PTBA Lanjutkan Transformasi Bisnis Batu Bara ke Bisnis Hijau

PTBA Lanjutkan Transformasi Bisnis Batu Bara ke Bisnis Hijau

Saat ini portofolio bisnis hijau perseroan masih di bawah 3% dari total bisnis. Perseroan tengah menyusun roadmap dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) untuk meningkatkan kontribusi tersebut secara bertahap.

PTBA Lanjutkan Transformasi Bisnis Batu Bara ke Bisnis Hijau
Dalam Artikel Ini

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mulai memperbesar porsi bisnis hijau dan hilirisasi sebagai sumber pertumbuhan baru di tengah masih dominannya batu bara terhadap kinerja perseroan. Holding Mind ID tersebut menargetkan bisnis hijau dan hilirisasi batu bara dapat menyumbang 20% pendapatan pada 2030.

Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto mengatakan saat ini portofolio bisnis hijau perseroan masih di bawah 3% dari total bisnis. Perseroan tengah menyusun roadmap dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) untuk meningkatkan kontribusi tersebut secara bertahap.

“Jadi perlahan akan meningkat seiring nanti pertumbuhan yang kita perkirakan ke depan batu bara akan terkonversi jadi chemical dan energi yang lain. Kira-kira itu roadmap-nya,” kata Turino menjawab pertanyaan SUAR, Senin (7/9/2026).

Transformasi tersebut dijalankan melalui pengembangan energi terbarukan, hilirisasi batu bara, serta optimalisasi aset dan lahan pasca tambang.

Untuk energi terbarukan, PTBA mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan memanfaatkan sejumlah aset, termasuk lahan pascatambang yang telah direklamasi. Perseroan juga bekerja sama dengan PT Pertamina New and Renewable Energy (Pertamina NRE) untuk menjajaki pengembangan PLTS di lahan pascatambang dan sekitar area operasional.

Berdasarkan laporan keberlanjutannya, komitmen transisi hijau juga dijalankan PTBA melalui roadmap manajemen karbon hingga 2050. Strateginya mencakup dekarbonisasi operasi, reklamasi, serta studi carbon capture, utilization, and storage (CCUS).

Sepanjang 2025, PTBA mencatat penghematan energi listrik dan BBM sebesar 381.553 gigajoule (GJ) yang diikuti pengurangan emisi 424.082 ton CO₂e. Perseroan juga mereklamasi 1.711,68 hektare lahan tambang dan melakukan revegetasi 2.598,80 hektare.

Hingga semester I 2026, total portofolio PLTS PTBA mencapai 1,2 megawatt. PLTS tersebut antara lain telah dikembangkan di Krakatau Steel, jalan tol di Bali, Bandara Soekarno-Hatta, Kalimantan, dan Ombilin.

Selain energi terbarukan, PTBA mengembangkan bisnis hilirisasi melalui sejumlah proyek, antara lain Coal to Dimethyl Ether (DME), Coal to Methanol, Coal to Synthetic Natural Gas (SNG), Coal to Potassium Humate atau Kalium Humat, serta Coal to Artificial Graphite.

Turino mengatakan proyek DME dan SNG saat ini masuk dalam Program Strategis Nasional (PSN) dan berada dalam orkestrasi Danantara. PTBA bersama mitra terkait melakukan joint feasibility study dari sisi hulu hingga hilir.

“Saat ini projek yang sedang dan sudah hampir berjalan adalah DME dan SNG. Dua-duanya partner kita, offtaker-nya adalah Pertamina Group. Jadi yang DME, offtaker-nya adalah Patra Niaga, sedangkan yang SNG, offtaker-nya adalah PGN. Kedua projek ini masuk dalam PSN dan kita sedang diorkestrasi oleh Danantara untuk melakukan joint FS dari hulu ke hilir,” ujar Turino.

