Kerjasama Two Countries, Twin Parks (TCTP) antara Indonesia dan Tiongkok merupakan langkah strategis kedua negara untuk membangun konektivitas kawasan industri secara terintegrasi.
Melalui skema ini, kawasan industri di Indonesia dan Tiongkok saling terhubung dalam satu ekosistem produksi sehingga dapat memperkuat rantai pasok global, meningkatkan nilai tambah industri, serta mendorong investasi yang berorientasi pada hilirisasi.
Sebelumnya, Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Provinsi Fujian Republik Rakyat Tiongkok (RRT) menyepakati untuk mendorong penyusunan daftar potensi proyek dan sektor prioritas, sebagai dasar pengembangan kerja sama TCTP.
TCTP adalah inisiatif strategis antara Indonesia dan Tiongkok untuk memperkuat kolaborasi rantai pasok dan hilirisasi industri. Implementasi program TCTP bertujuan untuk memperkuat kerja sama ekonomi melalui peningkatan perdagangan, investasi, dan pengembangan industri.
Dalam kerangka program TCTP, Indonesia dan RRT telah membangun berbagai kerja sama antara kawasan ekonomi dan industri, Pemerintah Daerah, serta pelaku usaha kedua negara. Hingga saat ini, sebanyak 30 Nota Kesepahaman atau MoU telah ditandatangani dengan estimasi nilai investasi sekitar USD2 miliar atau Rp37,1 triliun.
Salah satu proyek kerjasama yang akan dimulai adalah kerjasama KEK di Batang, Jawa Tengah. “Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, pengembangan KEK Industropolis Batang yang telah diresmikan sejak 20 Maret 2025, sebagai Shenzhen-nya Indonesia, diharapkan dapat segera diwujudkan. Salah satunya melalui percepatan implementasi berbagai proyek konkret dalam kerangka program TCTP,” kata Menteri Airlangga Hartarto saat bertemu Wakil Gubernur Pemerintah Provinsi Fujian RRT H.E. Zhao Zenglian, di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Sebagai akselerator agenda hilirisasi
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti mengatakan, TCTP menjadi instrumen penting dalam mendukung agenda hilirisasi yang tengah dijalankan pemerintah Indonesia. Dengan keterhubungan antar kawasan industri, Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga menjadi basis pengolahan dan manufaktur yang menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
“Model kerja sama ini dinilai mampu menarik investasi baru pada sektor-sektor strategis seperti mineral, petrokimia, energi baru dan terbarukan, serta industri pangan dan perikanan,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (27/7).
Ia menuturkan hubungan kerja sama tersebut menunjukkan perubahan dinamika pembangunan ekonomi antara Indonesia dan Tiongkok. Pada awal reformasi ekonomi Tiongkok, negara tersebut banyak mempelajari konsep pengembangan kawasan ekonomi khusus dari berbagai negara, termasuk pengalaman Indonesia melalui Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam.

Posisi Batam yang dekat dengan Singapura saat itu menjadi salah satu referensi dalam membangun kawasan industri yang mampu menarik investasi asing dan mendorong aktivitas ekspor.
Seiring perjalanan waktu, Tiongkok berhasil mengembangkan Special Economic Zones (SEZ) seperti Shenzhen menjadi pusat manufaktur dan inovasi kelas dunia. Keberhasilan tersebut menjadikan Tiongkok sebagai salah satu negara dengan pengalaman paling maju dalam pengelolaan kawasan industri dan pembangunan rantai pasok yang terintegrasi.
Kini, melalui skema TCTP, Indonesia berkesempatan memanfaatkan pengalaman tersebut untuk mempercepat transformasi industri nasional dan meningkatkan daya saing kawasan industri dalam negeri.
“Kerja sama TCTP juga mencerminkan hubungan yang semakin setara dan saling menguntungkan. Jika pada masa lalu Tiongkok banyak belajar dari pengalaman Indonesia dan negara lain dalam membangun kawasan ekonomi, kini kedua negara saling melengkapi berdasarkan keunggulan masing-masing,” ungkap dia.
Indonesia menawarkan sumber daya alam yang melimpah, pasar domestik yang besar, serta potensi hilirisasi, sementara Tiongkok memiliki kekuatan pada teknologi, pembiayaan, kapasitas manufaktur, dan jaringan rantai pasok global.
Ke depan, keberhasilan implementasi TCTP akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan, kemudahan berusaha, pembangunan infrastruktur, serta penguatan kualitas sumber daya manusia.
Dengan dukungan regulasi yang kondusif dan sinergi antar pemangku kepentingan, kerja sama ini berpotensi menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat manufaktur dan hilirisasi di kawasan Asia, sekaligus memperkuat posisi negara dalam rantai pasok global yang semakin kompetitif.
Pengembangan kawasan industri dua negara
Pemerintah Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) terus memperkuat implementasi kerjasama “Two Countries, Twin Parks” (TCTP) sebagai salah satu instrumen strategis penguatan investasi, perdagangan, dan pengembangan kawasan industri kedua negara.
