Strategi Emiten Energi Hadapi Gejolak Ketidakpastian Global dan Pelemahan Rupiah
Dua emiten yang memiliki eksposur terhadap perdagangan energi dan bahan kimia, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dan PT Lautan Luas Tbk (LTLS), menyiapkan strategi berbeda untuk menjaga kinerja sekaligus meredam dampak tekanan eksternal.
•
7 Menit Baca
Oleh:
Tautan telah disalin! Tempelkan ke stiker tautan di Bio atau Story Anda.
Gejolak geopolitik, gangguan pasokan energi, pelemahan rupiah, dan volatilitas harga komoditas menjadi tantangan bagi pelaku usaha pada 2026. Dua emiten yang memiliki eksposur terhadap perdagangan energi dan bahan kimia, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dan PT Lautan Luas Tbk (LTLS), menyiapkan strategi berbeda untuk menjaga kinerja sekaligus meredam dampak tekanan eksternal.
AKRA lebih mengandalkan diversifikasi sumber pasokan, model bisnis pass-through, dan rantai pasok terintegrasi untuk menghadapi volatilitas harga energi serta risiko gangguan pasokan.
Sementara itu, LTLS menitikberatkan pengelolaan persediaan, strategi hedging, dan diversifikasi pemasok untuk mengantisipasi tekanan nilai tukar dan harga bahan baku impor. Strategi tersebut berjalan di tengah kinerja kedua emiten yang masih tumbuh pada semester I 2026.
AKRA andalkan diversifikasi pasokan
PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) mencatat penguatan kinerja pada semester I 2026 di tengah gejolak geopolitik dan gangguan pasokan energi di Timur Tengah, termasuk di sekitar Selat Hormuz.
Head of Investor Relations AKRA Ignatius Teguh Prayoga mengatakan, pendapatan petroleum pada semester I 2026 tumbuh 39%, sedangkan bisnis bahan kimia meningkat 26%. Pertumbuhan tersebut turut mendorong laba bruto perseroan naik 8%.
Kinerja AKRA juga ditopang bisnis kawasan industri. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE Gresik mencatat penjualan lahan 58 hektare hingga semester I 2026, meningkat dari 22 hektare pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan utilitas juga tumbuh 37% secara year-on-year seiring meningkatnya aktivitas tenant.
“Penguatan kinerja didukung oleh portofolio usaha dengan karakteristik yang saling melengkapi. Perdagangan dan distribusi BBM serta bahan kimia memberikan basis pendapatan yang relatif stabil dan sementara itu JIIPE memasuki periode monetisasi melalui penjualan lahan dan peningkatan aktivitas tenant,” kata Teguh dalam Public Expose Live 2026, Selasa (8/9/2026).
Di tengah kondisi geopolitik yang belum stabil, AKRA tetap menghadapi risiko gangguan pasokan, terutama akibat ketegangan di sekitar Selat Hormuz. Presiden Direktur AKRA Haryanto Adikoesoemo mengatakan kondisi tersebut telah menimbulkan supply shock bagi sejumlah pemain petroleum global.
Namun, perseroan menilai dampak terhadap operasional masih dapat dimitigasi melalui diversifikasi sumber pasokan dan hubungan dengan pemasok.
“Namun kami tetap menjaga resiliensi operasional kami dengan diversifikasi sumber pasokan kami dan juga kita menjaga hubungan baik dengan para supplier sehingga kami bisa mendapatkan suplai yang cukup untuk membantu klien-klien kami,” ujar Haryanto.
Selain diversifikasi pasokan, AKRA mengandalkan model bisnis pass-through untuk mengurangi dampak volatilitas harga minyak dan bahan kimia. Melalui mekanisme tersebut, perubahan harga dapat diteruskan kepada pelanggan berdasarkan formula yang digunakan perseroan.
“Yang pertama bisnis model kami ini adalah dengan pass-through formula sehingga volatilitas daripada harga minyak maupun harga kimia ini kami bisa pass-through ke customer kami sehingga kami tidak mengambil risiko dalam hal volatilitas daripada produk-produk kami,” katanya.
Ketahanan operasional AKRA juga ditopang rantai pasok terintegrasi, mulai dari kapal tanker, truk tanker, tangki penyimpanan, hingga sistem teknologi informasi yang memantau kegiatan operasional secara real-time.
Infrastruktur tersebut membantu perseroan mengantisipasi kenaikan biaya freight maupun keterbatasan kapal ketika terjadi gangguan pasokan.
