Indonesia dan China terus membangun dan memperkuat kemitraan strategis yang memberikan manfaat bagi kedua negara. Kedua negara pun menginginkan hubungan kerja samanya berkembang dan lebih seimbang seiring berakhirnya Rencana Aksi Penguatan Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-China 2022-2026.
Pemerintah pun menyodorkan empat bidang kerja sama yang paling praktis dan menjanjikan untuk dilakukan oleh kedua belah pihak. Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (RI) Santo Darmosumarto mengatakan, memasuki babak baru ini, pemerintah membidik peluang kerja sama terkait ekonomi hijau dan hilirisasi mineral kritis, ekonomi digital, ketahanan pangan dan energi, hingga peningkatan kapasitas industri.
“Indonesia dan Tiongkok dapat bersama-sama menjadi pilar masa depan energi bersih melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan baterai, daur ulang baterai, manufaktur panel surya, serta investasi energi terbarukan,” kata Santo dalam China-Indonesia Think Tank and Media Forum yang digelar di Jakarta Pusat, Rabu (24/06/2026).
Bangun ekosistem digital usaha mikro dan kecil
Sebagai pasar digital terbesar di dunia, Indonesia dan China juga dapat bekerja sama untuk mengembangkan infrastruktur digitalnya, ekosistem perdagangan elektronik yang memberdayakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), teknologi finansial, hingga mengenai penerapan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang bertanggung jawab.
Bidang ketahanan pangan dan energi juga sangat menjanjikan dan berpotensi menghadirkan dampak manfaat yang signifikan untuk kedua negara. “Kita dapat memperkuat ketahanan melalui penelitian bersama, pengembangan teknologi dan investasi, memperluas akses pasar bagi produk pertanian dan perikanan Indonesia, serta memperdalam kerja sama dalam penyediaan energi yang tangguh dan terdiversifikasi,” jelasnya.
Investasi pun turut didorong pada sektor manufaktur dan memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan dan pelatihan sehingga kedua negara akan memiliki kapasitas industri yang meningkat.
Santo menegaskan, kemitraan dengan Chna ini bagi Indonesia merupakan bentuk kemitraan yang tidak hanya mendalam dan komprehensif, tetapi juga tangguh dan adaptif dalam menghadapi berbagai dinamika global yang terjadi. Kerja sama antarnegara ini pun dinilai perlu berkembang lebih jauh lagi.
“Dalam bidang perdagangan, Indonesia menginginkan struktur perdagangan yang lebih seimbang, yaitu memberikan akses lebih besar bagi produk bernilai tambah Indonesia, produk pertanian, perikanan, serta UMKM ke pasar Tiongkok. Kemitraan yang setara seharusnya mengurangi ketimpangan, bukan memperkuatnya,” tegasnya.
Indonesia juga menyambut baik investasi dari China yang pada akhirnya membangun keterampilan tenaga kerja lokal, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan membantu industri Indonesia naik ke rantai nilai yang lebih tinggi.

Belajar strategi pendidikan vokasi
Di kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Stella Christie menjelaskan, dari sisi dunia pendidikan, kerja sama dengan industri di China pun turut memberikan manfaat untuk kedua negara.
Setidaknya, ada tiga strategi yang telah disiapkan mulai dari pelatihan kejuruan yang sesuai dengan industri, pengembangan bakat dengan mengirimkan siswa terbaik Indonesia ke China, dan kolaborasi antara akademisi-industri dalam skala besar untuk pertumbuhan perekonomian yang saling menguntungkan.
Pihak pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi saat ini juga sudah menjalin kerja sama dengan universitas ternama di China dan para pelaku industrinya melalui program beasiswa dan pelatihan.
“Jadi yang sudah kita lakukan itu bekerja sama dengan industri dari Tiongkok yang memberikan beasiswa untuk mahasiswa kita di pendidikan vokasi untuk mereka bisa satu tahun di politeknik Indonesia, satu tahun di politeknik Tiongkok, dan satu tahun magang di industrinya,” kata Stella.
