujuannya agar dalam satu kebun terdapat beberapa komoditas yang bisa dipanen dan diserap pasar. Dengan demikian, kebun tersebut dapat menghasilkan nilai ekonomi yang lebih optimal, terutama melalui pasar ekspor yang umumnya memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan pasar domestik.
Bagaimana Java Fresh mengelola fluktuasi permintaan maupun perubahan kebijakan dari negara tujuan?
Salah satu alasan mengapa Java Fresh mengekspor ke sekitar 25 negara bukan semata-mata untuk memperbanyak tujuan ekspor, tetapi sebagai bagian dari strategi diversifikasi risiko. Dengan memiliki banyak pasar, kami bisa menjaga keseimbangan. Ketika ada satu negara yang permintaannya menurun atau menghadapi hambatan regulasi, masih ada pasar lain yang bisa menyerap produk. Itu sebabnya kami tidak bergantung pada satu negara saja, meskipun mungkin ada negara yang nilai perdagangannya lebih besar dibandingkan yang lain.
Strategi ini terbukti penting, misalnya saat pandemi COVID-19. Ketika satu negara menerapkan lockdown, negara lain masih membuka pasar, bahkan permintaan buah cenderung meningkat karena masyarakat mencari produk yang lebih sehat. Namun, pendekatan ini memang menuntut fleksibilitas dan pemantauan pasar yang intensif. Tidak bisa hanya mengandalkan satu pasar yang stabil. Kami harus terus mengikuti perkembangan, karena banyak faktor yang berada di luar kendali perusahaan, seperti kebijakan pemerintah maupun situasi politik di negara tujuan.
Daerah mana yang saat ini paling banyak menjadi mitra kerja sama Java Fresh?
Sejauh ini, basis utama masih berada di Jawa. Hal ini kembali lagi pada faktor infrastruktur dan kedekatan dengan port of export. Dengan kondisi tersebut, buah dengan kualitas yang sama dari Jawa dan Sumatra akan memiliki perbedaan harga. Buah dari Jawa cenderung lebih murah karena biaya logistik dan pengemasan lebih rendah.

Konsekuensinya, implementasi operasional juga banyak berpusat di Jawa. Namun, pasokan tetap fleksibel. Ketika Jawa sedang tidak dalam masa panen, maka sumber buah akan beralih ke Sumatra.
Dalam kondisi tertentu, meskipun biaya dari Sumatra lebih tinggi, produk tetap bisa diserap market. Hal ini biasanya terjadi ketika pasokan dari daerah lain atau bahkan negara lain sedang terbatas, sehingga permintaan tetap ada meskipun harga relatif lebih tinggi.
Apakah ada kisah keberhasilan petani yang bisa dibagikan?
Salah satu contohnya adalah pengalaman bersama Pak Iim, seorang petani yang telah bergabung sejak awal. Pada mulanya, beliau hanya memiliki sekitar 40 pohon manggis yang berasal dari kebun warisan orang tuanya. Saat itu, beliau juga bekerja di industri rajutan, sementara kebun tersebut dikelola dengan sistem ijon.
Dari sekitar 40 pohon tersebut, penghasilan yang diperoleh mencapai kurang lebih Rp40 juta per tahun. Setelah bergabung dan mulai menjual buah berdasarkan kualitas khususnya kategori super, hasilnya berubah.
Kami melihat dua hal penting. Pertama, pendapatan petani meningkat secara nyata. Kedua, kebun-kebun tetap terjaga dan produktif, tidak beralih fungsi menjadi bangunan atau penggunaan lain.
Jika berbagai tantangan mulai dari logistik, sertifikasi, hingga pembiayaan dapat diatasi, seberapa besar peluang Indonesia untuk menjadi pemain utama dalam ekspor buah dunia?
Negara sebesar dan seluas ini seharusnya memiliki visi menjadi lumbung pangan dunia. Menurut kami, itu adalah mimpi yang wajar. Kita sering mengatakan bahwa mimpi harus setinggi mungkin, sehingga jika pun tidak tercapai sepenuhnya, hasilnya tetap signifikan. Jika mimpi hanya sebatas memenuhi kebutuhan sendiri, maka akan sulit untuk mencapai posisi sebagai lumbung pangan dunia. Oleh karena itu, menurut saya, mimpi tersebut harus sebesar itu, dan Indonesia memiliki potensi ke arah sana.
Alasannya, produksi kita sebenarnya sudah besar. Kita termasuk dalam sepuluh besar dunia. Artinya, produksi pangan, termasuk buah, sudah sangat signifikan. Bahkan, kita tidak perlu membuka lahan baru. Pohon-pohon yang ada saat ini, yang mungkin produktivitasnya masih sekitar 20%–30%, jika ditingkatkan saja, kita sudah bisa meningkatkan produksi hingga tiga sampai empat kali lipat.

Dari sisi produksi, kekuatan Indonesia terletak pada luas lahan. Selain itu, karena bentuknya kepulauan, musim panen dapat bergeser dari satu daerah ke daerah lain. Itulah sebabnya kita dapat memiliki manggis sepanjang tahun, bukan karena satu pohon berbuah terus-menerus, melainkan karena musimnya berpindah dari Aceh ke Palembang dan seterusnya. Bahkan, cakupan ini belum mencapai seluruh wilayah Indonesia, seperti Papua.
Hal ini merupakan kekayaan yang tidak dimiliki oleh banyak negara lain. Tidak ada negara tropis dengan luas wilayah dan karakter kepulauan seperti Indonesia. Bahkan, Indonesia merupakan the biggest archipelago in the world. Ini adalah keunggulan alam yang tidak dimiliki negara lain saat ini.
Selanjutnya, pasar global saat ini semakin sadar akan pentingnya kesehatan dan kualitas pangan. Konsumen semakin menginginkan produk organik dan bersedia membayar lebih untuk produk yang aman. Indonesia, dengan tanah yang sangat subur, sebenarnya memiliki peluang besar karena praktik pertanian kita relatif masih konvensional dan alami. Kita tidak memerlukan terlalu banyak intervensi kimia untuk memastikan tanaman tumbuh dengan baik. Secara alami pun tanaman dapat tumbuh optimal.
Kami memiliki mimpi agar Indonesia tidak lagi dikenal sebagai negara importir atau sekadar produsen buah eksotik, tetapi benar-benar sebagai negara produsen utama.
Ketika orang berbicara tentang buah, mereka akan langsung mengingat Indonesia.
Dan kami melihat bahwa hal tersebut mungkin. Sepuluh tahun lalu, ketika kami mulai Java Fresh dan mengikuti pameran, saat kami memperkenalkan manggis dari Indonesia, banyak yang belum mengetahui. Bahkan ada yang mengira manggis berasal dari Malaysia, karena Indonesia belum dikenal.
Namun saat ini, jika melihat di rak pasar, terutama di Eropa, sebagian besar manggis justru berasal dari Indonesia, meskipun bukan hanya dari kami. Bahkan ada yang mengatakan ingin mencoba impor dari negara lain yakni Kolombia, karena pasar sudah didominasi oleh Indonesia. Ini menunjukkan perubahan yang dapat terjadi dalam waktu 10 tahun.
Ke depan, kami percaya dalam 10 tahun berikutnya ceritanya akan jauh lebih besar, terutama dengan harapan adanya dukungan teknologi baru dan pengiriman melalui jalur laut, sehingga buah-buahan Indonesia dapat semakin dikenal secara global.