Haryanto mengatakan ketahanan margin perseroan juga ditopang tiga komponen utama, yakni storage, logistik, dan distribusi. Hubungan dengan pemasok menjadi faktor penting untuk menjaga kesinambungan pasokan BBM dan bahan kimia.
Memasuki semester II 2026, AKRA akan mempertahankan pertumbuhan melalui peningkatan volume perdagangan dan distribusi, penyelesaian transaksi penjualan lahan JIIPE, serta peningkatan permintaan utilitas dan layanan pelabuhan.
Perseroan juga menyiapkan sejumlah investasi energi dan infrastruktur, termasuk terminal LNG, energi surya, utilitas industri, BBM ritel, dan avtur. Terminal LNG JIIPE berkapasitas 1 juta ton per tahun yang dilengkapi Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) berkapasitas 170.000 meter kubik ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2029.
Sukarno menilai harga minyak yang lebih tinggi turut mendukung prospek kinerja AKRA dan menjadi salah satu faktor dalam revisi proyeksi tersebut.
Kiwoom memperkirakan pendapatan AKRA pada 2026 mencapai Rp60,92 triliun, naik 23,1% dari proyeksi sebelumnya.
Laba bersih diproyeksikan mencapai Rp3,14 triliun atau meningkat 20,9%, dengan laba per saham Rp156. Laba operasi diperkirakan mencapai Rp3,97 triliun, sedangkan EBITDA sebesar Rp4,58 triliun.
Revisi tersebut mengacu pada realisasi semester I 2026. AKRA membukukan pendapatan Rp30,84 triliun, tumbuh 44% secara tahunan, sementara laba bersih meningkat 21% menjadi Rp1,43 triliun.
Pertumbuhan pendapatan terutama berasal dari segmen Trading & Distribution yang mencapai Rp28,03 triliun, naik 44%. Segmen Industrial Estate juga tumbuh 90% menjadi Rp1,80 triliun.
LTLS hadapi rupiah dan minyak dengan hedging
Berbeda dengan AKRA yang menghadapi risiko utama dari gangguan pasokan energi dan geopolitik, PT Lautan Luas Tbk (LTLS) lebih menyoroti dampak pelemahan rupiah dan volatilitas harga minyak terhadap biaya impor serta kebutuhan modal kerja.
Meski menghadapi tekanan eksternal tersebut, LTLS mencatat pertumbuhan kinerja hingga semester I 2026. Pendapatan perseroan mencapai Rp5,1 triliun pada kuartal II 2026, tumbuh 21% dari Rp4,2 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan terutama ditopang segmen manufaktur dan distribusi.
Direktur Keuangan LTLS Elly Mariana Tansil menjelaskan pendapatan manufaktur meningkat lebih dari Rp500 miliar atau 32%, terutama akibat kenaikan harga jual dan sebagian peningkatan volume. Sementara itu, pendapatan distribusi naik lebih dari Rp400 miliar atau 13%, terutama didorong pertumbuhan volume penjualan.
Rangkuman kinerja PT Lautan Luas Tbk. Sumber: Materi paparan publik PT Lautan Luas Tbk
Pertumbuhan pendapatan tersebut turut memperkuat profitabilitas. Laba kotor meningkat 48% menjadi Rp981 miliar dari Rp664 miliar, sedangkan laba bersih mencapai Rp190 miliar dari Rp168 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Hal ini sebenarnya kinerja yang cukup baik di tahun ini, kami manajemen tetap berhati-hati atas potensi tantangan baik itu secara internal maupun eksternal yang kedepannya bisa berdampak atas kinerja sampai akhir tahun ini,” kata Elly.
Salah satu tantangan yang menjadi perhatian LTLS adalah pelemahan rupiah. Direktur Komersial LTLS, Soewandhi Soekamto, mengatakan pergerakan nilai tukar dan harga minyak tetap memberikan dampak terhadap bisnis, tetapi hingga semester I 2026 belum menimbulkan tekanan signifikan.
“Kalau dari pelemahan rupiah maupun harga minyak, kalau dia menjadi dampak pasti ada ya tapi tidak akan di tahun ini kita cukup bersyukur tidak memberikan dampak yang luar biasa kepada perusahaan kami,” kata Soewandi.
Untuk mengantisipasi pelemahan rupiah, LTLS mengelola persediaan dan menerapkan strategi hedging. Langkah tersebut dilakukan karena sebagian barang impor perseroan menggunakan basis dolar AS, sementara penjualan kepada pelanggan dilakukan dalam rupiah.