Ketika pelajar ini lulus, nantinya mereka langsung bisa dipekerjakan oleh industrinya. Program ini pun sangat diminati oleh pelaku industri lantaran menciptakan solusi yang menguntungkan.
“Karena ini menjadikan mereka memiliki tenaga kerja yang terampil yang bisa mereka pekerjakan di Indonesia tanpa harus mendatangkan tenaga kerja dari China yang biayanya jauh lebih mahal, jadi ini win-win solution,” ujarnya.
Pengembangan SDM ini merupakan suatu hal yang penting dilakukan oleh China. Oleh karena itu, Presiden Prabowo menginstruksikan kementerian untuk mengirimkan pelajar-pelajar Tanah Air terbaiknya untuk belajar di China. Kolaborasi pun kemudian dilakukan dengan Tsinghua University.
“Kita juga mengkhususkan lulusan Sekolah Garuda itu bisa ke universitas top seperti Tsinghua University yang memberikan kita 50 kuota walaupun tetap ditentukan oleh mereka, jadi mereka yang menentukan ini masuk atau tidak pelajarnya, tapi sudah diberikan jalur khusus. Ini tidak pernah terjadi dalam sejarah bahwa ada jalur khusus dari universitas paling top di Asia dan nomor 12 di dunia ini,” ungkapnya.
Kerjasama akademisi industri fundamental
Ke depannya, pemerintah akan terus meningkatkan skala kerja sama lebih besar lagi dan menguatkan kolaborasi antara akademisi dengan industri di bidang-bidang yang fundamental.
Menurut Stella, masih banyak hal yang bisa dipelajari dari China untuk kemudian dimanfaatkan demi pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia. Apalagi dijelaskan olehnya, industri nasional yang berbasis teknologi saat ini di dalam negeri masih sangat sedikit sekali dibandingkan dengan China.
“Science and technology cluster dari China itu menyumbang 13,4% dari GDP mereka, hanya dengan menggunakan 2,4% dari lahan konstruksi negara. Ini bagi seorang pengambil kebijakan, bagi pemerintah, ini suatu yang sangat diinginkan, kita ingin menjadi seperti itu,” harap Stella.

Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong, juga menilai hal yang sama, bahwa kerja sama yang dilakukan oleh Indonesia dan China ini sangat menguntungkan untuk kedua negara. Kerja sama yang dilakukan selama ini menurutnya selalu bersifat dua arah dan saling menguntungkan sehingga terus berkembang ke arah yang lebih baik.
“Kerja sama kita telah bertransformasi dari konektivitas keras di bidang infrastruktur menuju konektivitas lunak dalam aturan dan standar serta konektivitas hati ke hati antarmasyarakat,” kata Wang.
Saat ini, China disebut telah mengalami perkembangan dengan pesat dan tengah melangkah ke jalur pembangunan yang modern. Meski begitu dalam pembangunannya, China tetap peduli dengan dunia dan negara-negara tetangga, apalagi dengan situasi internasional yang penuh dengan dinamika seperti saat ini.
Berada di titik awal yang baru, Wang yakin bahwa hubungan antara China dan Indonesia ke depannya akan terus berkembang, seiring dengan meningkatnya kepercayaan politik antarnegara dan kerja sama praktik yang terus meluas.
“Di masa mendatang, Tiongkok akan terus bekerja sama dengan Indonesia dan mitra global lainnya, memberikan dukungan kuat bagi negara berkembang untuk mengeksplorasi jalan mereka sendiri menuju modernisasi,” sambungnya.
Di kesempatan yang sama, Dosen Senior Hubungan Internasional Universitas Islam Internasional Indonesia Mochammad Faisal Karim menilai, jika melihat Rencana Lima Tahun ke-15 China dan juga visi Indonesia Emas 2045, sebenarnya kedua negara tengah mengarah ke arah yang sama.