Ia mengatakan konstruksi proyek Coal to DME melalui metanol ditargetkan mulai tahun depan. Sementara itu, proyek Coal to SNG masih dibahas dengan Danantara.

“Jadi keduanya ada dalam orkestrasi Danantara karena terkait permodalan dan juga offtaker antar BUMN. Yang DME fungsinya adalah untuk mengurangi substitusi impor LPG, sedangkan SNG adalah untuk menutupi kekurangan kebutuhan gas untuk industri. Dua-duanya adalah program strategis nasional. Insyaallah dalam waktu tidak lama lagi, targetnya tahun depan sudah mulai konstruksi,” katanya.

Sementara itu, PTBA tetap mempertahankan batu bara sebagai bisnis inti dan penopang utama kinerja. Pada semester I 2026, perseroan membukukan pendapatan Rp22,03 triliun, naik 8% secara year-on-year (yoy). Laba bersih mencapai Rp2,65 triliun atau tumbuh 218% yoy.

Kinerja tersebut ditopang pemulihan operasional pada kuartal II, penguatan penjualan ekspor, serta perbaikan harga jual rata-rata batu bara.

Secara operasional, produksi batu bara PTBA mencapai 19,45 juta ton, sedangkan penjualan mencapai 21,1 juta ton. Penjualan ekspor tercatat 10,33 juta ton atau meningkat 5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Negara tujuan ekspor terbesar PTBA meliputi Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand. Adapun penjualan domestik mencapai 10,77 juta ton atau sekitar 51% dari total penjualan.

Penguatan harga batu bara juga memberikan kontribusi terhadap kinerja perseroan. Pada semester I 2026, Newcastle Index meningkat 25% yoy dan ICI 3 naik 15% yoy.

Dari sisi operasional, produksi PTBA pada semester I turun sekitar 10% akibat tingginya curah hujan pada kuartal I 2026. Namun, kondisi cuaca membaik pada kuartal II dan perseroan memperkirakan kondisi yang lebih kering mendukung produksi pada kuartal III.

a large pile of gravel being loaded onto a truck
Foto: Adriano / Unsplash

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTBA Una Lindasari mengatakan penurunan stripping ratio turut menekan biaya. Rasio tersebut turun dari 5,63 pada semester I 2025 menjadi 5,26 pada semester I 2026 karena perseroan tidak melakukan pre-strip pada tambang-tambangnya. Hal tersebut menyebabkan profit PTBA naik di atas 200% dibanding profit semester pertama 2025

“Dari sisi revenue atau pendapatan, pendapatan kami justru meningkat 3%. Dan ini disebabkan oleh naiknya average selling price sebesar 5%, terutama disebabkan karena perang di Timur Tengah. Dari sisi cash cost, cash cost kami juga mengalami penurunan sebesar 3%,” kata Una.

Perseroan juga menargetkan produksi sekitar 50 juta ton pada 2026. Una mengatakan produksi dalam dua bulan terakhir telah berada di atas 5 juta ton per bulan sehingga manajemen tetap optimistis mengejar target.

“Kami cukup positif untuk sementara dengan target RKAB yang kami punya, kami tetap akan mencapai target tersebut, terutama dengan membaiknya kondisi cuaca di semester tiga ini. Cuma buat indikasi saja, rata-rata produksi kami untuk dua bulan terakhir itu sudah di atas 5 juta per bulan. Jadi kalau ditanya apakah kami bisa mencapai, insyaallah bisa,” jelasnya.

Menambang Skema Bea Keluar Batubara yang Ideal
Rencana pemerintah memungut bea keluar (BK) atas ekspor batu bara mulai Januari 2026 menjadi sinyal perubahan penting dalam tata kelola industri komoditas andalan tersebut.