Dalam hal ini telah diselenggarakan Tripartite High-Level Meeting yang dilaksanakan bersama oleh kedua negara dengan pimpinan Kementerian Perdagangan RRT (Ministry of Commerce/MOFCOM) dan Pemerintah Provinsi Fujian, sementara Delegasi Indonesia dipimpin oleh Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ali Murtopo Simbolon.
Pada agenda ini juga diadakan kegiatan business matching dan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara pelaku usaha Indonesia dan Tiongkok. Agenda ini menjadi rangkaian pelaksanaan "Training Seminar on the China-Indonesia Two Countries Twin Parks Cooperation" yang diselenggarakan di Provinsi Fujian pada 11-24 Mei 2026 lalu.
“Dalam Tripartite High-Level Meeting itu, Pemerintah Indonesia, Kementerian Perdagangan RRT (MOFCOM), dan Pemerintah Provinsi Fujian mengevaluasi perkembangan implementasi TCTP sekaligus menyepakati langkah-langkah percepatan program prioritas kerjasama kedua negara,” ungkap Ali dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (27/7/2026).
Kesepakatan tersebut meliputi percepatan penyelesaian proyek unggulan (champion project) kerja sama antara China State Construction Engineering Corporation (CSCEC) dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), perluasan cakupan kawasan TCTP, percepatan finalisasi Roadmap TCTP 2026, reaktivasi contact point atau window TCTP di Fuzhou, peningkatan akses pasar produk ekspor Indonesia ke Tiongkok, serta penguatan konektivitas logistik dan pariwisata.

Proyek konkret untuk dorong investasi
Ali menjelaskan rangkaian kegiatan ini menegaskan komitmen kedua negara untuk mentransformasikan kerangka kerja sama TCTP menjadi proyek-proyek konkret yang mampu mendorong investasi, perdagangan, pengembangan kawasan industri, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan konektivitas ekonomi Indonesia-Tiongkok secara berkelanjutan.
Pertemuan juga membahas peluang pembukaan akses pasar bagi komoditas unggulan Indonesia, termasuk durian segar dan kelapa, penjajakan rute pelayaran langsung antara Fujian dan kawasan TCTP Indonesia, serta pengembangan inisiatif Twin Parks plus Tourism Economy untuk memperkuat sinergi kawasan industri dan pariwisata.
Rangkaian kegiatan ini juga menghasilkan capaian konkret berupa penandatanganan 10 MoU dalam acara China-Indonesia TCTP Economic and Trade Cooperation Matchmaking Conference yang diselenggarakan di Fujian Fuyao University of Science and Technology, Fuzhou, pada 15 Mei 2026.
Penandatanganan dilakukan oleh pelaku usaha dan institusi akademik dari Indonesia dan Tiongkok dengan total nilai komitmen investasi baru sekitar USD 500 juta.
Sepuluh MoU tersebut mencakup berbagai sektor strategis, antara lain biomedis dan uji klinis, keamanan data dan kecerdasan artifisial (AI), perdagangan digital, manufaktur peralatan rumah tangga, kesehatan dan alat kesehatan, industri herbal, mobilitas kendaraan listrik, manufaktur sepeda motor listrik, elektronik konsumen, serta kerjasama akademik dan riset.
Dengan tambahan komitmen investasi tersebut, total komitmen yang berhasil dihimpun dalam kerangka kerja sama TCTP kini mencapai kurang lebih USD10,5 miliar, melanjutkan capaian komitmen investasi sebesar USD10 miliar yang telah diumumkan sebelumnya pada Februari 2026 di Jakarta.
Buka peluang bisnis baru
Dihubungi terpisah, Dewan Pakar Apindo Danang Girindrawardana mengatakan kerjasama TCTP membuka peluang baru bagi kalangan pengusaha Indonesia untuk memperluas jaringan bisnis dan meningkatkan daya saing di pasar internasional.
Melalui keterhubungan kawasan industri di Indonesia dan Tiongkok, pelaku usaha dapat lebih mudah mengakses rantai pasok global, memperoleh bahan baku maupun teknologi, serta menjalin kemitraan dengan perusahaan-perusahaan yang memiliki kapasitas produksi dan distribusi berskala internasional.
Kondisi ini menciptakan peluang bagi dunia usaha untuk memperluas pasar ekspor sekaligus meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.
“Kehadiran investasi tersebut tidak hanya memperbesar kapasitas produksi, tetapi juga mendorong alih teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar dapat terintegrasi ke dalam rantai pasok industri yang lebih modern dan kompetitif,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (27/7/2026).
Dengan memanfaatkan peluang yang ditawarkan TCTP, pengusaha Indonesia memiliki kesempatan untuk bertransformasi dari sekadar pemasok bahan baku menjadi produsen barang bernilai tambah tinggi.
Sinergi antara kekuatan sumber daya Indonesia dengan teknologi, modal, dan jaringan pasar Tiongkok diharapkan mampu menciptakan ekosistem industri yang lebih efisien, meningkatkan daya saing nasional, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu basis produksi dan investasi penting di kawasan Asia.