China ingin memperkuat posisi mereka dalam rantai nilai global, dengan membangun apa yang disebut sebagai kekuatan produktif berkualitas baru. Untuk mewujudkannya, mereka mendorong kemandirian teknologi, meningkatkan kapasitas domestik, memperkuat rantai pasok, hingga mengamankan pasokan bahan baku strategis.
“Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Jika kita melihat visi Indonesia Emas 2045, kita dapat melihat bahwa Indonesia juga ingin menguasai rantai nilai. Pada dasarnya, kita ingin mempertahankan nilai tambah tersebut di dalam negeri,” tambah Faisal.
Kesamaan ini pun berpotensi menimbulkan ketegangan dalam kebijakan industri kedua negara, di mana China ingin menjadi pusat industri global, tetapi Indonesia ingin menciptakan nilai tambah yang lebih besar di wilayah kedaulatannya sendiri. Maka dari itu, Faisal mendorong solusi yang menguntungkan bagi kedua negara.
Jika dibandingkan dengan Amerika Serikat, Indonesia menurutnya lebih baik untuk memilih China sebagai mitra lantaran lebih dapat diprediksi dan relatif aman. Indonesia pun dapat bekerja sama dengan China dalam hal hilirisasi mineral kritis, namun pada saat yang bersamaan tetap menjadikan Amerika Serikat sebagai pasar utama.
“Akan tetapi, ruang untuk melakukan strategi tersebut kini semakin menyempit. Saya rasa Indonesia perlu mulai memikirkan bagaimana keterbatasan geoekonomi saat ini akan membentuk hubungan Indonesia-China,” tegasnya.
Indonesia menurutnya perlu memikirkan kembali apakah kebijakan hilirisasi dan sumber daya saat ini yang diterapkan sudah cukup untuk menarik modal asing dari China untuk berinvestasi secara jangka panjang di Indonesia.
“Namun yang lebih penting lagi, bagaimana kita tidak hanya menarik modal asing, tetapi juga memperoleh transfer teknologi serta meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” lanjut Faisal.

Pencapaian hubungan yang saling percaya dan menguatkan
Sementara itu, Direktur Center for Southeast Asian Studies National Institute of International Strategy Xu Liping mengatakan, dari seluruh kerja sama yang dilakukan antara Indonesia dan China ini sudah menghasilkan sejumlah pencapaian seperti kepercayaan politik yang semakin mendalam, bank sentral kedua negara yang telah beberapa kali memperbarui perjanjian, hingga terciptanya ketahanan pangan.
Salah satu contoh pencapaiannya adalah di bidang ekonomi biru dan perikanan, di mana kedua negara telah memulai kembali kerja sama rantai industri perikanan secara menyeluruh serta mengimplementasikan proyek percontohan Lumbung Ikan Nasional.
“Hal ini bertujuan untuk membantu Indonesia mencapai ketahanan pangan dan pemanfaatan sumber daya perikanan yang berkelanjutan,” ucap Xu.
Ke depannya, salah satu hal yang didorong untuk ditingkatkan kerja samanya adalah mengenai hilirisasi industri. Kerja sama ini menurut Xu juga merupakan kerja sama yang menjanjikan untuk dilakukan.
“Jalur intinya adalah transisi dari pengembangan sumber daya menuju integrasi rantai industri secara menyeluruh dan lokalisasi yang mendalam. Dari segi kedalaman industri, kerja sama kini meluas dari penambangan bijih nikel ke seluruh rantai nilai, termasuk bahan baterai dan manufaktur kendaraan utuh,” katanya.
Dari segi peningkatan model, kerja sama yang dilakukan sedang bertransformasi dari yang tadinya saling melengkapi sumber daya tradisional menjadi integrasi sistematis berbasis teknologi investasi dan SDM.