Di sisi infrastruktur, PTBA terus mengembangkan proyek Tanjung Enim-Kramasan untuk meningkatkan kapasitas angkutan dan memperkuat rantai pasok. Hingga saat ini, progres proyek tersebut mencapai sekitar 93%. Perseroan juga telah memperoleh komitmen pendanaan melalui term sheet dengan bank-bank Himbara berupa senior term loan facility sebesar Rp3,56 triliun.

Turino mengatakan kapasitas angkutan proyek Tanjung Enim-Kramasan ditargetkan mencapai 20 juta ton per tahun. Pengoperasiannya akan dilakukan secara bertahap.

“Conveyor TLS 6 dan 7 selesai semester II tahun ini dan siap beroperasi. Namun, ada keterlambatan KAI dan logistik Kramasan. Kapasitas 20 juta ton akan dicapai bertahap mulai tahun depan, sekitar 5 juta ton, hingga 20 juta ton dalam dua-tiga tahun," kata Turino.

Dalam pengembangan bisnis hijau, PTBA juga mulai mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak melalui elektrifikasi. Perseroan mulai menggunakan in-pit conveyor berbasis listrik dan menyiapkan elektrifikasi pengangkutan batu bara.

“Banko ini akan jadi penopang kita ke depan. Jadi di Banko itu ada yang mengelola tiga, ada pihak ketiga, ada anak perusahaan, dan swakelola. Kita sedang mengombinasikan hari ini memulai untuk elektrifikasi pengangkutan. Dan ini baru pertama kali di PTBA, mudah-mudahan kalau ini berhasil kita akan kembangkan terus. Kita akan komit menggunakan yang lower emission untuk operasi kita,” ujar Turino.

PTBA juga melakukan efisiensi melalui pengurangan biaya jasa penambangan, penggunaan fuel, pengangkutan, dan transshipment. Perseroan berencana membeli langsung tugboat dan barge yang sebelumnya disewa dengan target pengadaan selesai pada 2027.

Di tengah transformasi tersebut, PTBA menyatakan bisnis batu bara masih menjadi kekuatan utama. Turino mengatakan kontribusi bisnis hilirisasi dan diversifikasi ditargetkan mencapai sekitar 20% dari total pendapatan dalam empat tahun ke depan.

“Jadi kita bertahap pengembangan diversifikasi ini. Kita sudah targetkan dalam 4 tahun ke depan kontribusi dari hilirisasi dan diversifikasi ini sekitar 20% dari total pendapatan Perseroan. Itu jawabannya,” ucapnya.

‎Transisi Nyata atau Sekadar Etalase?

‎Tren hilirisasi dan transisi menuju bisnis hijau mulai menjadi strategi baru perusahaan tambang batu bara di tengah tuntutan pengurangan emisi dan perubahan arah investasi global. 

‎Namun, realisasi bisnis baru tersebut masih perlu diuji dari kontribusinya terhadap pendapatan, profitabilitas, serta kemampuannya mengurangi eksposur perusahaan terhadap risiko bisnis batu bara.

Foto udara kapal tongkang melintasi sungai Mahakam yang mengalami penyusutan debit air di Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu (6/9/2026). ANTARA FOTO/Angga Palguna/YU

‎Senior Analyst Energy Shift Institute Idham Muhammad Fachri mengatakan investor perlu melihat realisasi bisnis hijau, bukan hanya komitmen atau narasi transisi yang disampaikan perusahaan.

‎Menurut dia, terdapat setidaknya tiga indikator yang perlu diperhatikan, yakni dampak bisnis hijau terhadap bauran pendapatan, profitabilitas perusahaan, serta sejauh mana bisnis tersebut mengurangi eksposur terhadap risiko yang berhubungan dengan batu bara.

‎Idham mencontohkan Harum Energy yang telah mengembangkan bisnis nikel. Pada semester I 2026, pendapatan Harum Energy berasal dari bisnis nikel sebesar 97%, dengan kontribusi EBITDA margin sebesar 25%.