“Satu adalah untuk me-manage inventory kami, lantas kita juga yang kedua melakukan selalu strategi hedging supaya kita tidak akan memberikan forex loss baik maupun dari forex loss,” ujarnya.
Dampak perubahan harga minyak dinilai relatif terbatas karena LTLS bukan perusahaan petrochemical. Meski demikian, perseroan tetap melakukan diversifikasi pemasok untuk mengantisipasi risiko gangguan pasokan dan geopolitik.
Sejalan dengan pertumbuhan penjualan, kebutuhan modal kerja LTLS juga meningkat. Per Juni 2026, total aset perseroan mencapai Rp7,6 triliun. Piutang dan persediaan menyumbang sekitar 41% dari total aset atau hampir Rp3,1 triliun, sejalan dengan peningkatan aktivitas operasional.
Total liabilitas tercatat sekitar Rp4 triliun, termasuk utang usaha Rp1,7 triliun. Sementara itu, ekuitas meningkat menjadi Rp3,6 triliun dari Rp3,3 triliun pada akhir 2025.
LTLS juga menghadapi kewajiban pembayaran obligasi. Elly mengatakan perseroan akan membayar obligasi Rp135 miliar yang jatuh tempo pada November 2026 menggunakan kombinasi pendanaan perbankan dan hasil usaha tahun berjalan.
Total obligasi LTLS saat ini mencapai Rp420 miliar. Setelah pembayaran pada November 2026, sisa obligasi sebesar Rp285 miliar akan jatuh tempo pada Juli 2027.
“Perseroan merencanakan akan membayarnya itu sebagian dari perbankan dan juga sebagian dari hasil usaha kami sepanjang tahun ini,” ujar Elly.
Di luar bisnis kimia dan manufaktur, LTLS terus memperbesar kontribusi bisnis pengolahan air. Segmen tersebut menyumbang sekitar 12% pendapatan konsolidasi pada semester I 2026 dan diperkirakan berada di kisaran 12%-15% pada semester II.
Dalam jangka panjang, LTLS menargetkan kontribusi bisnis air menembus lebih dari 15%. Perseroan juga menyiapkan ekspansi bisnis farmasi, memperluas jaringan prinsipal di Asia Tenggara, serta mengembangkan energi terbarukan.
Seowandi mengatakan rangkaian strategi tersebut diarahkan untuk membawa LTLS menjadi salah satu penyedia bahan baku dan solusi terintegrasi di kawasan Asia Tenggara pada 2031.
Gejolak energi dorong pentingnya strategi
Di tengah risiko geopolitik dan volatilitas energi tersebut, Ketua Indonesian Society of Sustainability Professionals (IS2P) Satrio Prakoso mengatakan perubahan kondisi global membuat perusahaan perlu memperhitungkan berbagai faktor di luar profitabilitas dalam menjalankan bisnis.
Pasalnya, dinamika energi global juga dapat memberikan dampak lebih luas terhadap kegiatan usaha.
“Apalagi yang terjadi di Selat Hormuz, krisis energi tersebut dia akan bisa sangat affect, mempengaruhi harga energi,” jelas dia.
Ia mengatakan kenaikan harga energi pada akhirnya dapat memengaruhi biaya operasional perusahaan. Karena itu, efisiensi energi menjadi salah satu aspek yang semakin penting dalam strategi keberlanjutan sekaligus pengelolaan biaya.
Dalam konteks bisnis, imbuhnya, perusahaan perlu mengidentifikasi risiko yang berpotensi memengaruhi operasional dan profitabilitas. Risiko tersebut tidak hanya berasal dari faktor pasar, tetapi juga perubahan iklim, gangguan pasokan energi, hingga berbagai risiko fisik.
Ia menambahkan, perusahaan juga perlu memastikan setiap investasi keberlanjutan memiliki keterkaitan dengan nilai bisnis. Dengan demikian, belanja modal untuk efisiensi energi tidak hanya menghasilkan penurunan emisi, tetapi juga memberikan manfaat terhadap biaya dan kinerja perusahaan.
Di tengah prospek pertumbuhan tersebut, Sukarno tetap menempatkan sejumlah risiko AKRA sebagai perhatian investor. Risiko tersebut meliputi volatilitas harga komoditas, persaingan yang meningkat, ketergantungan terhadap aktivitas industri, perubahan regulasi, gangguan logistik, volatilitas nilai tukar, serta tekanan keberlanjutan dan transisi energi.
Bagian selanjutnya tersedia khusus untuk member SUAR