‎Pada periode yang sama, pendapatan perusahaan dari bisnis batu bara menurun drastis dan mencatatkan margin negatif. Kondisi tersebut antara lain disebabkan tertundanya produksi menyusul persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

‎Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pergeseran portofolio dapat dilihat dari seberapa besar bisnis non-batu bara mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja perusahaan. Dengan demikian, transisi tidak hanya berkaitan dengan penambahan proyek energi baru, tetapi juga perubahan struktur pendapatan dan profitabilitas.

‎Di sisi lain, tren hilirisasi batu bara menghadapi tantangan berbeda. Sejumlah proyek seperti dimethyl ether (DME) dan synthetic natural gas (SNG) membutuhkan investasi besar sehingga aspek keekonomiannya menjadi perhatian.

‎“Sejauh ini memang keekonomisan dari proyek hilirisasi batu bara ini masih dipertanyakan sehingga perlu ditinjau kembali,” kata Idham kepada SUAR, Senin (7/9/2026).

‎Founder Sustainahaus sekaligus President of Indonesian Society of Sustainability Professionals (IS2P), Satrio Prakoso, mengatakan investor kini mulai melihat keberlanjutan sebagai bagian dari pertimbangan investasi.

‎Menurutnya, perusahaan yang mampu mengubah agenda ESG menjadi kinerja dan nilai bisnis yang terukur berpeluang lebih menarik bagi investor.

‎“Investor sekarang tidak hanya melihat ESG sebagai kewajiban pelaporan, tetapi juga bagaimana sustainability memengaruhi alokasi modal, efisiensi operasional, risiko, dan nilai bisnis jangka panjang. Jadi, investasi hijau semakin dilihat sebagai peluang untuk menciptakan nilai, bukan sekadar memenuhi regulasi,” ujar Satrio.

‎Perubahan tersebut terjadi ketika sektor pertambangan menghadapi tekanan untuk mengurangi dampak lingkungan sekaligus mempertahankan efisiensi dan daya saing. 

‎Ia menilai sejumlah faktor dapat menjadi katalis meningkatnya perhatian investor terhadap perusahaan yang memiliki strategi ekonomi hijau.

‎Faktor tersebut antara lain tekanan regulasi, meningkatnya ekspektasi investor, kenaikan biaya energi, risiko iklim, serta kebutuhan perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dan ketahanan bisnis.

‎Di Indonesia, perkembangan sustainable finance, green taxonomy, serta penguatan pelaporan keberlanjutan turut mendorong integrasi ESG ke dalam keputusan investasi. Kondisi ini membuat investor tidak hanya melihat keberadaan kebijakan ESG, tetapi juga pelaksanaan dan dampaknya terhadap kinerja perusahaan.

‎Bagi sektor pertambangan, faktor ESG menjadi semakin relevan karena karakter bisnisnya memiliki eksposur besar terhadap isu lingkungan, iklim, regulasi, dan risiko operasional.

‎Ia mengatakan investor perlu melihat kemampuan perusahaan mengubah target ESG menjadi kinerja serta business value. Dengan pendekatan tersebut, ESG tidak berhenti pada pengungkapan, tetapi menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mempertahankan daya saing jangka panjang.

‎Aspek dekarbonisasi juga dapat diterapkan pada fasilitas pendukung operasional pertambangan. Satrio menilai konsep future-ready building dapat diterapkan pada kantor, fasilitas pekerja, warehouse, processing support facilities, maupun fasilitas operasional lainnya.

‎Satrio menilai perkembangan ini berpotensi meningkatkan perhatian investor terhadap saham perusahaan yang mampu menunjukkan kinerja keberlanjutan secara konkret.

‎“Jadi ke depan, yang semakin menarik bagi investor bukan hanya perusahaan yang ‘green’ di atas kertas, tetapi perusahaan yang mampu membuktikan bahwa ESG menghasilkan business value yang terukur,” tutur dia.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Batu Bara

Rekomendasi SUAR